Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?
Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?
"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.
____
"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.
Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.
____
"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.
"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.
-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --
Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Lyra balas dendam kepada Rian, Rian jadi Mati Kutu
Sorakan demi sorakan masih menggema di sudut kelas XI-3.
Doni dan Kevin bahkan mulai memperagakan adegan fiktif di mana Arka memasangkan helm ke kepala Lyra dengan gerakan yang sangat dramatis dan lambat, memancing tawa riuh dari teman-teman yang berkerumun.
Rian berdiri di tengah-tengah lingkaran itu, bersedekap dengan dada membusung, tampak sangat puas karena berhasil menjadi sutradara dari panggung penderitaan Lyra pagi ini.
Lyra yang sejak tadi menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangannya perlahan menurunkan tangannya.
Rasa malu yang tadinya membuat pipinya merona merah, kini perlahan berganti menjadi sebuah senyuman misterius.
Kilatan panik di matanya lenyap, digantikan oleh binar kelicikan yang jarang ia perlihatkan.
Lyra menyadari satu hal: bertahan terus-menerus hanya akan membuat Rian semakin melunjak.
Cara terbaik untuk menghentikan serangan musuh adalah dengan meluncurkan serangan balik yang jauh lebih mematikan.
Dan kebetulan, Lyra memegang kartu as terbesar dalam hidup Rian.
Lyra menegakkan punggungnya, melipat tangan di dada, lalu menatap Rian dengan pandangan meremehkan.
"Oh, jadi lo ngerasa udah menang banget ya, Yan, hari ini?" suara Lyra terdengar tenang, namun entah mengapa membuat tawa Rian agak menyusut.
"Lho, jelas dong. Bukti digital tidak pernah bohong, Tuan Putri," sahut Rian, mencoba mempertahankan rasa percaya dirinya meskipun naluri bertahan hidupnya mulai membunyikan alarm bahaya.
Lyra menarik napas dalam-dalam, memastikan suaranya bisa menjangkau seluruh penghuni kelas yang sedang mengerubungi meja mereka.
"Kalian semua tahu gak," buka Lyra dengan nada bicara yang sengaja dibuat dramatis, meniru gaya presenter acara gosip yang biasa Rian gunakan.
"Rian ini getol banget ngetawain hubungan gue sama Arka. Padahal, dia sendiri lagi menderita penyakit kronis yang namanya... cinta bertepuk sebelah tangan sama anak kelas sebelah!"
Kelas yang tadinya bising oleh sorakan untuk Lyra, mendadak senyap.
Detik berikutnya, fokus kerumunan itu bergeser seratus delapan puluh derajat.
Mata puluhan anak kini tertuju pada Rian yang wajahnya langsung menegang seketika.
"Wah, wah, ada plot twist nih!" Doni langsung menyenggol lengan Kevin.
"Maksudnya gimana, Ly? Anak kelas sebelah siapa?"
"Lyra, jangan ngaco ya lo!" Rian mulai panik.
Ia mencoba menyembunyikan ponselnya kembali ke saku celana, berniat mengakhiri permainan ini sebelum segalanya berbalik menyerangnya.
"Udah, udah, bel masuk bentar lagi bunyi. Bubar kalian semua, bubar!"
"Jangan dengerin Rian!" potong Lyra dengan cepat, berdiri dari kursinya agar semua orang bisa mendengarnya dengan jelas.
"Kalian tahu kan kelas XI-2? Kelas yang isinya anak-anak olimpiade itu?"
"Iya, kenapa emangnya?" sahut Cika, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu yang tinggi.
"Ada yang tahu anak baru pindahan dari Bandung sebulan yang lalu? Yang rambutnya sebahu, yang kalau ke perpustakaan selalu bawa binder warna pastel?" Lyra melemparkan petunjuk demi petunjuk dengan sangat rapi.
Mendengar petunjuk itu, wajah Rian yang tadinya kuning langsat langsung berubah menjadi seputih kertas.
"Lyra, demi apa pun, diem!" bisik Rian dengan nada memohon yang sangat amat dalam, namun Lyra sudah kepalang tanggung.
"Nanda! Namanya Nanda, kan?" teriak Kevin dari barisan belakang yang langsung mengingat sosok siswi tersebut.
"Tepat sekali, Kevin!" Lyra menjentikkan jarinya ke arah Kevin dengan senyum kemenangan yang amat lebar.
"Sahabat kita yang sok jagoan ini, yang kerjaannya tiap sore ngintipin orang di pos satpam, ternyata punya hobi rahasia. Tiap jam istirahat kedua, dia rela nongkrong di depan mading koridor tengah cuma buat nungguin Nanda lewat setelah selesai piket laboratorium fisika!"
"WAAAAAH!!! PARAH SIH INI!" Doni berteriak lebih kencang dari sebelumnya, bahkan sampai memukul-mukul meja saking hebohnya.
"Gak cuma itu!" Lyra melanjutkan serangannya tanpa ampun, memanfaatkan momentum di mana Rian sudah tidak berkutik lagi.
"Kalian tahu gak kenapa Rian minggu lalu tiba-tiba rajin banget nanya-nanya soal rumus gelombang elektromagnetik ke gue? Padahal dia biasanya benci banget sama fisika? Itu karena dia sengaja mau cari alasan buat nge-chat Nanda dengan kedok 'nanya tugas'!"
Sorakan di kelas XI-3 kini benar-benar pecah, namun kali ini badai godaan itu sepenuhnya mengarah kepada Rian.
Kevin dan Doni langsung merangkul pundak Rian dari kanan dan kiri, menjepit cowok jangkung itu agar tidak bisa melarikan diri dari pengadilan massa kelas.
"Cieeee! Rian diam-diam menghanyutkan ya!" goda Mita sambil tertawa puas.
"Pantas aja kemarin pas gue minta tolong temenin ke koperasi dia nolak, katanya sibuk. Ternyata sibuk mantau mading koridor tengah!"
"Aduh Rian, seleranya anak olimpiade cuy! Saingan lo berat, anak-anak jenius semua!" Doni menepuk-nepuk dada Rian dengan dramatis.
"Gimana? Chat-nya dibales gak? Atau cuma di-read doang kayak koran?"
Rian yang biasanya memiliki sejuta kata untuk membalas godaan orang lain, kini benar-benar mati kutu.
Ia hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam, merutuki nasibnya yang malang karena telah salah memilih lawan.
Semburat merah keunguan kini memenuhi seluruh wajah dan telinganya, bahkan jauh lebih parah daripada ekspresi Lyra beberapa menit yang lalu.
"Lyra... tega banget lo sama temen sebangku sendiri," gumam Rian pasrah, menatap Lyra dengan pandangan memelas seperti anak kucing yang kehujanan.
Lyra kembali duduk di kursinya dengan anggun. Ia mengambil botol minumnya, meneguknya sedikit, lalu menatap Rian sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Itu namanya hukum karma, Rian. Siapa yang menanam boba, dia yang akan menuai badai rahasia."
"Tapi kan gue belum jadian, Ly! Lah lo sama Arka kan hilalnya udah keliatan jelas!" Rian masih mencoba melakukan pembelaan terakhirnya, meskipun suaranya terdengar sangat lemah di tengah-tengah sorakan teman-temannya yang masih belum mereda.
"Gak ada hubungannya!" balas Lyra sambil menjulurkan lidahnya jahil.
"Makanya, mulai sekarang, kalau lo berani keluarin itu foto atau video lagi di depan anak-anak, gue bakal mastiin satu sekolah tahu kalau lo pernah salah kirim pesan teks puisi cinta yang harusnya buat Nanda tapi malah masuk ke grup angkatan. Mau gue coba?"
Ancaman terakhir Lyra itu sukses membuat Rian melakukan gerakan mengunci mulutnya rapat-rapat dan membuang kunci imajinernya ke udara.
Ia mengangkat kedua tangannya ke atas, tanda menyerah sepenuhnya secara total.
Teman-teman sekelas yang melihat kekalahan telak sang raja jahil langsung tertawa puas, menyadari bahwa di kelas XI-3 ini, tidak ada yang bisa menandingi kekuatan lidah Lyra jika gadis itu sudah mulai bertindak.
Tap-tap-tap.....
Suasana kelas yang sangat riuh itu perlahan mulai kondusif ketika langkah kaki guru sejarah mereka terdengar bergema dari arah koridor luar, memaksa kerumunan di meja Lyra dan Rian untuk segera membubarkan diri ke kursi masing-masing dengan sisa-sisa tawa yang tertahan.
Bersambung~~~
Hallo gess!! Semoga suka cerita nya ya!! 🤗 Lyra akhirnya balas dendam ges ehehehe🤭
Jangan lupa follow akun ini, like, komen dan share cerita nya ya!! 😉
Instagram: @dinndaayu_64
Wattpad: @dinda.glow
See you~~