Rafael Adinata, adalah aktor terkenal yang terjerat skandal memalukan dengan aktris pendatang baru.
Rafael terpaksa menikah dengan wanita biasa demi menyelamatkan reputasinya. Gita Larasati, seorang editor buku yang hidupnya sederhana. Dengan terpaksa menerima tawaran Rafael pernikahan kontrak dengan sang aktor demi melunasi hutang keluarga.
Sebuah pernikahan dimulai, tanpa cinta hanya sebatas hitam diatas putih.
Mampukah Rafael dan Gita menjalani pernikahan kontrak mereka yang penuh liku-liku? berpisah setelah masa kontrak habis, atau justru saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSYILA qirani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Kecemburuan Arjusena
Langit Surabaya mulai gelap. Lampu tiang penerangan halaman hotel menyala kekuningan. Gita masih sibuk dengan ponselnya, sedangkan Utari duduk di kursi kayu teras hotel.
"Git, ayo Lo kok lama banget sih! Perut gue Uda demo nih." rengek Utari dari luar.
"iya iya, udah nih." Gita menyisir rambutnya dengan jari, lalu merapikan baju yang ia kenakan.
Gita keluar kamar, "yuk!" ajaknya pada Utari.
Mereka menyusuri lorong dengan penerangan yang tidak begitu terang. Sedikit terkesan horor, karena ini bangunan lama yang dirawat hingga kini. Tapi bagi Gita itu adalah suatu mahakarya. Gita dan Utari menuruni beberapa anak tangga untuk sampai di resto hotel. Sayup-sayup terdengar alunan musik klasik seperti restoran mahal.
Nuansa etnik lagi-lagi memenjakan mata, beberapa meja bundar dan kursi kayu berjejer rapi. Lampu antik menggantung di setiap atap.
Di pojok sudah duduk Arjusena, Fikri dan Aldo. Utari melambaikan tangan. Selain mereka ada beberapa tamu juga, karena memang ini waktunya makan malam.
Arjusena dan Gita memesan rawon iga, sedangkan yang lainnya memilih nasi goreng dan Sop buntut. Aroma masakan menyapa indra penciuman pengunjung restoran.
Di tengah-tengah kegiatan Gita menyantap makanan, ponsel miliknya berdering. Tertera nama Rafael memenuhi layar ponsel.
"halo?"
"Aku lagi makan di resto." jawab Gita sambil menyeka mulutnya dengan tissu.
"oke." Rafael menutup teleponnya. Ia menuju hotel tempat Gita menginap. Ini jauh berbeda dari hotel yang ia pesan sebelumnya.
Rafael menggeret koper menuju kamarnya, tipe president suite dengan ruang tamu lebih luas dari kamar Gita. Kamar mandi disertai bathup lalu pintu belakang yang langsung menuju kolam renang. Interior yang bagus pikir Rafael. Area kolam renang sepertinya agak seram, saat ia membuka pintu belakang kamarnya.
Andra menginap di kamar yang satu tipe dengan Gita, kenapa? karena ia tidak suka kamar terlalu besar. Andra sebenarnya penakut.
Rafael meletakkan kopernya di dekat tempat tidur. Lalu bergegas turun ke resto tapi sebelumnya ia tidak lupa mengabari Andra untuk makan malam.
Rafael baru saja masuk ke area restoran ketika matanya menangkap sosok Gita. Perempuan itu sedang makan santai dengan rekan kerjanya, mata Rafael menyorot pada Arjusena yang duduk tepat di sebrang Gita.
Rafael menyipitkan mata, ia tidak suka cara Arjusena melihat Gita. Ia tahu apa yang dipikirkan laki-laki itu karena Rafael juga laki-laki. Rafael melangkahkan kaki yang diikuti oleh Andra yang baru saja datang.
"Boleh gabung gak?" suara Rafael menyapa membuat Gita dan rekan kerjanya menoleh termasuk pengunjung restoran yang berbisik dengan kedatangan Rafael.
Utari melongo bibirnya membulat sempurna tanpa mengeluarkan suara, baru kali ini ia melihat aktor papan atas dari dekat. Gita berdeham, sebelum menjawab sapaan Rafael tadi.
Rafael mengambil kursi dari meja sebelah begitu juga Andara, mereka menggeser kursi agar muat untuk tujuh orang. Arjusena membuang muka malas.
"Wah, gak nyangka bisa ketemu Rafael. Pasti nyusul Gita kan." Goda Utari.
Gita hanya tersenyum yang dibuat manis, sedang Rafael melirik Gita dan mengembangkan senyum khasnya.
" Iya dong, kamu makan apa sayang?" Rafael tersenyum manis kepada Gita, membuat Gita mengedipkan mata berkali-kali. Rafael seakan berbicara dengan matanya menyuruh Gita menjawab. Gita harus akting kali ini di depan teman-temannya.
"Rawon, kamu mau makan apa biar aku pesenin?" suara Gita berubah manis, Rafael mengigit bibir bawahnya. Entah, Gita terlihat lebih menggemaskan hari ini menurut Rafael.
"Aku mau rawon juga deh." Rafael menjawab dengan mengedipkan sebelah matanya. Gita terpaku beberapa saat.
"Mau coba?" Gita mengambil sesuap nasi lalu menyodorkan ke mulut Rafael. Rafael menerimanya dengan suka cita.
Mereka tidak sadar, ada mata yang mengamati penuh kebencian. Arjusena, mengeratkan genggamannya pada botol air mineral lalu meneguknya hingga tandas. Ia berdiri cepat hingga menimbulkan derit kursi kayu yang didudukinya.
"Saya balik dulu." katanya singkat. Mau tak mau mereka semua mendongak. Wajah maskulin Arjusena mengeras. Jakunnya naik turun.
"Gita." suara baritonnya lagi-lagi terdengar.
"Jangan lupa besok kita cek gedung seminarnya. Aku tunggu jam tujuh pagi." Arjusena melihat Gita dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Baik pak." Gita mengangguk patuh, tanpa banyak kontak mata dengan Arjusena. Rafael melirik mereka bergantian.
"Pasti ada hubungan antara mereka" pikir Rafael.
Arjusena pergi setelah membayar makanannya termasuk makanan Gita dan rekannya. Tak lama setelahnya Aldo dan Fikri kembali ke kamar. Menyisakan Utari yang belum juga selesai makan.
"Jadi Lo, pindah kamar dong." kata Utari pada Gita.
"Pindah kamar?" Gita mengerutkan kening, Utari melirik Rafael yang duduk sebelah Gita. Rawonnya sudah datang ia sedang makan dengan khidmat.
Gita melirik Rafael. Gita tau pikiran Utari. Sial kenapa Gita tidak memikirkannya ketika meminta Rafael menginap disini. Tadi yang ia pikirkan hanya., "Masa istrinya gak tau suaminya lagi ada job di Surabaya." kan aneh.
"emm....aku tidur sama kamu aja deh." Gita tertawa sumbang.
"Kok gitu?" Utari heran. "Nggak apa-apa lagi, itung-itung honeymoon." lanjut Utari tersenyum jahil. Utari menghabiskan suapan terakhir.
"Gue balik dulu ya. Koper Lo, gue taruh luar ya. Takut ya gue Uda bobo waktu lo ambil koper." Utari pamit, lalu berkata pada Gita. Rafael melihat Utari sekilas dan menunduk.
"Gue kan gak bilang pindah tidur!" Gita sedikit emosi.
"Dih, kan ada suami Lo. Dah ah... Kalian kasih gue ponakan yang lucu ya. Bye." lagi-lagi Utari menggoda Gita dengan suara lantang. Membuat Rafael tersedak seketika. Gita menggerakkan gigi melotot ke Utara yang sudah melenggang pergi.
Gita melirik Rafael. "Jadi aku harus berbagi kamar sama kamu?" tanya Rafael.
"Ya mau gimana lagi." Raut wajah Gita sedih.
"CK ... Tau gitu gak kesini." Rafael berdecak. Andra hanya melihat perdebatan mereka sambil menikmati nasi pasangnya.
"Ya mana aku tau, aku kan mikirnya..." Gita belum melanjutkan kata-katanya.
"Aku booking satu kamar lagi buat kamu." Rafael berkata cepat. Andra menegakkan duduknya.
"Gak ada, Lo tau nanti bakal ada gosip lain lagi kalo kalian gak sekamar. Kita bisa aja bungkam orang hotel. Tapi kalo sampe teman kerja Gita tau. Berabe entar." Andra tidak setuju ide Rafael. Gita Rafael saling bertatapan. Benar juga kata Andra pikir mereka.
"Bener tuh, kata Andra." Gita tak mau disalahkan. "Lagian se-gak maunya kamu kita tidur sekamar." Gita mengerucutkan bibirnya. Entah Gita jadi sedikit emosi ketika Rafael menolak keras sekamar dengannya.
"Ya masalahnya kamu itu perempuan aku laki-laki." Rafael melebarkan matanya kearah Gita.
"Ya terus kenapa?" Gita ngotot. "Ya...Ya.... Ah tau lah." jawab Rafael kikuk. Gita yang sadar berdecak.
"Lagian kamu bilang aku bukan tipe kamu banget. Sama kamu juga bukan tipe aku. Jadi gak masalah. Aku capek ah debat." Gita marah lagi. Mengingat Rafael pernah mengatai Gita gendut dan pendek.
Rafael tak menjawab. Ia membuka dua kancing kemejanya, habis makan rawon ternyata membuatnya kepanasan. Padahal hotelnya ber-AC.
Di tempat lain. Arjusena mengguyur tubuhnya di bawah shower. kedua tangannya berpangku pada dinding kamar mandi. Tangannya mengepal, otot bisepnya menyembul. Bayangan Gita dan Rafael terus berputar di kepalanya hingga membuatnya emosi.
"Akan aku rebut Gita dari kamu, bagaimanapun caranya." rahang Arjusena mengeras. Tinjunya menghatam dinding kamar mandi berkali-kali.