hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 30: GELAPNYA JALAN, TERANGNYA HAT
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"
BAB 30: GELAPNYA JALAN, TERANGNYA HATI
Malam itu, jalanan menuju rumah Pak Agus dan Bu Yayik tampak gelap gulita, hanya diterangi cahaya bulan samar dan sinar kecil dari senter tua yang kami bawa. Senter itu pun sederhana sekali, hanya menyala dengan mengandalkan tenaga baterai jenis batu ABC. Di desa kami, belum semua rumah terpasang lampu listrik; hanya mereka yang mampu saja yang bisa memasang lampu di teras rumahnya sebagai penerang. Selain itu, jalanan tanah yang berkelok-kelok ini memang agak berbahaya, apalagi kalau sudah malam. Kadang masih ada ular yang melintas, atau babi hutan yang masuk ke pemukiman warga mencari makan.
Aku dan Bang Arefin berjalan beriringan hati-hati, langkah kami pelan namun pasti. Sambil berjalan, kami mengobrol santai menebas sepi malam itu. Tak lama, dari arah berlawanan tampak ada sesosok tubuh berjalan mendekat. Ternyata itu Pak Pudin, salah satu warga desa yang dikenal suka berbicara sembarangan. Begitu berpapasan, Pak Pudin langsung menyapa dengan nada bercanda yang kurang enak didengar.
"Eh, ini Arefin sama Ria ya? Wah, keren-keren amat jalan berdua, kayak orang lagi pacaran saja hahaha..."
Bang Arefin tetap tenang, tersenyum tipis menjawab. "Eh, ya Pak Pudin... Dari mana Pak, atau mau ke mana nih malam-malam begini?"
"Aku? Baru saja abis mau menjebak babi hutan, Fin. Dasar binatang biadab! Singkong di ladangku habis dimakan semua sama dia, rugi aku," jawab Pak Pudin kesal. Lalu ia bertanya lagi sambil menatap kami berdua. "Ngomong-ngomong, kalian mau ke mana berdua malam-malam begini? Ada apa?"
"Ini Pak... Mau ke rumah Pak Agus, mau anterin Ria ke sana," jawab Bang Arefin santai.
"Loh? Ada acara apa di rumah Pak Agus malam-malam begini?" tanya Pak Pudin penasaran.
"Eh gak ada acara apa-apa kok Pak. Ini Pak Agus sama Bu Yayik minta tolong sama Ria, minta diajarin anaknya, Bastian, belajar pelajaran sekolah," jelas Bang Arefin jujur.
Mendengar itu, wajah Pak Pudin langsung berubah sinis, ia mendengus kasar. "Oh... Dasar anak bodoh ya tetap saja bakal bodoh, diajarin gimana pun juga percuma..."
Belum selesai kata itu keluar, Bang Arefin sudah mau membuka mulutnya, tampak emosi mendengar ucapan kasar itu. Tapi aku dengan cepat langsung memegang lengan dan tangan Abangku erat-erat, memberi kode supaya diam saja. Aku pun menyahut pelan tapi tegas.
"Astaghfirullah Pak... Maaf ya Pak, gak boleh bicara begitu lho. Bapak juga punya anak kan Pak? Gak ada anak yang bodoh kok, semua pintar, cuma beda caranya saja. Jangan begitu ya Pak..."
"Ah sudah... Gak usah sok-sokan ngajarin aku," jawab Pak Pudin ketus, lalu berlalu pergi.
"Sudah ya Bang... Ayo jalan lagi. Biarin aja, jangan diambil hati omongan orang begitu. Istighfar aja ya Bang, astaghfirullah..." bujukku lembut sambil menarik tangan Bang Arefin melanjutkan langkah. Aku tahu Abangku itu baik banget, cuma kalau sudah menyangkut aku, dia selalu tidak terima aku direndahkan orang lain.
Jarak rumah kami ke rumah Pak Agus kira-kira lima belas menit berjalan kaki. Sepanjang perjalanan, Bang Arefin bicara lagi dengan nada khawatir.
"Dik... Gini lho, kalau Ria jalan sendiri malam-malam begini, Abang gak tega dan takut banget. Jalanan gelap begini, belum tentu ada manusia, tapi binatang buas yang tiap malam keluar berkeliaran itu ada banyak lho. Makanya kalau mau ke mana-mana malam-malam, harus ajak Abang yang lain juga ya, kalau bukan Abang, sama Bang Hamza atau Bang Ardiansyah, atau kalau gak ada, sama Bagas atau Dimas juga boleh, asal jangan sendirian..."
Aku langsung berhenti sebentar, lalu mengangkat tangan memberi hormat gaya tentara sambil tersenyum jahil. "Siap Bang! Dimengerti Komandan! Hahaha..."
Bang Arefin langsung menyentil pelan jidatku sambil geleng-geleng kepala. "Dasar kamu ini... gaya saja kayak polisi hahaha..." Kami pun tertawa lepas, suasana hati yang tadi sempat panas jadi sejuk kembali.
Akhirnya sampailah kami di depan rumah Pak Agus. Bang Arefin langsung mengetuk pintu.
Tok... Tok... Tok...
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Pintu terbuka, dan yang menyambut ternyata Bastian sendiri. Matanya berbinar senang melihat kami.
"Eh, Abang Arefin! Kak Ria! Mamaaa... Ini Kak Ria udah sampai Ma..." teriak Bastian kencang sekali memanggil ibunya.
"ASTAGHFIRULLAH! Bastian! Malam-malam gini teriak-teriak begitu, malu sama tetangga nak!" terdengar suara Pak Agus menegur dari dalam rumah.
"Heee... maaf ya Pak, Ma..." kata Bastian sambil cengengesan malu.
Aku masuk dengan tangan terkatup di dada sopan. "Bastian... Ayo Kakak masuk, mau belajarnya di mana ya? Ayah sama Abang Arefin silakan duduk di teras saja ya, biar kami di dalam."
Tak lama Bu Yayik keluar dari kamar, menyambutku ramah. "Eh, Nak Ria udah sampai ya... Ayo masuk Nak. Udah makan belum? Kalau belum makan dulu ya, Ibu siapkan dulu."
"Maaf ya Bu Yayik... Alhamdulillah Ria udah makan kok, terima kasih banyak ya Bu," jawabku sopan.
Aku pun masuk ke ruang tamu sederhana itu bersama Bastian, kami mulai duduk bersiap belajar. Di luar, di teras rumah, Bang Arefin duduk santai ditemani Pak Agus, mereka mengobrol akrab membahas masalah pekerjaan di kebun, sambil menikmati kopi hangat buatan Bu Yayik.
Di dalam, aku mengajari Bastian dengan cara yang santai, sambil bercanda, dan tidak terlalu serius atau kaku. Aku tahu betul, kalau suasana tegang, anak-anak pasti jadi takut dan pelajaran malah tidak masuk. Di sudut ruangan, ada kakak laki-laki Bastian bernama Rio, dia sudah duduk di bangku kelas 1 SMA. Rio diam-diam mengamati gerak-gerikku saat mengajari adiknya.
Dalam hati Rio, ia kagum sekali. "Pantas saja Ria itu selalu juara terus dari SD sampai sekarang, cara pikirnya beda banget, luar biasa. Dia gak gampang marah, sabar banget, telaten banget ngadepin Bastian yang susah diatur ini. Cara dia memberi ilmu dan menjelaskan itu beda banget sama orang lain. Pantas saja nilai Bastian jelek dan ketinggalan jauh kalau diajar sama aku atau orang lain, ternyata gurunya harus secerdas dan sesabar Kak Ria begini ya..."
Selama satu jam penuh aku membimbing Bastian. Kami membahas pelajaran yang dia belum paham, aku berikan cara-cara mudah menyusun rumus matematika dan cara memahami pelajaran lain supaya gampang diingat. Aku juga sempat melihat-lihat buku rapot Bastian yang penuh catatan merah itu, lalu mencoba memperbaiki pemahamannya pelan-pelan.
"Gimana Bastian? Paham gak cara yang Kakak kasih tadi? Cara menyusun dan menghitungnya tadi? Kakak lihat di rapotmu banyak banget pelajaran yang belum bisa dan belum paham ya, kita perbaiki pelan-pelan ya, gak boleh menyerah," kataku lembut.
Bastian mengangguk mantap, matanya bersinar semangat. "Paham Kak! Enak banget cara Kakak jelasinnya, gak bikin pusing."
"Ya sudah kalau gini, malam ini cukup dulu ya. Besuk kita lanjut lagi ya, semangat ya," kataku menutup pelajaran malam itu.
"Baik Kak... Terima kasih banyak ya Kak Ria," jawab Bastian senang.
Bastian langsung membereskan buku dan alat tulisnya. Rio pun mendekati adiknya sambil tersenyum, bertanya pelan. "Gimana Belajarnya? Susah gak?"
"Gak Bang... Gak susah sama sekali. Kak Ria itu beda lho, gak kayak Abang! Kalau aku nanya apa saja, Abang marah duluan. Kalau Kak Ria malah senang kalau aku nanya terus hahaha..." jawab Bastian tertawa lepas. Rio pun ikut tertawa sambil menepuk bahu adiknya, sadar betul kesalahannya selama ini.
"Aku pulang dulu ya Bastian, selamat istirahat ya," kataku pamit.
"Baiklah Kak... Hati-hati ya," jawab Bastian.
Aku pun berpamitan kepada Bu Yayik dan Pak Agus yang ada di luar. "Bu, Pak... Ria izin pulang dulu ya. Sudah selesai semua kok."
"Waalaikumsalam... Hati-hati ya Nak Ria, makasih banyak banget ya," kata Bu Yayik sambil mengantarkan kami sampai ke pintu.
Perjalanan pulang pun kami lalui kembali. Jalanan masih sama sepi, gelap, dan sunyi, hanya ditemani suara jangkrik dan cahaya senter kecil kami. Namun, hati kami rasanya penuh dan terang benderang. Rasanya perjalanan yang jauh dan gelap itu tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa syukur bisa berbuat kebaikan. Aku terus melangkah yakin dalam hati: Apa pun rintangannya, jalan apa pun yang kulalui, aku tidak akan pernah berhenti berbuat baik dan berbagi ilmu, sampai kapan pun.