NovelToon NovelToon
DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:576
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

SINOPSIS

Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.

Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 KEMACETAN YANG PADAT

Ding dong... Ding dong...

Para murid bergegas kembali ke bangku masing-masing. Tak lama kemudian, guru mata pelajaran Bahasa Inggris masuk dan langsung memulai kelas. Proses belajar mengajar berlangsung dengan serius. Setelah satu jam setengah bergulat dengan rumus tata bahasa asing, waktu pelajaran pun usai dan langsung disusul dengan pelajaran keempat yang menjadi penutup hari itu.

 Waktu terasa berjalan cepat hingga akhirnya jam pelajaran benar-benar berakhir. Bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaring, memicu sorak gembira dari seluruh kelas saat anak-anak berhamburan merapikan tas dan bersiap pulang.

Di parkiran sekolah, Nona dan Ruby yang sedang bersiap menaiki sepeda motor mereka melambaikan tangan ke arah Gretta yang berjalan menuju gerbang.

 "Gree, kami duluan ya! Sampai ketemu besok!" ujar Ruby dan Nona kompak sebelum motor mereka melaju membelah jalanan.

"Iya, hati-hati di jalan ya!" balas Gretta.

Kini, Gretta berjalan beriringan dengan Reo dan Gian menuju halte bus yang terletak tidak jauh dari gerbang sekolah. Ketiganya berdiri dalam diam di bawah atap halte, menunggu bus kota yang akan membawa mereka pulang.

Reo yang menyadari arah langkah Gretta langsung menoleh dengan wajah terkejut. "Gree, kamu naik bus juga?" pekik Reo senang.

Gretta cuma mengangguk pelan sebagai jawaban, sementara Gian yang berdiri di sisi lain halte tampak tidak peduli dengan percakapan itu dan terus menatap lurus ke arah jalan raya.

Beberapa menit menunggu, akhirnya bus yang dinanti pun tiba di depan halte. Pintu bus terbuka, dan mereka bertiga segera melangkah naik. Karena bertepatan dengan jam pulang kantor dan sekolah, kondisi di dalam bus ternyata sudah cukup padat. Beruntung, setelah berjalan ke area belakang, mereka berhasil mendapatkan kursi kosong. Karena kursinya berjajar tiga di bagian paling belakang, mereka pun duduk bertiga dengan posisi Reo berada tepat di tengah-tengah, menjepit tubuhnya di antara Gian di sebelah kanan dan Gretta di sebelah kiri.

Bus pun mulai berjalan membelah aspal. Namun, keberuntungan tampaknya sedang tidak memihak mereka hari ini. Jalanan ibu kota mendadak terkunci oleh kemacetan yang sangat parah. Kendaraan merayap sangat lambat, membuat perjalanan yang harusnya singkat berubah menjadi sangat padat.

Satu jam berlalu dalam kondisi terjebak macet, rasa kantuk yang luar biasa akibat kelelahan seharian belajar mulai menyerang mereka. Gian, yang sudah tidak bisa menahan berat matanya, perlahan-lahan menundukkan kepala hingga akhirnya tertidur lelap dengan posisi kepala bersandar pasrah di pundak kanan Reo. Di saat yang bersamaan, Gretta yang berada di sisi kiri juga sudah kehilangan kesadarannya karena kantuk yang teramat sangat. Tanpa sadar, kepala Gretta ikut miring dan jatuh, tertidur pulas dengan bersandar nyaman di pundak kiri Reo.

Reo yang berada di tengah mendadak membeku. Ia merasakan beban berat yang tiba-tiba menumpu di kedua bahunya secara bersamaan. Menoleh ke kanan, ia melihat wajah tertidur Gian yang tampak polos tanpa ekspresi dinginnya. Menoleh ke kiri, ia melihat wajah cantik Gretta yang sedang terlelap dengan napas yang teratur.

Berada di posisi terjepit seperti itu, Reo hanya bisa menghela napas pasrah bercampur kesal, menahan berat tubuh kedua temannya yang asyik menjelajahi alam mimpi sementara dirinya harus terjaga di tengah kemacetan bus yang pengap.

Dibalik kemacetan horor ibu kota yang seakan tidak ada ujungnya. Posisi duduknya saat ini benar-benar tidak estetik: terjepit di tengah-tengah antara Gretta dan Gian. Masalah utamanya bukan cuma sempit, tapi kedua manusia di kiri dan kanannya ini sukses menjadikan bahu Reo sebagai bantal premium gratis.

Melihat keduanya tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka, Reo mendengus pasrah. Beban kepala Gian di bahu kirinya terasa seberat tabung gas tiga kilo, sementara kepala Gretta di bahu kanannya juga tidak kalah bikin encok.

"Woy, lu berdua kira bahu gua bantal tidur apa?" bisik Reo.

Sambil menghela napas panjang, Reo mencoba mendorong kepala Gian ke arah kaca jendela bus. Pluk. Berhasil. Kemudian ia mendorong kepala Gretta ke arah sebaliknya. Baru juga Reo mau bernapas lega dan meregangkan otot, tubuh bus mendadak oleng karena mengerem. Dan seperti magnet yang sudah diatur takdir, brakk! Kedua kepala itu membalbal serentak dan mendarat kembali di bahu Reo dengan dentuman yang lebih mantap.

"Aduh, apes banget nasib gua hari ini," gumam Reo. Mau menolak lagi pun rasanya tenaga sudah habis. Akhirnya, karena embusan AC bus yang dingin dan rasa bosan yang menjalar, pertahanan Reo runtuh juga. Matanya perlahan terpejam, dan kepalanya ikut terkulai pasrah di atas kepala Gian.

Tiga manusia itu sukses tertidur dalam posisi saling sandar yang mengemaskan, sampai akhirnya jam menunjukkan pukul 8 malam. Bus tiba-tiba berhenti dengan sentakan keras di sebuah halte yang cukup ramai.

"Hee, bangun, bangun! Cepat turun, sudah sampai ujung rute!" teriak sopir bus dari depan.

Ketiganya langsung terlonjak kaget. Reo, Gian, dan Gretta membuka mata sambil mengucek-ngucek mata yang masih sepet karena nyawa belum terkumpul sepenuhnya. Dengan langkah gontai. mereka bertiga turun dari bus, tak lupa membayar ongkos dan memberikan sedikit uang tip kepada kenek yang sama lelahnya.

Begitu menapakkan kaki di trotoar, Gian langsung mengangkat pergelangan tangannya, melihat jam dengan tatapan tidak percaya. "Jalanan macetnya benar-benar di luar nalar. Sampai sudah jam 8 malam begini," gumam Gian, suaranya serak khas orang baru bangun tidur.

"AWWW! Kedua bahu ku! Bahu ku mau copot!" pekik Reo tiba-tiba sambil memegangi kedua pundaknya secara bergantian. Ia menatap Gian dan Gretta dengan pandangan menuntut keadilan. "Kalian berdua harus patungan bayar biaya tukang urut gua!"

Tentu saja, Gian yang memiliki kadar kepedulian di bawah rata-rata sama sekali tidak peduli. Cowok itu hanya melirik datar, memasukkan tangan ke dalam saku jaket, lalu berjalan melangkah pergi begitu saja meninggalkan Reo yang masih kesakitan.

"Hee! Gian, kauuu! Gara-gara kau dan Gretta bahu ku jadi pegal sengklek begini!" teriak Reo frustrasi, suaranya menggema di pinggir jalan.

Gretta yang melihat itu langsung merasa bersalah. Sambil memegangi tali tasnya, ia cengengesan dengan senyum tanpa dosa. "Maaf ya, Reo... hehe. Habisnya bahu kamu pas banget buat tidur."

Reo mengacak rambutnya frustrasi. "Dahlah, lupakan saja. Anggap saja gua lagi sedekah bahu hari ini," sahut Reo pada Gretta pasrah. Mereka berdua kemudian melangkah cepat menyusul Gian, menyusuri jalanan malam menuju arah pulang.

"Kamu tinggal di daerah sini juga, Reo?" tanya Gretta membuka obrolan, mencoba memecah keheningan malam.

"Emm, aku dan Gian tinggal di apartemen sekitar sini. Sebenarnya kalau rumah asli kami sih jauh banget dari sini, makanya kami pilih sewa tempat di dekat sekolah biar nggak tua di jalan," jawab Reo santai. Ia kemudian balik bertanya, "Kalau kamu sendiri, di mana rumahmu?"

"Aku belok di persimpangan jalan di depan itu, masuk gang sedikit," sahut Gretta sambil menunjuk sebuah tikungan yang lampunya agak remang-remang. "Ya sudah yah Reo, aku duluan. Bye!"

Melihat kondisi jalan yang sudah sepi, Reo agak khawatir. "Apa tidak mau kami antar saja? Sudah malam ini, ngeri banyak begal atau kucing garong," pekik Reo. Mendengar itu, Gian yang sedari tadi berjalan jauh di depan diam-diam ikut menghentikan langkahnya, menunggu respons Gretta meski posisinya memunggungi mereka.

Gretta berbalik sebentar sambil tersenyum tipis, merasa hangat dengan perhatian temannya. "Tidak usah, Reo. Lagi pula rumahku sudah dekat banget dari persimpangan itu kok. Aman!"

"Benarkah? Ya sudah kalau begitu, kami duluan yah! Hati-hati di jalan!" ujar Reo sambil melambaikan tangannya tinggi-tinggi. Gretta membalas lambaian itu sebelum akhirnya bayangannya menghilang di balik tikungan jalan. Setelah memastikan Gretta aman, ketiga remaja itu pun pulang ke tempat tinggal masing-masing.

1
Miska
semangat terus author, ceritamu keren👍
Nora
ceritanya bagus bnget aku suka
Nora
Ceritanya bagus dan menyentuh hati tapi adegan pertama sungguh kejam , semngat terus author aku menunggu kelanjutannya.💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!