NovelToon NovelToon
Warisan Dewa Elemen

Warisan Dewa Elemen

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: LaQuin

Wen Yu sedang berpetualangan dengan mendaki bukit seorang diri di sebuah tempat wisata alam. Lalu sebuah kebetulan, ia bertemu seekor kucing yang memiliki sepasang sayap. Tanpa rasa takut dan hanya memiliki rasa penasaran yang tinggi, Wen Yu mengikuti kucing itu dan berusaha menangkapnya. Alih-alih berhasil, ia malah terperosok pada sebuah goa di dalam tanah yang ternyata sedang mengalami peristiwa aneh. Cahaya kebiruan bersinar melingkar seperti sebuah pintu lorong waktu yang sering ia tonton di film-film fantasi. Tak lagi bisa mengelak, Wen Yu jatuh ke dalam lingkaran biru itu dan menghilang seketika. Dan tiba-tiba terbangun di dunia antah berantah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duka

Duka

Sudah tiga hari berlalu sejak Ze Kai pergi mencari binatang spiritual. Kakek Jiang duduk di tepi tempat tidur yang dibuat dari batu, matanya terus menatap arah pintu goa dengan ekspresi penuh kekhawatiran. Tangannya yang kusam dan keriput terus mengusap selimut yang dulunya selalu digunakan Ze Kai saat sedang istirahat.

"Mengapa kau belum pulang, nak?" ucapnya lirih dengan rasa cemas meliputi hati. Ia melihat ke arah kebun tanaman yang kini terlihat kurang terurus tanpa bantuan Ze Kai.

Pada hari keempat, ketakutan dan kecemasan Kakek Jiang semakin besar. Ia berdiri dengan tubuh rapuh yang gemetar, lalu berjalan perlahan menuju bagian belakang goa, tempat Ze Kai telah membuat pintu rahasia khusus untuknya. Sebuah celah kecil yang bisa dibuka dengan menggerakkan batu tertentu tanpa perlu menggunakan kekuatan elemen.

"Aku harus mencari dia," gumamnya dengan tekad yang kuat, mengambil selimut tebal dan beberapa ramuan penyembuh yang sudah ia siapkan sebelumnya. Dengan hati-hati ia membuka pintu rahasia dan keluar ke dalam hutan yang sudah lama tidak ia kunjungi.

Udara luar terasa lebih dingin dari biasanya. Kakek Jiang menyusuri jalan kecil yang pernah Ze Kai tunjukkan padanya, seringkali berhenti untuk mendengar suara di sekitar atau melihat jejak kaki yang mungkin ditinggalkan cucunya. Namun setelah berjalan beberapa saat, langkahnya tiba-tiba berhenti karena melihat tiga sosok yang berdiri di tengah jalan, kultivator yang sama yang telah menyerang Ze Kai beberapa hari yang lalu tanpa ia ketahui.

"Bukankah ini tukang obat tua dari desa kecil itu?" kata wanita kultivator dengan rambut putih dengan suara dingin.

"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," jawab Kakek Jiang dengan suara tegas meskipun tubuhnya sudah gemetar. Lalu berbalik arah untuk menghindar dari mereka.

Kultivator muda yang dulunya dikalahkan Ze Kai terdengar tertawa sinis.

"Bocah itu sudah jatuh ke jurang dalam. Pasti sudah mati berkeping-keping sekarang."

Darah Kakek Jiang mendidih dengan rahang mengeras.

"Cucuku sedang mencari makanan di hutan dan belum pulang. Jika kau menyakitinya, aku tidak akan pernah memaafkanmu!"

"Dan kau juga tidak akan bisa kembali untuk memberitahu siapa pun tentang kita," balas pemuda itu.

Sebelum Kakek Jiang bisa bergerak atau berteriak untuk meminta bantuan, salah satu kultivator mengangkat tangannya dengan cepat. Energi tanah yang dingin menyelimuti tubuh Kakek Jiang, membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali.

Wanita kultivator mendekat dengan langkah lambat, lalu memberikan pukulan yang kuat ke bagian dada Kakek Jiang, cukup kuat untuk mengakhiri nyawanya dengan cepat tanpa rasa sakit yang terlalu lama.

"Buang tubuhnya ke jurang saja," perintahnya dengan acuh tak acuh. "Jangan ada jejak yang bisa ditemukan orang lain."

Tanpa ampun, mereka menyeret tubuh Kakek Jiang ke tepi jurang yang sama tempat Ze Kai jatuh, lalu menjatuhkannya ke dalam kegelapan sebelum pergi meninggalkan kawasan itu.

-

-

-

Beberapa hari setelahnya, di bawah jurang.

Mata Ze Kai perlahan terbuka. Rasa sakit yang menusuk menyebar ke seluruh tubuhnya, membuatnya merintih pelan. Xiao Bai yang berada di sisinya segera menjilat dahi dan luka-luka di tubuhnya dengan penuh perhatian. Air liurnya yang hangat menyentuh kulitnya, dan dengan ajaibnya, luka-luka luar yang dulu terbuka dan berdarah mulai mengering dan sembuh perlahan-lahan.

"Xiao Bai..." bisik Ze Kai dengan suara serak, mencoba mengangkat tubuhnya namun langsung merasa pusing dan kembali jatuh.

Luka dalam di dadanya dan perutnya membuatnya kesakitan setiap kali bergerak sedikit saja. Genesis muncul dengan cepat di sisinya, wajahnya penuh kekhawatiran namun juga senang karena Ze Kai sudah sadar.

"Ze Kai, kau harus segera kembali ke goa!" katanya dengan suara cemas. "Luka dalam mu sangat parah. Hanya tanaman obat di goa yang bisa menyembuhkannya dengan cepat. Aku akan membimbingmu melalui jalan yang aman."

Dengan sangat susah payah, Ze Kai berdiri dengan menopang tubuhnya pada batang pohon. Xiao Bai meskipun masih lemah, tetap mengikuti di sisinya dengan setia. Perjalanan kembali ke goa terasa sangat panjang dan menyakitkan. Setiap langkah membuatnya merasakan kesakitan yang luar biasa, tapi tekad untuk bertahan hidup membuatnya tetap melangkah maju.

Kakek pasti sangat khawatir padaku. Aku harus segera kembali ke goa.

Ketika akhirnya sampai di pintu goa dan berhasil membukanya dengan kekuatan yang tinggal sedikit, ia langsung berjalan ke arah kebun tanaman yang dikelola Kakek Jiang. Namun tempat yang biasanya penuh dengan kehangatan dan suara Kakek yang sedang bernyanyi sambil merawat tanaman kini sunyi sepi.

"Kakek?" panggil Ze Kai dengan suara bergetar, mencari di setiap sudut goa. "Kakek, aku sudah kembali! Aku terluka tapi tidak apa-apa sekarang!"

Tidak ada jawaban yang terdengar. Hanya gema suaranya yang bergulir di dalam goa yang luas. Rasanya seperti ada batu besar yang tertanam di dalam hatinya. Ia ingin segera mencari Kakek ke luar, tapi tubuhnya yang lemah dan luka dalam yang belum sembuh membuatnya tidak bisa bergerak jauh.

"Duduk dulu, Ze Kai," bisik Genesis dengan pelan. "Kau harus menyembuhkan dirimu lebih dulu jika ingin mencari Kakek dengan aman. Jika kau terpaksa keluar dalam kondisi seperti ini, kau hanya akan membahayakan dirimu sendiri."

Dengan hati yang berat, Ze Kai mengangguk. Ia mulai memilih tanaman-tanaman langka yang diperlukan. Akar Bumi Abadi, Daun Hujan Emas, dan beberapa bagian dari Bunga Langit. Ia membuat ramuan dengan cara yang pernah diajarkan Kakek Jiang, kemudian meminumnya dengan hati-hati sebelum mulai bermeditasi untuk membantu tubuhnya menyerap khasiat ramuan tersebut.

Beberapa jam berlalu seperti waktu yang sangat lama. Energi dari ramuan dan meditasi mulai bekerja dengan perlahan, menyembuhkan luka dalamnya dan mengembalikan kekuatan tubuhnya sedikit demi sedikit. Saat akhirnya ia bisa berdiri dengan lebih stabil dan rasa sakit sudah berkurang banyak, ia segera mengambil beberapa alat yang mungkin diperlukan dan keluar dari goa.

"Kakek pasti ada di suatu tempat," gumamnya dengan tegas.

Diiringi oleh Xiao Bai yang kini sudah sedikit pulih dan Genesis yang terus membimbingnya melalui hutan. Ia mulai menelusuri jalan yang pernah ia lalui sebelum kejadian, memeriksa setiap sudut dengan seksama.

Hingga pada suatu saat, ia menemukan jejak yang tidak biasa di tepi jalan. Bekas tapak kaki besar yang jelas bukan milik orang desa, dan beberapa titik darah yang mengering di atas daun dan tanah. Perasaan buruk mulai muncul dalam dirinya. Ia mengikuti jejak tersebut dengan cepat hingga sampai di tepi jurang yang sama tempat ia jatuh beberapa hari yang lalu.

Dari tepi jurang, ia melihat sesuatu yang putih bersinar di bawahnya. Bagian dari selimut yang selalu dibawa Kakek Jiang setiap kali keluar rumah. Tanpa berpikir panjang, ia menggunakan Elemen Tanah untuk membuat tangga sementara dari batu dan tanah, kemudian turun perlahan ke dasar jurang.

Dan di situlah ia menemukan tubuh Kakek Jiang yang tidak bernyawa lagi, terlentang dengan tenang di atas hamparan rerumputan yang sudah mulai menguning. Wajahnya tampak damai, namun wajah Ze Kai langsung memerah karena kesedihan dan kemarahan yang luar biasa. Air mata mulai mengalir deras dari matanya saat ia merangkak ke sisi Kakek dan memegang tubuhnya yang sudah dingin.

-

-

-

Bersambung...

Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊

1
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
orang dewasa tau resikonya memilih lari, kalo anak2 pantang pulang sebelum menang
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
apa senjata leluhur?
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
nih biar yu sdar yg suka petualang itu anak kecil 😂
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
namanya sekarang jadi kai yu
Sangat Licin
tjakeup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!