NovelToon NovelToon
Koki Kesayangan Raja Naga

Koki Kesayangan Raja Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Risa Jey

Li Yunru tidak pernah menyangka, bahwa cincin perak berukir naga yang menjadi hadiah saat membeli seekor kelinci akan mengubah seluruh hidupnya—menyeretnya ke dunia kuno tempat manusia dan beastmen hidup berdampingan.

Belum sempat memahami situasi, Li Yunru malah terikat sebagai pasangan hidup Raja Naga Putih wilayah utara, Bai Muzhi. Berkat cincin misterius itu, mimpi Li Yunru untuk menjadi koki akhirnya terwujud. Namun, kedatangannya ke dunia itu ternyata bukan kebetulan.

Sedikit demi sedikit, tabir asal-usulnya mulai terbuka. Dan musuh-musuh yang selama ini bersembunyi ikut bergerak. Di tengah bahaya, rahasia dan takdir yang menantinya ... mampukah Li Yunru bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemiripan

Li Yunru tidak pandai membujuk orang yang menangis. Jadi ia benar-benar bingung saat melihat wanita tua itu tiba-tiba menangis setelah mengamatinya begitu lama.

Bahkan Bai Muzhi saja tidak tahu harus berbuat apa ketika melihat neneknya menangis seperti itu.

Li Yunru menatap Bai Muzhi dengan kening berkerut. "Bukankah kamu bilang nenekmu adalah naga putih yang kuat dan tidak pernah menangis bahkan ketika kakekmu meninggal?"

"...."

Nenek Caolan yang awalnya menangis begitu banyak, tiba-tiba saja terdiam. Ia melirik Bai Muzhi dengan tatapan tajam, lalu menyipitkan mata. Sesaat kemudian, tubuhnya terhuyung ke belakang seolah-olah pusing.

Bai Muzhi segera menopang tubuh Nenek Caolan dengan hati-hati. "Nenek, apakah kamu baik-baik saja?"

"Kepalaku ... kepalaku pusing sekali hingga aku menangis. Cepat bawa aku kembali ke ruang dalam," jawabnya pelan. Namun jika diperhatikan lebih jelas, wajahnya tampak baik-baik saja.

Tentu saja Bai Muzhi menyadari bahwa neneknya hanya berpura-pura. Sudut mata kanannya berkedut kecil. Ia tahu betul, wanita tua itu tidak akan membiarkan siapa pun melihat sisi lemahnya.

Meski demikian, Bai Muzhi tetap bekerja sama dan membantu Nenek Caolan kembali ke ruang dalam. Ia mendudukkan wanita itu di kursi, membiarkannya bersandar dengan nyaman.

Nenek Caolan berdeham kecil, lalu melirik Li Yunru yang masih berdiri dengan ekspresi kebingungan.

"Nak, apakah namamu Li Yunru?" tanyanya.

"Ya, Nenek."

"Nama yang cantik, sama seperti orangnya." Nenek Caolan batuk kecil lagi, seolah baru saja menenangkan diri. "Baiklah, tidak perlu berbasa-basi. Aku meminta cucuku membawamu ke sini karena hanya ingin memastikan sesuatu. Namun setelah melihatmu hari ini, aku pikir kalian tidak cocok untuk bersama."

Wanita tua itu menggelengkan kepala perlahan, wajahnya dipenuhi penyesalan. Ia lalu mendesah panjang.

Bai Muzhi mengerutkan kening, khawatir neneknya akan mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan. "Nenek—"

Li Yunru memotong ucapannya dengan cepat. "Kalau aku tidak cocok dengan cucumu yang narsistik, biarkan dia mengakhiri hubungan."

Nenek Caolan kembali menggelengkan kepala, kali ini dengan ekspresi sedikit terkejut. "Nak, bukan kamu yang tidak cocok untuk cucuku. Tapi itu karena cucuku tidak layak untukmu. Sungguh sia-sia bagi gadis spesial seperti dirimu harus hidup dengan cucuku yang berhati batu."

Baik Li Yunru maupun Bai Muzhi tidak mengharapkan alasan seperti itu. Terutama Li Yunru yang merasa wanita tua ini justru meremehkan cucunya sendiri.

"Itu ... bukankah kamu harusnya membela cucumu?" tanyanya bingung.

"Tidak perlu dibela. Dia memang tidak punya hati."

"...."

Bai Muzhi yang disebut tidak punya hati itu, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, merasa sedikit tersinggung.

Lagi-lagi, Nenek Caolan menitikkan air mata. Namun kali ini, ia tidak lagi berusaha menutupinya dengan alasan lain. Saat menatap Li Yunru, kenangan lama jelas terpantul di matanya.

"Nak, kamu benar-benar sangat mirip dengan wanita tua itu ketika masih muda. Keluarga Li pasti akan senang saat mengetahui bahwa kamu telah kembali," jelas Nenek Caolan dengan suara yang sedikit bergetar.

Ada tanda tanya besar di kepala Li Yunru. "Nenekku?" tanyanya ragu.

"Benar. Kamu sangat mirip dengan nenekmu yang keras kepala dan pemberani itu. Sudah lama sekali sejak kami bertemu. Sayangnya ... nenekmu meninggal sudah lama sekali."

"Tunggu! Tunggu—berbicara soal ini, sebenarnya aku—"

Nenek Caolan langsung memotongnya. "Apa yang akan kukatakan mungkin sulit kamu percaya. Tapi Xiaozhi sudah menceritakan segalanya padaku ...."

Ia menatap Li Yunru dalam-dalam. Kemudian berkata lagi, "Tapi mungkin kamu akan kecewa. Kamu sendiri berasal dari dunia ini."

Li Yunru membeku. Kepalanya terasa kosong sesaat. Semua pikirannya seperti dipukul sesuatu. Kemudian dia bereaksi.

"Apa?! Tidak mungkin! Bagaimana bisa aku berasal dari dunia ini?"

Bahkan Bai Muzhi sendiri tidak percaya. Ia menatap neneknya dengan heran, pikirannya berputar cepat. Mungkinkah ini alasan mengapa Nenek Caolan ingin melihat Li Yunru secara langsung?

Nenek Caolan melihat jelas ketidakpercayaan di wajah keduanya. Bahkan seekor kelinci pun tampak ikut kebingungan.

Akhirnya, Ruu yang duduk di samping Li Yunru mengangkat kepala dan bertanya dengan polos. "Jika memang tuanku berasal dari dunia ini, lalu bagaimana dia bisa berada di dunia itu?"

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di Istana Laifu, wilayah Hongbo di barat, Hong Maxing mengurung diri di kamarnya dengan perasaan frustrasi. Bayangan dikejar leluhur dan disambar petir sebelumnya masih terus menghantuinya. Belum lagi fakta bahwa ia kini menjadi budak dari seorang gadis manusia.

Ia menuangkan segelas arak, lalu meneguknya dalam satu tarikan dengan ekspresi kesal. Namun di sisi lain, ingatannya justru melayang pada makanan yang dimasak oleh Li Yunru—aroma dan rasanya seolah masih melekat di lidahnya.

"Hahhh ...! Menyebalkan! Aku masih lebih memilih menjadi selirnya daripada jadi budak," gumamnya penuh kejengkelan, tangannya mengepal.

Di saat ia sedang tenggelam dalam pikirannya, seorang pelayan mengetuk pintu kamarnya dengan sopan.

"Yang Mulia, Nona Xu datang dan ingin bertemu dengan Anda," lapornya dari luar.

"Nona Xu yang mana?"

Ada banyak keluarga bermarga Xu di wilayahnya dan ia mengenal beberapa gadis dari keluarga tersebut. Jadi pertanyaan itu wajar—bukan karena ia lupa.

"Ini nona muda dari kediaman Adipati Xu."

"... Hah, Xu Jiangyue?" gumam Hong Maxing pelan. Lalu ia berkata pada pelayan di luar. "Biarkan dia datang sendiri ke sini."

Pelayan itu segera mengiyakan dan pergi. Tak lama kemudian, pintu terbuka perlahan dan Xu Jiangyue masuk dengan langkah anggun. Ia mengenakan pakaian yang terbuka seperti biasa, memancarkan aura menggoda yang lembut namun penuh perhitungan.

Sayangnya kali ini, Hong Maxing tidak tertarik memainkan permainan rayuan dengannya. Terlebih lagi, ia teringat dengan apa yang telah dilakukan keluarga Xu selama ini di wilayahnya.

Xu Jiangyue berasal dari kediaman Adipati Xu yang terkenal sombong dan bermuka dua. Selama ini, Hong Maxing memilih menutup mata. Namun sekarang, situasinya telah berubah.

"Mengapa tiba-tiba kamu datang ke sini?" tanyanya dengan nada sedikit kesal.

Xu Jiangyue tampak terkejut melihat sikap Hong Maxing yang lebih dingin dari biasanya. Namun ia segera menenangkan diri dan menampilkan ekspresi manis.

"Yang Mulia, mengapa Anda tidak membalaskan dendam Yueyue?"

"Apa maksudnya?"

"Bukankah Anda pergi ke wilayah Baiyun, menemukan gadis manusia itu dan membunuhnya?"

"Aku tidak membunuhnya dan tidak mungkin untuk membunuhnya."

"Mengapa tidak?!" Xu Jiangyue terlihat sangat tidak senang. "Yang Mulia Xing, apakah Anda jatuh cinta pada gadis manusia itu?"

Hong Maxing menyeringai. Dengan tubuh sedikit limbung karena arak, ia bangkit dari duduknya. "Mengapa tidak? Aku sangat ingin menjadi selirnya. Tapi apalah daya, aku malah jadi budaknya."

"... Apa?" Xu Jiangyue tertegun, wajahnya memucat. Ia merasa salah dengar. "Bagaimana mungkin?! Saya ingin dia mati, bukan justru dicintai oleh Anda, Yang Mulia!!" teriaknya, nadanya penuh kebencian.

Hong Maxing berjalan santai mendekatinya. Tatapannya kini tidak lagi genit, melainkan dingin dan berbahaya. Ia berhenti tepat di hadapan Xu Jiangyue, menatap langsung ke dalam matanya yang dipenuhi amarah.

Ia menyeringai tipis, lalu mengangkat tangan dan menyentuh wajah wanita itu dengan lembut.

Kesembilan ekor rubah merahnya muncul di belakangnya, bergoyang perlahan. Salah satu ekor membelai tubuh Xu Jiangyue dengan santai, seolah masih memainkan peran perayu wanita.

Xu Jiangyue merasakan ekor itu membelai pinggangnya. Ia tersenyum tipis. Mengira Hong Maxing berubah pikiran. Lalu rasa dingin tiba-tiba menembus dadanya.

"Ugh—!"

Xu Jiangyue membelalakkan mata. Darah perlahan merembes dari sudut bibirnya, tubuhnya gemetar tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Mata Hong Maxing berubah dingin sepenuhnya, tanpa sedikit pun jejak godaan seperti biasanya.

"Xu Jiangyue, aku membiarkanmu hidup selama ini bukan karena aku bodoh," ucapnya pelan namun jelas. "Kamu pikir aku tidak tahu apa yang telah kamu dan ayahmu lakukan selama ini pada Bai Muzhi?"

1
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
wahh, teka-tekinya semakin membesar 🙀🙀 semoga segera dipertemukan ya Yunru ortu mu dan juga Peijun untuk bertemu ibunya🥺
A
masih lah. kan ada adudu
Marsya
klau diliat2 keisengannya,itu si elang botaklah🤣🤣🤣🤣🤣
Marsya
aiaiai.....,sang merak muncul thor😉😉😉😉😉
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
🤣🤣 ya ya sama-sama kelompok burung kalian, ayam dan merak 🤣

ayo Yunru botakin aja Lan Peijun🤣🤣
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
ternyata itu artinya Ben, kupikir itu typo atau apa /Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
gak boleh, Yunru harus tetap sama Bai Muzhi, gak boleh yang lain/Curse//Curse/
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
nona ben??? siapa kak??
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
/Facepalm//Facepalm/ aduhhh... tadi dielus, dicium, sekarang di plak plak plak🤣🤣
Sonya Kapahang
TIDAAAAAKKKKKKKK.. aku yg tidak setuju klo Yunru sm si Merak juga...
Yunru hrs tetap sm Tuan Naga satu²nya.. ga boleh ada yg lain.. apalagi Merak bau.. bikin botak aj itu Merak...
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
/Facepalm//Facepalm/ pria narsistik lagi🤣🤣
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
sudah kena bawang dan keluar darah, eh di tambah malah dilepaskan dari ketinggian oleh elang 🤣, aduh kasian banget, tapi itu memang cocok buat Yan Diming, sepertinya itu masih kurang untuk memberinya pelajaran 🤣

Yunru kamu udah mulai berani ya minta cium dulu 🤣/Facepalm//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
kok aku baca ini, geli ya 🤣 aku ngebayangin dia bicara seperti itu sambil mendayu-dayu🤣/Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥: beneran loh kak, sambil ngebayangin dia bergerak gemulai dengan suara mendayu-dayu🤣
total 2 replies
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
sabar ya maxing🤣🤣, kamu malah merekomendasikan untuk Yunru membuat peraturan tertulis🤣
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥: wajib kak khusus Hong Maxing buat peraturan tertulis biar dia gak lupa 🤣🤣
total 2 replies
Marsya
korban pertama naga diduduki,korban kedua elang dibotaki,korban ketiga rubah diracuni,skarang korban keempat ular dipukuli,🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭😉😉😉👍👍👍👍
Author Risa Jey: waktunya cari mangsa baru /Hey//Hey/
total 1 replies
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
🤣🤣🤣 kasian, itu artinya cermin air gak boleh lihat wajah Yunru🤣
Author Risa Jey: ada hubungannya dengan si kelinci nanti, mengapa itu cermin maunya lihat dia terus 😅
total 1 replies
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
hahaha🤣🤣 ngatain diri sendiri/Facepalm/
Sonya Kapahang
Yah.. belum tau dia siapa Yunru.. udh kena serang 2 kali tp msh ga kapok..
Author Risa Jey: kalau kapok, bukankah dia pengecut? 🤣🙏
total 1 replies
Sonya Kapahang
Terlalu percaya diri kamu Ruu..
Klo kata Yunru, Narsistik sekali kelinci gendut ini 😒😒😒
Author Risa Jey: Maklum, dibesarkan Bai Muzhi sebelumnya. Ya gini jadinya /Cleaver/
total 1 replies
Sonya Kapahang
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Liatin aj noh pantatnya si Ruu yg montok dan seksih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!