Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.
Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.
Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?
Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima Belas
Suasana ruang makan seketika menjadi canggung dan Aruna tidak berniat mencairkan suasana sama sekali. Ia ikut sarapan karena paksaan Abi, jika tidak anak itu lebih memilih langsung berangkat ke sekolah saja.
Ketika makanan datang, Aruna memelototi piring makannya yang di penuhi berbagai macam lauk pauk. Tanpa ia tanya, Aruna sudah tahu siapa pelakunya. Anak itu langsung menoleh menatap Abi di sebelahnya yang ternyata sedang melihat ke arahnya sambil tersenyum.
"Sudah ku bilang kau butuh banyak makanan dan nutrisi, Aruna."
"Tapi ini masih pagi, kak! Dan ini terlalu banyak," protes Aruna.
"Saat seumuranmu dulu, aku bahkan sanggup menghabiskan dua porsi," kata Abi.
"Itu kan kakak saja yang tidak normal!"
"Aish! Anak ini," desis Abi sembari mencubit pipi Aruna gemas dan membuat gadis kecil itu memekik kesakitan.
"Kakak! Sakit!"
Abi tertawa terbahak-bahak lalu mengelus rambut Aruna lembut, "Baiklah, maafkan aku. Nah, makan saja semampumu."
Aruna mendengus tapi ia menurut. Sepenuhnya mengabaikan eksistensi ketiga anggota keluarga lainnya yang ia sadar tengah memperhatikan mereka.
"Kau yakin sudah bisa masuk hari ini, Aruna?" tanya Elvio.
"Ya, " jawab Aruna datar.
"Jika kau merasa tidak enak badan saat di sekolah, hubungi Marco lalu segera pulang," kata Elvio lagi.
"Baik," jawab Aruna tanpa melihat ke arah Elvio. Ia sibuk memakan makanannya sendiri dan benar-benar mengabaikan Alvaro juga Antares. Namun baru beberapa suap, Aruna langsung meletakkan sendoknya dan membuat Abi menatapnya heran.
"Ada apa? Badanmu tidak enak?" tanya Abi.
Aruna menggeleng, "Aku kenyang. Aku akan ke sekolah sekarang," ucapnya kemudian ia berdiri dari kursinya dan sedikit membungkukkan badannya pada Elvio, Alvaro, juga Antares sebelum ia benar-benar pergi keluar ruangan itu. Sementara Abi yang menyaksikan hanya terdiam takjub.
"Wow, aku tak tahu perlakuan apa saja yang kalian berikan pada Aruna tapi kurasa kalian pantas mendapatkannya. Bukan hanya kalian saja, sih. Aku juga menyakitinya tanpa sadar jadi aku takkan marah meski Aruna mengabaikanku. Aku permisi, kalau begitu," jelas Abi yang langsung pamit setelahnya dan menyusul Aruna di tempat parkir.
***
Aruna yang sudah duduk manis di jok mobil belakang terkejut karena pintu terbuka dan menampakkan wajah Abi.
"Loh? Kok?"
"Aku menumpang ke kampusku," kata Abi.
Hanya dengusan yang Aruna keluarkan karena ia tahu itu hanya alasannya saja. Jadi, percuma juga memprotes atau adu argumentasi dengannya. Lebih baik diam dan abaikan saja.
Tak lama pintu mobil sebelah kiri Aruna terbuka dan menampakkan wajah Antares di sana lengkap dengan seragam sekolahnya yang berbeda. Tanpa banyak kata, Antares ikutan masuk hingga membuat tubuh mungil Aruna terjepit antara Abimanyu juga Antares.
"Aku numpang ke sekolah. Ban mobilku pecah," ucap Antares.
Ha?
Aruna melihat ke luar dimana mobil yang biasa di pakai untuk mengantar Antares sedang terparkir dengan cantiknya di sana. Bahkan sang supir sudah berdiri seperti menantikan kedatangan Antares, namun anak itu malah memasuki mobilnya. Lihatlah wajah sedih sang supir Antares.
Di mana ban pecahnya?
Tapi sekali lagi Aruna malas untuk meladeni jadi ia biarkan saja kedua makhluk itu melakukan sesukanya.
***
Setiba di sekolah, Abimanyu turun lebih dulu sehingga Aruna bisa keluar, sementara Antares yang tadinya akan keluar untuk memberikan akses kepada Aruna pun hanya bisa diam dan mengurungkan niatnya.
Suasana sekolah yang sudah ramai tentu membuat Aruna menjadi bahan perhatian, apalagi fakta bahwa kali ini salah satu anggota keluarga Adijaya yang mereka kenali sebagai Abimanyu ikut mengantar. Dengan rumor yang beredar bahwa Aruna di benci oleh keluarga Adijaya, tentu saja hal itu menjadi aneh ketika Abimanyu ikut mengantarnya.
"Telpon aku jika kau merasa tidak enak badan," kata Abi ketika Aruma sudah keluar dari mobil.
"Aku akan menelpon Marco," jawab Aruna.
"Aw! Kejam sekali, sih adikku ini. Pokoknya telpon aku," Abi berisikeras. Kemudian ia mengecup pucuk kepala Aruna sebelum masuk kembali ke dalam mobil. Sementara Aruna hanya mendesis sebal sembari menatap kepergian mobilnya.
"Aish! Menjengkelkan sekali, sih!" gerutunya dan berjalan memasuki sekolahnya.
***
Sementara itu di dalam mobil, Abimanyu dan Antares duduk bersebelahan dengan suasana berbeda. Mereka memang saudara kandung, tapi mereka tidak seakrab itu satu sama lain. Bukan berarti saling membenci juga, lebih tepatnya mereka hanya mencoba saling mengabaikan keberadaan masing-masing dan memilih fokus dengan kehidupan mereka.
"Apa yang kau rencanakan?" tanya Abi tiba-tiba.
Antares menoleh dengan sebelah alis naik, "Maksud kak Abi?"
"Kita semua tahu, kau lah yang paling sering menjahili Aruna bahkan hingga membuatnya dalam bahaya. Kau pikir aku tak tahu kau pernah membuatnya hampir mati tenggelam di kolam berenang? Hanya karena aku berada di luar negeri bukan berarti aku tak tahu apa pun."
"Lalu kakak sendiri? Apa motif kakak? Alasan utama kakak kuliah di Moscow karena untuk menghindari Aruna. Lalu kenapa kembali dan bersikap sok manis begitu?" dengus Antares.
Tak di sangka Abi malah tertawa, "Kau cemburu?"
"Hah?"
"Akui saja, Ares. Kau cemburu karena Aruna memanggilku kakak sedangkan kau tidak. Iya, kan?"
Antares menggeram jengkel dan menatap Abi tajam, "Jangan sembarangan!"
"Eyy, aku melihatmu menangis saat keluar dari kamar Aruna kemarin. Anak itu pasti menolaknya, kan?"
Nah, Antares mati kutu. Ia tak bisa membalas apa pun karena yang di ucapkan Abi itu benar. Malu juga mau mengakuinya tapi menyangkal juga percuma karena Abi bukan tipe orang yang mudah di bohongi.
"Jika kau bersungguh-sungguh, kau harus bersabar. Aruna butuh waktu untuk menerimamu, ia bahkan belum sepenuhnya menerimaku."
"Tapi—"
"Ares, dua tahun bukan waktu sebentar untuk semua rasa sakit yang kita berikan padanya. Aruna bisa sedikit terbuka padaku karena aku tidak melakukan apapun selain menghindarinya. Itu hanya sedikit. Menurutmu bagaimana dengan Ayah juga Kak Al? Lalu kau? Ingat kembali, apa saja yang kau lakukan padanya dulu."
Hening.
"Biar kutanya satu hal padamu. Apa kau membenci Aruna?" tanya Abi.
"Apa maksudmu?! Tentu aku tidak—" ucapan Antares terhenti. Ia teringat semua hal jahat yang pernah ia lakukan untuk menjahili Aruna. Jika diingat lagi, Antares tidak benar-benar membenci Aruna. Yang ia benci adalah keberadaan anak itu yang menempati posisi Aaira—adiknya. Antares tidak menyukai fakta bahwa orang asing yang tidak ia ketahui asal-usulnya mengambil tempat Aaira dan menikmati semua hal milik sang adik. Maka dari itu, Antares kerap kali mengerjai Arunahingga anak itu menangis. Puncaknya saat ia tak sengaja membuat Aruna terjatuh ke kolam berenang dan tenggelam.
Jujur, saat itu Antares ketakutan. Ia terbayang-bayang wajah Aaira yang meregang nyawa karena sakit saat itu. Tubuhnya bergetar dan ia takut Aruna akan mengalami hal yang sama seperti Aaira juga. Tapi, Antares tak bisa bergerak untuk menolongnya. Untung saja ada Sammy yang dengan sigap menyelamatkan. Semenjak itu, Aruna membencinya dan berusaha menghindarinya. Meski saat ini Aruna terasa berbeda, ia lebih berani dan menunjukkan raut tidak suka dan terganggu di hadapannya.
Namun, Antares tak berhenti. Ia terus mengganggu Aruna tapi hanya untuk menarik perhatian anak itu saja.
Ia tak tahu sejak kapan dirinya menjadi benar-benar begitu peduli pada Aruna, bahkan ia merasa iri ketika Aruna memanggil Abi dengan sebutan kakak begitu mudahnya.
Lalu kenapa tidak dengan dirinya?
Ia juga merupakan kakak Aruna meski hanya terpaut 3 tahun saja.
Antares juga ingin di panggil kakak oleh anak itu.
Tapi, mungkin Abimanyu benar. Ia harus sedikit lebih bersabar karena sikap Aruna yang dingin padanya merupakan ulahnya sendiri.