Karena pria yang mencintainya meninggalkan dirinya di hari pernikahannya membuat Lavanya mau tidak mau harus menikah dengan Mike.
Mike berusaha untuk menjalani pernikahan mereka meski pernikahan itu didasari tanpa cinta dan Lavanya tidak mudah membuka hatinya.
Percekcokan terjadi di antara mereka, Lavanya benar-benar tidak ingin mencoba untuk rumah tangganya dan tidak mungkin berpisah karena keluarga calon suaminya itu dikenal oleh orang banyak dan sangat terhormat.
Sahabatnya masuk dalam rumah tangga mereka dan menghancurkan rumah tangga itu dengan Mike mencari kenyamanan pada Arumi.
Ketika Lavanya menyadari adanya yang tidak sehat dalam rumah tangganya, bagaimana dirimu manfaatkan dan terlalu sibuk untuk dirinya dan sampai akhirnya mengetahui perselingkuhan suaminya. Lavanya ternyata tidak mundur dan justru maju untuk merebut suaminya kembali.
Bagaimana kelanjutan hubungan pernikahan antara Mike dan Lavanya. Apakah pada akhirnya Lavanya kembali mendapatkan suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 Politik
"Santoso, sepertinya sengaja membuat berita viral agar menarik simpatik masyarakat, dengan kecelakaan yang telah dialami istrinya," ucap Brahmana saat berada di ruang tamu bersama dengan Maria.
"Benar, selama beberapa hari ini pembicaraan terus membicarakan tentang mereka, simpatik masyarakat benar-benar luas memberi komentar positif dan bahkan dukungan. Ini akan berpengaruh dengan Papa, mungkin saja orang-orang yang sudah yakin kepada kita bisa berpindah haluan dengan cepat," sahut Maria.
"Mama benar, apa yang harus Papa lakukan, agar bisa kembali menarik simpatik masyarakat, percuma kita terus blusukan ke daerah-daerah terpencil, diliput oleh media, jika akhirnya simpatik mereka tertuju kepada Santoso. Pemilihan bahkan hanya sekitar 4 bulan lagi," ucap Brahmana.
"Pasti kita akan berusaha dan semua tim kita akan melakukan yang terbaik agar suara ini berpihak kepada kita," sahut Maria.
"Ya untung saja, Erlangga tewas, begitu hanya tinggal satu pesaing lagi," sahut Brahmana.
"Papa harus tetap hati-hati, pihak kepolisian saat ini sedang menyelidiki kematian Erlangga dengan calon pemimpin negara yang tewas mengenaskan di dalam mobil, jangan sampai polisi datang ke rumah ini untuk memeriksa kita," ucap Maria mengingatkan sang suami.
"Tidak perlu mengajari Papa. Papa tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara menghadapi pihak kepolisian, kita akan tetap bersih dan tidak akan ada yang mengetahui apa yang terjadi yang sebenarnya," ucap Brahmana tampak begitu santai.
Ketika Brahmana ingin mengatakan sesuatu kepada istrinya tetapi tidak jadi ketika Lavanya tiba-tiba saja berdiri sekitar beberapa meter dari tempat mereka.
"Sejak kapan kamu berada di sana Lavanya?" tanya Brahmana.
Maria berbalik badan dan melihat menantunya itu yang membuat Maria kaget.
"Kamu mendengarkan pembicaraan saya dengan suami saya?" tanya Maria langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Kamu tidak punya mulut untuk menjawab? Katakan apa yang kamu dengarkan?" tanya Maria.
Lavanya menggelengkan kepala, tiba-tiba saja dia merasa takut dan pahala apa yang sedang dia pikirkan saat ini.
Brahmana menghampiri Lavanya berusaha untuk tenang dan mengendalikan istrinya yang sudah terlanjur panik dengan Brahmana yang berdiri di Lavanya, Lavanya seketika menjadi takut dan gugup.
"Sejak kapan kamu berdiri di sana?" tanyanya lembut.
"Baru saja pa," jawabnya dengan berusaha untuk tenang.
"Lavanya apapun yang tadi kamu dengarkan, itu bukanlah apa-apa, kamu tahu sendiri saat ini sedang masa-masa panas di masyarakat karena berkaitan dengan pemerintahan. Papa berharap kamu tidak terlalu mencampuri dan terbiasa dengan situasi seperti ini," ucap Brahmana.
"Apa maksud Papa?" tanya Lavanya.
"Tidak ada maksud apapun dari perkataan Papa, Papa hanya mengingatkan kamu fokus dengan diri kamu sendiri dan masalah yang terjadi dengan pemerintahan itu menjadi urusan Papa dan orang-orang yang bersangkutan. Dunia ini tidak bersih dan hal-hal seperti ini sudah sering terjadi. Jadi udah aja fokus dengan diri kamu dan tidak perlu mencari tahu apapun," ucap Brahmana menepuk lembut baru Lavanya.
Pernyataan itu justru seketika membuatnya takut, entahlah apa yang dimaksud ayah mertuanya itu sebenarnya. Lavanya benar-benar tidak mengerti, tetapi ada sesuatu hal besar yang dirahasiakan.
"Kembalilah ke kamar kamu!" titah Brahmana membuat Lavanya menganggukkan kepala dan langsung buru-buru pergi dan tak mengapa dia seketika menjadi takut saat berhadapan dengan Brahmana.
"Pa, kenapa membiarkan Lavanya pergi begitu saja, bagaimana jika sebenarnya dia mendengarkan pembicaraan kita dan Lavanya mengetahui sesuatu yang membuat dia langsung menyampaikan semua ini kepada orang lain?" tanya Maria.
"Kamu terlalu berlebihan Maria, kita mengetahui bahwa dia gadis polos dan tidak tahu apa-apa. Tidak ada yang didengarkan dan semuanya juga bukan urusannya, sudahlah kita jangan terfokus pada Lavanya," sahut Bramana.
"Tetapi tetap saja Mama tidak bisa tenang begitu saja," ucap Maria.
"Sudahlah, ini gunanya untuk kita tidak membicarakan masalah pemerintahan di rumah ini," ucap Brahmana.
Maria menghela nafas, tidak tahu apakah dia akan bisa tenang atau justru mengkhawatirkan sesuatu.
Lavanya saat ini memasuki kamar, dengan duduk di atas tempat tidur yang terlihat begitu panik.
"Apa barusan yang dibicarakan Mama dan Papa? Apa mereka membicarakan kematian seseorang yang beberapa hari ini menjadi berita trending topik di mana-mana? Apa mereka terlibat atas kematian orang tersebut?" Lavanya bertanya-tanya penuh dengan kebingungan.
Tidak bisa mengambil kesimpulan begitu saja, tetapi dia tidak terlalu bodoh dan sudah pasti mendengar pembicaraan kedua orang tersebut meski pembicaraan itu tidak terlalu jelas dan mencolok dengan apa yang dipikirkan.
"Ya Allah, Lavanya hanya berpikir terlalu berlebihan. Mana mungkin Mama dan Papa terlibat hal-hal kotor seperti itu hanya karena ingin menang dalam pemilihan untuk menjadi pemimpin negara," batin Lavanya mencoba untuk tenang dan berpikir positif.
*****
Suara dentingan sendok terdengar di meja makan. Keluarga kaya raya itu saat ini sedang menikmati makan malam bersama. Lavanya tidak pernah absen dari rutinitas keluarga tersebut.
"Untuk merayakan hari ulang tahun Clara, maka, kita akan liburan ke Bali, mungkin sekitar 3 hari atau sampai 4 hari," ucap Maria mengeluarkan statement di tengah pembicaraan itu.
"Jadi pada akhirnya Mama setuju juga untuk merayakan ulang tahunku di sana, aku pikir Mama mengabaikan permintaanku," sahut Clara tampak santai.
"Jika Mama tidak mewujudkan apa yang kamu mau, kamu akan drama," sahut Maria.
"Ya, baguslah jika perayaan ulang tahunku benar-benar khusus untukku dan bukan ada embel-embel bisnis di belakangnya," sahut Clara.
"Clara apa tidak bisa jika Mama kamu melakukan sesuatu hal kepada kamu, kamu seharusnya berterima kasih yang bukan mencari-cari celah untuk menimbulkan keributan!" sahut Bramana.
Clara hanya menghela nafas, antara percaya dan tidak percaya, tetapi bagi Clara keluarganya hanya penuh dengan bisnis dan apapun yang dilakukan orang tuanya juga pasti berkaitan dengan bisnis.
"Lavanya untuk hari ini sepertinya akan absen," ucap Lavanya.
"Kenapa?" tanya Maria.
"Ya, tidak datang juga tidak apa-apa, aku juga tidak mengharapkan kehadiran kamu yang justru mengotori acara aku, dengan menghadirkan wanita kampungan sepertimu yang tidak pantas di acara seperti itu," sahut Clara sinis
"Shutt, kamu bisa diam tidak!" tegur Maria lagi-lagi menegur.
"Kenapa kamu tidak ikut? Apa alasan kamu?" tanya Maria
"Lavanya harus ke rumah sakit untuk membantu kesehatan Ibu. Jadi Lavanya tidak bisa ikut ke Bali," jawabnya.
"Alasan kamu tidak diterima, orang-orang bisa bertanya mengapa menantu satu-satunya keluarga Brahmana tidak hadir di acara adik iparnya. Jadi jangan membuat spekulasi apapun!" tegas Maria.
"Tapi Ma...."
"Ibu kamu juga selama ini baik-baik saja ditangani oleh Dokter hebat dengan ruangan VVIP, suster yang selalu memantau, kamu berada di sana dan tidak berada di sana juga tidak akan ada pengaruhnya serahkan saja semua kepada pihak rumah sakit, selagi uang saya yang masih bergerak untuk menangani kondisi ibu kamu, maka semuanya akan baik-baik saja!" tegas Maria.
Lavanya hanya bisa terdiam. Mike hanya menghela nafas yang selalu tidak ingin berkomentar apapun jika istri dan ibunya berdebat dan lagi pula me Lavanya protes tetapi Maria tidak akan pernah bisa dibantah.
"Kita sebaiknya lanjutkan saja makannya," sahut Bramana yang jika tidak ingin berkomentar apapun. Lavanya hanya tampak sedih.
Bersambung....
reputasinya , kamu dan seluruh keluarga