Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.
Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.
Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.
Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.
“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”
Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.
Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUNANGAN PALSU - Chapter 18
Happy Reading Guys!
"Udahlah! Anak itu gak usah dibantu. Dia juga gak pernah mikirin anak toko lain. Ngapain kita mikirin dia?"
Sophia pura-pura tidak mendengar. Ia tetap melakukan pekerjaannya seperti biasa.
Saat membutuhkan bantuan, rekan-rekannya hanya menjawab seperlunya. Ada yang menjawab ketus, ada pula yang berpura-pura tidak melihat keberadaannya sama sekali.
Mereka jelas sedang menjaga jarak.
Tidak ada yang ingin menjadi target berikutnya hanya karena terlihat dekat dengannya. Apa yang bisa diharapkan? Mereka seperti kawanan bebek yang berjalan beriringan. Satu orang membenci, yang lain ikut membenci. Satu orang mengucilkan, yang lain ikut mengucilkan.
Kalau ditanya bagaimana perasaannya, tentu saja Sophia muak.
Sangat muak.
Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Arkan memang pernah mengatakan bahwa ia bersedia menanggung seluruh hidupnya. Ia tidak perlu kerja. Tapi lalu apa? Dengan status Arkan yang sudah beristri, apa lelaki itu berniat menjadikannya simpanan?
Memikirkannya saja membuat Sophia merasa jijik pada dirinya sendiri. Apalagi jika harus menjalaninya.
Di tengah suasana yang kacau itu, seorang pelanggan wanita masuk ke dalam toko.
Sophia yang sedang menyusun barang hampir menjatuhkan kotak di tangannya.
Wanita itu tersenyum ramah sambil membawa keranjang belanjaan.
Pakaiannya tampak sederhana, tetapi jelas berasal dari merek mahal. Sekali lihat saja orang bisa menebak bahwa ia berasal dari keluarga berada.
Sophia langsung mengenalinya.
Sintia.
Bukankah wanita itu tidak bisa mengemudi?
Lalu bagaimana ia bisa datang ke sini? Jarak rumah Arkan dan toko ini tidak dekat. Kalau dipikir-pikir, kemungkinan Sintia datang memang bukan suatu kebetulan.
Sophia tanpa sadar melirik ke luar melalui dinding kaca toko.
Sebuah mobil terparkir di depan.
"Sophia?"
Suara Sintia membuyarkan lamunannya. Wanita itu tertawa kecil.
"Kenapa malah bengong?"
Salah satu rekan kerja Sophia yang melihat kejadian itu langsung menyela.
"Di sini aja, Bu. Rekan saya memang suka begitu."
Nada bicaranya terdengar kurang bersahabat.
Namun tanpa sepengetahuan mereka, lagi-lagi seorang pramuniaga yang berada tidak jauh dari sana diam-diam merekam seluruh kejadian tersebut menggunakan ponselnya.
Sophia segera tersadar.
"Maaf."
Ia memaksakan senyum tipis.
Sintia tidak mempermasalahkannya.
Sebaliknya, wanita itu justru bertanya dengan lembut, "Kau pulang jam berapa hari ini?"
"Sebentar lagi," jawab Sophia sopan.
Sintia mengangguk pelan.
"Baiklah."
Sophia mengernyit bingung.
Sampai kemudian wanita itu tersenyum hangat.
"Soalnya suamiku sudah menunggumu di rumah."
Sophia langsung panik mendengar ucapan itu.
Ia melirik rekan-rekan kerjanya yang mulai memasang ekspresi bingung.
Dengan cepat ia berkata, "Aku akan mengirimkan pesanan yang kau maksud. Nanti katakan saja pada Arkan aku akan ke sana."
Dalam hati, Sophia hanya berharap Sintia berbelas kasih dan tidak melanjutkan pembicaraan itu.
Namun seolah tidak menyadari kegelisahannya, Sintia justru mengusap perutnya pelan.
"Akhir-akhir ini aku sering mual," katanya sambil tersenyum. "Aku malah kasihan pada suamiku. Harusnya dia bisa bertemu denganmu, tapi sekarang dia terus menemaniku di rumah."
Tubuh Sophia seketika menegang.
Wajahnya memucat.
Beberapa rekan kerja yang mendengar perkataan itu saling bertukar pandang. Namun, Sophia hanya bisa menggenggam tangannya erat-erat dan berusaha mempertahankan senyum profesional di wajahnya.
Setelah mengatakan itu, Sintia mengambil kantong belanjaannya.
"Sophia, jangan lupa datang ke rumah, ya. Suamiku masih menunggumu."
Sophia terdiam.
Ia bahkan tidak tahu harus menjawab apa.
Beberapa menit kemudian, berita itu menyebar ke seluruh toko. Ia dituduh sebagai selingkuhan yang dilabrak wanita hamil di hadapan umum.
Begitu cepat.
Seolah waktu beberapa menit berubah menjadi berjam-jam.
Tatapan orang-orang mulai berubah.
Bisikan-bisikan terdengar dari berbagai sudut.
Sophia merasa seperti seorang terdakwa yang sedang berdiri di tengah ruang sidang menunggu vonis.
Padahal jauh di dalam hati, ia tahu satu hal. Apa pun alasannya, dirinya memang berada di posisi yang salah.
Tidak ingin berlama-lama di sana, Sophia segera membereskan barang-barangnya.
Ia berniat pulang lebih cepat.
Tatapan sinis dan jijik yang mengarah padanya sudah cukup membuat dadanya sesak.
Ia masih berusaha menahan air mata yang hampir jatuh ketika seseorang memanggil namanya.
"Sophia!"
Ia menghentikan langkah.
Kepala toko bergegas menghampirinya.
"Jangan pulang dulu. Supervisor sedang dalam perjalanan ke sini. Ada sesuatu yang ingin dibahas."
Sophia mengembuskan napas panjang.
Satu masalah belum selesai, masalah lain sudah datang. Namun, sebelum sempat bertanya lebih jauh, suara beberapa kendaraan terdengar dari luar.
Sophia menoleh.
Bukan satu mobil.
Melainkan beberapa mobil yang berhenti berjejer di depan toko.
Kepala toko langsung berubah panik.
"Itu mobil manajer!"
Ia segera menyuruh semua karyawan kembali bekerja.
Dalam hitungan detik, setiap orang kembali ke posisinya masing-masing.
Seolah sejak tadi mereka sibuk bekerja.
Padahal beberapa menit yang lalu mereka masih asyik menggosipkan Sophia di setiap sudut toko.
Melihat itu, Sophia hanya tersenyum getir.
"Aku sudah bilang cuma ingin menemui seseorang. Kenapa jadi sebanyak ini yang datang?"
Suara seorang wanita terdengar dari pintu masuk.
Sophia yang berdiri di dekat freezer es krim tidak terlalu memedulikannya. Ia hanya menunduk menatap sepatunya.
Ia lelah.
Sangat lelah.
Saat ini yang ia inginkan hanya pulang, mengunci pintu kamar, lalu tidur sampai semuanya berakhir.
"Di mana orangnya?"
"Siapa yang Ibu maksud?" tanya seseorang gugup.
"Anakku tadi pagi bilang anak itu bekerja di toko ini. Di mana dia?"
"Kepala toko, Bu?"
"Siapa dia? Aku tidak mengenalnya." Wanita itu mendengus. "Sophia! Mana Sophia?"
"Sophia?"
Mendengar namanya dipanggil, Sophia perlahan mengangkat kepala.
Puluhan pasang mata langsung tertuju padanya.
Jantungnya berdegup semakin cepat.
Kenapa mereka menatapnya?
Namun sesaat kemudian, matanya menangkap sosok wanita bermata cerah yang berjalan cepat ke arahnya.
"Sayangku!" Nyonya Sarah langsung memeluknya erat. "Kau bekerja di salah satu tokoku? Kenapa tidak pernah bilang pada Ibu?"
Sophia membeku.
"..."
Situasi macam apa ini?
Nyonya Sarah melepaskan pelukannya lalu menoleh ke belakang.
Beberapa orang berpakaian formal masih berdiri di sana dengan wajah tegang.
Kening wanita itu langsung berkerut. "Aku hanya ingin bertemu calon menantuku. Kenapa kalian terlihat seperti mau melakukan inspeksi besar-besaran?"
Tak seorang pun berani menjawab.
Nyonya Sarah mendengus pelan.
"Cepat kembali bekerja!"
Mendengar perintah itu, rombongan tersebut langsung berpencar.
Supervisor yang tadinya datang karena laporan tentang Sophia bahkan menjadi orang pertama yang menghilang.
Tak jauh berbeda dengan kepala toko yang mendadak terlihat sangat sibuk mondar-mandir ke sana kemari.
Sementara para karyawan lain buru-buru kembali ke posisi masing-masing dan berpura-pura fokus bekerja.
Seolah beberapa menit yang lalu mereka tidak sedang bergosip.
Nyonya Sarah kembali menatap Sophia. "Kau senang bekerja di sini?"
Sophia terdiam.
Tatapannya tanpa sadar beralih pada rekan-rekan kerjanya yang kini terlihat tegang.
Lalu pada kepala toko yang berjalan ke sana kemari tanpa tujuan yang jelas.
Baru saat itulah sebuah kesadaran muncul.
Toko ini ternyata milik keluarga Damian. Namun, bukannya lega, Sophia justru mengembuskan napas pelan. Setelah kejadian hari ini, rasanya mustahil ia bisa bekerja dengan nyaman di sini lagi.
"Kenapa diam?" tanya Nyonya Sarah.
Wanita itu mengikuti arah pandang Sophia, lalu seolah memahami sesuatu. Namun, alih-alih membahasnya, ia justru menggenggam tangan Sophia.
"Ayo."
Sophia berkedip bingung.
"Ayo ke mana?"
"Kita pilih gaun. Pertunangan tinggal tiga hari lagi. Tidak boleh ditunda."
"Hah?"
Sebelum Sophia sempat menolak, Nyonya Sarah sudah lebih dulu menariknya keluar. Namun, saat melewati kepala toko, wanita paruh baya itu tiba-tiba berhenti. Ia menoleh ke arah Sophia sambil tersenyum.
"Oh iya, kalau kau ingin mengundang teman-temanmu ke acara pertunangan, bilang saja."
Sophia hanya bisa berkedip kosong.
"..."
Apa sebenarnya yang sedang terjadi.
"Ibu kan sudah bilang tidak perlu berangkat kerja. Kenapa kau keras kepala sekali? Libur sehari tak akan membuat perusahaan bangkrut!"
Lelaki yang baru tiba di butik itu hanya mengangguk malas.
"Hm."
Perhatian Damian sama sekali tidak berada pada omelan ibunya. Tatapannya terus berkeliling ke berbagai sudut ruangan, seolah sedang mencari sesuatu.
Atau lebih tepatnya ....
Seseorang.
Seperti biasa, Jack berdiri beberapa langkah di belakangnya. Pria itu tampak tenang menyaksikan pertengkaran ibu dan anak yang sudah menjadi pemandangan sehari-hari.
Nyonya Sarah yang mulai jengah akhirnya menyerah.
"Duduk dan tunggu Sophia keluar."
Damian menurut tanpa banyak bicara.
Sementara itu, Nyonya Sarah beberapa kali melirik jam di pergelangan tangannya. Ia masih memiliki beberapa urusan yang harus diselesaikan.
Tatapannya kemudian beralih pada Jack.
"Kau tidak punya pekerjaan lain?"
Jack tampak bingung.
"Tugas saya mengikuti Tuan Damian."
"Setiap saat?"
Jack mengangguk mantap.
"Tentu saya harus berbagi beban dengan majikan."
Nyonya Sarah langsung memijat pelipis.
Menurutnya, Jack sudah merangkap terlalu banyak pekerjaan. Pria itu bahkan lebih sering berada di sisi Damian daripada dirinya sendiri.
Kadang-kadang ia benar-benar khawatir putranya akan lebih nyaman bersama Jack daripada mencari pasangan hidup.
"Kau ikut denganku."
Jack spontan melirik Damian.
Damian hanya mengibaskan tangan tanpa menoleh.
Pergilah.
Mendapat izin, Jack pun mengikuti Nyonya Sarah keluar dari butik.
Suasana langsung menjadi lebih tenang.
Damian duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
Namun sesekali matanya melirik ke arah ruang ganti.
Sekali.
Dua kali.
Lima kali.
Sampai akhirnya tirai ruang ganti terbuka.
Damian yang sejak tadi tampak santai perlahan mengangkat kepala.
Lalu membeku.
Seorang wanita berjalan keluar dari balik tirai.
Sophia.
Gaun berwarna biru muda membalut tubuhnya dengan anggun. Potongannya sederhana namun elegan. Bagian bahunya terbuka lembut, memperlihatkan garis leher dan tulang selangka yang indah tanpa terlihat berlebihan.
Lengan gaun itu dibuat transparan dengan lapisan kain tipis berhiaskan detail bordir bunga-bunga kecil yang berkilauan saat terkena cahaya.
Bagian pinggangnya pas membentuk siluet tubuh Sophia, sementara rok satin yang menjuntai panjang membuat langkahnya terlihat anggun.
Di sisi kanan terdapat belahan rok yang mencapai sedikit di atas lutut. Tidak terlalu tinggi, namun cukup memperlihatkan jenjang kakinya setiap kali ia melangkah.
Rambut panjangnya dibiarkan terurai lembut di belakang punggung.
Riasan tipis semakin mempertegas kecantikannya.
Untuk beberapa saat Damian hanya menatap.
Tanpa berkedip.
Sophia yang menyadari tatapan itu langsung merasa tidak nyaman.
"Apa... aneh?" tanyanya pelan.
Damian tersadar.
Ia segera mengalihkan pandangan.
"Tidak."
Sophia mengerucutkan bibir.
"Kalau begitu kenapa kau menatap terus? "
Damian menunjuk matanya. "Apa kau tak lihat aku punya mata? Kau ada di hadapanku. Tentu aku akan melihatmu."
"Sudahlah! Bicara padamu hanya akan mengurangi umurku. Di mana Ibumu?" tanya Sophia tak mau memusingkannya.
"Pergi."
Jawabannya terlalu cepat.
Dan itu justru membuat Sophia tenang.
Saat hendak berbalik untuk melihat dirinya di depan cermin, ujung hak sepatunya tanpa sengaja menginjak bagian bawah rok.
Sret!
Suara kain robek terdengar jelas.
Tubuh Sophia langsung membeku.
Matanya membelalak.
Belahan rok yang semula hanya sedikit di atas lutut kini robek jauh lebih tinggi.
Wajah Sophia langsung memerah.
"Ck!"
Sebelum ia sadar, kalau Damian ada di belakangnya. Dengan panik ia segera menahan bagian kain yang robek menggunakan kedua tangannya.
Namun semuanya sudah terlambat.
Damian sempat melihatnya.
Pria itu refleks memalingkan wajah ke arah lain.
Tatapannya berpindah ke jendela butik seolah ada pemandangan menarik di luar sana.
"Kau melihatnya, kan!"
Sophia hampir berteriak.
Kedua pipinya memerah sempurna.
"Singkirkan pikiran yang ada di kepalamu, dasar mesum!"
Damian yang sama sekali sudah membuang pandangan mendadak mengernyit.
"Kau yang menginjak rokmu sendiri."
"Diam!"
"Kenapa aku yang dimarahi?"
"Damian!"
Sophia menggertakkan giginya.
"Matamu! Jangan melihatku!"
Damian jelas merasa kesal. Tetapi ia tak bisa apa-apa.
Sementara itu, ujung telinganya perlahan berubah merah.
Entah karena malu.
Atau karena masih teringat pemandangan yang barusan dilihatnya.
B e r s a m b u n g .....
Jangan lupa tinggalkan jejak, yah! Makasih (^‿^)