NovelToon NovelToon
Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Laporan

Motor bebek tua milik Kris kembali membelah jalanan aspal menuju Bruno. Sementara itu, ratusan kilometer dari Purworejo, tepatnya di salah satu kafe mewah di bilangan Jakarta Selatan, suasana justru berbanding terbalik. Denting sendok perak yang beradu dengan cangkir porselen mahal tidak mampu meredam ketegangan yang mendadak menyeruak di meja pojok VIP.

​Monique sedang menyesap caramel macchiato-nya dengan anggun saat ponsel Riko yang tergeletak di atas meja kayu jati itu bergetar hebat. Nama "Tigor" berkedip-kedip di layarnya.

​Riko, yang sedang asyik memainkan kunci mobil sportnya, langsung tersenyum lebar. "Nah, panjang umur ini orang. Pasti mau laporan kalau si Alan udah sukses diusir warga Bruno sambil nangis-nangis," sahut Riko jemawa sebelum menggeser tombol hijau. Dia sengaja menyalakan fitur speakerphone agar Monique bisa ikut mendengarkan penderitaan mantan suaminya.

​"Halo, Gor? Gimana? Beres kan urusan di sana? Si Alan udah kayak gembel kelaparan belum?" tanya Riko santai, nadanya meremehkan.

​Namun, bukan suara tawa khas preman yang terdengar, melainkan suara napas terengah-engah seperti orang yang habis dikejar setan. Suara angin yang bersembunyi kencang di latar belakang menandakan Tigor sedang berlari sekuat tenaga.

​"Boro-boro beres, Bos! Kacau, Bos! Kacau semuanya!" seru Tigor di seberang telepon, suaranya panik setengah mati.

​Riko langsung menegakkan posisi duduknya, senyumnya lenyap. "Kacau gimana maksud lu? Lu bertiga kagak becus ngadepin satu orang lembek kayak Alan?"

​"Bukan masalah lembeknya, Bos! Si Alan itu ternyata licik! Dia nyamperin kita ke warung tempat kita nongkrong. Kita kira dia mau nantang berantem, makanya kita pancing biar dia ngaku kalah. Eh, nggak tahunya dari awal dia masuk, dia udah nyalain perekam suara di HP-nya!"

​Mendengar kata "perekam suara", Monique yang tadinya sibuk memoles lipstik langsung membeku. Pandangan matanya menajam, menatap Riko dengan tatapan yang bisa membunuh seketika.

​"Terus? Apa hubungannya sama gua? Lu tinggal rebut HP-nya, hancurin! Susah amat sih?!" bentak Riko mulai emosi, urat di lehernya mulai bermunculan.

​"Udah dicoba, Bos! Tapi si Alan malah ngebalikin meja, terus temennya nge-prank teriak maling di luar! Warga sekampung langsung dateng bawa arit sama cangkul! Daripada kita mati konyol digebukin massa, ya kita kabur lewat kebun singkong. Ini kita lagi lari ke arah Jogja buat tiarap dulu. Pokoknya kita mau sembunyi, Bos! Jangan hubungin kita dulu sampai situasinya aman!"

​"Eh, Tigor! Lu denger gua ya! Lu balik lagi, cari si Alan, rebut HP-nya!" teriak Riko frustrasi.

​"Kagak bisa, Bos! Nyawa kita lebih berharga dibanding duit lima juta dari Bos! Di rekaman itu, muka Bos, nama Bos, sama skenario fitnah utang judi semuanya kesebut jelas gara-gara kita kepancing tadi. Udah ya, Bos, kita tiarap dulu!"

​Pip. Sambungan telepon diputus sepihak oleh Tigor.

​Suasana di meja VIP itu mendadak sedingin es. Riko menelan ludah dengan susah payah, tidak berani menatap wajah Monique yang kini sudah memerah padam menahan amarah.

​Monique perlahan meletakkan cangkir kopinya ke tatakan dengan bantingan yang cukup keras, menimbulkan suara dentingan tajam. "Bagus ya, Rik. Bagus banget kerjaan lu," sindir Monique, suaranya bergetar karena emosi yang meluap-luap.

​"Mbak Mon, bentar, ini cuma salah paham kecil—"

Riko sedikit gugup menjelaskan alasan yang bisa masuk akal pada Monique yang sudah dianggap sebagai kakaknya.

​"Salah paham kecil kamu bilang?!" potong Monique setengah berteriak, membuat beberapa pengunjung kafe sempat menengok sebelum akhirnya Monique menurunkan volume suaranya, meski tetap terdengar penuh penekanan. "Kamu sadar nggak sih apa yang udah kamu lakuin? Kamu itu bayar preman atau bayar pelawak, hah? Lima juta cuma buat bikin rekaman barang bukti yang bisa menjatuhkan kita!"

​"Gua nggak tahu kalau si Alan bakal nekat begitu, Mon! Biasanya kan dia penakut, lurus-lurus aja orangnya. Mana aku tahu dia punya otak buat ngejebak balik!" bela Riko, wajahnya mulai pucat.

​"Ya karena lu bego, Riko!" Monique menunjuk dahi Riko dengan jarinya yang lentik. "Lu selalu meremehkan orang. Alan itu kalau udah menyangkut Xarena, dia bisa ngelakuin apa aja.

Sekarang apa hasilnya? Lu malah ngasih dia senjata paling ampuh buat bersihin namanya di depan Xarena!"

​Riko mengusap wajahnya yang mendadak berkeringat. "Terus sekarang kita harus gimana? Kalau Xarena denger rekaman itu, dia bakal tahu kalau ini semua taktik kita buat misahin mereka. Xarena pasti bakal benci banget sama gua, Mon."

​"Bukan cuma benci sama lu, Riko. Nama baik keluarga gua juga bisa keseret kalau si Alan nekat bawa rekaman itu ke ranah hukum atas tuduhan pencemaran nama baik atau perbuatan tidak menyenangkan!" Monique berdiri dari kursinya, menyambar tas Hermes-nya dengan kasar. "Aku bener-bener salah udah percaya sama rencana amatiranmu. Kamu nggak becus!"

​"Mon, tunggu dulu! Kita bisa sewa orang lain lagi buat nyari Alan di Purworejo sebelum dia ketemu Xarena!" seru Riko mencoba mengejar Monique yang sudah melangkah pergi.

​"Nggak usah! Jangan bertindak bego lagi sebelum gua yang turun tangan. Kamu diem aja di Jakarta, jangan bikin tambah kacau!" ketus Monique tanpa menoleh lagi, meninggalkan Riko yang terduduk lemas meratapi kebodohannya di dalam ruang makan.

​Sementara itu, di daerah perbukitan Bruno, motor bebek Kris akhirnya sampai di depan halaman rumah saudara Xarena. Rumah itu tampak sepi, menandakan Xarena belum beranjak pergi.

​Alan turun dari motor dengan langkah yang jauh berbeda dari saat dia pergi tadi. Jika tadi dadanya sesak oleh keputusasaan, kini matanya memancarkan keyakinan yang kuat.

​"Mas Alan, saya tunggu di pos ronda depan aja ya? Agak trauma saya kalau denger Mbak Xarena teriak angka dua lagi," bisik Kris sambil menyengir kuda, memijat lututnya yang masih terasa agak gemetar.

​Alan tertawa kecil, menepuk pundak Kris. "Iya, Kris, aman. Kamu udah bantu banyak banget hari ini. Tunggu di sana aja, ntar gua susul kalau udah kelar."

​"Siap, Mas. Semoga sukses pembuktiannya! Hajar dengan bukti digital, Mas!" seru Kris memberi semangat sebelum menuntun motornya menjauh agar suara knalpotnya tidak mengganggu.

​Alan menarik napas dalam-dalam, meraba kantong celananya untuk memastikan ponselnya masih ada di sana. Dia berjalan mantap menuju pintu depan rumah. Pintu kayu itu tertutup rapat, seolah-olah menegaskan penolakan terhadap dirinya. Namun, kali ini Alan tidak akan mundur. Dia mengetuk pintu itu dengan ketukan yang tenang namun tegas.

​"Xarena... ini aku, Alan. Tolong buka pintunya sebentar. Aku punya sesuatu yang harus kamu denger," ucap Alan dengan nada suara yang lantang namun lembut, berharap suaranya bisa menembus dinding rumah dan mengetuk hati sang kekasih hati yang sedang terluka.

1
mama
alan ny goblok bin tololl.. mau2 nikah sm mak Lampir cm demi kekuasaan🤣..
mama
CEO terbodoh🤣,..org kaya gk mampu nyari detektif buat nyari kebenarannya nih cerita ny, gitu aj bingung😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!