NovelToon NovelToon
Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zhao_Xena

Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia—wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.

"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.

"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.

"Nyonya, Tuan tidak mau berceri!" -Ervan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26 ~ Tunggu Aku Dikamar

Dokter menutup berkas di tangannya lalu berdiri. "Baik, Nyonya Hezlin. Silakan berbaring di bed pemeriksaan."

Hezlin mengangguk pelan lalu berjalan menuju bed di balik tirai, sementara Garra tetap berdiri di tempat hingga dokter menoleh kepadanya.

"Tuan bisa ikut ke sini."

Tanpa ragu Garra melangkah mendekat. Hezlin sempat melirik pria itu sekilas, namun memilih tetap diam.

Setelah memastikan kondisi Hezlin, dokter mengoleskan gel bening ke atas perutnya. "Gel ini mungkin terasa sedikit dingin."

Hezlin hanya mengangguk pelan.

Alat USG kemudian digerakkan perlahan di atas perutnya. Ruangan mendadak sunyi. Dokter memusatkan perhatian pada monitor di hadapannya, sesekali menggeser posisi alat, sementara Hezlin tanpa sadar menggenggam erat ujung seprai. Di sampingnya, Garra berdiri membisu dengan tatapan yang tak lepas dari layar monitor.

Beberapa saat kemudian, senyum tipis terukir di wajah dokter.

"Selamat. Kehamilannya sudah terlihat."

Deg.

Hezlin dan Garra sama-sama mengangkat kepala.

"Usia kehamilannya masih sangat muda, sekitar lima minggu. Jadi wajar kalau Ibunya mulai sering mual, muntah, atau mudah lelah."

Jantung Hezlin seolah berhenti berdetak. Tanpa sadar jemarinya bergerak menyentuh perutnya sendiri. Sulit dipercaya, di dalam sana benar-benar sedang tumbuh kehidupan kecil.

"Selamat ya, Tuan dan Nyonya," ucap dokter kembali.

Namun ruangan tetap sunyi. Tak ada ucapan balasan ataupun senyum yang mengembang. Kabar yang bagi banyak pasangan merupakan kebahagiaan justru menghadirkan perasaan yang begitu rumit bagi Garra dan Hezlin.

Dokter tersenyum tipis, lalu mematikan monitor USG sebelum mengambil beberapa lembar tisu dan menyerahkannya kepada Hezlin.

"Silakan dibersihkan dulu, Nyonya."

Hezlin mengangguk pelan. Ia mengusap gel di perutnya tanpa banyak bicara, sementara Garra tetap berdiri di samping bed pemeriksaan dengan tatapan yang sulit diartikan.

Setelah Hezlin kembali merapikan pakaiannya, dokter duduk di balik meja sambil membuka kembali hasil pemeriksaan.

"Secara keseluruhan kondisi Ibu dan janinnya baik. Namun karena usia kehamilannya masih sekitar lima minggu, kandungannya masih sangat rentan. Saya sarankan Ibu tidak terlalu lelah, jangan terlambat makan, dan sebisa mungkin menghindari stres."

Garra mengangguk singkat. "Mual dan muntahnya masih sering. Apa itu normal, Dok?"

"Normal untuk usia kehamilan muda. Saya akan meresepkan vitamin serta obat untuk membantu mengurangi keluhannya. Kalau muntahnya semakin sering hingga Ibu tidak bisa makan atau minum sama sekali, segera bawa kembali ke rumah sakit."

"Baik."

Dokter kembali menuliskan resep, lalu menyerahkannya kepada Garra. "Dua minggu lagi silakan kontrol kembali untuk memastikan perkembangan janinnya. Untuk sementara, calon ibu harus benar-benar dijaga."

Tanpa ragu, Garra menerima berkas itu.

"Saya mengerti."

Dokter tersenyum hangat melihat responsnya. "Selamat sekali lagi. Semoga kehamilan pertamanya berjalan lancar."

Hezlin hanya diam, sejak tadi ia nyaris tidak mengucapkan sepatah kata pun. Pikirannya masih dipenuhi berbagai pertanyaan yang saling bertabrakan. Kehadiran anak ini seharusnya menjadi kabar paling membahagiakan dalam hidupnya. Namun entah mengapa, yang ia rasakan justru ketakutan.

Takut jika anak ini hanya akan menjadi alasan Garra mempertahankan pernikahan mereka. Dan itu adalah hal yang paling tidak diinginkannya.

"Kalau begitu pemeriksaannya sudah selesai," ucap dokter sambil berdiri. "Semoga sehat selalu, Tuan dan Nyonya."

"Terimakasih." jawab Hezlin.

Garra mengangguk singkat, lalu menoleh ke arah Hezlin.

"Ayo."

Hezlin berdiri dari kursinya, lalu melangkah lebih dulu keluar dari ruang pemeriksaan tanpa menoleh sedikit pun. Garra menyusul di belakangnya sambil membawa hasil USG dan resep obat. Tatapannya tak pernah lepas dari punggung sang istri, seolah memastikan wanita itu tetap berada dalam jangkauannya.

••••

Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil Garra akhirnya memasuki halaman rumah.

Begitu mesin dimatikan, Hezlin langsung membuka pintu dan turun lebih dulu. Ia berjalan memasuki rumah tanpa menunggu Garra, sementara pria itu menyusul di belakang dengan hasil USG, obat, serta vitamin kehamilan yang masih berada di tangannya.

Baru beberapa langkah memasuki ruang utama, Bi Rum segera menghampiri dengan wajah penuh rasa penasaran.

"Bagaimana hasil pemeriksaannya, Nyonya?" tanya Bi Rum penuh harap.

Hezlin tersenyum tipis. "Baik."

"Lalu... apa kata dokter?"

Hezlin terdiam. Garra pun tidak segera menjawab.

Melihat reaksi keduanya, Bi Rum memilih tidak bertanya lebih jauh. Ia cukup tau keadaan keduanya saat ini. Mungkin memang masih belum ingin berbicara banyak.

"Bi." panggil Garra.

"Ya, Tuan."

"Antar Hezlin ke kamarnya."

Garra kemudian menyerahkan kantong berisi obat, vitamin, dan hasil pemeriksaan kepada Bi Rum.

Bi Rum mengangguk patuh sambil menerima bungkusan itu. "Baik, Tuan."

Garra lalu mengalihkan pandangannya kepada Hezlin. "Istirahat. Dan tunggu aku di kamar."

Hezlin langsung terkejut menatap Garra. "Kamar?" bisiknya datar.

Kamar yang mana?

Bahkan sejak Hezlin kembali kerumah ini, mereka sudah tidak lagi berada disatu kamar yang sama. Lalu apa maksud perkataan Garra barusan?

"Mari, Nyonya. Saya antar." ucap Bi Rum sambil memberi isyarat pelan.

Hezlin tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju pada Garra yang sudah berbalik dan berjalan menuju dapur, melepas jas di tengah langkah, lalu menarik longgar dasinya sebelum membuka beberapa kancing kemeja.

Beberapa detik kemudian, Hezlin mengalihkan pandangan.

"Baik, Bi." Ia melangkah mengikuti Bi Rum menaiki tangga tanpa banyak bicara.

Di lantai atas, Bi Rum membuka pintu kamar yang kini ditempati Hezlin seorang diri.

"Silakan, Nyonya."

Hezlin masuk tanpa ragu. Pandangannya menyapu ruangan singkat sebelum ia melangkah lebih dalam.

Bi Rum meletakkan kantong obat dan vitamin di atas meja kecil.

"Kalau ada apa-apa, panggil saya, ya Nyonya."

Hezlin mengangguk singkat. "Terima kasih, Bi."

Setelah mengatakan itu, Bu Rum langsung pergi keluar dari kamar, menutup pintu itu kembali. Wanita paruh baya itu akhirnya turun dan kembali ke dapur.

Namun begitu sampai di ambang pintu, langkahnya terhenti.

Matanya langsung menangkap sosok Garra yang sedang berdiri di depan kompor.

Kemejanya sudah tidak serapi tadi. Lengan tergulung sampai siku, dua kancing atas terbuka, dasi terlepas begitu saja di meja. Tangannya bergerak tenang di atas wajan, membalik sesuatu tanpa tergesa.

Bi Rum terdiam beberapa detik, memastikan apa yang dilihatnya bukan salah pandang.

Lalu ia masuk perlahan.

"Astaga, Tuan..." suaranya nyaris tidak percaya. "Apa yang Tuan lakukan?"

❤️

1
Zhao_Xena
bagi yang sudah membaca, author minta maaf ada revisi sedikit didalamnya yakk... tidak banyak tapi cukup mempengaruhi ceritanya.. terimakasih 💋
Siti Amalia
ceritanya bagus banget thor, jgn digantung ceritanya ya ...plisss
Siti Amalia
Novel nya bagusss banget thor ..jgn digantung ceritanya. plisss
Zhao_Xena: terimakasih banyak, selalu author usahakan sampai selesai ya... 🥰
total 1 replies
Emi Sudiarni
krang suka dgn sikat nya hezlin, kok cpat ambil kesimpulan klw garra mau kmbalidgn felicia
Alya Bau
up lagi kak, ceritanya seru😍
Zhao_Xena: di tunggu ya kak../Smile/
total 1 replies
Siti M Akil
lanjut thor
Zhao_Xena: Siap kak 🫡
total 1 replies
You `ka
lanjut 💪
Zhao_Xena: siap!🫡
total 1 replies
You `ka
semoga saja hamil, biar Felicia nggak ada kesempatan ganggu lagi
You `ka
🤣🤣🤣 kode itu.. butuh yang anget-anget
You `ka
jih! dasar ulat bulu. ada aja akalnya si Felicia.
You `ka
mendingan mundur deh, Felicia.. hati Garra udah bukan buat kamu 🤣🤣
N. Siti 12mplb_ukk
lnjut thor💪
Zhao_Xena: siap🫡
total 1 replies
🥀
laki kayak garra ni perlu dibuang kelaut
Zhao_Xena: buang aja kak.... biar dimakan paus 🤣🤣🤣
total 1 replies
You `ka
Kalau memang Hezlin beneran hamil, lebih baik tidak bercerai, dan Garra harus memperbaiki diri, jangan terus bersama Felicia..😤😤
Zhao_Xena: Garra harus belajar menjadi lebih romantis dan tidak kaku mungkin ya kak?🤣🤣
total 1 replies
You `ka
Garra mulai posesif...😝😝😝
Brown choco
Lemah banget cewe nya
You `ka
sampai muak Garra... sampai gumooh...🤣🤣🤣. jangan² Hezlin hamil itu..
You `ka
wahh.. seru ini.../Joyful/
You `ka
mampus! kena mental kan dengan jawaban Hezlin?🤣🤣
You `ka
wahh.. kael, jangan terlalu berharap dulu pada Hezlin.. takutnya nanti patah hati..🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!