Kinan Malika, Gadis berusia 23 tahun yang menempuh pendidikan hukum selama 4 tahun, dan setelah lulus dia melamar pekerjaan sebagai notaris dan ingin menjadi pengacara.
Sayangnya, tidak ada yang percaya dengan kemampuannya. Hingga dia di terima di sebuah perusahaan besar untuk menjadi asisten pribadi seorang bos yang tidak pernah terpikir olehnya.
Baskara Rama Jaya, seorang laki-laki berusia 30 tahun. Bos perusahaan besar yang terkenal dingin dan tidak memiliki belas kasih terhadap karyawannya.
Memiliki trauma masa lalu dan mengindap insomnia akut, menyebabkan dirinya susah tidur ketika malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerja Lagi
Kinan masih menatap laki-laki yang sedang sibuk dengan laptopnya itu. Kapan dia pulang? Kinan sudah mengantuk.
"Huaaa..." Kinan sengaja menguap keras-keras agar laki-laki itu paham dan segera keluar dari tempat tinggalnya.
Tapi, yang di sindir sama sekali tidak punya perasaan. Dia masih sibuk bekerja dengan laptopnya itu.
"Bos, kapan mau pulang sih? Saya sudah ngantuk ini." keluh Kinan berharap Baskara mengerti.
"Tidur saja di kamar mu jika mengantuk. Saya akan pulang setelah ini selesai."
"Mana bisa gitu ih. Yang bener aja dong bos!" sentak Kinan membuat Baskara langsung mengalihkan pandangannya dari laptop kini menatap Kinan dengan tatapan tajam.
"Oke, oke! terserah deh mau apa! Bye!"
Brak!
Kinan masuk ke dalam kamarnya dan membiarkan Baskara disana bekerja sendirian.
Lagi pula dia akan pulang nanti bukan? Jadi biarkan saja dia pulang sendirian. Karena memang lelah dan mengantuk, Kinan bisa langsung tertidur dalam hitungan menit saja dan melupakan segalanya.
Sedangkan Baskara, masih bekerja di tempat itu tanpa rasa lelah sedikitpun sampai tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi.
Dia baru sadar, jika dia masih di tempat ini bahkan tidak pulang. Apakah dia harus terus seperti ini?
Sampai kapan? Dia juga ingin seperti orang-orang yang bisa tidur dengan tenang. Bahkan sehari, jika bisa tidur selama 4 atau 5 jam saja, dia sudah sangat beruntung. Tapi itu tidak terjadi padanya. Konsultasi ke dokter juga percuma saja. Tidak ada pengaruhnya.
Merasa tenggorokannya kering, Baskara berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air disana.
"Bahkan air saja pun dia harus merebusnya dulu?" gumam Baskara menatap tidak percaya dengan teko listrik yang masih hangat itu.
Semakin lama, Baskara semakin penasaran dengan tempat ini, sampai dia sadar kakinya melangkah cukup jauh menyusuri tempat ini dan dia menemukan balkon kecil untuk menikmati sudut kota dari tempat yang dia sebut gubuk itu.
"Bagaimana bisa seorang gadis sepertinya tinggal di tempat tua seperti ini. Bahkan kebanyakan dari gadis seusianya lebih mementingkan gengsi dari pada isi dompetnya." gumam Baskara menyadari tempat ini sangat kumuh menurutnya. Tapi di malam hari seperti ini, dia seperti mendapatkan ketenangan yang bahkan rasanya sudah sangat lama tidak dia rasakan.
Cukup lama Baskara duduk disana sampai matahari terbit.
Ya, Matahari sudah terbit dan mulai menyinari dunia yang penuh tipu muslihat. Bagitu juga sang pemilik tempat.
Dia terbangun dari tidurnya saat mendengar jam alarm miliknya berdering kencang hingga mampu memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya.
"Ck, bahkan dia masih memakai jam jadul seperti itu!" cibir Baskara mendengar suara alarm milik Kinan tadi.
"Huaaaaa...kenapa udah pagi lagi😭" rengek Kinan saat matahari sudah kembali muncul.
"Mana ini hari capek 😭😭😭 huaaaaaa...." Kinan membuat kehebohan di pagi hari perkara ini sudah pagi dan harus kembali bangun untuk bekerja.
Dengan langkah gontai dia menyeret kakinya keluar dari kamar untuk mandi. Tapi sebelum itu dia ingat, harus minum air putih segelas sebelum beraktivitas di pagi hari.
"Kalau gak sanggup beli skincare mahal setidaknya minum air biar kulitnya cantik." gumam Kinan sambil menenggak segelas air dari gelas miliknya.
Namun, tiba-tiba saja sesuatu terjadi membuatnya tersedak setelah melihat siapa yang ada di rumahnya.
Byur!
"KINAN!!!!" pekik Baskara saat gadis itu menyemburkan air dari dalam mulutnya hingga membasahi bagian dadanya.
"Kamu ini apa-apaan sih? Lihat, baju saya sekarang basah!" Baskara mengomel di pagi hari akibat perbuatan Kinan.
"Eh, bos maaf, maaf banget bos. Maaf...." Kinan memohon ampun pada Baskara yang terlihat benar-benar marah di buatnya.
"Minggir!" Baskara menggeser bahu Kinan dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sudah basah akibat perbuatan asisten pribadinya itu.
Kinan masih berdiri mematung di tempatnya menatap punggung lebar banget putih itu semakin menjauhinya hingga terdengar suara air yang keluar dari kran.
***