NovelToon NovelToon
Isi Ulang Hidup Ku

Isi Ulang Hidup Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19.Engan untuk ikut.

Segera setelah kejadian itu, Larry sigap melangkah maju menghadapi pengemudi mobil yang terlihat pucat dan gugup. Ia menjelaskan situasinya dengan tenang namun tegas, memastikan tidak ada perselisihan yang berlarut-larut dan memastikan semuanya dipahami bahwa kejadian ini hanyalah kecelakaan yang tidak disengaja. Sementara itu, Rama masih berdiri di samping Ivy, tangannya masih memegang lengan gadis itu untuk memastikan ia benar-benar berdiri dengan kokoh. Raut wajahnya dipenuhi kekhawatiran yang nyata, sangat berbeda dengan sikap dinginnya tadi di dalam ruangan kantor.

“Kau benar-benar tidak terluka? Jantungku hampir berhenti melihatnya,” tanya Rama dengan nada yang lebih lembut dan cemas, matanya meneliti setiap bagian wajah dan tubuh Ivy.

Ivy menatapnya dengan pandangan bingung sekaligus kesal. Dalam hatinya ia bergumam, Aneh sekali pria ini. Baru saja tadi ia mengira aku gila dan menyuruhku periksa ke dokter jiwa, sekarang malah bersikap seolah sangat mengkhawatirkanku.

“Aku tidak apa-apa,” jawab Ivy singkat, nada bicaranya tetap datar dan menyimpan rasa kesal yang belum hilang.

Belum sempat Rama melanjutkan bicara, Oliv yang baru saja berdiri dan membenarkan posisi tubuhnya segera melangkah mendekat. Wajahnya berubah seketika menjadi penuh kekhawatiran dan rasa bersalah yang dibuat-buat, terlebih setelah mengenali Rama sebagai paman dari tunangannya, Brian.

“Kak Ivy! Astaga, aku sangat khawatir. Apakah kau baik-baik saja? Maafkan aku, tadi aku tidak sengaja terpeleset dan menyenggolmu,” ucapnya dengan suara lembut, mencoba menarik perhatian Rama agar terlihat sebagai gadis yang lembut dan tidak bersalah.

Namun, kesabaran Ivy sudah habis melihat akting yang berulang kali itu. Tanpa berpikir panjang lagi, ia mengangkat tangannya dan mendaratkan tamparan keras yang terdengar nyaring memecah keramaian di sekitar mereka.

Wajah Oliv terhentak ke samping, pipinya segera memerah dan terasa perih. Matanya terbelalak kaget dan sakit, tak menyangka Ivy akan berani bertindak seberani itu di depan umum.

“Emangnya nyawaku tidak ada artinya bagimu? Apa maksudmu sengaja mendorongku tadi? Jika saja mobil itu tidak berhenti tepat waktu, kau pikir aku masih bisa berdiri di sini dan berterima kasih padamu? Dasar bodoh dan tidak punya hati!” bentak Ivy dengan emosi yang meluap, matanya menatap tajam ke dalam mata Oliv.

Oliv segera memegang pipinya yang terasa panas, suaranya bergetar seolah ingin menangis. “Aku tidak sengaja! Aku hanya terpeleset, sungguh! Syukurlah kau baik-baik saja, kenapa harus bereaksi berlebihan seperti ini?”

Ivy ingin melanjutkan membongkar semua kejahatan dan niat jahat adik angkatnya itu, namun ia sadar tempat ini terlalu ramai dan ia sedang tidak memiliki tenaga untuk berdebat panjang. Ia tahu betul cara Oliv memutarbalikkan fakta hingga dirinya yang akan terlihat sebagai penjahat di mata orang banyak. Malam ini pun ia butuh tenaga untuk menjaga angka kehidupannya agar tidak terus menyusut.

Dengan napas panjang, Ivy menahan amarahnya. Ia menoleh ke arah Rama dan berbicara dengan nada dingin namun sopan. “Terima kasih atas pertolongannya, Tuan Rama. Tanpa bantuanmu, mungkin aku sudah tidak akan selamat.”

Setelah mengucapkannya, Ivy berjalan menjauh mendekati Bibi Nora, membiarkan Oliv berdiri tertegun dan memegang pipinya yang sakit. Rama hanya bisa menatap punggung Ivy yang berjalan menjauh, hatinya terasa tidak nyaman. Ia terbiasa melihat gadis itu memandangnya dengan tatapan penuh harap atau setidaknya semangat, namun hari ini tatapan itu berubah menjadi dingin dan penuh jarak.

Tak lama kemudian, mobil mereka masing-masing tiba. Rama dan Larry masuk ke dalam kendaraan, diikuti oleh mobil keluarga Dermawan yang berangkat bersamaan. Di dalam mobil, Rama hanya diam memandang ke luar jendela, pikirannya terus memutar kejadian tadi dan ucapan aneh Ivy sebelumnya.

Malam harinya, suasana di kediaman Dermawan terasa sibuk menuju acara pesta ulang tahun Kakek Candra. Semua orang sudah bersiap dengan pakaian terbaiknya, kecuali Ivy yang masih duduk di kamarnya dengan pakaian santai rumah. Saat Nyonya Lusi dan Tuan Tio datang menjemputnya, Ivy menggeleng pelan.

“Ma, Yah… aku merasa sedikit tidak enak badan. Kepalaku terasa berdenyut dan tubuhku terasa lemas. Mungkin malam ini aku tidak bisa ikut serta ke pesta keluarga Cahya,” ucapnya dengan nada lembut namun tegas.

Mendengar itu, raut wajah Tuan Tio langsung berubah menjadi tidak senang. “Tidak bisa begitu, Ivy! Ini acara penting untuk mempererat hubungan kedua keluarga. Jika kau tidak datang, itu dianggap tidak menghormati mereka. Kau harus ikut, tidak ada alasan!”

Namun, Nyonya Lusi segera melangkah maju membela putrinya. “Biarkan saja dia, Yah. Kesehatan Ivy jauh lebih penting daripada sekadar kehadiran di pesta. Biarkan dia beristirahat, cukup Oliv dan kita yang hadir nanti.”

Melihat kesempatan untuk kembali memutar keadaan, Oliv hendak membuka mulutnya untuk menyindir Ivy, namun gadis itu lebih cepat berbicara lebih dulu.

“Tubuhku memang sakit semua dan jiwaku masih terasa syok, karena tadi nyawaku hampir melayang. Semua terjadi karena Oliv yang mendorongku hingga hampir tertabrak mobil…”

Belum sempat kalimat itu selesai, wajah Oliv memucat dan segera memotong dengan nada panik. “Sudahlah! Biarkan Ivy beristirahat saja, mungkin dia masih terkejut sekali. Ayo, Ma, Yah, kita segera berangkat, jangan sampai membuat keluarga Cahya menunggu terlalu lama.”

Ivy hanya tersenyum kecil dalam hati. Sebenarnya tadi ia bersemangat ingin pergi ke pesta itu, berharap bisa bertemu Rama lagi dan menemukan cara untuk bersentuhan agar angka hidupnya bertambah. Namun setelah mendengar ucapan dingin dan meragukan dari pria itu tadi, semangatnya memudar. Ia malas harus berusaha keras mendekati seseorang yang menganggapnya gila, sekaligus menghindari menjadi sasaran permainan licik Oliv di depan tamu undangan. Lebih baik ia beristirahat dan menjaga tenaganya sendiri.

Di tempat lain, di kediaman megah keluarga Cahya, pesta berlangsung meriah. Banyak tamu penting yang hadir, dan untuk sesaat Oliv menjadi pusat perhatian karena statusnya sebagai calon cucu menantu yang akan dipersatukan dengan Brian. Namun, sorotan itu seketika beralih ketika pintu utama terbuka lebar dan Rama melangkah masuk dengan membawa kotak kado mewah. Ia datang terlambat namun membawa kejutan untuk ayahnya, Kakek Candra.

Semua orang berdiri memberi hormat, dan Kakek Candra menyambut kedatangan cucu kesayangannya itu dengan senyum lebar. “Syukurlah kau datang, Rama. Sudah waktunya kau juga menyusul Brian, segera menikah dan membangun keluarga sendiri. Jangan terus hidup menyendiri seperti ini.”

Rama tersenyum santai, lalu menjawab dengan suara yang cukup keras sehingga didengar oleh banyak orang di sekitarnya. “Tenang saja,yah. Saya sudah memiliki kekasih hati, tinggal menunggu waktu yang tepat saja.”

Mendengar pengakuan itu, seluruh ruangan terdiam sejenak. Kakek Candra terkejut sekaligus senang, lalu segera mendesak. “Benarkah? Siapa gadis beruntung itu? Kenapa tidak kau bawa ke sini untuk diperkenalkan?”

Rama melirik sekilas ke arah Tuan Tio dan Nyonya Lusi yang baru saja duduk, lalu menjawab dengan nada tenang namun tegas, “Gadis itu adalah putri dari Tuan Tio Dermawan.”

Seolah ada petir yang menyambar di tengah ruangan, wajah Tuan Tio, Nyonya Lusi, dan terutama Oliv berubah pucat pasi. Mereka tidak percaya mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Rama Cahya,putri keluarga mereka yang disebut Rama.

1
𝒁𝒆𝒍𝒊𝒏𝒆
lnjt
Musdalifa Ifa
semangat up Thor 💪, cerita nya ok
Alia Chans
lanjut, like + 🌹🤭😉



kalo berkenan mampir juga thor🤭😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!