Leonardo De Luca adalah penguasa Madrid yang memiliki segalanya, kecuali masa depan. Di balik kemegahan tahtanya, ia menyimpan rahasia kelam tentang infertilitas yang membuatnya merasa seperti tanah gersang tanpa harapan akan pewaris. Baginya, garis keturunan De Luca telah menemui jalan buntu.
Hingga ia bertemu Olivia, seorang gadis penjual bunga yang hidup di antara harum kelopak dan ketabahan akar. Di mata Olivia, Leonardo bukanlah singa yang menakutkan, melainkan jiwa yang haus akan kehidupan. Pertemuan ini adalah awal dari sebuah keajaiban; tentang bagaimana cinta seorang penjual bunga mampu menumbuhkan benih kehidupan di celah batu karang yang paling keras sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perburuan di dalam dinding
Malam di Madrid terasa lebih dingin dari biasanya bagi Leonardo. Setelah meninggalkan kamar Olivia, ia tidak pergi ke bar untuk minum atau ke kamar tamu untuk tidur. Ia langsung menuju lantai bawah tanah mansion, sebuah area kedap suara yang hanya bisa diakses olehnya dan Marco.
Di sana, seorang pria muda bernama Diego—salah satu sopir cadangan yang baru bekerja tiga bulan—terikat di kursi besi. Wajahnya sudah babak belur, namun matanya masih memancarkan ketakutan yang liar. Di atas meja di depannya, tergeletak kamera profesional dengan lensa jarak jauh yang digunakan untuk memotret Olivia di rumah kaca.
Leonardo masuk tanpa melepaskan jasnya. Ia menarik kursi kayu dan duduk tepat di hadapan Diego. Suasana ruangan itu hening, hanya terdengar suara tetesan air dari pipa di sudut ruangan.
"Siapa?" tanya Leonardo lugas. Suaranya datar, namun mengandung ancaman yang mematikan.
"Saya tidak tahu namanya, Tuan De Luca! Saya hanya disuruh mengambil foto dan mengirimkannya ke nomor anonim!" rintih Diego, suaranya gemetar hebat.
Leonardo tidak membalas dengan kata-kata. Ia meraih tang pembuka baut dari meja peralatan di sampingnya. Dengan gerakan cepat dan tanpa ragu, ia mencengkeram jari kelingking Diego.
"Satu jari untuk satu detik keterlambatanmu menjawab," ucap Leonardo.
Krek.
Teriakan memilukan bergema di ruangan itu, namun Leonardo tetap bergeming. Wajahnya sedingin es. Pikirannya melayang pada wajah pucat Olivia dan jejak merah di pergelangan tangan istrinya. Semua kekacauan ini, semua rasa sakit yang ia berikan pada Olivia, bermula dari tindakan pria di depannya ini.
"Navarro... sisa-sisa klan Navarro di Utara," isak Diego akhirnya, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. "Mereka menjanjikan sepuluh ribu Euro untuk setiap foto pergerakan Nyonya. Mereka ingin tahu kapan Anda lengah."
Leonardo melepaskan tangannya. Ia berdiri, merapikan jasnya seolah baru saja menyelesaikan tugas administratif biasa. "Marco, selesaikan dia. Jangan biarkan jasadnya ditemukan. Dan kirim pesan ke Utara. Katakan pada mereka, jika mereka menyentuh wilayahku lagi, aku akan membakar setiap inci tanah mereka beserta keluarga mereka."
"Baik, Tuan," sahut Marco tegas.
Sentuhan yang Berbeda
Leonardo kembali ke kamar utama saat jam menunjukkan pukul dua pagi. Ia masuk dengan sangat pelan, tidak ingin membangunkan Olivia. Namun, ia melihat lampu tidur masih menyala kecil. Olivia sudah menghabiskan sup ayamnya—nampannya sudah bersih di atas meja. Gadis itu tertidur dalam posisi meringkuk, membelakangi sisi tempat tidur Leonardo.
Rasa penyesalan yang ia rasakan tadi sore kembali menghantamnya. Leonardo membersihkan dirinya di kamar mandi, menghilangkan aroma keringat dan kekerasan dari tubuhnya. Ia naik ke ranjang dengan sangat hati-hati.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Leonardo tidak langsung menyerang atau menuntut haknya dengan kasar. Ia hanya berbaring di samping Olivia, menatap punggung istrinya yang naik turun karena napas yang teratur.
Ia mengulurkan tangan, ragu-ragu sejenak, lalu menyentuh rambut pirang Olivia dengan ujung jarinya. Ia membelainya dengan sangat lembut, sebuah gerakan yang asing bagi pria seperti dirinya.
"Aku akan menjagamu, Olivia," bisik Leonardo lirih ke arah kegelapan ruangan. "Bahkan jika kau harus membenciku selamanya, aku lebih memilih kau hidup di sampingku daripada mati karena kecerobohanku."
Keesokan paginya, saat Olivia terbangun, ia terkejut menemukan Leonardo masih ada di sana. Pria itu tidak memakai jas; ia hanya mengenakan celana kain dan kemeja putih yang lengannya digulung.
"Sarapanmu akan segera sampai," ucap Leonardo, suaranya terdengar lebih manusiawi. "Setelah itu, bersiaplah. Aku akan menemanimu ke rumah kaca selama dua jam, seperti janjiku."
Olivia menatap suaminya dengan ragu. Ada sesuatu yang berubah di mata Leonardo—ada sisa-sisa kelembutan yang mencoba muncul di balik dinding otoritasnya.
"Kau tidak akan mengunciku lagi?" tanya Olivia pelan.
Leonardo terdiam sejenak. Ia mendekati Olivia, mencium keningnya dengan tekanan yang lebih lembut, bukan lagi segel kepemilikan yang kasar. "Selama kau berada di jangkauanku, kau bebas bergerak di area rumah kaca. Aku sudah membersihkan 'hama' di dalam rumah ini. Kita mulai lagi dari awal, Olivia."
Olivia tidak menjawab, namun ia merasakan sedikit beban di dadanya terangkat. Ia menyadari bahwa meski Leonardo tetap menjadi predator yang posesif, pria itu sedang berusaha belajar bagaimana cara mencintai tanpa harus menghancurkan.
Di taman, mawar-mawar mulai mekar, namun di dalam mansion De Luca, sebuah hubungan yang rumit dan penuh luka baru saja mulai mencari jalannya di tengah kegelapan dunia mafia.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...