Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 — Satu kamar yang Terpaksa
Pagi di mansion Syahrezan dimulai seperti biasa, tenang dan teratur, seolah rumah itu tidak pernah mengenal kekacauan.
Namun hari ini berbeda.
Diara sudah berada di dapur sejak matahari belum terlalu tinggi. Ia mengenakan abaya rumah berwarna lembut, rambutnya tertutup rapi dengan jilbab syar’i sederhana. Tidak ada riasan berlebihan, hanya wajah natural yang terlihat sedikit lebih segar dari biasanya.
Ia menatap meja makan yang perlahan terisi.
Sarapan.
Untuk dua orang.
Untuk dirinya dan Jifan.
Diara tidak terbiasa menyiapkan sesuatu untuk orang lain di rumah ini.
Tapi pagi itu, entah kenapa, ia melakukannya.
Mungkin karena suasana rumah yang sedikit berubah sejak kunjungan keluarga Jifan kemarin.
Atau mungkin karena ia mulai lelah dengan keheningan yang selalu sama setiap hari.
Sendiri.
Diam.
Tidak ada interaksi yang benar-benar hidup.
Langkah kaki terdengar dari tangga.
Stabil.
Rapi.
Seperti biasa.
Jifan turun dengan kaos polos dan celana rumah hitam. Wajahnya tenang, namun mata itu langsung menangkap meja makan yang sudah tertata.
Ia berhenti sejenak.
“…kamu masak?” tanyanya datar.
Diara menoleh.
“Iya. Sarapan.”
Jifan tidak langsung duduk.
Ia hanya melihat meja itu beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Lalu duduk.
Seperti tidak ada hal luar biasa yang terjadi.
Hening.
Namun kali ini tidak terlalu menekan seperti biasanya.
Ada sesuatu yang sedikit lebih ringan di udara.
Diara menuangkan teh ke gelas.
“Kalau tidak keberatan, aku buatkan sarapan sederhana saja,” katanya pelan.
Jifan mengangguk kecil.
“Tidak masalah.”
Jawaban singkat.
Namun kali ini tidak sedingin biasanya.
Beberapa menit mereka makan tanpa banyak percakapan.
Namun Diara bisa merasakan satu hal kecil yang berbeda.
Jifan tidak langsung berdiri seperti biasanya.
Ia masih duduk.
Lebih lama.
Seolah tidak terburu-buru untuk pergi.
Setelah sarapan selesai, Jifan akhirnya berbicara.
“Siang nanti kita ke rumah Bunda.”
Diara menoleh.
“Kenapa?”
“Bunda minta kita datang.”
Diara mengerutkan sedikit alis.
“Ada apa?”
Jifan menatapnya singkat.
“Tidak disebutkan detail.”
Hening sejenak.
Lalu ia menambahkan.
“Kakek dan nenek datang.”
Diara sedikit terdiam.
“Kakek nenekmu?”
Jifan mengangguk.
“Mereka ingin bertemu kamu.”
Beberapa jam kemudian, mereka berangkat.
Mobil hitam melaju pelan di jalanan kota yang mulai ramai.
Diara duduk di kursi belakang, sementara Jifan di sebelahnya.
Tidak ada percakapan.
Seperti biasa.
Namun kali ini Diara tidak terlalu terganggu dengan itu.
Pikirannya lebih fokus pada pertemuan yang akan datang.
🪻🪻🪻🪻
Rumah Aishani tidak jauh.
Saat mereka tiba, suasana langsung terasa berbeda.
Lebih hangat.
Lebih hidup.
Seperti biasa, Aishani sudah menunggu.
“Alhamdulillah kalian datang,” ucapnya lembut.
Diara turun dan langsung menunduk sopan.
“Assalamualaikum, Bundq.”
“Waalaikumsalam, Nak.”
Aishani tersenyum hangat.
Namun sebelum mereka masuk lebih jauh, suara lain terdengar dari ruang dalam.
“Di mana cucu menantu kita?”
Suara berat namun penuh kehangatan.
Seorang pria tua dan wanita tua muncul.
Kakek dan nenek Jifan.
Diara sedikit gugup, tapi tetap menjaga sikapnya.
“Assalamualaikum, Kek… Nek,” ucapnya pelan.
Nenek Jifan langsung tersenyum lebar.
“MasyaAllah… ini dia Diara.”
Ia mendekat tanpa ragu.
Memegang tangan Diara dengan hangat.
“Cantik sekali kamu, Nak.”
Diara sedikit tersenyum.
“Terima kasih, Nek.”
Kakek Jifan mengamati Diara beberapa detik.
Lalu mengangguk kecil.
“Jifan akhirnya membawa orang yang tepat.”
Jifan yang berdiri di samping hanya diam.
Tidak menanggapi.
Tapi tidak membantah juga.
Percakapan berjalan lebih cair dari yang Diara duga.
Nenek Jifan banyak bertanya.
Bukan dengan formalitas.
Tapi dengan rasa ingin tahu yang tulus.
Tentang pekerjaan Diara.
Tentang kehidupannya.
Tentang bagaimana ia bertemu Jifan.
Diara menjawab dengan sopan.
Namun tidak kaku.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sedang dinilai seperti objek formal.
Sore berubah menjadi malam.
Dan seperti yang Diara tidak duga sebelumnya, keputusan dibuat begitu saja.
“Kalian menginap saja di sini malam ini,” kata nenek Jifan tiba-tiba.
Diara langsung menoleh.
“Nginep?” ulangnya pelan.
Nenek tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa, Nak. Rumah ini cukup luas.”
Aishani mengangguk.
“Biar kalian tidak bolak-balik malam-malam.”
Diara menatap Jifan sekilas.
Pria itu tidak terlihat keberatan.
Hanya diam.
Lalu berkata singkat.
“Bisa.”
Satu kata itu cukup.
Malam pun tiba.
Nenek Jifan memutuskan sesuatu lagi.
“Kamarnya sudah disiapkan di lantai atas ya,” katanya.
Aishani mengangguk.
“Di kamar Jifan saja, biar lebih nyaman.”
Diara langsung menoleh.
“…satu kamar?”
Jifan menatap ibunya.
Namun tidak ada penolakan.
Hanya keheningan singkat.
Lalu ia berkata.
“Tidak masalah.”
Diara tidak tahu harus merespons apa.
Namun situasi sudah berjalan.
Tidak ada ruang untuk debat.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di kamar Jifan.
Ruangan itu luas, rapi, dengan nuansa gelap modern yang sama seperti mansion itu sendiri.
Minimalis.
Dingin.
Teratur.
Namun malam ini ada sesuatu yang berbeda.
Karena ada dua orang di dalamnya.
Diara berdiri di dekat sisi ranjang.
Tangannya memegang ujung jilbabnya.
Jifan berdiri di sisi lain, membuka beberapa dokumen kecil di mejanya.
Seolah situasi ini tidak mengganggu sama sekali.
Namun Diara bisa merasakan sesuatu yang tidak biasa.
Jarak di ruangan ini tidak lagi hanya tentang emosi.
Tapi tentang ruang fisik yang harus dibagi.
“Aku tidur di sofa saja,” kata Diara akhirnya.
Jifan menoleh.
“Tidak perlu.”
Diara mengerutkan sedikit alis.
“Ini lebih nyaman untukmu.”
Jifan diam sepersekian detik.
“Tidak ada aturan seperti itu di rumah ini.”
Diara terdiam.
“…ini tidak biasa.”
Jifan menutup dokumennya.
Lalu berkata singkat.
“Kita hanya menginap.”
Hening.
Lalu ia menambahkan.
“Tempat tidur cukup besar.”
Kalimat itu datar.
Tanpa makna lain.
Namun justru itu yang membuat Diara diam lebih lama.
Malam semakin larut.
Lampu kamar sudah diredupkan.
Diara berbaring di satu sisi ranjang, menjaga jarak sejauh mungkin.
Jifan di sisi lain.
Tidak ada percakapan.
Tidak ada interaksi.
Hanya keheningan yang berbeda dari biasanya.
Lebih dekat.
Lebih nyata.
Diara menatap langit-langit.
Pikirannya tidak tenang.
Ini pertama kalinya ia berada terlalu dekat dengan Jifan dalam ruang yang sama tanpa batas formal.
Dan itu membuatnya sadar satu hal:
meskipun pria itu tetap dingin…
kehadirannya tidak lagi terasa jauh seperti dulu.
Di sisi lain, Jifan masih terjaga.
Matanya menatap gelap ruangan.
Tidak bergerak.
Namun pikirannya tidak sepenuhnya diam.
Karena di sampingnya, seseorang yang sebelumnya selalu terasa “jauh” kini benar-benar ada di sana.
Dalam jarak yang terlalu nyata untuk diabaikan.
Dan itu… mulai mengganggu ketenangannya.