NovelToon NovelToon
"Sistem Mengajar Mutlak Dan Wali Kelas Pilihan":

"Sistem Mengajar Mutlak Dan Wali Kelas Pilihan":

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Sistem
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: acep maulana

Arvand Pratama hanyalah seorang guru honorer santai yang menjunjung tinggi prinsip "kerja minimal, damai maksimal". Namun, hidupnya yang tenang mendadak hancur ketika ia dijebak untuk menjadi wali kelas 12 F—kelas buangan paling brutal, berisi sekumpulan murid bermasalah yang dicap sebagai parasit sekolah tanpa masa depan.
​Saat Arvand berniat melarikan diri dan mengundurkan diri, sebuah Sistem Mengajar Mutlak misterius mendadak aktif di kepalanya. Sistem ini memberinya pilihan ekstrem: terima misi menjinakkan kelas 12 F dengan imbalan uang melimpah dan kemampuan guru supranatural, atau menolak dan mati mendadak karena serangan jantung!
​Terjebak di antara ancaman kematian sistem, janji manis kepala sekolah untuk dinikahkan dengan guru matematika yang cantik, dan keliaran murid-murid 12 F yang siap menguji kewarasannya, petualangan Arvand pun dimulai. Mampukah guru honorer bermodal sistem ini mengubah kumpulan "produk gagal" menjadi barisan murid terbaik, atau justru ia yang akan mati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Titik Balik di Meja Honorer

Pak Hadi Wicaksana tidak memanggil Arvand ke ruangannya, melainkan langsung mendekati meja kerja Arvand yang berada di sudut ruangan. Tindakan yang tidak biasa ini sontak membuat riuh bisik-bisik di ruang guru mendadak berhenti. Bu Ratih, Bu Lestari, Bu Zahra, dan bahkan Pak Arif Santoso langsung memutar kursi mereka, berpura-pura sibuk namun telinga mereka terpasang tajam ke arah meja Arvand.

​Arvand yang menyadari kehadiran sang penguasa tertinggi sekolah langsung membetulkan posisi duduknya yang semula terlalu santai. Detak jantungnya mendadak berdegup sedikit lebih cepat. Tengkuknya meremang, memicu alarm bahwa badai besar akan segera datang menerjang hidupnya.

​"Eh, Pak Kepsek, Pak Wakepsek... dan Bu Yasmin," sapa Arvand dengan senyum ramah yang sedikit canggung. Ia mencoba membaca situasi sebelum kalimat pertama keluar dari mulut sang atasan. "Ada apa ya, Pak? Tumben sekali Bapak berdua dan Bu Yasmin mendatangi meja saya yang di pojokan begini. Apakah ada berkas administrasi honorer saya yang kurang untuk bulan ini, atau... jangan-jangan slip gaji saya ada yang salah hitung lagi, Pak?" tanya Arvand, mencoba mengarahkan pembicaraan ke ranah logistik yang aman.

​Drs. Hadi Wicaksana tidak langsung menjawab. Ia berdeham keras-keras, sebuah trik vokal yang biasa ia gunakan untuk mencairkan suasana kaku sekaligus menegaskan otoritasnya di depan para bawahannya. Ia membetulkan posisi kacamatanya yang melorot dengan jari telunjuknya, lalu mengembangkan sebuah gurat senyum yang terkesan sangat dipaksakan di wajah tuanya yang mulai berkerut.

​"Begini, Arvand," ujar Pak Hadi Wicaksana dengan suara baritonnya yang diatur selembut mungkin. "Kamu pasti sudah tahu sendiri dan mendengar kasak-kusuk di antara para guru, kan, mengenai bagaimana kondisi riil dari Kelas 12 F saat ini? Wali kelas mereka yang sebelumnya, Pak Bambang... yah, beliau mendadak mengajukan cuti sakit jangka panjang yang tidak bisa ditentukan batas akhirnya. Berdasarkan surat keterangan resmi dari dokter spesialis, beliau mengalami tekanan batin tingkat tinggi, kecemasan akut, dan asam lambung kronis akibat stres berat menghadapi dinamika kelas."

​ Pak Hadi Wicaksana menjeda kalimatnya sejenak, melirik ke arah Pak Rizwan Maulana yang langsung mengangguk tegas sambil menunjukkan sebuah map dokumen baru.

​"Intinya, Arvand, kelas itu sekarang terlantar. Mereka tidak punya pemimpin, tidak punya wali kelas yang mengarahkan. Dan setelah melalui proses diskusi yang panjang, melelahkan, serta penuh pertimbangan dalam rapat pleno bersama seluruh jajaran komite sekolah, wakil kepala sekolah, dan guru-guru senior kemarin sore... kami semua secara bulat memutuskan untuk menunjuk kamu, Arvand Pratama, sebagai wali kelas 12 F yang baru, terhitung mulai hari ini juga."

​Mendengar untaian kalimat yang keluar dari mulut Sang Kepala Sekolah, mata Arvand langsung membelalak sempurna seperti baru saja tersengat aliran listrik tegangan tinggi. Seluruh persendiannya mendadak terasa lemas, dan jantungnya serasa melompat keluar dari rongga dadanya. Angan-angan indah tentang hidup tenang, damai, dan aman sebagai seorang guru honorer santai yang ia bangun selama ini runtuh berkeping-keping menjadi debu dalam hitungan detik.

​"Apa?! Coba tolong ulangi lagi, Pak? Saya tidak salah dengar, kan?!" Arvand langsung menyela dengan nada suara yang naik beberapa oktaf, melupakan total segala tata krama, kesantunan birokrasi, dan hierarki jabatan yang berlaku di ruangan itu. Ia bahkan langsung berdiri dari kursinya dengan gestur tubuh penuh penolakan.

"Saya ini hanya seorang guru honorer, Pak Kepsek! Guru pengganti yang dibayar recehan per jam mengajar! Tugas saya di sekolah elit ini cuma menggantikan guru yang absen untuk memberikan lembar tugas, bukan untuk memikul beban hidup yang mahaberat sebagai wali kelas tetap! Apalagi menjadi wali kelas mereka... Kelas 12 F! Bagaimana bisa keputusan gila ini diambil oleh jajaran manajemen, Pak? Anda ini sebenarnya mau membuat saya merana karena pekerjaan ini, atau Anda memang sengaja ingin melihat saya mati muda di sekolah ini karena serangan jantung?!"

​Arvand menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kecepatan penuh. Kedua tangannya bergerak di udara, mempertegas penolakannya secara absolut. Informasi mengenai kekejaman mental dan anarki yang terjadi di dalam kelas 12 F sudah menjadi rahasia umum yang teramat mengerikan di kalangan guru-guru, terutama bagi mereka yang masih berstatus honorer dengan jaminan kesehatan yang minim sepertinya.

​"Pak, kelas itu isinya bukan murid, tapi gudang masalah! Sarang penyamun!" cecar Arvand lagi, menyuarakan semua argumen rasional dan ketakutan terdalam yang mendadak berputar-putar seperti angin puting beliung di dalam otaknya. "Mereka itu suka berkelahi massal di luar sekolah sampai masuk berita lokal, suka bolos berjamaah saat jam pelajaran penting, dan suka merokok terang-terangan di area belakang dekat gudang berdebu itu! Bahkan, Pak Hadi... ada rumor kuat yang beredar luas di antara para penjaga sekolah kalau beberapa dari mereka suka mengonsumsi Mirasantika—minuman keras dan narkotika!"

​Arvand menarik napas dalam-dalam, wajahnya memerah karena emosi yang meluap. "Belum lagi hobi mereka yang suka pacaran kelewat batas di pojokan kantin, selalu berbuat onar di setiap acara hari besar sekolah, menggoda siswi-siswi dari kelas unggulan sampai menangis, bahkan... guru-guru wanita muda yang magang atau mengajar di sini pun sering mereka goda habis-habisan sampai risih dan ketakutan! Rumor mengatakan Pak Bambang, wali kelas sebelumnya, sampai menangis histeris di ruangan ini tepat di depan meja Bapak sebelum asam lambungnya kambuh karena sudah tidak kuat lagi dengan kelakuan iblis mereka. Dan sekarang, dengan mudahnya Bapak mau menaruh saya di dalam neraka jahanam itu?"

​Di dalam batinnya yang terdalam, Arvand sudah menanamkan sebuah sumpah serapah yang sangat kuat dan tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun: 'Kalau kau paksa aku dengan surat keputusan resmi dari yayasan sekalipun, Pak, tetap akan aku tolak sampai mati! Aku ogah! Mending aku keluar, angkat kaki, dan resign dari sekolah ini langsung hari ini juga, detik ini juga. Saya tidak akan pernah mempan dibujuk dengan retorika murahan tentang pengabdian tanpa tanda jasa, pahlawan bangsa, atau masa depan generasi muda yang sering Bapak ucapkan saat upacara hari Senin!'

​Melihat reaksi yang sangat histeris, meledak-ledak, dan penolakan mentah-mentah yang ditunjukkan oleh Arvand di depan umum, Drs. Hadi Wicaksana langsung panik. Ia buru-buru melambaikan kedua tangannya yang gempal di udara, mencoba menahan emosi Arvand agar tidak terdengar lebih luas oleh para guru lain yang kini sudah terang-terangan menonton drama tersebut dari meja masing-masing.

​"Aduh, tunggu dulu, Arvand! Tolong kecilkan suaramu, jangan emosi dan bicarakan hal ini dengan keras-keras begini," ujar Pak Hadi Wicaksana dengan suara yang ditahan, mencoba meredakan tensi yang kian meninggi di sudut ruangan. "Soal minuman keras sama narkotika itu... ah, itu cuma rumor lama yang terlalu dibesar-besarkan oleh guru-guru sepuh yang terlalu sensitif! Mereka belum pernah terbukti secara hukum mengonsumsinya di dalam lingkungan sekolah, paling-paling mereka cuma nakal-nakal tipis khas remaja tanggung yang sedang mencari jati diri dan perhatian saja. Oke, tolong dengarkan dulu penjelasan saya baik-baik."

​Pak Hadi Wicaksana melirik ke arah Pak Rizwan Maulana yang langsung melangkah maju setapak untuk memberikan dukungan moral.

​"Keputusan penunjukan ini sudah disetujui secara bulat oleh seluruh guru lain dalam rapat, Arvand, dan seluruh jajaran pemimpin yayasan sekolah ini juga sudah memberikan lampu hijau. Saya sebagai kepala sekolah mau dan saya sangat butuh kamu untuk setuju dengan tugas ini. Ku mohon dengan sangat, Arvand... tolong bantu sekolah ini menjaga wajah dan reputasinya di depan dinas pendidikan. Kalau kelas itu dibiarkan tanpa wali kelas lebih lama lagi, akreditasi sekolah kita bisa terancam turun," pinta pak Hadi Wicaksana dengan raut wajah memelas yang jarang ia tunjukkan.

​Dari meja rumpun mata pelajaran Sejarah yang berada tepat di sebelah ruangan kaca, Pak Fajar Aditama, seorang guru senior yang terkenal dengan watak disiplinnya yang kaku dan kolot, mencibir sinis. Ia sengaja menghentakkan tumpukan kertas tugas muridnya ke atas meja kayu dengan keras hingga menimbulkan suara plak yang menggema.

​"Salah sendiri kau selalu terlihat terlalu santai, tidak punya beban, dan banyak menganggur saat jam mengajar berlangsung, Pak Arvand," sindir Pak Fajar Aditama dengan suara yang sengaja dikeraskan agar didengar oleh seluruh ruangan. "Makanya jajaran manajemen dan guru-guru senior menilai kau memiliki banyak energi sisa yang tidak terpakai di sekolah ini. Sangat cocok untuk mengurus anak-anak nakal dan kurang didikan di kelas buangan itu, daripada energi tulisanmu cuma habis untuk main game di ponsel."

1
irena
lanjut thor..
Aisyah Suyuti
good
Mamat Stone
/Tongue/
acep maulana
Hehehe, kalau kalian punya ide gokil, teori liar, atau saran buat novel ini, tulis aja di komentar. 😆
Saya selalu baca komentar kalian, dan siapa tahu ada ide yang bisa menginspirasi jalan cerita ke depannya. Terima kasih sudah mendukung novel ini! 🙏🔥
Mamat Stone
/Chuckle/
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Proud/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
verto
novel terjemahan kah ini? dengan di modif dikit
acep maulana: Ehh iya, ada sedikit inspirasi dari drama China yang saya tonton, bahkan mungkin ada beberapa ide dari film juga di bab-bab yang akan datang. Tapi saya modifikasi dan kembangkan sesuai alur cerita novel ini. Hehehe 😆🙏 Terima kasih sudah membaca.
total 1 replies
verto
mirip sebuah komik sipnosisnya
acep maulana: Waduh, ketahuan gue deh 🤭 kebanyakan baca komik. 😂 Tapi semoga makin ke depan ceritanya punya warna sendiri dan tetap seru buat diikuti. 😁🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
crazy up Thor
Dewiendahsetiowati
kok banyak yang diulang2 ya paragrafnya
acep maulana: maaf ka hehe saya ngetik nya sambil ngantukk 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!