NovelToon NovelToon
Shower Of Blood

Shower Of Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:210
Nilai: 5
Nama Author: ShAdOwFaNg

"Ugh..
aku harus..."

Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.

tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 9 : Epidemi

"Kak, di depan sana ada bau kematian. "

Theo segera mengerutkan dahi, lalu ia bertanya kepada Silas.

"Hei, berapa lama lagi kita sampai?"

"Sebentar lagi. Tenang saja."

Theo mulai menengok ke kiri dan kanan. Tanaman di sekitar mereka mulai berwarna hitam, tanah dan air pun mulai berwarna gelap.

"Selamat datang, di Desa Neroville tempat yang dulunya terkenal akan anggur dan bir hitamnya."

Theo memandang sebuah pemukiman penduduk, tidak banyak rumah, hanya ada sekitar 20 sampai 30 rumah kira-kira.

"Ehh?" Theo tidak bisa berkata-kata dengan penglihatan yang ada di depannya.

Di tengah desa, terdapat sebuah tiang gantungan yang diisi oleh banyak mayat.

"Desa ini, akan menganggap setiap orang yang sudah sangat sakit berbahaya dan kemudian menggantungnya. Anehnya, kau lihat itu." Silas menunjuk ke arah salah satu mayat.

Badannya menghitam, entah seperti tumbuh sisik hitam di tubuhnya. Terlihat di beberapa bagian, muka, leher, dan bahu ada sesuatu seperti daging yang masih hidup dan berdetak.

"Hiiikh" Theo nampaknya sangat terkejut dengan pemandangan itu. Namun, ia tahu di sisi lain tubuhnya ada rasa semangat yang membara.

Silas mengantar Theo ke salah satu rumah kosong, sebuah rumah berwarna putih dengan plat emas berbentuk sayap di pintunya.

"Ini merupakan rumah kecil ordo cahaya. Memang tidak begitu mewah, tapi bisa kamu gunakan."

"Wahhh." Theo terkagum dengan isi rumah itu.

Semua benda tertata rapi, baik alat memasak, alat untuk bertani, dan masih banyak lagi. Ditambah lagi, ada sebuah kasur melintang menghadap ke sebuah api unggun.

"Pfft, Huahahahhahahaha kamu hihihihihi. Ini hanya rumah biasa, memang rumah ini dibeli oleh ordo cahaya karena kami sering pergi ke desa ini. Tentu saja, membeli wine dan bir hitam. Oiya, aku mau beli bir hitam. Jangan lupa kunci pintunya."

Theo melambaikan tangan ke Silas. Lalu ia mulai menutup matanya dan masuk ke ruang jiwa.

"Akhirnya, tanaman yang aku tanam berhasil tumbuh. Eh? Sudah siap panen? sepertinya persepsi waktu di ruang jiwa jauh-jauh lebih cepat dibanding persepsi waktu di dunia nyata."

Theo kemudian keluar dari ruang jiwanya, dia kemudian mengambil alat-alat seperti pisau, dan cangkul.

Theo keluar menjelajahi hutan di dekat rumahnya, menemukan ada tanaman mirip umbi kayu.

"Wah, lumayan nih buat makan."

Theo segera mencabutnya, lalu menggosokkan umbi itu ke kulitnya dan bibirnya.

"Aman."

Theo membelah beberapa batang umbi itu, lalu kembali ke rumah di desa.

"Hei, pergi ke mana kau? Nih bir hitam."

Silas memberikan segelas bir hitam kepada Theo, tapi ditolaknya.

"Aku tidak mau mabuk dulu, aku merasakan hal yang aneh dari tadi."

"Apa? Tenang saja, jangan khawatir tentang penyakit itu. Rumah ini udah diberkati oleh ordo jadi tidak akan ada penyakit. Seharusnya."

"Hah?"

Theo kemudian duduk di meja, ia duduk bersebelahan dengan Silas. Tangannya mengambil gelas bir hitam, lalu meminumnya.

"Wah, enak."

"Ya kan?"

Mereka duduk bersama, meminum bir yang sama, dan menceritakan kisah hidup mereka. Menghabiskan sisa hari dalam rumah kecil yang sangat sederhana.

"Mungkin, aku bisa mencoba bagaimana cara mengobati mereka. Tentu aku tidak begitu tahu, tapi segalanya bisa di cari tahu."

"Hah? Hahahahaha, jangan bohong. Lagian, kalo kamu ngobatin mereka tanpa persetujuan ordo, nanti kamu bisa diincar atau di musuhi ordo. Tentu aku tidak akan memusuhi kamu, tapi nggak tau yang lain."

"Lagian, buat apa aku hidup nggak dimusuhi ordo tapi dimusuhi mereka warga desa."

"Yah, tapi kan... Ok lah, kalo aku bisa bantu kamu aku bakal bantu."

Mereka kemudian tertidur di kursi masing-masing, sampai akhirnya sinar matahari pagi menyapa wajah mereka.

"Hoahmmm, Ukh... Pasti gara-gara bir semalem aku jadi pusing gini. Ugh... Hoekh" Theo terbangun dalam kondisi pusing dan mual, segera berlari ke luar untuk muntah.

"Haha, itu pasti pertama kalinya kau minum banyak."

"Yah begitulah"

Theo segera menjelaskan rencana kepada Silas.

"Pertama, kita kikir sedikit kulit mayat yang sakit. Terutama, bagian yang masih hidup.

Nanti, kita kembangkan mereka pakai daging babi hutan.

Nanti, aku akan pakai tanaman yang aku punya untuk menguji apakah mereka ini efektif. Begitu tanaman yang aku punya efektif, maka kita akan langsung praktikan ke mereka."

Theo memberikan sedikit gambaran melalui coretan di tanah, membuat Silas ingin membantunya.

"Oooh, siap. Sekarang apa yang harus aku kerjakan?"

"Cukup mencari bunga sepatu dan buah jarak."

"Hah... Sepatu mana yang tumbuh di hutan?

Lalu... Buah jarak? Jarak apa? Jarak antara kau dengannya? Hahahahahahha."

Theo merasa sakit kepalanya makin kambuh jika terus berbicara dengan Silas, akhirnya ia segera memberi instruksi lain yang lebih mudah.

"Pokoknya, cari bunga berwarna biru apapun. Sama tolong cariin bir atau wine yang gagal. Semua bawa ke sini."

"Oooh ok." Tanpa banyak tanya Silas segera pergi ke arah desa dan melakukan yang Theo minta.

"Akhirnya dia pergi. Sekarang, jarak. Hmm kalo nggak salah ada deh di belakang rumah ini."

Theo berjalan dengan tertatih-tatih, masih merasa pusing akibat terlalu banyak minum.

Ia segera mendekati sebuah pohon.

"Akhirnya."

Theo segera memetik banyak buah jarak, lalu ia kembali ke kediamannya dan memulai proses.

Pertama, ia mengupas jarak dan memisahkan antara buah dan bijinya. Lalu, ia mencuci biji jarak lagi. Setelah itu, ia menjemur biji itu.

Di sisi lain, Silas sedang ada di luar hutan mencari bunga biru.

Lanjut, Theo mengambil semua abu yang ada, kemudian ia melarutkan abu itu dengan air.

Tidak lupa, ia mengambil sebuah kain lap dan memakainya untuk menyaring air abu yang ada.

"Ok, sekarang, mari kita panaskan. Umm tapi, ok deh sebentar aku pergi ke hutan."

Theo merasakan bahwa dia kekurangan satu alat. Sebuah tembikar dari tanah liat, sebab di situ hanya ada peralatan dari besi yang pasti akan merusak baik kualitas minyak jarak maupun air abunya.

"Hmm, mari kita lihat di bagian sana."

"Hei, Kenapa kau bisa di sini?"

"Aku butuh tembikar dari tanah liat."

"Kan bisa aku carikan di rumah warga desa."

Theo kemudian merasa lilitan di lehernya semakin kencang. Ia sudah sangat kenal dengan tanda ini.

"Musuh," ucap Silas yang sudah dalam posisi waspada.

Boom!

Tanah di sekitar mereka bergetar setelah terdengar bunyi ledakan yang sangat besar.

Ghrrr... Sring...

"Ini..." Theo yang pernah mendengar bunyi nafas berat yang nyaring itu segera terduduk.

"Hei, jangan takut. Kita pasti bisa melawan apapun itu."

Boom!

Krataak!

Pohon-pohon di depan mereka terlihat berjatuhan. Sampai, sesuatu yang sangat besar muncul di hadapan mereka.

...****************...

End Ch. 9 : Epidemi

Terima kasih semuanya telah membaca karya saya.

Jangan lupa like, Comment, dan favorit ya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!