"Kamu hanya aib dalam hidupku!"
Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.
Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.
Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IRIK
Sinar matahari menyusup tipis melalui celah tirai ruang tamu. Rangga terbangun dengan kepala yang terasa seperti dihantam palu berkali-kali. Denyut nadi di pelipisnya berdetak tidak karuan, dan mulutnya terasa sekering gurun pasir.
Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, lalu menyadari sesuatu yang aneh. Ia tidak tidur di kamarnya. Namun ia sedang terbaring di sofa sempit di ruang tamu. Sofa tua yang biasa Meysa gunakan untuk tidur setiap malam, karena kamar kedua di apartemen itu hanya ada satu dan itu milik Rangga.
"Ngapain gue tidur di sofa si Meysa?" gerutunya sambil duduk perlahan. Ia memijat pelipisnya dengan jari-jari yang masih sedikit kaku.
Rangga berusaha berdiri. Namun saat itu ia melihat bercak darah yang sudah kering.
"Darah? Darah apa ini?" batinnya, heran sekaligus bingung.
Ia melihat sekeliling ruangan. Tidak ada siapa-siapa disana. Sepatu Meysa yang biasa tergeletak di dekat pintu tidak ada. Tas belanjaan dari toko kosmetik kemarin juga sudah rapi, tapi pemiliknya tidak terlihat.
Rangga berdiri dengan susah payah. Ia memanggil pelan, "Meysa?"
Tidak ada jawaban.
"Meysa!" panggilnya lagi, sedikit lebih keras.
Sunyi. Hanya suara kulkas yang berdengung pelan dari dapur.
"Kemana dia?" tanyanya pada diri sendiri
*
Beberapa menit kemudian, Rangga sudah berdiri di depan cermin kamar mandi. Wajahnya masih pucat, lingkaran hitam di bawah matanya cukup terlihat meskipun sudah dicuci berkali-kali. Ia mengganti pakaiannya dengan kemeja putih lengan panjang dan celana bahan hitam, penampilan yang biasanya membuat orang merasa kagum.
Tapi pagi ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada firasat buruk yang terus mengganggu pikirannya.
Sebelum keluar, ia melirik sekilas ke sofa tua itu. Noda darah kecil masih ada di sana, tidak terhapus. Rangga menggeleng, lalu memutuskan untuk tidak memikirkannya lebih lama.
Perjalanan menuju kampus terasa seperti biasa. Kemacetan, klakson, dan panas matahari yang menyengat. Rangga menyetir dengan autopilot, pikirannya melayang ke mana-mana.
"Kenapa ada darah? Apa gue terluka semalam?"
Ia memeriksa tangannya, lengannya, bahkan menepuk-nepuk kepalanya. Tidak ada luka, apalagi rasa sakit selain pusing akibat mabuk.
Mobilnya memasuki area parkir kampus pukul delapan kurang seperempat. Rangga turun, merapikan kemejanya, lalu berjalan menuju gerbang utama Fakultas Hukum seperti biasa.
Setiap langkahnya, ia merasakan tatapan. Bukan tatapan kagum seperti yang biasa ia terima. Bukan tatapan penuh hasrat dari para mahasiswi yang mengerubunginya. Ini tatapan yang berbeda. Tajam. Menusuk. Penuh dengan bisikan yang tidak ia dengar jelas, tapi bisa ia tebak isinya.
Seorang mahasiswi yang sedang duduk di bangku taman tiba-tiba berbisik pada temannya. Suaranya cukup terdengar oleh Rangga.
"Itu dia... mabuk-mabukan di klub, katanya..."
"Fotonya udah tersebar, ya? Aku lihat tadi malam di grup."
"Iya, parah banget. Rangga yang selama ini sok cool ternyata kayak gitu."
Rangga berhenti melangkah. Keningnya berkerut.
Ia mempercepat langkahnya menuju koridor utama. Di sana, kerumunan mahasiswa sedang berdiri di depan papan pengumuman. Biasanya papan itu berisi informasi jadwal ujian atau pengumuman dari BEM. Tapi pagi ini, isinya berbeda.
Rangga mendekat. Hingga kerumunan itu terbela, ketika melihat siapa yang baru datang..
Foto-fotonya. Tiga lembar kertas berwarna terpampang rapi di papan pengumuman. Foto Rangga dalam pelukan Emily, dengan posisi yang terlihat sangat mesra, seolah mereka berdua sedang dalam hubungan intim.
Di bagian bawah foto-foto itu, seseorang menuliskan kata-kata dengan spidol hitam tebal:
"SUNGGUH, DIA INI PEMAIN INTI"
Rangga terdiam. Dadanya naik turun menahan amarah yang mulai membara.
Emily.
Namanya muncul di kepalanya. Emily yang terus menuangkan minuman. Emily yang mendekatkan tubuhnya. Emily yang tersenyum manis sambil memaksanya terus minum.
"KELAKUAN SIAPA INI?" geram Rangga pelan. Tangannya mengepal.
"YA, ITU KELAKUAN LO RANGGA, HUUUUUU!!!" semua orang menyoraki Rangga
lalu Rangga berjalan, dan mencabut satu per satu foto-foto itu dari papan pengumuman. Kertas-kertas itu ia remas dan masukkan ke dalam saku jasnya.
"Sialan," umpat Rangga tanpa menoleh.
Di lantai dua gedung fakultas, tepat di depan jendela yang menghadap ke papan pengumuman, Emily berdiri dengan anggun. Kedua tangannya dilipat di dada, bibirnya membentuk senyum tipis yang penuh kepuasan.
"Nikmatilah masa-masa kemarin, karena sebentar lagi Lo bakalan hancur, Rangga,"
Selang beberapa meter dari tempat Emily berdiri, di balik pilar beton besar di ujung koridor lantai dua, Meysa bersandar dengan diam. Ia melihat semuanya....
Ia juga melihat Emily. Perempuan cantik yang berdiri dengan senyum puas di atas sana.
"Ini bukan urusanku," gumam Meysa."Aku tidak perlu ikut campur."
Tapi kenapa hatinya terasa perih? Kenapa ia ingin berlari ke bawah, berdiri di samping Rangga, dan berkata pada semua orang bahwa mereka salah? Kenapa ia ingin melindungi suami dingin yang tidak pernah memperlakukannya dengan baik?
Meysa menggeleng pelan, mengusir pikiran-pikiran gila itu.
"Jangan bodoh, Meysa," ucapnya "Dia tidak pernah menganggapmu ada. Biarkan dia merasakan ini sendiri."
Ia berjalan menjauh dari pilar itu, lalu berbalik dan berjalan ke arah sebaliknya. Ia akan masuk ke kelas dari pintu belakang.
Tapi langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara Rangga dari kejauhan, suara yang keras, penuh amarah, namun di baliknya terdengar getaran sakit yang tidak bisa ia abaikan.
"Apa kalian percaya dengan foto-foto itu?! Itu fitnah!" teriak Rangga pada kerumunan yang masih mengepungnya.
Suaranya menggema di koridor, tapi tak ada yang bergeming.
Tiba-tiba, dari belakang kerumunan, empat sosok muncul bersamaan. Renal, Dimas, Andika, dan Januar berjalan mendekat, wajah mereka dingin, berbeda dari biasanya.
"Anjir lo, Ga, bisa-bisanya lo lakuin itu!" sarkas Renal dengan mata malas yang menatap Rangga dari atas hingga bawah.
Dimas menggelengkan kepala, ekspresinya kecewa sekaligus jijik. "Gak nyangka gue, ternyata lo sehina itu. Sama Emily pula. Baru beberapa hari dia pindah, lo sudah berani berbuat seperti itu?"
Rangga mengepalkan tangannya. Wajahnya memerah, bukan karena malu, tapi karena amarah yang sudah memuncak.
"Lo semua anjing!" sergah Rangga, matanya menyala. "Gue gak pernah lakuin itu! Dan foto itu fitnah! Gue gak ingat apa-apa semalam karena Emily terus menuangkan minuman buat gue!"
Ia melangkah maju, lalu dengan kasar menarik kerah kemeja Renal. Kedua pria itu kini berhadapan hanya berjarak beberapa senti. Napas Rangga terengah-engah, urat di lehernya menonjol.
"Ckkkkk, masih aja mengelak," Renal tersenyum sinis, tidak berusaha melepaskan diri. "Udah jelas-jelas lo ng*w* sama si Emily. Fotonya aja bukti nyata. Lo pikir kita buta?"
Bughhhhhh!
Satu pukulan melayang tepat pada pipi kiri Renal. Tubuh Renal terhuyung ke belakang, hampir jatuh jika tidak ditahan oleh Dimas yang sigap menahan tubuh sahabatnya.
"Lu gila, Ga?!" teriak Dimas.
"Gue bilang itu fitnah!" Rangga berteriak lebih keras.
Suasana semakin kacau. Mahasiswa mulai berhamburan keluar dari koridor. Ada yang berteriak, ada yang merekam dengan ponsel. Beberapa dosen yang lewat hanya bisa menggelengkan kepala tanpa berani mendekat.
Andika dan Januar berusaha menahan Rangga yang masih ingin maju. Dimas memegangi Renal yang wajahnya mulai membengkak di pipi kiri.
"Lepasin gue! Gue tonjok lagi tuh anjing!" Rangga meronta.
"Cukup!" suara tegas menggema dari ujung koridor.
Semua orang menoleh. Pak Bambang, Kepala Fakultas Hukum, berdiri dengan tangan di pinggang. Wajahnya merah padam, keningnya berkerut dalam. Dua orang staf tata usaha berdiri di belakangnya dengan ekspresi waswas.
"Kalian semua ke kantor saya sekarang!" perintah Pak Bambang. Suaranya tidak bisa dibantah. "Dan panggil mahasiswi bernama Emily! Sekarang!"
Rangga terdiam. Napasnya masih memburu, tapi ia melepaskan diri dari pegangan Andika. Ia merapikan kemejanya yang kusut, lalu menatap Renal sekali lagi dengan pandangan tajam.
"Lo bakal minta maaf kalau fakta sudah terbukti," ketus Rangga.
Renal hanya mendengkus, memegangi pipinya yang bengkak. "Kita lihat saja nanti."
semoga setelah ini Meysa sadar dan mau meninggalkan si Rangga
jangan lemah mey