Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi Balik Kanan
Malam itu, di dalam penthouse yang luas dan dingin, Devan tidak membiarkan satu menit pun terbuang sia-sia. Begitu mereka masuk, ia langsung mengaktifkan mode perang. Laptopnya terbuka di atas meja kaca, jarinya menari dengan ritme yang cepat dan presisi.
Anya, yang masih berusaha menenangkan gemuruh di dadanya, hanya bisa memperhatikan dari ambang pintu. Ia melihat sisi Devan yang jarang terlihat seorang pemimpin yang tenang di tengah badai, yang setiap langkahnya sudah terukur dengan perhitungan matang.
"Mereka pikir dengan menyebarkan video editan itu, mereka bisa memicu kepanikan di internal perusahaan," gumam Devan tanpa menoleh. "Mereka ingin aku bereaksi gegabah mengeluarkan pernyataan publik yang emosional atau memecat staf secara massal sehingga membuat saham kita goyah."
Anya melangkah mendekat, berdiri di belakang kursi Devan. "Lalu, apa rencana kita?"
Devan berhenti mengetik, lalu berbalik menatap Anya. Tatapan matanya tajam, namun ada kilatan percaya diri di sana. "Kita tidak akan membantah video itu. Kita akan mengungkap asalnya."
Ia menunjuk layar laptopnya. "Aku sudah menginstruksikan tim IT untuk tidak menghapus video itu, tapi membiarkannya tetap beredar dengan *traceable code* yang mengarah langsung ke server pribadi asisten Dion. Secara bersamaan, aku telah meminta tim hukum kita untuk mengumpulkan bukti aliran dana tersebut. Besok pagi, tepat di awal rapat pleno pemegang saham, aku tidak akan membahas video itu. Aku akan membahas 'pelanggaran keamanan data' dan 'penyalahgunaan dana perusahaan oleh pihak internal'."
"Tapi, apa itu cukup untuk menjatuhkan Dion?" tanya Anya ragu.
Devan tersenyum tipis. "Rapat pleno besok akan dihadiri oleh Kakek dan jajaran dewan komisaris. Jika aku bisa membuktikan bahwa Dion menggunakan dana perusahaan untuk membiayai aksi kotor yang merusak reputasi perusahaan itu sendiri, maka Dion bukan hanya kehilangan kredibilitasnya, tapi dia akan kehilangan kursinya di dewan direksi secara permanen."
Malam pun berlalu dengan ketegangan yang konstan. Anya tidak bisa tidur. Ia duduk di ruang tamu, memperhatikan Devan yang terus-menerus melakukan panggilan telepon ke berbagai pihak. Sekitar jam tiga pagi, Devan akhirnya menutup laptopnya dan menghampiri Anya yang tertidur di sofa dengan wajah lelah.
Devan menatap wajah Anya yang damai, merasa ada dorongan aneh untuk membelai rambut wanita itu, namun ia menahan diri. Ia mengambil selimut dari kamar dan menyelimuti Anya dengan hati-hati.
Keesokan paginya, matahari menyambut dengan cahaya yang tajam. Suasana di ruang rapat utama Alfarezel Group mencekam. Semua direktur duduk dengan tegak. Dion duduk dengan wajah penuh kemenangan, yakin bahwa skandal video Anya akan menjadi senjata untuk menekan Devan hari ini.
"Devan," suara Dion memecah kesunyian rapat, "sebelum kita memulai, bukankah sebaiknya kita membahas isu yang sedang viral tentang asistenmu? Ini adalah masalah integritas yang sangat serius bagi perusahaan."
Dewan komisaris mulai berbisik-bisik. Kakek Bramanta terdiam, tatapannya dingin menatap ke arah meja Devan.
Devan berdiri dengan tenang. Ia tidak terlihat panik, justru ia tampak sangat rileks. Ia berjalan menuju layar proyeksi. "Dion, terima kasih telah mengingatkan saya. Saya juga ingin membahas masalah 'integritas' pagi ini."
Devan menekan sebuah tombol, dan layar proyeksi menampilkan alur dana yang sangat mendetail, lengkap dengan bukti transfer ke akun-akun anonim dan log peretasan dari server yang digunakan untuk mengunggah video tersebut.
"Pagi ini," suara Devan menggema dengan otoritas mutlak, "kita telah mendeteksi sebuah upaya sabotase yang direncanakan dari dalam perusahaan. Dana perusahaan telah disalahgunakan untuk mendanai peretasan ilegal yang bertujuan merusak nama baik staf eksekutif perusahaan, yang pada akhirnya bertujuan untuk menjatuhkan nilai saham perusahaan kita sendiri."
Dion seketika pucat pasi. Ia mencoba berdiri.
"Apa-apaan ini? Ini fitnah!"
"Apakah ini fitnah, Dion?" Devan menampilkan bukti transfer kedua. "Dana ini mengalir dari akun pribadi asistenmu. Apakah kamu ingin saya memanggilnya sekarang ke ruangan ini untuk memberikan kesaksian di depan komisaris?"
Ruangan itu hening total. Wajah Kakek Bramanta berubah menjadi sangat gelap, menatap Dion dengan pandangan yang sanggup menciutkan nyali siapa pun.
"Dion," suara Kakek Bramanta berat dan bergetar karena amarah. "Keluar dari ruangan ini sekarang juga. Jangan pernah menampakkan wajahmu di gedung ini sampai aku memutuskan hukumanmu."
Dion terhuyung, tidak ada lagi senyum sinis atau seringai kemenangan. Ia berbalik dan melangkah keluar dengan langkah gontai, dikawal oleh petugas keamanan perusahaan.
Saat rapat berakhir dan ruangan mulai kosong, Devan mendekati Anya yang berdiri di pojok ruangan. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun pandangannya menyampaikan segalanya. Mereka telah memenangkan babak ini, namun Devan tahu bahwa ini hanyalah awal dari perang yang lebih besar melawan Karina.
"Kita berhasil," bisik Anya lirih.
"Ya," sahut Devan, menatap Anya dengan intensitas yang baru. "Tapi ingat, Anya. Sekarang mereka sudah tahu kita bukan lawan yang bisa diremehkan. Hari-hari ke depan akan jauh lebih berbahaya."