Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.
Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 - Hari Operasi
Telepon itu menjadi titik balik bagi Naomi. Setelah percakapan pagi itu, hari-harinya tidak lagi berjalan sendirian seperti sebelumnya. Ada seseorang yang benar-benar ikut memikirkan langkah-langkah kecil yang harus dia tempuh. Untuk pertama kalinya, perjuangan itu terasa sedikit lebih ringan.
Hari-hari berikutnya berubah menjadi rutinitas baru yang lebih padat. Naomi tetap bekerja, meskipun dalam hati ia terus memikirkan saran Junie. Namun berhenti total bukan pilihan mudah. Ia masih butuh penghasilan. Jadi dia mencoba menyeimbangkan semuanya.
Pagi hari, sebelum berangkat kerja, Naomi sudah mulai lebih disiplin.
“Sekarang kita makan lagi ya, Nak…” bisiknya lembut.
Frekuensi feeding ditambah. Waktu istirahat Davin diatur. Bahkan Naomi mencatat jam makan, jumlah asupan, dan respons Davin di buku kecil. Semua dilakukan dengan penuh perhatian.
Siang hari, di sela-sela pekerjaan cleaning service, Naomi sering berhenti sejenak. Bukan untuk istirahat. Tapi untuk Davin. Kadang dia duduk di sudut ruangan klien, memberi makan dengan sabar. Kadang ia menggendong sambil berdiri, menenangkan tangisan kecil.
Beberapa klien mulai memperhatikan.
“Capek ya?” tanya salah satu ibu suatu hari.
Naomi hanya tersenyum. “Sedikit, Bu.”
Padahal kenyataannya jauh lebih dari “sedikit”.
Namun setiap kali tubuhnya ingin menyerah, ia ingat satu hal. Target 5 kilogram. Itu cukup untuk membuatnya terus bergerak.
Di sisi lain, Junie benar-benar menepati janjinya. Ia tidak hanya menunggu di klinik. Beberapa kali, dia bahkan menghubungi Naomi untuk menanyakan perkembangan.
“Berat terakhir berapa?” tanyanya suatu sore.
“Masih 4,6, Dok…” jawab Naomi sedikit ragu.
“Bagus. Itu sudah naik. Jangan berhenti di situ,” kata Junie. Ia juga memberikan banyak saran. Dari cara meningkatkan kalori, teknik feeding yang lebih efektif, hingga posisi terbaik agar Davin nyaman.
Bahkan suatu hari, Naomi diminta datang di luar jadwal biasa.
“Cuma mau lihat langsung,” kata Junie santai.
Naomi awalnya canggung. Tapi perlahan, dia mulai terbiasa. Tanpa disadari, kehadiran Junie menjadi salah satu sumber kekuatannya.
Jihan juga tidak tinggal diam. Meskipun jadwal kerjanya padat, dia tetap berusaha membantu. Kadang ia pulang membawa makanan. Kadang dia menggantikan Naomi menjaga Davin agar Naomi bisa tidur sebentar.
“Tidur kamu itu penting, Na,” katanya suatu malam.
Naomi tersenyum lemah. “Aku nggak apa-apa.”
“Jangan bohong. Mata kamu kayak panda,” balas Jihan.
Mereka tertawa kecil. Namun suatu hari, Jihan mulai menyadari sesuatu. “Na…” panggilnya tiba-tiba.
“Hm?”
“Itu dokter kamu…” Jihan menyipitkan mata sedikit. “Perhatian banget ya?”
Naomi yang sedang menyusun botol susu langsung berhenti sebentar. “Maksudnya?”
“Ya… masa sih ada dokter yang sampai segitunya?” kata Jihan. “Pantau rutin, telepon, kasih perhatian ekstra… gratis lagi.”
Naomi tertawa kecil. “Dia baik saja, Ji.”
Jihan menggeleng. “Nggak sesimpel itu.”
Naomi menatapnya.
Jihan mendekat sedikit, menurunkan suaranya. “Menurut aku… dia suka sama kamu.”
Naomi langsung terdiam satu detik. “HAH?” dia tertawa. Benar-benar tertawa kali ini.
“Serius?” lanjutnya sambil masih tersenyum. “Kamu kebanyakan nonton drama deh.”
Jihan mendengus. “Aku serius.”
Naomi menggeleng pelan, masih tersenyum. “Enggak mungkin.”
“Kenapa nggak mungkin?”
Naomi terdiam sebentar. Lalu wajahnya sedikit berubah. Jadi lebih tenang.
“Aku lagi nggak mau mikirin hal begitu, Ji,” katanya pelan. “Cinta… laki-laki… semuanya.”
Jihan menatapnya. Tidak bercanda lagi.
“Sekarang fokus aku cuma satu,” lanjut Naomi sambil menatap Davin. “Dia.”
Jihan menghela napas kecil. “Ya… aku ngerti sih.”
Naomi tersenyum tipis. “Jadi jangan halu ya.”
Jihan mencibir. “Ih, lihat saja nanti.”
Namun di dalam hati, Naomi benar-benar tidak memikirkan itu. Ia tidak berani berharap lagi.
Waktu terus berjalan. Perjuangan Naomi tidak instan. Ada hari di mana berat Davin naik. Ada hari di mana stagnan. Bahkan ada satu hari di mana beratnya sempat turun sedikit. Hari itu, Naomi hampir menangis lagi.
“Kenapa turun…” imbuhnya panik.
Namun Junie dengan tenang berkata, “Fluktuasi itu normal. Jangan langsung panik.”
Nada suaranya yang stabil membuat Naomi sedikit lebih tenang.
“Yang penting tren jangka panjangnya naik,” tambahnya.
Naomi kembali mencoba. Hari demi hari. Dengan lelah, dengan sabar, dengan cinta. Sampai akhirnya, suatu pagi di klinik. Junie memegang catatan. Matanya membaca angka terakhir. Lalu dia terdiam sebentar.
Naomi langsung tegang. “Gimana, Dok?”
Junie mengangkat wajahnya. Senyum kecil muncul. “5 kilogram.”
Naomi membeku. “Benarkah?” suaranya nyaris tidak terdengar.
Junie mengangguk. “Kita sudah sampai target.”
Air mata langsung jatuh. Naomi menutup mulutnya dengan tangan. Tidak percaya.
“Dok…” suaranya bergetar. “Beneran…?”
Junie tersenyum lebih jelas. “Beneran.”
Naomi langsung memeluk Davin erat.
“Alhamdulillah…” ucapnya sambil menangis.
Semua lelah dan tangis. Seolah terbayar di satu momen itu. Namun kebahagiaan itu tidak datang tanpa bayangan. Karena setelah itu langkah berikutnya adalah operasi.
Junie segera menyusun jadwal. Tim mulai dipersiapkan. Prosedur dijelaskan.
Naomi mendengarkan dengan serius. Tapi semakin dekat hari itu semakin besar rasa gelisahnya.
Suatu siang, Naomi duduk di ruang konsultasi bersama tim medis. Seorang dokter anestesi menjelaskan dengan tenang.
“Operasi ini termasuk tindakan besar untuk bayi,” katanya.
Naomi langsung menegang. “Kami akan melakukan pembiusan total,” lanjutnya. “Selama operasi, kami akan memantau semua kondisi vital.”
Naomi menggenggam tangannya sendiri.
“Risiko tetap ada,” tambah dokter itu jujur. “Seperti reaksi terhadap anestesi, perdarahan, atau komplikasi lainnya.”
Setiap kata terasa berat.
“Namun,” lanjutnya, “kami akan melakukan yang terbaik.”
Junie yang duduk di samping hanya menatap Naomi sekilas. Tatapannya tenang. Seolah mengatakan, “Kamu tidak sendiri.”
Namun tetap saja malam-malam Naomi berubah lagi. Ia sering terbangun. Menatap Davin yang tertidur. Tangannya menyentuh lembut wajah kecil itu.
“Takut...” bisiknya pelan. Ia membayangkan ruang operasi. Lampu terang. Suara alat medis, dan Davin sendirian di dalam sana.
Air matanya jatuh lagi. Namun kali ini, dia tidak menangis keras. Hanya diam. Menahan semuanya sendiri.
Di sisi lain, Junie juga tidak sepenuhnya tenang. Di ruang kerjanya, ia menatap berkas Davin lebih lama dari biasanya. Semua prosedur sudah dia hafal. Semua langkah sudah disiapkan. Namun kali ini terasa berbeda.
“Kenapa jadi kepikiran…” gumam Junie. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. Bayangan Naomi muncul. Wajah lelahnya. Cara dia bertahan. Cara dia tersenyum meski sedang hancur.
Junie menghela napas panjang. “Fokus…” katanya pada dirinya sendiri.
Ini bukan pertama kalinya dia menangani kasus seperti ini. Tapi ini pertama kalinya terasa sepersonal ini.
Tanggal operasi semakin dekat. Naomi berdiri di depan jendela suatu sore. Davin dalam pelukannya. Langit mulai berubah warna.
“Apa pun yang terjadi…” ujar Naomi. Ia mencium kening anaknya. “Mama akan selalu ada.”
Tangannya memeluk lebih erat. Rasa takut masih ada. Sangat besar malah. Namun di balik itu ada keyakinan kecil yang tumbuh. Bahwa semua perjuangan ini tidak akan sia-sia.
Brak!
Pintu ruang operasi tertutup. Davin dibawa masuk ke ruang operasi. Naomi kali ini hanya bisa berdoa.
bahkan aq baca dri awal sampai sekarang sering nangesss,
😭😭 soalnya gak gampang ngurus bayi seperti Davin..
semngatt kak dan sukses selalu novelmu 🥰🥰😘😘