Damon terbangun dari mimpi buruknya.
Ia seperti mendapatkan ilham.
Ibaratnya, Damon bisa melihat makhluk-makhluk tak kasat mata dalam mimpinya.
Semua terjadi setelah ia tak sengaja menabrak batu nisan kuno di area Sungai Qinghe.
Apakah benar Damon bisa melihat sesuatu?
Mari ikuti kisah Damon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Bertemu Rombongan Aneh
Damon duduk berjongkok di sisi depan kantin kampusnya, di sebelahnya Muchen menemani nya.
Sekaleng minuman di tangannya.
"Fuih... Bagaimana cara kita mencari alamat rumah Mr. Oyunchimeg sekarang?" tanya Damon sambil menghela nafas pelan.
"Kamu bisa tanyakan pada dosen lainnya." sahut Muchen.
"Mana bisa begitu, kampus ini memiliki aturan ketat, kami sebagai mahasiswa dilarang berkunjung ke tempat tinggal dosen terkait masalah perkuliahan." kata Damon. "Apalagi ketahuan berkunjung ke rumah dosen, aku bisa dituduh menyuap dosen."
Damon menenggak minuman kalengnya, dan mendesah lagi.
"Fuah... !" Ia menggelengkan kepala ringan. "Jika aku melanggar nya maka aku akan terkena sanksi dari kampus, bisa-bisa aku dikeluarkan dari universitas."
"Sama ketatnya dengan pendidikan di Kerajaan Tepi Barat pada masa lalunya, kami cendekiawan juga dilarang pergi ke rumah guru-guru kami jika melanggar akan dituduh menyuap kelulusan." kata Muchen.
"Yah... Begitulah kira-kira aturannya..." sahut Damon lalu tersenyum.
"Kau bilang kalau kamu akan bekerja di Cafe, apa kamu tidak jadi kesana?" tanya Muchen.
"Kurasa aku akan masuk shift malam saja, kalau jam-jam segini percuma juga, terlambat." sahut Damon.
"Lantas apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tegas Muchen.
"Pulang lalu tidur siang." sahut Damon.
"Sejak tadi, aku tidak melihat mu makan." kata Muchen.
"Aku tidak punya uang buat beli makanan." jawab Damon.
"Kamu kan tinggal minta saja pada telur giokmu itu, makanan yang kamu sukai, dalam sekejap mata, makanan akan terhidang untukmu." kata Muchen disertai bunyi suara berbisik...Ting... dari dua belas Liu giok nya.
"Kaisar saja yang menyediakan makanan buatku, kan Kaisar sangat sakti." kata Damon sembari melirik dingin ke arah Muchen.
"Apa kamu suka makanan zaman dulu?" tanya Muchen.
"Yang terpenting makanan nya enak, tidak perlu harus makanan zaman dulu atau zaman modern. Asal bisa ditelan, bukan masalah buatku." sahut Damon.
"Baiklah, kalau begitu tunggu sebentar..." kata Muchen. Ia memutar ujung jari tangannya beberapa kali putaran, berbentuk lingkaran penuh. Seketika muncul sepiring makanan lezat terhidang di tangan Damon.
"Woah...?!" pekik Damon tercengang kaget saat dia melihat sepiring makanan lezat tersaji di telapak tangannya. "Ini untukku???"
Damon bertanya sembari menoleh kagum pada Muchen di sampingnya.
"Yah..." sahut Muchen dengan anggukkan kepala pelan, sedangkan ekspresi wajahnya datar.
Damon segera menyantap sepiring makanan lezat itu, lahap sekali ketika Damon memakannya.
Kaisar Muchen hanya tersenyum, melihat Damon makan selahap itu. Kemudian ia alihkan pandangan matanya ke arah langit yang berawan biru cerah.
Angin bertiup sepoi-sepoi menerpa wajah keduanya, tampak daun dari bunga Du Juan Hua berguguran.
Sebentar lagi musim gugur berlalu, tinggal menghitung waktu, musim salju akan segera tiba.
Damon berjalan melewati area taman Single menuju tempat kerjanya. Namanya Cafe Night Site, view-nya pinggir Sungai Qinghe. Menu kopi, teh, roti lengkap. Buka 07.30-21.00 hari kerja.
Rencananya, Damon tidak akan pergi ke Cafe siang ini karena dia bermaksud masuk kerja pada malam hari, tapi dia lupa memberitakan hal ini pada Hao Yu, teman sekerjanya di Cafe. Sebab pulsa telponnya habis dan masuk masa tenggang.
"Duang... Tak... Tak...! " Suara genderang ditabuh, dari arah depan tampak iring-iringan orang berpakaian aneh disertai bendera, mereka sedang berjalan rancak. Ada pula suara orang teriak dari rombongan orang berpakaian khas itu.
"Huat... Ah... !!! "
Damon mengerutkan keningnya saat ia melihat iring-iringan itu.
"Apalagi ini..." gumamnya pelan.
Seorang pria dewasa berjalan paling depan, ditangannya terdapat sebuah buku kitab kuning tua, dan ia sangat sibuk merapalkan doa, salah satu tangannya memegang lonceng yang selalu berbunyi nyaring setiap dia menggoyangkan nya.
"Kling... Kling... Kling..."
Bau dupa Hio Naga Tebal tercium kuat dari arah iring-iringan itu, beberapa orang membakar kertas sembahyang lalu melemparkan nya ke atas seakan mereka hendak mengirim uang ke langit.
Mulai tercium aroma Miu Tau yang menyebar kuat serta menyengat keras, baunya membuat pusing.
"Kling... Kling... Kling..."
Kembali terdengar suara lonceng yang dibawa oleh pria berjubah kuning emas sepertinya dia berperan sebagai pemimpin iring-iringan.
Damon segera menyingkir, memberi jalan pada iring-iringan orang berpakaian aneh itu, ditengah iring-iringan itu, ada beberapa orang sedang berjalan membawa tandu.
Menyaksikan pemandangan yang tak biasa itu, Damon cuma bisa terpana.
Tiba-tiba orang yang memegang kitab kuning tua menghentikan langkah kakinya, berdiri terdiam lalu berbalik menghadap Damon. Ia menatap lurus-lurus ke arah Damon.
Dan bersuara unik, terdengar suaranya mirip kucing terinjak-injak.
"Apa anda seorang cenayang sakti?" tanyanya dengan wajah serius pada Damon.
Damon yang ditanyai cuma bisa tercengang, dia hanya menggelengkan kepalanya, tak bersuara sedikit pun.
"Jika bukan cenayang, kenapa aku mencium bau Langit serta Dewa di tubuhmu bahkan bau cendana tercium kuat dari badanmu, anak muda." ucap pria itu.
Sebuah kitab kuning tua dipegangnya erat, tapi lembaran tiap halaman kitabnya terbuka sendiri seperti tertiup angin.
Damon hanya melirik pelan tanpa berekspresi, ia tetap tenang, tidak mencoba terpengaruh pada situasi disekitar nya.
"Baumu bukan bau manusia, tapi aku mencium hawa iblis begitu kuat darimu, dan kamu baru bertemu seseorang yang kerasukan setan." lanjut pria dewasa itu.
Damon menarik nafas pelan kemudian dia membuka suara.
"Bau Dewa yang kamu maksud kan itu berasal dari aroma minyak wangi bercap Dewa Tujuh Lapis Daratan Pemecah Birahi yang kubeli beberapa minggu lalu dari sebuah pusat perbelanjaan di kota." kata Damon. "Aku membelinya bertujuan untuk mendapatkan mangsa wanita kaya raya agar dia mau ku ajak tidur, tapi aku malah bertemu setan."
Kedua alis pria berpakaian aneh di hadapan Damon terangkat naik, ia tersentak kaget saat mendengar jawaban asal Damon.
"Tidak lucu." kata pria berjubah emas itu.
"Aku juga tidak bermaksud melucu, dan aku mengatakannya serius, pak tua." sahut Damon datar.
"Perkenalkan namaku Tangki Mazu, aku Tangki dari Klenteng Birokrasi Surga." ucap Tangki Mazu menjelaskan. "Dan kamu bisa memanggilku Tangki Mazu, anak muda."
"Rupanya kamu berasal dari Klenteng dan merupakan anggota Tangki." kata Damon merespon.
"Benar sekali..." sahut Tangki Mazu lalu mengangguk paham.
"Terus terang kalau aku ini bukanlah cenayang, tapi kenapa Tangki berkata demikian padahal aku cuma karyawan Cafe." kata Damon.
"Aku mencium bau Dewa serta kekuatan wahyu Langit dari dirimu. Bahkan penerawanganku melihat ada kekuatan hitam sedang mengincarmu, anak muda." kata Tangki Mazu.
Pikiran Damon langsung tertuju pada Kaisar Muchen, memang dia bertemu arwah seorang Kaisar yang penasaran bahkan Kaisar itu menyeretnya ke dalam bahaya, lebih tepatnya ke jurang maut.
"Siapa namamu, anak muda?" tanya Tangki Mazu.
"Damon..." sahut Damon singkat.
Keduanya saling berpandangan serius, dengan sorot mata tajam.
Tiba-tiba suara berisik dari arah tandu terdengar keras, tandu itu berguncang-guncang kuat.
"Cepat kirim uang kertas, minta pertolongan dewa di langit !!!" perintah Tangki Mazu kepada orang-orang di sekitar tandu.
Mereka segera menjalankan perintah Tangki Mazu, tergopoh-gopoh mereka mendekati tandu yang dibawa oleh beberapa orang berpakaian aneh, sembari membakar uang kertas yang dikirim ke langit.
Bukan malah tenang, tandu itu bahkan berguncang-guncang semakin kerasnya, berputar cepat hingga melemparkan sejumlah orang di sekitar tandu.
"Cepat bakar kertas doa. Bakar uang kertas sebanyak mungkin. Kamu yang disana. Jangan berdiri mematung, cepat bakar hio!"
Tangki Mazu kembali memerintah, ia terlihat sibuk memandu orang-orang nya, sedangkan tandu ditengah-tengah mereka masih terus berguncang kerasnya. DUAK... DUAK... DUAK...
"Apa yang terjadi??? " gumam Damon tak mengerti, dia cuma melihat semua itu dengan tatapan bingung.
Bau kertas terbakar menyengat sangat kuat, asap bau Hio bertambah tebal dari arah iring-iringan itu, dan tandu masih sulit dikendalikan oleh Tangki Mazu yang terus-menerus merapalkan do'a-doa suci.
Orang-orang yang ada disekitar tandu berusaha keras menghentikan tandu yang mendadak berputar-putar sendiri. Dan Damon bersiap-siap menghadapi segala sesuatu nya yang akan terjadi. Diam-diam Damon mengeluarkan prisma utuh miliknya dari dalam tas kuliah nya.