Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.
Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...
bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??
kisah CHICK-LIT ROMANCE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: POSESIF MENDADAK DI KAMPUS HI-END
Kampus pagi itu terasa lebih gerah dari biasanya, padahal AC di koridor fakultas bisnis sudah disetel di suhu paling rendah. Vanya melangkah keluar dari kelas makroekonomi dengan kepala yang masih dipenuhi bayangan bibir Reyhan yang nyaris menyentuh bibirnya di mobil tadi. Sialan, fokusnya benar-benar buyar!
Namun, begitu ia sampai di area student lounge, langkah Vanya terhenti. Suasana di sana sangat riuh. Sekumpulan mahasiswi—yang biasanya hanya peduli pada diskon skincare atau gosip selebgram—kini berkumpul melingkari seseorang. Bunyi jepretan kamera ponsel terdengar bersahutan.
"Gila, itu siapa? Model ya? Gantengnya nggak manusiawi!" bisik Clarissa, sahabat Vanya yang entah sejak kapan sudah ada di sampingnya sambil memegang ponsel, siap memotret.
Vanya menyipitkan mata. Di tengah kerumunan itu, duduk seorang pria dengan kaos hitam polos yang membungkus tubuh atletisnya dengan sempurna. Wajahnya yang tegas tampak tenang, meski ia sedang menjadi objek foto dadakan.
Itu kan si Kecoa Kontrakan! Kenapa dia malah mangkal di sini?! batin Vanya kesal sekaligus heran.
Tiba-tiba, suasana yang riuh mendadak senyap. Kerumunan mahasiswi itu membelah, memberi jalan bagi seorang pria paruh baya berkacamata dengan setelan jas rapi yang sangat disegani di kampus ini. Pak Profesor Ragil, Dekan Fakultas yang dikenal dingin dan sulit ditemui.
Vanya menahan napas. Mampus kau Reyhan! Pasti diusir karena dikira gelandangan masuk kampus!
Namun, pemandangan selanjutnya justru membuat rahang Vanya jatuh ke lantai. Pak Ragil bukannya marah, malah membungkuk sedikit dengan raut wajah penuh hormat dan keterkejutan.
"Pak... Pak Rey? Ini benar Pak Rey kan?" suara Pak Ragil terdengar bergetar, seolah ia baru saja melihat legenda hidup.
Reyhan berdiri dengan tenang, tidak ada raut takut sedikit pun. "Apa kabar, Pak Prof. Ragil? Lama tidak berjumpa."
"Baik, Pak Rey... sangat baik. Anda sendiri bagaimana? Ya Tuhan, saya hampir tidak mengenali Anda dengan penampilan... eh, sesantai ini," ujar Ragil sambil menatap kaos Reyhan dengan bingung. Ragil tahu betul siapa pria di depannya ini. Dulu, Reyhan dikenal sebagai sosok yang arogan, dingin, dan bertangan besi, meski ia adalah donatur tunggal terbesar bagi riset kampus mereka.
"Alhamdulillah... baik," sahut Reyhan pendek.
Ragil merasa ada yang aneh. Reyhan yang ia kenal dulu tidak akan pernah mengucapkan "Alhamdulillah" atau tersenyum setenang ini. Aura angkuhnya sudah berganti dengan ketenangan yang menghanyutkan.
"Pak Rey, kenapa Anda menunggu di sini? Ayo, ke kantor saya saja. Kita bicara di sana sambil minum kopi terbaik," tawar Ragil penuh harap.
Reyhan menggeleng pelan. "Terima kasih, Pak Ragil. Saya hanya sedang memonitoring kampus saja. Ingin melihat bagaimana suasana belajar di sini. Silakan lanjutkan pekerjaan Anda, jangan terganggu oleh kehadiran saya."
"Baik... baik Pak Rey. Jika butuh sesuatu, tolong langsung hubungi saya," Ragil berpamitan dengan sopan, meninggalkan kerumunan yang kini makin heboh berbisik-bisik.
Vanya yang mengintip dari kejauhan merasa otaknya sedang mengalami buffering. Kok si Gembel itu bisa akrab sama Pak Ragil? Menal dari mana? Pak Ragil itu jangankan sama supir, sama anak pemilik yayasan saja jarang mau ngobrol lama!
Begitu Pak Ragil hilang dari pandangan, para mahasiswi kembali menyerbu Reyhan dengan godaan yang lebih berani.
"Hai cowok ganteng! Udah ganteng, hebat lagi, kenal sama Pak Dekan. Kenalan dong!" seru seorang mahasiswi tingkat satu dengan centil.
Reyhan menoleh, lalu... ia memberikan senyum manisnya. Senyum yang jarang sekali ia perlihatkan pada Vanya. Senyum yang membuat lesung pipit tipisnya terlihat dan membuat para wanita di sana memekik histeris.
Darah Vanya mendidih. Dadanya terasa seperti disiram bensin lalu disulut api. Ia langsung setengah berlari menghampiri kerumunan itu.
"Ehem!! Minggir! Minggir!" Vanya membelah kerumunan dengan kasar.
"Eh, Supir Odong-odong! Jangan ganjen ya! Bikin malu aku saja!" bentak Vanya tepat di depan wajah Reyhan.
Reyhan menaikkan alisnya, tampak tidak terganggu. "Kok marah sama aku? Marah ke mereka dong. Aku hanya memberikan senyum, memangnya tidak boleh?"
"Gak boleh! Senyummu itu polusi mata buatku!"
"Sejak kapan senyum dilarang? Setahuku senyum itu ibadah, Nona Manja," sahut Reyhan kalem.
"Oh... jadi ini supirnya ya, Mbak?" tanya salah satu mahasiswi dengan nada meremehkan. "Ganteng banget ih... kalau Mbak nggak mau, kasih ke saya saja. Saya jadikan suami juga mau! Sayang cowok secakep ini cuma dijadiin supir. Mubazir!"
"Tahu apa kalian?! Diam atau aku laporin ke dekan supaya beasiswa kalian dicabut!" gertak Vanya, wajahnya sudah merah padam.
Vanya kemudian berbalik ke arah Reyhan, matanya berkilat-kilat posesif. "Kamu sendiri kan yang bilang di mobil tadi? Tidak baik ada cowok atau cewek lain kalau sudah punya pasangan! Kamu juga nggak boleh ganjen-ganjen di depan istri kamu sendiri!"
Suasana mendadak hening. Kata "Istri" meluncur begitu saja dari mulut Vanya seperti peluru nyasar.
"Istri...?" gumam mahasiswi-mahasiswi itu serempak. "Oh, jadi Mbak ini istrinya?"
"Ups..!! Aku salah ngomong lagi..!!" batin Vanya malu
"Ih, nggak sopan banget sama suami sendiri disebut supir odong-odong. Jahat banget sih Mbaknya!"
"Mas ganteng... mending sama saya saja. Daripada punya istri galak begitu, mana tahan!" timpal mahasiswi lain yang mulai merasa kasihan pada Reyhan.
"KURANG AJAR KALIAN!!" Vanya hampir meledak dan menjambak rambut mereka satu per satu kalau saja tangannya tidak tiba-tiba ditangkap oleh sesuatu yang hangat dan kuat.
Reyhan meraih tangan Vanya, lalu dengan gerakan yang sangat romantis, ia melingkarkan tangan Vanya ke lengannya sendiri. Ia menarik Vanya lebih dekat hingga bahu mereka bersentuhan.
Vanya tersentak. Kulit Reyhan yang hangat dan kokoh bersentuhan dengan tangannya yang dingin karena gugup. Harum aroma maskulin Reyhan yang bercampur sinar matahari kampus mendadak terasa memabukkan. Vanya ingin melepasnya, tapi tubuhnya justru mengkhianati pikirannya dengan semakin merapat pada pria yang ia panggil 'gembel' itu.
"Sudah, sayang... jangan dengarkan mereka," ucap Reyhan dengan suara yang begitu lembut, membuat bulu kuduk Vanya meremang. "Ayo kita pulang. Papamu sudah menunggu di rumah."
Vanya terdiam seribu bahasa. Sentuhan Reyhan dan panggilan "sayang" yang keluar dengan begitu natural itu membuatnya merasa seperti agar-agar yang meleleh di bawah terik matahari.
Reyhan menatap para mahasiswi itu sekali lagi, kali ini dengan tatapan yang menunjukkan bahwa Vanya adalah miliknya. "Maaf ya semuanya, istri saya memang sedikit galak kalau sedang cemburu. Kami duluan."
Reyhan menggandeng Vanya membelah kerumunan mahasiswi yang patah hati itu. Sepanjang koridor menuju parkiran, Vanya hanya bisa mengekor dengan wajah menunduk, menyembunyikan rona merah yang sudah sampai ke telinga.
"Rey... lepasin," bisik Vanya setelah mereka agak menjauh.
"Kenapa? Tadi kamu sendiri yang bilang di depan semua orang kalau aku ini suamimu," goda Reyhan tanpa melepaskan genggamannya. "Ternyata Nona Manja ini sangat posesif ya kalau menyangkut supirnya."
"Itu... itu tadi aku cuma... cuma mau menyelamatkan harga diri keluarga Hutama! Bukan karena aku cemburu!" seru Vanya membela diri.
Reyhan berhenti di depan pintu mobil, menatap Vanya dengan tatapan yang membuat jantung Vanya ingin melompat keluar. "Kalau bukan cemburu, kenapa tadi matamu sampai mau keluar melihat aku tersenyum pada mereka?"
"Karena... karena senyummu itu jelek! Kayak ulat nangka!"
Reyhan tertawa kecil—tawa yang renyah dan terdengar sangat maskulin. Ia membukakan pintu mobil untuk Vanya. "Masuklah, Istriku. Kita punya banyak hal untuk dibicarakan dengan Papa Bram di rumah."
Vanya masuk ke mobil dengan perasaan campur aduk. Ia benci betapa mudahnya Reyhan mengendalikan emosinya. Tapi di saat yang sama, ia merasa bangga... bangga karena pria yang membuat seisi kampus geger itu adalah suaminya. Meski hanya di atas kertas, tapi genggaman tangan Reyhan barusan terasa sangat, sangat nyata.
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan