NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:638
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku, Rasya, dan Drama Rumah Sakit (yang Sebenarnya Nggak Perlu)

"Apa?!" Pak Bambang hampir menjatuhkan gelasnya. "Kamu—kamu bilang Andre dilempar? Dilempar sama Rasya? Ke mana?"

"Ke lantai, Pak," Andre menjawab dengan suara pelan. "Saya dipiting lalu dibanting."

Pak Bambang menatap Rasya dengan ekspresi ngeri sekaligus kagum. "Rasya, kamu bisa bela diri?"

"Iya, Pak. Sedikit."

Sedikit? Aku menahan diri untuk tidak tertawa. Di kehidupan sebelumnya, aku tahu Rasya—eh, Aldo—adalah atlet judo. Bukan pemula. Tapi ya sudahlah, biar dia rendah hati.

"Tapi kenapa kamu memukul Andre?" tanya Pak Bambang lagi.

"Karena dia menyentuh Nayla tanpa izin, Pak," ulang Rasya dengan sabar, seolah dia sedang menjelaskan ke anak TK. "Di lorong tangga. Pagi ini. Saya melihatnya."

"Andre, benar?"

Andre menunduk. "Saya... saya cuma mau kenalan, Pak. Saya pindahan—"

"Kenalan dengan memegang pundak?" potong Rasya. "Padahal sudah dilarang?"

"Rasya, biar Bapak yang tanya." Pak Bambang mengangkat tangan. "Andre, kamu memang pegang pundak Nayla?"

"Eng—enggak, Pak. Cuma saya tepuk, Bu—maksudnya, Pak. Saya tepuk pundaknya."

"Menyentuh. Sama saja." Rasya melipat tangan.

"Rasya!" Pak Bambang mulai kesal. "Kamu ini—"

"Saya minta maaf, Pak," Rasya memotong. Suaranya berubah—menjadi lebih rendah, lebih lembut. "Saya salah. Saya seharusnya nggak main fisik. Tapi saya nggak suka lihat orang diganggu."

Apa? Dia minta maaf?

Andre mengangkat kepala, matanya berbinar. "Maaf kamu diterima, Rasya. Aku tahu kamu cuma mau—"

"Bukan minta maaf sama kamu."

Pak Bambang dan Andre sama-sama membelalak.

Rasya berbalik ke arahku. "Maaf, Nayla. Seharusnya aku tegur dia baik-baik. Bukan pake tangan."

Aku hanya bisa mengangguk, masih syok.

"Tapi kalau dia berani sentuh kamu lagi," Rasya melanjutkan, matanya beralih ke Andre dengan tatapan yang membuat Andre merinding, "Aku nggak bakal minta maaf untuk kedua kalinya."

---

Setelah Keluar dari Ruang BK

"Gila kamu, Rasya," ucapku saat kami berjalan berdua menuju kantin. "Ngapain sampe pukul-pukulan?"

"Tadi sudah dijelasin."

"Ya demi aku?! Aku nggak minta!"

Dia berhenti berjalan. Aku juga berhenti.

"Nayla." Dia menatapku serius. "Di kehidupan sebelumnya, aku lihat kamu dihancurkan. Sedikit demi sedikit. Aku cuma bisa nonton dari jauh karena aku pengecut. Sekarang, aku nggak mau jadi pengecut lagi."

Mulutku terbuka. Lalu tertutup. Lalu terbuka lagi.

"Tapi—"

"Kamu terlambat menyadari racun di kehidupan sebelumnya." Suaranya bergetar, ini pertama kalinya aku mendengar dia kehilangan ketenangan. "Kamu terlambat menyadari siapa musuhmu. Aku nggak mau kamu terlambat lagi."

Dadaku sesak.

"Rasya..."

"Kamu nggak perlu terima kasih," katanya cepat. "Atau nggak perlu ngerasa berhutang. Aku lakukan ini karena aku mau. Bukan karena kamu minta."

Dia berbalik, melangkah pergi.

"Rasya, tunggu!"

Dia tidak berhenti.

"Aku ngomong sama kamu, tunggu!" Aku berlari kecil, menarik ujung seragamnya. "Kamu—kamu belum cerita."

"Cerita apa?"

"Siapa kamu sebenarnya."

Dia menoleh. Wajahnya... capek. Bukan capek fisik, tapi capek hati. Seperti orang yang sudah menyimpan rahasia terlalu lama.

"Nanti," katanya pelan. "Janji."

"Kapan?"

"Saat kamu benar-benar siap."

"Bohong. Kamu pasti bakal ngelak terus."

"Tidak." Dia menghela napas. "Besok. Pulang sekolah. Kita ketemu di taman belakang perpustakaan."

Mataku melebar. "Serius?"

"Serius."

"Janji?"

Dia mengulurkan kelingkingnya.

Dan di tengah lorong sekolah yang mulai ramai oleh anak-anak yang keluar kelas, aku mengaitkan kelingkingku dengan kelingkingnya.

Janji.

---

Sore Itu — Di Rumah

Aku berbaring di tempat tidur sambil memegang handphone. Belum ada pesan dari Rasya—biasanya jam segini dia sudah mengirim sesuatu.

Aku membuka chat kami. Membaca ulang semua pesan dari awal.

Hari 1: "Hati-hati sama Vania."

Hari 2: "Dia tanya-tanya tentang kamu ke anak kelas lain."

Hari 3: "Jangan ceritain masa lalumu ke siapa pun. Termasuk ke Sasha."

Hari 4: "Kamu cantik kalau marah. Tapi jangan sering-sering. Nanti keriput."

Hari 5: "Itu candaan. Maaf. Aku nggak biasa bercanda."

Aku tersenyum sendiri.

Lalu kuketik:

Nayla (20.15): "Rasya, kamu masih hidup?"

Balasan datang cepat.

Rasya (20.15): "Masih."

Nayla (20.15): "Besok janji, ya. Nggak boleh bolos."

Rasya (20.16): "Iya."

Rasya (20.16): "Nayla."

Nayla (20.16): "Hm?"

Rasya (20.17): "Tadi siang, kamu marah-marah padahal aku bela kamu. Tapi sekarang kamu baik lagi. Kenapa?"

Aku menggigit bibir.

Nayla (20.18): "Karena aku capek marah. Dan karena... mungkin aku rada suka sama kamu."

Rasya (20.18): "..."

Rasya (20.18): "..."

Rasya (20.19): "Aku bacanya tiga kali. Takut salah baca."

Aku tertawa terbahak-bahak di atas kasur.

Nayla (20.19): "Beneran. Tapi jangan sombong."

Rasya (20.20): "Nayla."

Nayla (20.20): "Apa?"

Rasya (20.21): "Besok kita ketemu. Aku akan cerita semuanya. Lalu setelah itu..."

Nayla (20.21): "Setelah itu?"

Rasya (20.22): "Setelah itu, mau nggak mau, kamu harus mutusin. Mau percaya aku atau nggak."

Nayla (20.22): "Tergantung ceritanya."

Rasya (20.23): "Kalau aku bilang, di kehidupan sebelumnya, aku bukan Aldo?"

Aku terduduk.

Nayla (20.23): "Apa?"

Rasya (20.24): "Besok. Janji."

Pesan itu tidak dibalas lagi sampai pagi. Aku mematikan lampu, tapi mataku tidak mau terpejam.

Dia bukan Aldo? Lalu siapa?

Siapa dia sebenarnya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!