Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Perjamuan di Sarang Serigala
Gerbang besi setinggi empat meter terbuka perlahan, menyambut iringan mobil Rolls-Royce hitam yang membawa Adrian dan Renata memasuki kawasan kedamaian utama keluarga Dirgantara. Rumah itu lebih tepat disebut sebagai istana. Gaya arsitektur Eropa klasik dengan pilar-pilar putih raksasa berdiri kokoh, diterangi oleh lampu-lampu taman yang mewah. Kemegahan tempat ini seolah berteriak tentang kekuasaan mutlak yang dimiliki oleh penghuninya.
Di dalam mobil, keheningan terasa begitu pekat. Renata menatap keluar jendela, memperhatikan deretan pelayan yang berdiri berbaris di sepanjang selasar masuk, membungkuk hormat menyambut kedatangan sang pewaris tunggal. Tangannya yang saling bertautan di atas pangkuan terasa dingin.
"Kamu gugup?" suara berat Adrian memecah kesunyian.
Renata menoleh perlahan, memasang raut wajah cemas yang cukup meyakinkan. "Tempat ini... terlalu besar untuk orang seperti saya, Tuan Adrian. Saya takut melakukan kesalahan yang bisa memalukan Anda."
Adrian tidak mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin. "Cukup ikuti naskahmu. Jika ada yang bertanya hal yang tidak bisa kamu jawab, diam saja. Aku yang akan bicara. Ingat, di rumah ini, singa yang paling tua adalah kakekku, Albert Dirgantara. Dia yang memegang kendali atas segalanya. Tapi serigala yang paling berbahaya adalah pamanku, Bram, dan anaknya, Arsen."
Mendengar nama Arsen disebut lagi, dada Renata bergemuruh. Skenario yang ia susun di kepalanya selama setahun ini akhirnya akan menghadapi ujian pertama. 'Aku tidak akan membiarkan emosiku merusak segalanya,' bisik Renata menyemangati dirinya sendiri.
Mobil berhenti tepat di depan lobi utama. Seorang pelayan membukakan pintu mobil. Adrian turun terlebih dahulu, kemudian berbalik dan mengulurkan tangannya yang besar kepada Renata. Renata menyambut uluran tangan itu. Genggaman Adrian terasa kokoh dan hangat, memberikan rasa aman yang semu di tengah badai yang sebentar lagi akan mereka hadapi.
Mereka berjalan beriringan menuju ruang makan malam utama. Lantai marmer yang mengilat memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal raksasa di langit-langit. Di tengah ruangan, terdapat meja makan panjang dari kayu mahoni yang dipenuhi oleh hidangan kelas atas.
Di sana, tiga orang sudah duduk menunggu. Di ujung meja, seorang pria tua berambut putih perak dengan tatapan mata yang masih sangat tajam dan berwibawa duduk tegak Albert Dirgantara. Di sisi kanannya, duduk Bram Dirgantara, paman Adrian yang memiliki senyum ramah namun menyimpan kelicikan di matanya.
Dan di sebelah Bram... duduk seorang pria muda dengan kemeja satin biru tua. Wajahnya tampan, namun memiliki aura sinis dan angkuh. Pria itu adalah Arsen Dirgantara.
Begitu mata Renata menangkap sosok Arsen, darahnya seolah mendidih. Manset kemeja berlapis emas berbentuk elang yang ia temukan di kamar kakaknya yang tewas seketika terbayang di pelupuk matanya. Pria di depannya inilah yang kemungkinan besar telah menghancurkan hidup kakaknya. Renata harus mengerahkan seluruh kekuatannya agar jarinya tidak gemetar karena amarah yang tertahan.
"Adrian, kamu akhirnya datang," suara berat Albert Dirgantara bergema, mengabaikan kehadiran Renata sejenak. "Dan siapa wanita yang kamu bawa ini? Apakah ini lelucon pagi hari yang tertunda hingga malam?"
Adrian tidak goyah. Ia menarik kursi untuk Renata, memastikan tunangan kontraknya duduk dengan nyaman, sebelum ia sendiri duduk di sebelah gadis itu.
"Ini Renata, Kakek. Wanita yang akan menjadi istriku, sekaligus wanita yang akan mendampingiku memimpin Dirgantara Group," jawab Adrian dengan nada suara yang tenang namun penuh penegasan.
Bram mendengus pelan sambil memotong daging steaknya. "Istri? Adrian, jangan bercanda. Kami sudah menyelidiki latar belakang gadis ini begitu asistenmu, Baskara, menjemputnya dari rumah susun kumuh di pinggiran kota. Dia hanya seorang pustakawati miskin yang tidak punya latar belakang keluarga, tidak punya koneksi bisnis, dan tidak punya apa-apa untuk ditawarkan kepada keluarga Dirgantara. Bagaimana bisa kamu membawa wanita kelas bawah seperti ini untuk menjadi Nyonya Besar Dirgantara?"
Mendengar penghinaan terang-terangan itu, Renata sengaja menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas gaun putih gadingnya hingga lecek, menampilkan sosok gadis rapuh yang terintimidasi.
"Maafkan saya..." suara Renata terdengar lirih, hampir seperti berbisik. "Saya tahu saya tidak pantas berada di sini. Saya hanya seorang wanita biasa."
Arsen, yang sejak tadi hanya memperhatikan dengan tatapan menilai, tiba-tiba tersenyum licik. Ia menuangkan anggur merah ke dalam gelasnya, lalu menatap Renata dengan pandangan yang membuat Renata merasa jijik. Mata Arsen terus memperhatikan lekuk tubuh Renata yang tersembunyi di balik gaun anggunnya, seolah sedang menilai barang dagangan.
"Tunggu dulu, Ayah," sela Arsen dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, namun terasa sangat berbisa. "Gadis ini... memiliki wajah yang sangat cantik dan murni. Aku bisa mengerti mengapa sepupuku yang dingin ini bisa bertekuk lutut. Tapi, Nona Renata... wajahmu terasa tidak asing bagiku. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Mungkin di suatu tempat... yang sedikit lebih ramai dan gelap?"
Pertanyaan Arsen membuat atmosfer di ruang makan itu seketika membeku. Adrian menyipitkan matanya, rahangnya mengeras mendengar implikasi tersembunyi dari ucapan sepupunya. Sementara itu, jantung Renata berdegup kencang. 'Apakah dia mengenaliku sebagai Papillon?' batin Renata waspada. Namun, ia segera menenangkan dirinya. Di bar, ia selalu memakai topeng renda hitam tebal dan riasan yang sangat berbeda. Mustahil Arsen bisa mengenalinya hanya dalam sekali lihat.
Renata mendongak, menatap Arsen langsung dengan sepasang mata jernih yang tampak polos tanpa dosa. "Maaf, Tuan Arsen. Saya rasa Anda salah orang. Hari-hari saya hanya dihabiskan di antara tumpukan buku di perpustakaan kota yang sepi. Saya tidak pernah pergi ke tempat-tempat ramai atau gelap seperti yang Anda maksud."
Arsen menatap mata Renata selama beberapa detik, mencoba mencari kebohongan di sana, namun ia tidak menemukan apa pun selain ketakutan dan kepolosan seorang gadis biasa. Ia pun mendengus pelan, kehilangan ketertarikan. "Ah, mungkin aku yang salah ingat. Wajah-wajah wanita polos seperti ini memang banyak yang mirip."
"Cukup, Arsen," potong Adrian dingin, suaranya mengandung ancaman yang tidak main-main. Ia menatap kakeknya yang sejak tadi hanya diam mengamati sandiwara itu. "Kakek, dalam surat wasiatmu, syaratnya hanya satu: aku harus menikah dalam waktu satu bulan dengan seorang wanita yang bersih dari skandal politik dan bisnis yang bisa merugikan perusahaan. Renata memenuhi semua syarat itu. Dia tidak memiliki keluarga yang bisa memanfaatkannya, dan kesetiaannya hanya untukku. Bukankah itu yang Kakek inginkan? Seorang wanita yang bisa kukendalikan dengan mudah?"
Albert Dirgantara mengetukkan tongkat jalannya yang berlapis perak ke lantai dengan keras, membuat semua orang langsung terdiam. Pria tua itu menatap Renata dengan pandangan yang sangat dalam, seolah bisa membaca setiap rahasia yang disimpan oleh gadis itu.
"Pernikahan di keluarga Dirgantara bukan hanya tentang cinta, Adrian. Ini tentang masa depan kekaisaran bisnis kita," ujar Albert dengan suara yang berat dan berwibawa. "Nona Renata, jika kamu benar-benar ingin menjadi bagian dari keluarga ini, kamu harus membuktikan bahwa kamu bukan sekadar parasit yang mengincar kekayaan cucuku. Besok malam, akan ada pesta perjamuan bisnis tahunan Dirgantara Group. Semua rekan bisnis internasional dan media akan hadir di sana."
Albert menunjuk Renata dengan jari telunjuknya yang keriput namun kuat. "Aku ingin kamu mendampingi Adrian sebagai tunangannya yang sah di depan publik. Jika kamu berhasil menghadapi para wartawan dan pengusaha licik di sana tanpa membuat satu pun kesalahan yang memalukan nama Dirgantara, aku akan merestui pernikahan kalian. Tapi jika kamu gagal... kamu harus pergi dari kehidupan Adrian dan dari kota ini untuk selamanya. Apakah kamu berani menerima tantangan ini?"
Adrian hendak melayangkan protes karena ujian ini terlalu cepat dan berbahaya untuk seorang gadis yang baru ia sewa selama beberapa jam. Namun, sebelum Adrian sempat membuka suaranya, Renata telah mendahuluinya.
Gadis itu menegakkan punggungnya. Sifat pemalu dan rapuh yang ia tunjukkan sejak tadi seketika lenyap, digantikan oleh tatapan mata yang penuh keyakinan dan keanggunan yang murni seorang Nyonya Besar.
"Saya menerima tantangan Anda, Tuan Besar Dirgantara," ucap Renata dengan suara yang tegas dan jelas, bergema di seluruh penjuru ruang makan. "Saya akan membuktikan bahwa saya pantas berdiri di samping Tuan Adrian, bukan sebagai parasit, melainkan sebagai wanita yang akan menjaga kehormatan namanya."
Adrian menoleh dengan cepat ke arah Renata, matanya dipenuhi rasa terkejut. Ia tidak menyangka wanita kontrakannya ini akan memiliki keberanian sebesar itu di depan kakeknya yang paling ditakuti.
Di seberang meja, Arsen menatap Renata dengan senyuman misterius yang licik. Perang batin dan intrik di dalam sarang serigala ini baru saja dimulai, dan Renata telah melemparkan dirinya ke dalam pusat badai tanpa rasa takut sedikit pun.