"Ugh..
aku harus..."
Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.
tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 1 : Titik Nol
"Aku harus segera pulang, aku tidak bisa begini terus." Ucap seorang remaja yang sudah berlumuran dengan darah. Dia merangkak, perlahan menggapai ponsel di depannya.
20 menit yang lalu
Terlihat seorang remaja menyusuri jalan dengan sepeda balapnya. Dia mengayuh sepeda itu dengan cepat, lalu membiarkan sepeda itu melaju dengan kencang. Menikmati semilir angin, dan udara sejuk yang melewati badannya.
Dia menyusuri jalan berbukit, sebuah jalan yang berlika-liku di atas sebuah bukit bernama Bukit Dingin. Kebetulan, remaja tersebut melihat sebuah cafe di tepi jalan.
Segera ia mampir mendatangi cafe yang terlihat indah itu.
Masuk kedalam cafe, ia melihat seorang wanita dengan apron coklat muda yang mengenakan kemeja putih khas barista cafe. "Selamat datang di Cat House cafe. Boleh saya bantu untuk pemesannya Kakak? " Ujar si barista dengan senyum yang sangat ramah.
Pemuda itu segera mengangguk, lalu mendongakkan kepalanya membaca menu yang berupa goresan kapur diatas papan tulis kecil.
"Hmm, aku pesan satu Affogato, satu Espresso, dan hmmm... Oh satu cheesecake."
"Baik, kalau boleh tahu atas nama siapa ya kak?"
"Theodore, hmm tulis saja Theo." Balas pemuda itu dengan senyum yang ramah.
"Baik kak Theo, kalau begitu saya ulangi ya.
Satu Affogato, satu Espresso, dan satu cheese cake?"
"Ya"
"Baik kalau begitu totalnya 50 ribu ya kak. Mau pake kartu debit atau tunai ya?" Ujar
"Kartu aja" balas pemuda itu singkat sambil mengeluarkan kartu debitnya dan memberikannya pada si barista.
Kemudian, si barista segera mengeluarkan mesin pembayaran dan memasukkan kartu debit Theo ke dalam mesin. Setelah membayar, Theo melihat kembali daftar belanjanya.
"Satu Affogato, dan satu cheesecake? Dimana espresso nya?" Pikir Theo yang tidak melihat keberadaan tulisan espresso di nota yang diberikan barista.
Segera Theo mendatangi barista dan menanyakan, "maaf kak, aku mau nanya. Ini kok nggak ada tulisan espresso ya? Aku kan tadi pesen espresso juga."
"Ohh, maaf kak, saya tadi tidak menjelaskan. Jadi, kita ini ada promo kak. Kalo misalnya kakak beli sampe 50 ribu, maka kakak bisa dapet espresso gratis kak."
"Ooh, siap deh. Aku takutnya kamu lupa masukin terus malah rugi." Ujar Theo yang senang mendengar promo yang sangat menggiurkan itu.
Dia segera duduk di bangku dekat meja barista, sambil memandangi hutan di depan cafe. Ya, cafe tersebut memang dibangun diatas tanah yang ada di pinggiran jurang. Selain itu, cafe itu juga ada dalam posisi jalan tusuk sate terhadap jalan menuju hutan di bukit tersebut.
Dari kedalaman hutan yang gelap, Theo mampu melihat keberadaan seekor anjing yang sedang mendekat.
Entah mengapa, anjing itu membuat perhatian Theo terpaku dan fokus pada anjing itu.
"Kak, apakah umum bagi anjing liar di sekitar sini?" Tanya Theo kepada si barista yang sedang menyiapkan pesanan Theo.
"Hmm, anjing? Kayanya sih nggak ya. Setahuku juga di daerah sini nggak ada yang punya anjing ataupun ada anjing liar."
"Hmmm, kalo gitu, itu anjing dari hutan anjing apa ya?" Tunjuk Theo ke arah jalan di depan cafe. Sedikit demi sedikit Theo dapat merasakan sensasi tidak nyaman yang datang entah darimana.
"Anjing? Hahahha, jangan bercanda. Bukankah itu daerah kosong? Kan di daerah situ ada tambang emas. Masa ada anjing?"
Entah kenapa, si barista seakan akan tidak dapat melihat si anjing.
Dengan segera, Theo berdiri dan menutup pintu serta menutup semua jendela yang terbuka. Ia juga mulai memindahkan beberapa kursi seakan menciptakan sebuah benteng.
Barista yang bingung pun kemudian mulai menata kembali kursi. Lalu ia segera menghampiri Theo dan bertanya, "Kak, kamu sehat? Kamu jadi pucat loh? Astaga. Sebentar kak, aku telfon 911 dulu."
Barista itu segera pergi dan menghampiri telepon. Sementara itu, Theo terlihat pucat pasi. Apalagi matanya, dia seakan-akan sedang melihat sesuatu yang ada diluar nalar manusia.
Tiba-tiba, anjing itu mulai berlari dengan sangat cepat menuju cafe. Segera anjing itu melompat ke arah jendela kaca besar di depan cafe.
'praaang'
Terdengar suara pecahan kaca yang memekakkan telinga. Theo segera terduduk lemas, tidak ada suara barang sedikitpun energi dalam tubuhnya untuk melakukan aktivitas apapun.
Satu hal dipikirannya, dia mungkin mati.
Barista yang melihat semua kejadian aneh itu bergidik ngeri, sebelum...
'kratak'
Tubuh barista terkoyak, seluruh organ tubuhnya seakan terlepas dan terpisah.
Tangan, kaki, badan, dan kepala.
'praattt'
Cipratan darah memenuhi ruangan itu, mengubah ruangan yang berbau kopi itu seketika menjadi ruangan berbau darah.
Sebuah pemandangan yang sangat mengerikan
Anjing gila itu berlari dan melompat menghadang kaca. Meskipun terdapat beberapa pecahan beling di badannya, anjing gila itu seakan tidak bisa merasakan sakit dan terus menerjang barista.
Kemudian, anjing gila itu mulai mengendus seluruh wilayah cafe. Sungguh mengerikan, nafasnya terdengar seperti besi berkarat yang bergesekan.
'shrug... shrug... shrug'
Anjing itu terus menerus mengendus ke sekitaran cafe itu. Sesekali, ia akan menyerang sumber suara didekatnya. Seperti tikus yang lewat, atau bahkan, burung gereja yang sekedar turun untuk mematuk beberapa serangga pun luput dari hadapannya.
Sementara itu, Theo sedang menutup mulutnya berusaha mencegah sedikitpun udara mengalir melalui mulutnya.
Sakit, memang tapi bagaimanapun hanya satu hal yang tertancap kuat di benak Theo.
"Aku harus hidup"
Sayangnya, seakan akan Dewi keberuntungan sedang menutup mata darinya, ponsel Theo berdering menunjukkan nama yang paling Theo kenal.
"Mama? Cih, sial"
Namun, bukannya senang dengan telepon dari mamanya. Jantung Theo malah berdegup lebih kencang lagi bagaikan suara tapak kaki kuda yang sedang berperang.
'dub dub dub dub'
Keringat dingin menetes dari dahi Theo. Ia melihat anjing gila itu mulai mendekat menuju arah suara dering ponsel itu. Perlahan-lahan Theo bisa mendengar, suara nafas dari anjing itu.
Seketika mendongakkan kepala, Theo sudah melihat anjing itu ada di depannya.
"Graum"
Anjing itu membuka mulutnya, dan suara yang mirip suara knalpot motor itu mengisi ruanagn cafe yang sudah terlihat hancur.
Dengan cepat dan panik, Theo segera berbalik arah mengambil ponselnya. Naas, dalam usahanya Theo dapat merasakan. Ada rasa sakit dari bagian perut bawahnya. Ia tahu, kalau dirinya sudah dapat dipastikan, "mati".
Dengan sisa tenaganya, Theo merangkak menuju ponselnya. Sedikit demi sedikit, dengan tenaga yang kian terkuras.
"Haha, apakah akhirnya aku akan mati seperti ini?
Tidak aku sangka, aku yang berolahraga demi menghindari kematian. Malah mengalaminya sendiri.
Adikku, aku harus selamat. Dia tidak boleh melihat berita kematian diriku. Hah, semoga dia hidup tenang.
Ibuku, dia... Hah, aku bahkan belum mengucapkan seribu terima kasih yang kurasa tidak akan cukup untuk membalas jasanya.
Ayah... Hah, aku aja barusan cekcok dengannya.
Hahhaha...
Aku tidak mau mati...
Tidak.... Setidaknya aku tidak boleh mati.
Tidak...
Pulang...
Aku harus pulang...
Pu....lang..."
Sedikit demi sedikit, pandangan Theo mulai kabur. Lalu menghitam, dan menjadi semakin gelap.
Di saat yang sama, ada sebuah keluarga kecil di pinggiran kota dekat bukit tersebut. Kota itu disebut Kota Dingin. Sebuah kota, yang terletak persis di dataran lereng Bukit Dingin.
Keluarga itu terlihat sedang bersama, menikmati kecerahan dan kebahagiaan.
Seorang wanita paruh baya sedang memasak untuk makan malam.
Seorang pria yang terlihat seumuran dengan wanita paruh baya itu sedang membereskan meja makan kecil yang terletak di depan tv kecil.
Sedangkan seorang gadis kecil, sedang bermain sepeda di luar. Sambil diawasi oleh kedua orang tuanya itu.
Setelah selesai memasak, wanita itu segera memanggil gadis kecil diluar. Sedangkan, si pria segera menyiapkan piring dan sendok dengan sigap.
Ia menata, 4 piring mengelilingi meja.
Sebuah piring ada di sebelah Utara, menghadap televisi yang sedang menyala. Sedangkan ketiga piring lainnya, di susun ada di sebelah kanan, kiri dan berseberangan dengan piring itu.
Saat sedang mengambil nasi, terdengar sebuah berita.
"Laporan berita terbaru, ditemukan 2 jasad di cafe x dengan kondisi yang mengenaskan."
"Sungguh kasihan ya, keluarga korban itu." Ujar si wanita paruh baya yang agak iba dengan keluarga korban di televisi.
"Menurut ahli forensik, ditemukan bahwa kedua jasad telah dimutilasi dan diduga, alasan kematian dari kedua korban adalah karena kehilangan darah dalam jumlah yang banyak."
Mereka akhirnya mulai makan. Meskipun mendengar berita yang tidak mengenakan, mereka tetap melanjutkan aktivitas mereka.
Meskipun begitu, pria paruh baya itu terlihat agak cemas. Entah kenapa ia sesekali melirik ke arah jam dinding.
Terlihat jelas bahwa dia sedang menunggu kedatangan seseorang. Mungkin, ia sedang menunggu anaknya yang biasanya duduk membelakangi tv itu.
Sejam berlalu...
Dua jam berlalu...
Setelah selesai makan, wanita paruh baya itu segera mengambil piring yang sudah kotor. Sementara, pria paruh baya itu mengambil tutup saji dan menaruh beberapa lauk pauk dan sayur di piring yang sudah diberi nasi hangat. Lalu ia menutupnya dengan tutup saji, mencegah supaya tidak ada lalat yang hinggap di makanan hangat yang terlihat menggiurkan itu.
Tidak lama, muncul berita lagi di televisi.
"Jasad kedua korban jiwa telah diidentifikasi.
Diketahui, korban pertama bernama Lucy dan merupakan seorang barista di cafe itu.
Sedangkan, diketahui identitas remaja berusia 17 tahun bernama Theodore, adalah seorang pelanggan yang kebetulan lewat dan mampir di cafe tersebut."
...
Hening, tidak ada sedikitpun suara. Hanya sebuah wajah yang terkejut, dan syok.
'prangg!'
Piring kotor di tangan wanita paruh baya itu terjatuh. Seketika, wanita itu terduduk lemas. Menangis, dan berteriak histeris.
Di sisi lain, pria paruh baya itu masih diam dalam tangisnya. Suram suasana di keluarga itu mendadak suram bagaikan kuburan.
Tidak lama
'triing'
Dering telepon yang entah kenapa terasa berasal dari neraka itu berbunyi. Dengan sisa tenaga yang ada, pria itu segera berdiri dan berjalan sedikit tertatih-tatih.
"Halo..." Suaranya begitu dalam, dan berat. Jelas terdengar kesedihan yang amat sangat besar dibalik telepon itu.
"Halo, apakah benar ini adalah nomor rumah dari Theodore Frederick?"
"Ya"
"Kami dari pihak kepolisian dan rumah sakit, mengucapkan turut berduka cita atas kepergian anak anda Theodore Frederick.
Mungkin, anda sudah melihat berita di berita acara nasional ya?"
"Ya" suara nya semakin serak. Pria itu jelas sudah sangat lemas. Tapi dia tetap berusaha untuk berdiri.
"Kalau begitu, kami mohon kepada anda dan istri anda untuk datang ke rumah sakit daerah Bukit Dingin. Kami mohon, supaya anda berdua bersiap sebelum melihat kondisi putra anda berdua."
"Ya..." Entah kenapa, ayah dari Theo hanya membalas dengan ya, ya, dan ya.
"Sayang.... Andai... Andai aku tidak membentaknya tadi... Mungkin... Dia masih di sini... Maaf.... Maaf..." Ucap ayah Theo kepada istrinya sambil menangis histeris.
"Tidak sayang... Ini... Semua salahku.
Apa yang dikatakan polisi?" Ibu Theo yang sudah menangis histeris mulai tenang dan sedikit menenangkan suaminya itu. Tentu tetap dengan air mata yang terus menerus terpancar deras dari matanya.
Mereka segera berangkat ke RSUD Bukit Dingin. Lalu mereka segera mencari polisi.
"Halo bapak, ibu, perkenalkan saya inspektur Hendra yang sedang memimpin penyelidikan ini. Sampai sekarang, kami tidak tahu apa penyebab kematian dari kedua jenazah.
Oiya pak, Bu, saya harap... Kalian... Menyiapkan diri ya, saya doakan yang terbaik kepada mendiang dan kepada kalian. " Ucap seorang polisi dengan suara yang lembut dan sabar. Kemudian, polisi itu segera pergi dan masuk ke mobil polisi dan pergi dari rumah sakit.
Segera, beberapa polisi memandu kedua orang tua Theo menuju ruang jenazah.
"Haaa.... Anakku!" Seketika melihat kondisi anaknya, ibu Theo segera menangis histeris.
Bagaimana tidak, Theo ditemukan telah terpenggal dengan tubuh atas dan tubuh bawah yang sudah terpisah.
Polisi menyatakan, bahwa kepala Theo sampai saat ini belum ditemukan. Mungkin, tertimpa reruntuhan atau tertimpa apa.
Bahkan, dari rekaman CCTV sekitar pun tidak ada sedikitpun kehadiran yang berbahaya. Hanya terlihat tiba tiba ruangan dipenuhi oleh darah, dan kedua orang yang sudah dalam kondisi yang mengenaskan.
Lalu, terlihat CCTV yang mendekat ke tanah yang berarti bangun tiba-tiba menjadi runtuh.
Polisi segera menyelidiki kasus tersebut. Oleh karena laporan dari seorang warga yang tinggal tidak jauh dari lokasi cafe dan mendengar suara ledakan.
Seluruh tim polisi dikerahkan dibawah kepemimpinan inspektur Hendra dan naas. Tidak ada sedikitpun keanehan.
***
End ch. 1 : Titik Nol
Halo semuanya, pertama-tama saya ucapkan terima kasih karena telah membaca karya saya. Semua kritik dan saran akan saya terima.
Terima kasih semuanya
Oiya, jangan lupa like dan comment.