Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.
Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.
Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.
Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.
Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 Tangan yang Berlumur Darah
Namun nama itu selau menggantung di udara seperti sebuah ancaman yang tidak dapat terlihat.
*Victor.*Nama itu.
Satu kata.
Satu nama.
Namun mampu mengubah suasana sunyi didalanm rumah persembunyian itu hanya dalam hitungan detik.
Arda belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.
Namun reaksi Kael sudah cukup menjelaskan semuanya.
Pria yang selama ini selalu tenang.
Pria yang selalu berpikir sebelum bertindak.
Pria yang hampir tidak pernah menunjukkan emosi.
Kini terlihat marah.
Benar-benar marah.
Dan itu membuat Arda memahami satu hal.
Victor bukan musuh biasa.
Malam itu juga ruang rapat kembali dipenuhi orang.
Kael.
Ravian.
Darius.
Elena.
Beberapa anggota senior.
Dan Arda.
Foto-foto lokasi kasino yang diserang terhampar di atas meja.
Kaca pecah.
Darah.
Mayat.
Kerusakan.
Namun perhatian semua orang tertuju pada satu gambar.
Tulisan merah di dinding.
**VICTOR**
Tulisan itu dibuat menggunakan darah.
Dan siapa pun yang menulisnya ingin memastikan Valdarez melihatnya.
"Empat belas korban."
ucap Ravian.
"Sebelas penjaga."
"Dua kasir."
"Dan satu manajer."
Ruangan menjadi sunyi.
Arda menatap foto-foto itu.
Ia tidak mengenal para korban.
Namun melihat wajah mereka tetap membuat dadanya terasa berat.
Karena mereka mati hanya karena bekerja untuk Valdarez.
"Siapa Victor?"
tanya Arda akhirnya.
Semua mata langsung beralih kepada Kael.
Beberapa detik berlalu.
Lalu Kael menghela napas panjang.
Seolah sedang membuka pintu menuju masa lalu yang telah lama terkunci.
"Victor bukan nama lengkapnya."
ucap Kael.
"Itu hanya nama yang dia gunakan sekarang."
Ravian menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Wajahnya ikut mengeras.
Karena ia juga mengenal nama itu.
Sangat mengenalnya.
"Dulu."lanjut Kael.
"Sebelum Leon menjadi pemimpin."
"Sebelum Isabella menghilang."
"Sebelum semuanya hancur."
"Victor adalah salah satu orang paling dekat dengan keluarga Valdarez."
Jantung Arda berdetak lebih cepat.
Karena itu berarti...
Victor berasal dari masa lalu yang sama.
Masa lalu yang selalu berhubungan dengan orang kelima.
"Apa dia anggota keluarga?"
tanya Elena.
Kael menggeleng.
"Bukan."
"Tapi dia lebih berbahaya daripada keluarga."
Keheningan memenuhi ruangan.
Tidak seorang pun menyela.
Karena semua ingin mendengar.
"Victor adalah tangan kanan Marcus."ucap Kael.
Arda langsung mengangkat kepala.
Marcus.
Nama itu kembali muncul dalam ingatan arda.
Pria yang ada di foto lama itu.
Pria yang selalu muncul dalam setiap potongan misteri masa lalu.
"Dia sangat cerdas."lanjut Kael.
"Sangat sabar."
"Dan sangat kejam."
"Tidak seperti kebanyakan gangster yang mengandalkan kekerasan."
"Victor menggunakan pikirannya."
"Dia membuat orang saling membunuh tanpa harus menarik pelatuk sendiri."
Darius mengangguk pelan.
"Itulah yang membuatnya berbahaya."
"Orang seperti itu tidak menyerang saat marah."
"Dia menyerang saat sudah menghitung segalanya."
Arda kembali melihat foto dinding berdarah itu.
Semakin lama ia memandang.
Semakin jelas bahwa ini bukan sekadar serangan.
Ini adalah deklarasi perang.
Dan seseorang bernama Victor baru saja mengumumkan dirinya.
Rapat berlangsung hingga hampir tengah malam.
Ketika akhirnya selesai, suasana rumah berubah.
Tidak ada lagi ketenangan.
Semua orang bergerak.
Semua orang bersiap.
Karena mereka tahu.
Jika Victor benar-benar kembali...
Maka perang sesungguhnya baru saja dimulai.
Pagi berikutnya.
Arda kembali ke area latihan.
Namun kali ini pikirannya tidak fokus.
Berkali-kali pukulannya meleset.
Berkali-kali ia kehilangan ritme dalam latihan kali ini karena dia selali teringat pada foto-foto itu.
Dan Darius langsung menyadarinya akan hal tersebut.
"Berhenti."
ucap pria itu.
lalu Arda menurunkan tangannya.
Keringat mengalir di wajahnya.
"Ada apa dengan dirimu arda?"tanya Darius.
"Tidak ada." ucap arda berbohong padahal ia masih memikirkan pembicaraan diruang arsip
"Kau tidak bisa berbohong." tanya darius
Arda hanya menghela napasnya saja.
Kemudian dia duduk di bangku kayu.
Beberapa saat dia hanya menatap tanah.
Lalu akhirnya berkata dengan pelan.
"Empat belas orang mati."
Darius diam.
"Dan aku bahkan tidak mengenal mereka."lanjut Arda.
"Tapi aku tetap merasa bersalah."
Untuk pertama kalinya hari itu...
Darius tidak langsung memberi nasihat.
Karena ia memahami perasaan tersebut.
Terlalu memahami.
Ketika seseorang menjadi pemimpin...
Kematian orang lain perlahan berubah menjadi tanggung jawab pribadi.
Bahkan ketika itu bukan kesalahannya.
"Bagus."ucap Darius tiba-tiba.
Arda mengernyit.
"Bagus?"
Darius mengangguk.
"Kalau kau masih merasa bersalah."
"Itu berarti kau masih manusia."
Kalimat itu membuat Arda terdiam.
Karena beberapa hari terakhir...
Ia mulai takut kehilangan sisi dirinya yang dulu.
Takut menjadi terlalu dingin.
Terlalu keras.
Terlalu mirip dunia yang sedang ia masuki.
Namun Darius berdiri.
Kemudian menatap langsung ke arahnya.
"Jangan salah paham."ucapnya.
"Rasa bersalah tidak akan menyelamatkan siapa pun."
"Kau harus belajar menggunakan perasaan itu."
"Bukan tenggelam di dalamnya."
Arda mengingat kata-kata tersebut sepanjang hari.
Dan tanpa sadar...
Ia mulai memahami sesuatu.
Menjadi pemimpin bukan berarti tidak merasakan apa-apa.
Menjadi pemimpin berarti tetap bergerak meskipun perasaan itu ada.
Menjelang sore.
Laporan baru datang.
Salah satu informan Valdarez berhasil ditangkap hidup-hidup.
Bukan oleh musuh.
Melainkan oleh tim Ravian.
Pria itu dicurigai memberikan informasi kepada pihak luar.
Dan kini ia sedang ditahan di gudang rahasia.
Kael memutuskan untuk memeriksanya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya...
Ia mengajak Arda ikut.
Gudang itu berada di pinggiran kota.
Tua.
Sepi.
Dan jauh dari perhatian siapa pun.
Saat mereka tiba.
Dua penjaga membuka pintu besi besar.
Suara gesekan logam memenuhi ruangan.
Membuat suasana terasa semakin dingin.
Di tengah gudang.
Ada seorang-seseorang pria duduk terikat di atas kursi.
Wajahnya penuh dengan lebam.
Namun masih sadar.
Masih bisa berbicara.
Arda berdiri beberapa langkah di belakang Kael.
Ini pertama kalinya ia melihat seseorang diinterogasi secara langsung.
Dan perasaannya langsung tidak nyaman.
"Kau tahu kenapa kau ada di sini."
ucap Kael.
Pria itu tidak menjawab.
Hanya meludah ke lantai.
Ravian tersenyum tipis.
Senyum yang tidak menyenangkan.
"Salah jawaban."
Interogasi dimulai.
Pertanyaan demi pertanyaan diajukan.
Nama.
Kontak.
Lokasi.
Namun pria itu tetap diam.
Tetap keras kepala.
Tetap menolak bicara.
Waktu telah berlalu.
Lima belas menit.
Tiga puluh menit.
Empat puluh menit.
Dan suasana mulai berubah.
Menjadi lebih gelap dan suram.
Lebih berat.
Lebih brutal dari sebelumnya.
Arda berdiri diam.
Menyaksikan semuanya yang terjadi.
Dan untuk pertama kalinya...
Ia melihat sisi dunia yang selama ini hanya ia dengar dari cerita.
Dunia tempat informasi dibeli dengan rasa sakit.
Dunia tempat belas kasihan sering dianggap kelemahan.
Akhirnya pria itu berbicara.
Dengan suara gemetar.
Dengan wajah penuh ketakutan.
Dan apa yang ia katakan membuat semua orang membeku.
"Victor."
Nama itu lagi.
"Aku hanya menerima perintah."
teriaknya.
"Aku tidak pernah bertemu langsung."
"Tolong..."
"Aku hanya kurir."
Kael mendekat.
Tatapannya dingin.
"Sampaikan semuanya."
Dan pria itu pun mulai bercerita.
Tentang pertemuan rahasia.
Tentang uang yang mengalir.
Tentang orang-orang yang dibayar untuk mengkhianati Valdarez.
Tentang jaringan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Dan semakin lama ia berbicara...
Semakin jelas bahwa musuh mereka jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.
Ketika interogasi selesai.
Hari sudah gelap.
Arda keluar dari gudang lebih dulu.
Udara malam langsung menyambutnya.
Namun perasaan sesak di dadanya tidak ikut hilang.
Karena ia baru saja menyaksikan sesuatu.
Sesuatu yang tidak bisa dilupakan.
Kael keluar beberapa menit kemudian.
Melihat Arda berdiri sendirian.
"Kau baik-baik saja?"
tanya pria itu.
Arda terdiam.
Lalu menjawab jujur.
"Tidak."
Kael mengangguk.
Karena jawaban itu wajar.
Sangat wajar.
"Aku dulu juga tidak baik-baik saja."
ucap Kael pelan.
Arda menoleh.
Namun Kael tidak menjelaskan lebih jauh.
Ia hanya menatap kota yang bercahaya di kejauhan.
Kemudian berkata:
"Semakin dalam kau masuk ke dunia ini..."
"...semakin sering tanganmu akan terkena darah."
Keheningan menyelimuti mereka.
Dan Arda tahu.
Kael tidak sedang berbicara tentang darah secara harfiah.
Ia berbicara tentang pilihan.
Tentang keputusan.
Tentang tanggung jawab.
Tentang harga yang harus dibayar seorang pemimpin.
Malam itu.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Arda mulai memahami apa arti sebenarnya untuk menjadi pewaris Valdarez.
Bukan soal kekuasaan.
Bukan soal ketakutan.
Bukan soal dihormati.
Melainkan tentang memikul beban yang tidak ingin dipikul oleh orang lain.
Dan semakin ia berjalan ke depan...
Semakin sulit untuk menjaga tangannya tetap bersih.
Karena di dunia mereka...
Setiap kemenangan hampir selalu meninggalkan darah.
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪