NovelToon NovelToon
Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Healing / Orang Disabilitas / Tamat
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22

Bom Nuklir dari Toilet

Tisu di tangan Sekar hampir robek.

Di balik pintu penghubung itu, suara Felicia masih rendah, tajam, dan penuh rasa benci.

"Kalau sejak awal dia mati, semua tidak akan serumit ini."

Darah Sekar terasa turun dari wajahnya.

Ia tidak bergerak. Bahkan napas pun ia tahan, takut sedikit suara membuat dua orang di ruangan sebelah sadar bahwa ada telinga lain di balik dinding tipis ini.

Suara Kevin muncul, lebih tenang, tetapi justru lebih mengerikan.

"Jangan bicara seperti itu di sini."

"Kamu yang terlalu lambat," desis Felicia. "Sekarang dia datang dengan kursi roda, adik bodoh, dan pengasuh yang mulutnya seperti pisau."

"Aku bilang diam."

Ada suara gelas diletakkan terlalu keras.

Sekar menutup mata sebentar.

Jadi benar.

Mereka bukan hanya tahu. Mereka bagian dari itu.

Pintu ruang rias terasa tiba-tiba terlalu kecil, seperti perangkap. Ia harus keluar, kembali ke Ardian, memberi tahu dia. Tetapi kalau ia keluar saat ini dan tertangkap, semua yang ia dengar bisa berubah menjadi masalah baru.

Sekar perlahan meletakkan tisu di meja rias. Tangannya dingin.

Saat ia hendak mundur dari pintu penghubung, suara ledakan mengguncang villa.

BUUM!

Lantai seperti bergetar.

Jeritan tamu terdengar dari arah aula. Felicia berteriak. Kevin memaki. Sekar langsung membuka pintu ruang rias dan berlari ke lorong.

Aroma aneh menyambutnya.

Bukan aroma bunga pertunangan.

Bukan aroma parfum mahal.

Ini aroma yang membuat manusia menyesali semua dosa masa lalu.

Dari arah toilet tamu, asap tipis keluar bersama suara batuk, cipratan air, dan teriakan Darren.

"Aku masih hidup!"

Sekar berhenti satu detik.

Lalu berlari lebih cepat.

Di aula utama, musik pertunangan sudah berhenti total. Tamu-tamu berdiri kacau, sebagian menutup hidung dengan tisu, sebagian mengangkat gaun agar tidak terkena air kotor yang mengalir dari lorong toilet. Pipa bawah wastafel tampaknya pecah. Air bercampur sesuatu yang tidak ingin Sekar identifikasi merembes ke karpet putih.

Tan Ardian berada di dekat pintu aula, kursi rodanya sedikit mundur dari kerumunan. Wajahnya tenang.

Terlalu tenang.

Sekar mendekatinya. "Pak Tan!"

Matanya langsung memeriksa tubuhnya. Tidak basah. Tidak terluka. Tidak terlalu dekat dengan sumber bencana.

Ardian melihat wajahnya yang pucat. "Kamu dengar sesuatu?"

Sekar belum sempat menjawab.

Darren muncul dari lorong toilet seperti makhluk dari cerita kiamat.

Piyama pestanya sudah diganti jas sebelum acara, tetapi jas itu kini tidak bisa disebut jas lagi. Rambutnya basah, wajahnya hitam terkena asap, dan dari bahu sampai sepatu ada cipratan yang membuat semua tamu mundur tiga langkah.

Di tangannya, ia masih memegang sisa petasan basah.

"Aku bisa jelaskan!" teriak Darren.

Ardian menutup mata.

Sekar menutup hidung.

Dari potongan kalimat Darren yang melompat-lompat, Sekar akhirnya mengerti kira-kira apa yang terjadi.

Darren tidak puas dengan petasan kecil yang dibawanya. Di tengah acara, ia menyelinap ke toilet tamu untuk "menggabungkan efek suara" agar nanti bisa membantu mereka kabur jika situasi memburuk. Ia membongkar beberapa petasan, mengikatnya dengan tisu, lalu menaruhnya sementara di dekat tempat sampah logam.

Masalahnya, ada tamu tidak bertanggung jawab yang membuang puntung rokok masih menyala ke tempat sampah itu.

Masalah kedua, Darren panik dan menendang gulungan petasan itu ke bawah wastafel.

Masalah ketiga, pipa tua villa Puncak ternyata tidak setangguh harga sewanya.

Hasilnya: ledakan kecil, pipa pecah, air kotor menyembur, dan Darren keluar dari toilet seperti manusia yang baru kalah perang melawan saluran pembuangan.

Kevin muncul dari sisi lain dengan wajah marah. "Tan Darren! Apa yang kamu lakukan di toiletkku?"

"Toiletmu?" Darren tersinggung meski kondisinya seperti baru keluar dari gorong-gorong. "Ini toilet tamu!"

"Kamu meledakkannya!"

"Tidak sengaja!"

Felicia muncul di belakang Kevin, wajahnya pucat karena marah dan bau. "Acara pertunanganku..."

Darren melihat Kevin.

Sekar melihat arah tatapannya dan langsung punya firasat buruk.

"Pak Darren," katanya cepat, "jangan."

Terlambat.

Darren membuka kedua tangan penuh penderitaan. "Kevin, aku juga korban!"

Lalu ia memeluk Kevin.

Satu pelukan penuh.

Basah.

Bau.

Berat.

Seperti bom nuklir yang ditembakkan langsung dari toilet.

Kevin membeku.

Seluruh aula ikut membeku.

Lalu tamu-tamu meledak dalam teriakan.

"Aduh!"

"Jauhkan!"

"Bajuku!"

"Astaga, baunya!"

Felicia menjerit begitu keras sampai pianis di sudut menjatuhkan lembar musik. Kevin mendorong Darren, tetapi Darren justru terpeleset, memegang jas Kevin lebih kuat, dan membuat keduanya hampir jatuh ke karpet yang sudah menjadi korban perang kimia.

Ardian diam di kursi roda.

Diam.

Sangat diam.

Sekar menoleh, dan untuk pertama kalinya malam itu ia melihat sudut bibir Ardian bergerak.

Tipis.

Lalu ia tertawa.

Bukan tertawa keras. Hanya satu suara pendek, rendah, keluar dari dadanya seperti retakan pada dinding es.

Sekar hampir lupa bahwa ia baru saja mendengar pengakuan mengerikan.

Darren masih berteriak, "Aku tadi cuma mau menggabungkan beberapa petasan supaya efeknya lebih megah!"

"Di toilet?" Kevin meraung.

"Karena tempatnya tertutup! Aku pikir aman!"

"Aman dari mana?"

"Aku tidak tahu ada orang buang puntung rokok ke tempat sampah!"

Seorang tamu pria langsung menyembunyikan rokok di balik punggung.

Sekar menarik napas pendek. Ini kesempatan.

Ia mendekat ke Ardian dan berkata pelan, "Kita harus pergi sekarang."

Ardian menatapnya. Mungkin ia melihat wajahnya yang masih pucat di balik kekacauan. Ia tidak bertanya lagi, hanya mengangguk.

Sekar memberi isyarat pada bodyguard. Dua orang langsung membuka jalur ke pintu samping. Darren, yang akhirnya lepas dari Kevin, berlari mengikuti mereka sambil meneteskan air kotor.

"Jangan masuk mobilku," kata Ardian dingin.

"Koko!"

"Kamu naik mobil bodyguard."

"Aku adik kandung!"

"Kamu bencana biologis."

Sekar hampir tertawa, lalu ingat suara Felicia di balik pintu.

Dadanya kembali dingin.

Mereka hampir mencapai pintu ketika Kevin sadar mereka pergi.

"Ardian! Kalian tidak bisa pergi begitu saja!"

Ia melangkah maju, tetapi tubuhnya penuh cipratan dan satu sepatu kanannya terinjak tali dekorasi yang jatuh dari meja bunga. Sekar, dalam kekacauan tadi, melihat tali sepatunya lepas. Sekarang ia berjongkok secepat mungkin, pura-pura membantu.

"Pak Kevin, tali sepatunya bahaya. Nanti jatuh."

Tangannya bergerak cepat.

Satu simpul.

Dua simpul.

Simpul mati.

Kevin menatapnya. "Apa yang kamu lakukan?"

"Menyelamatkan tuan rumah dari kecelakaan kedua," kata Sekar, lalu berdiri dan mundur.

Kevin mencoba melangkah. Sepatunya tertahan.

"Buka!" bentaknya pada staf.

Staf mundur karena bau tubuhnya.

Felicia menutup hidung dengan saputangan, tidak mau mendekat. "Kevin, cepat!"

Kevin membungkuk, tetapi jasnya terlalu kotor dan tangannya juga basah. Ia tampak ingin memakai tangan, lalu jijik sendiri. Dalam beberapa detik paling memalukan malam itu, ia menunduk lebih rendah dan menggigit tali sepatu untuk membuka simpul.

Beberapa tamu menahan napas.

Satu orang jelas memotret.

Ardian melihat adegan itu dari ambang pintu.

"Pergi," katanya.

Sekar mendorong kursi roda keluar.

Mereka masuk mobil pertama. Darren dilempar secara terhormat ke mobil paling belakang dengan dua bodyguard dan satu plastik besar sebagai alas duduk. Dari luar masih terdengar suara Felicia menangis marah, Kevin memaki, dan tamu-tamu berebut jalan menjauh dari sumber bau.

Sebelum pintu mobil belakang ditutup, Darren sempat berteriak, "Koko, aku bau sekali ya?"

Ardian menjawab tanpa menoleh, "Itu pertanyaan atau pengakuan?"

Mobil bergerak meninggalkan Villa di Puncak.

Di dalam kabin, udara akhirnya bersih.

Terlalu bersih sampai Sekar bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

Ardian duduk di samping jendela. Wajahnya kembali tenang setelah tawa pendek tadi. Lampu jalan Puncak melewati garis wajahnya satu per satu, membuatnya tampak jauh lebih lelah daripada di aula.

Sekar menatap tangannya sendiri.

Haruskah ia bilang sekarang?

Felicia. Kevin. Orang waktu itu. Lolos hidup-hidup.

Kalimat itu berputar seperti pisau.

Ia menoleh pada Ardian.

Ardian tidak melihatnya, tetapi suaranya terdengar pelan.

"Kamu mendengar sesuatu di ruang rias."

Sekar membeku.

Ia menatap sisi wajahnya.

Pada detik itu, ia tiba-tiba merasa Tan Ardian mungkin sudah tahu jauh lebih banyak daripada yang ia kira.

1
sunaryati jarum
Beruntungnya kamu Sekar dicintai Tan Ardian dengan ugal-ugalan
sunaryati jarum
Itu juga emak nanti, Tante Nana yang ikut bulan madu sudah ada isi orok rahimnya
sunaryati jarum
Akhirnya kembali
sunaryati jarum
Tiga puluh negara berapa bulan tuh
sunaryati jarum
Itu aturan kamu lho mengganti kata maai😃😃
sunaryati jarum
Bulan madunya keliling dunia
sunaryati jarum
Sepertinya mau berbaikan dan balikan
sunaryati jarum
Semoga mereka . balikin lagi jadi suami istri dan kepulangan dari bulan madu ada kabar gembira dari Budiman Sekar, kecebong Tan Ardian ada yang tumbuh di rahim Sekar
sunaryati jarum
Perjuangan keluarga untuk mendapatkan pendengaran Ibu Melina berhasil
sunaryati jarum
Selamat akhirnya menikah cepat
sunaryati jarum
Nah gitu ,jika sudah menikah dimana pun tinggal bisa tidur bersama
sunaryati jarum
Maka segera nikahin Sekar, Setelah semua urusan hukum Kevin, Yenni,dan Felicia selesai
sunaryati jarum
Ternyata kau mempelajari bahasa dengan sungguh sungguh
sunaryati jarum
Bravo Ardian ,calon menantu idaman
sunaryati jarum
Dalam tidur saja kalau sudah bucin , yang teringat hanya Ardian
sunaryati jarum
Tan Hendrawan hanya bisa menyesal dan meratapi kebodohannya
sunaryati jarum
Nah Kevin dan Violeta yang merasa aman,akan diminta pertanggungjawabannya
sunaryati jarum
Ardian sudah mengumumkan pacarnya siapa
sunaryati jarum
Ingin merebut milik Tan Ardian,Kevin.Yang ada kehancuran kamu
sunaryati jarum
Dengan cinta semangat bangkit kembali ,Tan Ardian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!