NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.

Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.

Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: KEMATIAN YANG TIDAK ESTETIK

"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"

Kalimat itu bergema di dalam kepala Arcelia Vionette, sesaat sebelum kegelapan total menelan kesadarannya. Bayangkan saja, dia adalah Arcelia. Sang hacker bayangan yang identitasnya dikejar-kejar oleh tiga agensi intelijen internasional. Dia adalah wanita yang bisa membobol sistem keamanan bank dalam lima menit sambil mengunyah keripik kentang. Dia juga pemegang sabuk hitam taekwondo yang pernah melumpuhkan tiga pencopet sekaligus di gang sempit Paris.

Dan sekarang, dia mati. Bukan karena peluru nyasar, bukan karena ledakan bom, tapi karena segelas air mineral dingin yang salah masuk jalur saat dia sedang menertawakan video kucing di TokTok.

Konyol. Benar-benar penghinaan bagi reputasiku, batinnya kesal.

Namun, kegelapan itu tidak bertahan lama. Perlahan, sensasi dingin mulai merayap di ujung jarinya. Bau antiseptik yang menyengat menusuk indra penciumannya. Arcelia berusaha membuka mata, tapi kelopaknya terasa seberat beton. Paru-parunya terasa sesak, seolah ada cairan yang tertinggal di sana.

Tunggu... kalau gue ngerasa sakit, berarti gue belum mati?

Dengan usaha keras, Arcelia mengerjap. Cahaya lampu neon yang terlalu terang membuatnya silau. Dia mencoba menggerakkan tangannya, tapi rasa lemas yang luar biasa menyerang. Ia menoleh ke samping, menemukan sebuah selang infus menancap di punggung tangannya yang... sangat kurus.

"Ini tangan siapa? Kurus banget kayak ranting pohon," gumamnya. Suaranya terdengar sangat asing—serak, tipis, dan bergetar.

Tiba-tiba, kepalanya berdenyut hebat. Seolah-olah sebuah hard drive eksternal sedang dipaksa masuk ke dalam otaknya secara kasar. Potongan-potongan memori yang bukan miliknya berputar seperti film rusak.

Dia melihat seorang wanita bernama Alzena Mirelle Halim. Wanita yang memiliki wajah yang sama dengannya, namun dengan tatapan mata yang sudah lama kehilangan cahayanya. Arcelia melihat Alzena yang selalu menunduk saat ayahnya membentak. Dia melihat Alzena yang hanya bisa diam saat adik tirinya, Shania, merobek buku-bukunya atau menumpahkan kopi ke gaunnya. Dan yang paling menyakitkan, dia melihat seorang pria bernama Keano Alistair Winchester—pria tampan dengan hati yang lebih dingin dari kutub utara.

Alzena adalah seorang istri sah, tapi di rumah mewah suaminya, dia tak lebih dari sekadar hantu. Dia tidak dianggap, tidak dipedulikan, dan sering kali dihina. Puncaknya, Alzena yang asli memutuskan untuk meminum seluruh isi botol obat tidur karena merasa dunianya sudah benar-benar kiamat.

Oh, jadi gue transmigrasi? Arcelia, dengan jiwa bar-barnya, mulai mencerna situasi. Gue masuk ke tubuh cewek lemah yang disia-siakan? Wah, ini sih bukan drama Korea lagi, ini mah proyek renovasi hidup!

Arcelia mencoba duduk. Tubuh ini benar-benar menyedihkan. Otot-ototnya lemah, dan dia bisa merasakan tulang rusuknya yang menonjol. "Heh, Alzena... lo cantik-cantik kok tolol sih? Matre dikit kenapa? Punya suami kaya bukannya kuras rekeningnya malah kuras air mata," omelnya pada diri sendiri.

Tiba-tiba, pintu kamar rawat itu terbuka dengan kasar. Suara sepatunya yang beradu dengan lantai marmer terdengar tegas dan angkuh.

Seorang pria masuk. Dia sangat tinggi, mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang sangat mahal. Rambutnya ditata rapi ke belakang, memperlihatkan dahi dan rahang yang tegas. Wajahnya sangat tampan, tipe pria yang bisa membuat wanita pingsan hanya dengan satu lirikan. Tapi bagi Arcelia, pria ini hanya terlihat seperti satu hal: Masalah.

Itu Keano. Suami dari tubuh yang ia tempati.

Pria itu berdiri di ujung tempat tidur, melipat tangan di depan dada. Bukannya bertanya "Apa kamu baik-baik saja?", kalimat pertama yang keluar dari mulutnya justru terasa seperti tamparan.

"Sudah puas dramanya?" tanya Keano dingin. Matanya menatap Alzena dengan rasa jijik yang tidak ditutup-tutupi. "Kalau kamu pikir dengan mencoba bunuh diri aku akan bersimpati, kamu salah besar, Alzena. Kamu hanya membuat namaku tercoreng di depan media."

Arcelia terdiam sesaat. Jika ini adalah Alzena yang asli, dia pasti sudah menangis histeris, meminta maaf, dan memohon agar Keano tidak meninggalkannya. Tapi Arcelia? Dia justru merasa telinganya gatal.

Arcelia menatap Keano balik. Dia tidak menunduk. Dia justru menatap lurus ke mata pria itu dengan tatapan menilai, seolah pria di depannya hanyalah barang diskonan di supermarket.

"Dramanya sudah selesai kok," sahut Arcelia santai. Dia meraih gelas air di meja samping tempat tidur—kali ini dia minum dengan sangat hati-hati, tidak mau mati untuk kedua kalinya karena alasan yang sama.

Keano sedikit terkejut melihat respon itu. Biasanya, istrinya akan gemetar hanya dengan mendengar suaranya. "Apa maksudmu?"

"Maksud gue..." Arcelia mendehem, mencoba menyesuaikan gaya bicaranya agar tidak terlalu terlihat seperti preman pasar, tapi gagal. "Maksud saya, Tuan Winchester yang terhormat. Kalau Anda merasa nama baik Anda tercoreng karena punya istri yang hobi minum obat tidur, ya sudah. Tinggal buang saja. Gampang, kan?"

"Buang?" Keano menyipitkan matanya. "Apa kamu sedang mengancamku dengan perceraian lagi? Kita berdua tahu kamu tidak akan bisa hidup tanpa uang keluargaku dan namaku."

Arcelia tertawa. Suara tawanya terdengar sedikit gila di ruangan yang sunyi itu. "Uang? Nama? Duh, Sayang... lo pikir gue cuma bisa hidup dari belas kasihan lo? Denger ya, mulai hari ini, gue nggak butuh itu semua."

Keano melangkah maju, tangannya mencengkeram pinggiran tempat tidur. Aura di sekitarnya terasa sangat menekan. "Apa kepalamu terbentur saat pingsan? Kamu bicara padaku dengan kata 'gue'?"

"Oh, sori. Keceplosan," Arcelia menyeringai. "Intinya begini, Keano. Mulai detik ini, jangan anggap gue sebagai Alzena yang lama. Anggap saja gue... versi upgrade. Yang lama sudah mati, dan lo yang bunuh dia dengan sikap dingin lo itu. Jadi, jangan harap gue bakal masak buat lo, nungguin lo pulang, atau nangis-nangis di pojokan lagi."

Keano tertegun. Ada sesuatu yang berbeda. Wanita di depannya ini memiliki wajah istrinya, tapi sorot matanya... itu bukan sorot mata Alzena yang rapuh. Sorot mata itu tajam, penuh percaya diri, dan sedikit nakal. Seperti ada percikan api di dalamnya.

"Kau..." Keano tidak melanjutkan kalimatnya. Dia merasa kehilangan kata-kata untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

"Satu lagi," Arcelia mengangkat telunjuknya. "Gue butuh laptop. Yang speknya tinggi. Jangan yang lemot kayak otak asisten lo di luar itu. Dan satu lagi, gue laper. Gue mau steak, medium rare, jangan pake sayur karena gue bukan kambing. Paham?"

Keano menatap istrinya seolah wanita itu baru saja tumbuh kepala dua. "Kau benar-benar sudah gila."

"Gila itu relatif," jawab Arcelia sambil merebahkan diri kembali ke bantal dengan gaya sangat santai. "Daripada gila karena cinta, mending gila karena banyak duit. Sekarang, silakan keluar. Gue mau tidur. Oh, dan tutup pintunya pelan-pelan. Gue sensitif sama suara berisik."

Keano keluar dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk. Amarah, bingung, dan sedikit rasa penasaran yang aneh. Sementara itu, di dalam kamar, Arcelia menyeringai lebar sambil menatap langit-langit.

Oke, Alzena. Gue bakal urusin keluarga lo yang jahat itu, gue bakal bikin suami lo ini sujud di kaki gue, tapi syaratnya satu...

Arcelia menyentuh perutnya yang keroncongan.

Gue harus makan steak dulu. Hidup di tubuh kurus ini bener-bener menyiksa!

Game dimulai. Dan Arcelia tidak berencana untuk kalah. Di New Ardent ini, seorang hacker bar-bar baru saja mendarat, dan dia siap mengacak-acak seluruh sistem yang ada.

...**************...

TBC

1
Nessa
visulnya 👍🏻👍🏻👍🏻
Nessa
wiiihhh badass
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘
partini
Nemu lagi novel macam ini i like
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!