NovelToon NovelToon
"Sistem Mengajar Mutlak Dan Wali Kelas Pilihan":

"Sistem Mengajar Mutlak Dan Wali Kelas Pilihan":

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Sistem
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: acep maulana

Arvand Pratama hanyalah seorang guru honorer santai yang menjunjung tinggi prinsip "kerja minimal, damai maksimal". Namun, hidupnya yang tenang mendadak hancur ketika ia dijebak untuk menjadi wali kelas 12 F—kelas buangan paling brutal, berisi sekumpulan murid bermasalah yang dicap sebagai parasit sekolah tanpa masa depan.
​Saat Arvand berniat melarikan diri dan mengundurkan diri, sebuah Sistem Mengajar Mutlak misterius mendadak aktif di kepalanya. Sistem ini memberinya pilihan ekstrem: terima misi menjinakkan kelas 12 F dengan imbalan uang melimpah dan kemampuan guru supranatural, atau menolak dan mati mendadak karena serangan jantung!
​Terjebak di antara ancaman kematian sistem, janji manis kepala sekolah untuk dinikahkan dengan guru matematika yang cantik, dan keliaran murid-murid 12 F yang siap menguji kewarasannya, petualangan Arvand pun dimulai. Mampukah guru honorer bermodal sistem ini mengubah kumpulan "produk gagal" menjadi barisan murid terbaik, atau justru ia yang akan mati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Langkah Anggun di Antara Kardus & Air Mata

​Riuh rendah perdebatan mengenai "kripik kripto" perlahan-lahan mulai mereda, berganti dengan atmosfer yang mendadak dipenuhi oleh rasa haru yang menggelayut di udara sore. Di dalam kamar kos nomor dua belas yang terletak di sudut lantai atas, Arvand Pratama dan adik perempuannya, Ani Fitriani Aulia, telah menyelesaikan aktivitas berkemas mereka. Tidak ada lagi barang yang tertinggal di dalam ruangan sempit berukuran tiga kali tiga meter yang selama beberapa tahun ini menjadi saksi bisu tetesan keringat dan dinginnya malam yang menusuk tulang.

​Tiga buah kardus mie instan bekas yang diikat erat menggunakan tali rafia merah, ditambah dengan satu tas ransel merah muda yang tampak kusam, kini berjejer rapi di lantai koridor depan kamar. Di dalam kardus-kardus itulah tersimpan seluruh memori perjuangan hidup mereka: pakaian sehari-hari yang warnanya sudah mulai pudar, tumpukan buku-buku sosiologi tebal yang halaman sudutnya sudah melipat, serta beberapa kerajinan tangan anyaman bambu khas Wonosobo milik Ani yang sengaja dibawa dari kampung halaman sebagai penanda identitas diri.

​"Mas Arvand... ini beneran kabeh barang wis mlebu kardus? (Mas Arvand... ini beneran semua barang sudah masuk kardus?)" tanya Ani dengan suara yang pelan dan lembut, seraya memastikan ikatan tali rafia pada kardus paling besar sudah terpasang dengan kuat.

​Sepasang mata bulatnya yang jernih menatap ke sekeliling ruangan kamar yang kini tampak kosong melompong, hanya menyisakan sebuah kasur busa tipis tanpa sprei dan sebuah lemari plastik susun yang engsel pintunya sudah copot sebelah.

​Arvand tersenyum sangat hangat, lalu mengacak-acak pelan rambut adiknya yang di kuncir kuda. "Iya, Ani. Semuanya sudah masuk, tidak ada yang ketinggalan satu pun. Mukena kamu, sepatu sekolah barumu, sampai boneka beruang kecil yang sudah bolong di bagian lengannya itu juga sudah Mas masukkan ke dalam tas belacu. Sekarang, ayo kita angkat barang-barang ini ke bawah. Mobil kita sudah menunggu di depan gerbang."

​Meskipun status sosial dan ekonominya kini telah melesat terbang setinggi langit berkat intervensi ajaib dari Sistem Mengajar Mutlak, Arvand sama sekali tidak kehilangan jati dirinya sebagai seorang pemuda Jawa yang dibesarkan dengan nilai-nilai tata krama, unggah-ungguh, dan kesopanan yang mendalam. Ia menolak mentah-mentah untuk menggunakan kekuatan gaib sistem hanya untuk memindahkan kardus-kardus pakaian tersebut ke dalam bagasi BMW 7 Series miliknya.

​Bagi Arvand, mengangkat sendiri barang-barang tersebut adalah bentuk penghormatan terakhirnya terhadap proses kehidupan prihatin yang telah membentuk mentalitasnya menjadi sekeras baja.

​"Biar Ani angkat yang kardus kecil ini aja, Mas. Mas Arvand angkat dua kardus yang besar-besar itu," ucap Ani dengan penuh pengertian, langsung merengkuh kardus terkecil ke dalam dekapan lengan mungilnya dengan cekatan.

​"Eh, tidak usah, Ani. Kamu bawa tas ranselmu saja, biar kardus-kardus ini Mas semua yang bawa ke bawah. Tenaga Mas sekarang sudah jauh lebih kuat daripada yang kamu bayangkan," jawab Arvand sambil terkekeh pelan.

​Dengan satu gerakan yang tampak sangat ringan dan tanpa beban—efek tersembunyi dari peningkatan atribut fisik yang diberikan oleh sistem—Arvand langsung mengangkat dua buah kardus besar sekaligus di tangan kanan dan kirinya, seolah-olah tumpukan barang padat itu hanya seringan tumpukan kapas.

​Begitu langkah kaki Arvand dan Ani menapakkan kaki di lantai dasar, mereka langsung disambut oleh barisan para penghuni kos dan warga sekitar yang ternyata masih setia berkumpul di area dapur umum. Suasana komedi yang beberapa menit lalu sempat meledak akibat insiden tangga licin kini telah bertransformasi menjadi sebuah momen perpisahan formal yang penuh dengan rasa hormat.

​Bambang kini sudah tampil jauh lebih rapi dengan mengenakan kaos oblong putih dan celana pendek kargo, meskipun sisa-sisa keharuman sampo antiseptik masih tercium kuat dari rambutnya yang basah. Di sampingnya, Pak Joko juga sudah membetulkan posisi wig gondrongnya ke arah yang benar, bersanding dengan Mbok Sum yang berdiri kokoh di samping meja kayu sambil melipat kedua tangannya di atas daster batik merahnya. ririn dan Sarah pun tampak berdiri anggun di sudut dekat tiang bangunan, menatap sang guru honorer dengan tatapan yang sulit diartikan.

​Arvand meletakkan dua kardus besar tersebut dengan perlahan di atas lantai semen, lalu melangkah maju mendekati Mbok Sum. Ia menundukkan sedikit tubuhnya yang tegap, mengambil tangan kanan sang ibu kos yang kasar akibat terlalu sering mengulek cabai, lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut dengan penuh rasa takzim yang tulus.

​"Mbok Sum... sore ini, saya dan adik saya, Ani, mohon izin pamit untuk melangkah keluar dari rumah kos ini," ucap Arvand dengan nada suara yang sangat lembut, berwibawa, dan tertata rapi tanpa ada sedikit pun kesan sombong di dalamnya.

​"Saya ingin mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya, setulus-tulusnya dari lubuk hati saya yang paling dalam. Terima kasih karena selama hampir tiga tahun ini, Mbok Sum sudah sudi menampung saya yang luntang-lantung di kota ini dengan sabar. Terima kasih karena Mbok sering sekali memberikan potongan harga sewa kamar saat dompet saya benar-benar kosong, dan terima kasih karena Mbok selalu bersedia menyisihkan semangkuk kuah oseng mercon hangat saat saya pulang larut malam kelaparan setelah mengajar lembur."

​Mendengar untaian kalimat pamit yang begitu santun dan penuh adab dari seorang pemuda yang kini sudah berstatus sebagai miliarder pemilik sedan mewah, pertahanan hati Mbok Sum yang biasanya terkenal sekeras batu karang penagih utang langsung runtuh seketika. Sepasang mata sipitnya mendadak berkaca-kaca menahan lelehan air mata haru. Ia mengelus pundak Arvand dengan tangan kirinya yang gemetar.

​"Aduh, Vand... lu ini bener-bener ya. Gue kira setelah lu kaya mendadak karena jualan kripik kripto di internet itu, lu bakal jadi sombong dan lupa daratan sama orang-orang kecil kayak gue di sini," bisik Mbok Sum dengan suara yang mendadak serak karena menahan tangis.

​"Jujur ya, Vand... biarpun gue sering ngomel-ngomel sampai suara gue habis, gue udah menganggap lu sama Ani ini kayak anak kandung gue sendiri di rantau orang. Lu berdua itu anak-anak yang paling rajin, paling sopan, dan kagak pernah bikin ulah macam-macam di kosan ini. Kalau nanti lu udah tinggal di rumah baru yang ada kolam renangnya itu... jangan lupain ibu kosmu yang seksi ini ya, Vand..."

​Ani yang berdiri di samping Arvand langsung ikut melangkah maju. Ia meraih jemari tangan Mbok Sum, lalu menciumnya dengan kelembutan khas gadis desa. "Mbok Sum... matur nuwun sangat ya, Mbok. Sembako gratisan dan sambal ekstra buatan Mbok Sum selama dua minggu Ani di sini bakal selalu Ani kangenin terus. Semoga Mbok Sum selalu diberikan kesehatan dan rezeki yang lancar dari Gusti Allah."

​"Iya, Nduk, Ani yang ayu... lu juga harus sehat-sehat ya di sana. Sekolah yang pinter, dengerin apa kata kakakmu si Arvand ini. Dia itu kakak yang hebat bener buat lu," balas Mbok Sum sambil mengusap air mata yang akhirnya lolos membasahi pipinya yang tambun menggunakan ujung daster batiknya.

​Arvand kemudian membalikkan tubuhnya ke arah kerumunan warga dan para penghuni kos yang lain. Ia merapatkan kedua belah telapak tangannya di depan dada, memberikan penghormatan universal ala budaya ketimuran kepada semua orang yang hadir di tempat itu. Tatapannya tertuju bergantian kepada Pak Joko, Bambang, Aziz yang masih berdiri polos, hingga ke arah Ririn dan Sarah.

​"Untuk Pak Joko, Mas Bambang, Mas Aziz, dan seluruh rekan-rekan penghuni Kost Sekali Nunggak Viral yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu per satu... saya dan Ani memohon maaf yang sebesar-besarnya jika selama kami tinggal di sini, ada kata-kata kami yang kurang berkenan, ada perilaku kami yang menyinggung perasaan, atau mungkin ada suara gaduh dari kamar kami yang mengganggu waktu istirahat bapak, ibu, dan saudara sekalian," tutur Arvand dengan intonasi yang sangat terjaga kelembutannya.

​Pak Joko melangkah maju satu langkah, membetulkan posisi letak sandalnya yang kini sudah tidak terbalik lagi, lalu menepuk lengan Arvand dengan ramah. "Pak Arvand... kami semua di sini justru merasa sangat bangga dan bersyukur bisa bertetangga dengan jenengan. Jenengan itu sosok guru yang beradab dan berilmu. Biarpun sekarang Gusti Allah sudah mengangkat derajat ekonomi jenengan menjadi orang kaya raya, kesopanan jenengan ini membuktikan kalau nilai seorang manusia itu memang dilihat dari adabnya, bukan cuma dari kilau mobil kemudinya. Sukses terus untuk karir mengajar jenengan di SMA Cakrawala Bangsa, Pak!"

​"Betul banget apa kata Pak Joko, Pak Arvand!" timpal Sarah, sang guru magang kelas 1, yang melangkah mendekat dengan senyuman tulus yang menghiasi wajah imutnya.

​"Saya sebagai guru muda yang baru magang merasa sangat terinspirasi oleh ketekunan dan kesantunan Pak Arvand dalam menghadapi segala ujian hidup. Semoga di tempat tinggal yang baru nanti, Pak Arvand dan Dik Ani bisa hidup dengan jauh lebih nyaman, tenang, dan berkah."

Ririn, sang staf TU sekolah yang biasanya berwajah dingin, kini tampak mengangguk-angguk setuju dengan mata yang masih memancarkan rasa kagum yang mendalam. "Iya, Pak Arvand. Besok pagi di sekolah, berkas administrasi tunjangan honorer semesteran Pak Arvand akan langsung saya prioritaskan paling atas tanpa perlu antre lagi, Pak. Ini bentuk apresiasi dari saya selaku bagian staf tata usaha sekolah atas pencapaian luar biasa rekan kerja sejawat kita."

​Arvand tersenyum tipis mendengar janji manis dari Ririn, namun ia tetap menanggapinya dengan sangat santun. "Terima kasih banyak, Mbak Ririn atas kebaikannya. Terima kasih juga untuk Bu Sarah atas doa-doanya yang sangat baik. Semoga kita semua selalu diberikan kelancaran dalam menjalankan amanah mulia sebagai pendidik di sekolah."

​Dari barisan belakang, Aziz si pemuda gagap tampak mendesak maju di antara kerumunan warga ber-sarung. Ia menatap Arvand dengan pandangan mata yang berkaca-kaca, merasa kehilangan sosok abang asuh yang selama ini sering membantunya menerjemahkan kalimat-kalimatnya yang macet saat berbicara di depan umum.

​"M- M- Mas... Mas Ar... Ar- pa -nd..." panggil Aziz dengan segenap sisa tenaga vokal di tenggorokannya yang kaku.

​Arvand langsung mendekati Aziz, lalu merangkul pundak kurus pemuda itu dengan erat seperti layaknya seorang saudara kandung sendiri. "Iya, Ziz. Mas tahu apa yang mau kamu sampaikan. Kamu tidak perlu memaksakan diri berbicara terlalu panjang sekarang. Jaga dirimu baik-baik di sini ya, Ziz. Tetap semangat kerjanya sebagai kurir ekspedisi. Jangan pernah putus asa dengan keadaan."

​"J-J-Ja... Ja-ng -an... l -l - lu... lu-pa... m -m- ma... ma - en... k-k-ke... ke s -s -si... si-ni... n -n - gih... M - Mas?" ucap Aziz akhirnya berhasil menyelesaikan kalimat pendeknya dengan senyuman polos yang mengembang di bibirnya.

​"Pasti, Ziz. Mas pasti bakal sering mampir ke sini kalau ada waktu senggang untuk menjenguk kalian semua di sini," jawab Arvand sambil menepuk-nepuk pundak Aziz dengan penuh kehangatan emosional.

Setelah prosesi pamitan yang menguras air mata dan penuh dengan nilai-nilai kesopanan tradisional tersebut selesai, Arvand kembali mengangkat dua kardus besarnya dengan santai. Di sampingnya, Ani melangkah dengan anggun sembari menggendong tas ransel merah mudanya yang kusam. Seluruh warga kosan, mulai dari Mbok Sum yang masih memegang cobek batunya hingga anak-anak kecil komplek yang tadi bermain kelereng, berbondong-bondong mengantarkan langkah kaki kakak beradik tersebut berjalan keluar melewati lorong gang sempit menuju ke depan gerbang besi luar.

​Di pinggir jalan raya, unit sedan mewah BMW 7 Series berwarna hitam metalik itu tampak berdiri dengan sangat megah, memantulkan sisa-sisa cahaya jingga dari matahari sore yang mulai tenggelam di ufuk barat kota. Kontras bodi mobil yang berkilau mewah dengan lingkungan pemukiman padat penduduk itu kini tidak lagi terasa aneh di mata para warga, melainkan bertransformasi menjadi sebuah simbol harapan nyata bahwa nasib hidup seseorang memang bisa berubah secara radikal jika sudah tiba waktunya atas kehendak Yang Maha Kuasa.

​Arvand membuka pintu bagasi belakang mobil mewah tersebut menggunakan jentikan jarinya yang otomatis mengaktifkan sensor hidrolik pintar kendaraan. Pintu bagasi terbuka dengan sangat halus tanpa suara. Dengan gerakan yang penuh kehati-hatian, Arvand menata tiga kardus mie instan bekas berisi pakaian usang mereka di dalam ruang bagasi yang sangat bersih, luas, dan dilapisi oleh kain beludru premium senilai jutaan rupiah.

​"Silakan masuk ke dalam mobil duluan, Ani. Duduk di kursi depan samping kemudi, biar kamu bisa melihat pemandangan jalan kota dengan jelas," ucap Arvand seraya membukakan pintu penumpang depan untuk adik perempuan satu-satunya itu.

​Ani melangkah masuk ke dalam kabin mobil mewah tersebut dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang melangkah masuk ke dalam istana kepresidenan. Begitu tubuh mungilnya tenggelam di dalam keempukan jok kulit Merino hitam yang sangat mewah, matanya kembali berkedip-kedip takjub merasakan embusan angin sejuk yang keluar dari kisi-kisi penyejuk udara otomatis kendaraan.

​Sebelum Arvand sendiri melangkah masuk ke dalam kursi kemudi, ia sekali lagi membalikkan badannya menghadap ke arah kerumunan warga kos yang berdiri berjejer di pinggir gerbang besi tua Kost Sekali Nunggak Viral. Ia membungkukkan kembali badannya sedalam empat puluh lima derajat sebagai tanda penghormatan dan salam perpisahan terakhirnya yang paling agung sore hari itu.

​"Selamat tinggal semuanya... Selamat sore menjelang malam. Semoga berkah kesehatan, keselamatan, dan kelancaran rezeki yang halal selalu menyertai kehidupan bapak, ibu, dan saudara sekalian di tempat ini," seru Arvand dengan suara lantang yang terdengar sangat berwibawa di bawah langit sore yang mulai meredup.

​"Selamat jalan, Pak Arvand! Selamat jalan, Dik Ani! Hati-hati di jalan ya!" sahut seluruh warga komplek secara kompak dan bersemangat, melambaikan tangan mereka dengan penuh suka cita yang membuncah.

​Arvand menutup pintu kemudi dengan suara klep yang sangat solid dan senyap khas pabrikan otomotif premium kelas atas Jerman. Ia menekan pedal gas secara perlahan. Mesin twin-turbo berperforma tinggi itu menderu sangat halus, menggerakkan siluet bodi bertenaga dari BMW 7 Series tersebut melaju perlahan meninggalkan area gang keramat yang telah mengukir sejuta cerita duka dan tawa dalam lembaran sejarah perjuangan hidupnya.

​Di dalam kabin kemudi yang sunyi dan sangat nyaman itu, Arvand menatap lurus ke arah jalan raya besar di depannya dengan sepasang mata yang memancarkan kilat ambisi tekad yang membara. Eksodus dari kosan keramat telah selesai dengan sangat mulus dan terhormat. Kini, fokus pikiran dan seluruh kekuatan Sistem Mengajar Mutlak di dalam dirinya telah sepenuhnya bersiap untuk menghadapi badai kebrutalan serta ujian kedisiplinan sesungguhnya yang sudah menantinya di koridor barat kelas 12 F SMA Cakrawala Bangsa esok pagi fajar menyingsing.

1
irena
lanjut thor..
Aisyah Suyuti
good
Mamat Stone
/Tongue/
acep maulana
Hehehe, kalau kalian punya ide gokil, teori liar, atau saran buat novel ini, tulis aja di komentar. 😆
Saya selalu baca komentar kalian, dan siapa tahu ada ide yang bisa menginspirasi jalan cerita ke depannya. Terima kasih sudah mendukung novel ini! 🙏🔥
Mamat Stone
/Chuckle/
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Proud/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
verto
novel terjemahan kah ini? dengan di modif dikit
acep maulana: Ehh iya, ada sedikit inspirasi dari drama China yang saya tonton, bahkan mungkin ada beberapa ide dari film juga di bab-bab yang akan datang. Tapi saya modifikasi dan kembangkan sesuai alur cerita novel ini. Hehehe 😆🙏 Terima kasih sudah membaca.
total 1 replies
verto
mirip sebuah komik sipnosisnya
acep maulana: Waduh, ketahuan gue deh 🤭 kebanyakan baca komik. 😂 Tapi semoga makin ke depan ceritanya punya warna sendiri dan tetap seru buat diikuti. 😁🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
crazy up Thor
Dewiendahsetiowati
kok banyak yang diulang2 ya paragrafnya
acep maulana: maaf ka hehe saya ngetik nya sambil ngantukk 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!