Halo teman-teman, aku sedang memperbaiki & memperpanjang cerita ini supaya makin seru. Perubahan bertahap ya, terima kasih dukungannya!
---
Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku, Rasya, dan Drama Rumah Sakit (yang Sebenarnya Nggak Perlu)
"Apa?!" Pak Bambang hampir menjatuhkan gelas yang dipegangnya. "Kamu—kamu bilang Andre dilempar? Dilempar oleh Rasya? Ke mana?"
"Ke lantai, Pak," jawab Andre pelan. "Saya dipegang, lalu dibanting."
Pak Bambang menatap Rasya dengan perasaan campur aduk—kaget, tapi sekaligus kagum. "Rasya, kamu bisa bela diri?"
"Bisa sedikit, Pak."
Sedikit? Aku menahan senyum. Di kehidupan sebelumnya, aku tahu Rasya—atau dulu dipanggil Aldo—adalah atlet judo yang terlatih, bukan sekadar tahu dasar saja. Tapi ya sudahlah, biarlah dia tampak rendah hati.
"Tapi kenapa sampai memukul Andre?" tanya Pak Bambang lagi.
"Karena dia menyentuh Nayla tanpa izin, Pak," ulang Rasya dengan nada tenang, seolah sedang menjelaskan hal yang paling jelas. "Di lorong tangga tadi pagi. Saya melihatnya sendiri."
"Andre, apakah benar begitu?"
Andre menunduk. "Saya... saya hanya ingin berkenalan, Pak. Saya kan siswa pindahan—"
"Berkenalan dengan memegang pundak orang lain?" potong Rasya cepat. "Padahal sudah dilarang?"
"Rasya, biar Bapak yang bertanya." Pak Bambang mengangkat tangan menenangkan. "Andre, apakah kamu benar-benar memegang pundak Nayla?"
"Ti-tidak persis memegang, Pak. Saya hanya menepuknya sedikit—"
"Menepuk, menyentuh. Sama saja artinya." Rasya menyilangkan tangan di dada.
"Rasya!" Pak Bambang mulai kesal. "Kamu ini—"
"Saya minta maaf, Pak." Rasya memotong pembicaraan dengan nada yang kini lebih lembut dan sopan. "Saya memang salah. Seharusnya tidak menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Tapi saya tidak suka melihat orang diganggu."
Apa? Dia minta maaf?
Andre mengangkat kepala, tampak sedikit lega. "Kalau begitu, permintaan maaf saya terima, Rasya. Aku mengerti kamu hanya ingin—"
"Bukan untukmu."
Pak Bambang dan Andre sama-sama terkejut mendengar jawaban itu.
Rasya berbalik menghadapku. "Maaf, Nayla. Seharusnya saya menegurnya dengan cara yang baik, bukan dengan memukulnya."
Aku hanya bisa mengangguk pelan, masih terkejut dengan sikapnya.
"Tapi kalau dia berani menyentuhmu lagi," lanjut Rasya, matanya menatap tajam ke arah Andre sampai membuat pemuda itu merinding, "saya tidak akan meminta maaf untuk kedua kalinya."
---
Setelah Keluar dari Ruang BK
"Kamu benar-benar gila, Rasya," kataku saat kami berjalan beriringan menuju kantin. "Kenapa harus sampai berkelahi?"
"Aku sudah jelaskan alasannya tadi."
"Itu demi aku?! Tapi aku tidak memintamu melakukannya!"
Dia berhenti berjalan, begitu juga aku.
"Nayla." Dia menatapku dengan tatapan yang sangat serius. "Di kehidupan sebelumnya, aku melihatmu dihancurkan sedikit demi sedikit. Aku hanya bisa diam dan menonton dari jauh karena aku pengecut. Kali ini, aku tidak mau menjadi pengecut lagi."
Mulutku terbuka, lalu tertutup, lalu terbuka lagi—tidak tahu harus berkata apa.
"Tapi—"
"Kamu terlambat menyadari adanya racun di kehidupan yang lalu," suaranya sedikit bergetar, pertama kali aku melihatnya kehilangan ketenangan. "Kamu terlambat mengenali siapa musuhmu. Aku tidak mau kamu terlambat lagi kali ini."
Dadaku terasa sesak mendengarnya.
"Rasya..."
"Kamu tidak perlu berterima kasih," lanjutnya cepat. "Atau merasa berhutang budi. Aku melakukan ini karena aku mau, bukan karena kamu memintanya."
Dia berbalik dan mulai melangkah pergi.
"Rasya, tunggu!"
Dia tidak berhenti.
"Aku sedang bicara padamu, tunggu sebentar!" Aku berlari kecil, menarik ujung belakang seragamnya. "Kamu—kamu belum menceritakan semuanya."
"Menceritakan apa?"
"Siapa kamu sebenarnya."
Dia menoleh. Wajahnya terlihat lelah—bukan lelah secara fisik, tapi lelah karena telah menyimpan rahasia terlalu lama.
"Nanti," jawabnya pelan. "Saya janji."
"Kapan?"
"Saat kamu benar-benar siap mendengarnya."
"Itu bohong. Kamu pasti akan terus menunda-nunda."
"Tidak akan." Dia menghela napas panjang. "Besok. Setelah pulang sekolah. Kita bertemu di taman kecil di belakang perpustakaan."
Mataku melebar sedikit. "Benarkah?"
"Benar."
"Janji?"
Dia mengulurkan jari kelingkingnya.
Di tengah lorong sekolah yang mulai ramai oleh siswa yang berjalan keluar kelas, aku mengaitkan jari kelingkingku dengan miliknya.
Sebuah janji.
---
Sore Hari — Di Rumah
Aku berbaring di tempat tidur sambil memegang ponsel. Belum ada pesan masuk dari Rasya—padahal biasanya di jam seperti ini dia sudah mengirim sesuatu.
Aku membuka riwayat percakapan kami, lalu membaca ulang semua pesan dari awal.
Hari 1: "Hati-hati dengan Vania."
Hari 2: "Dia sering bertanya-tanya tentangmu ke teman-teman sekelas."
Hari 3: "Jangan ceritakan apa pun tentang masa lalumu kepada siapa pun. Termasuk Sasha."
Hari 4: "Kamu terlihat cantik saat marah. Tapi jangan terlalu sering, nanti cepat keriput."
Hari 5: "Itu candaan. Maaf. Aku memang tidak terbiasa bercanda."
Aku tersenyum sendiri membacanya.
Lalu aku mulai mengetik pesan:
Nayla (20.15): "Rasya, kamu masih hidup?"
Balasan datang dengan cepat.
Rasya (20.15): "Masih."
Nayla (20.15): "Besok jangan ingkar janji ya. Tidak boleh tidak datang."
Rasya (20.16): "Baik."
Rasya (20.16): "Nayla."
Nayla (20.16): "Ya?"
Rasya (20.17): "Tadi siang kamu sempat marah karena saya berkelahi, tapi sekarang kamu bicara baik-baik lagi. Kenapa?"
Aku menggigit bibir bawahku, ragu sejenak.
Nayla (20.18): "Karena aku lelah terus-menerus marah. Dan juga... mungkin aku sedikit menyukaimu."
Rasya (20.18): "..."
Rasya (20.18): "..."
Rasya (20.19): "Aku baca pesan itu sampai tiga kali. Takut salah mengerti."
Aku tertawa terbahak-bahak sambil memegang perut.
Nayla (20.19): "Benar. Tapi jangan besar kepala ya."
Rasya (20.20): "Nayla."
Nayla (20.20): "Apa?"
Rasya (20.21): "Besok kita bertemu. Aku akan menceritakan semuanya. Setelah itu..."
Nayla (20.21): "Setelah itu apa?"
Rasya (20.22): "Setelah itu, mau tidak mau kamu harus memutuskan. Apakah kamu mau mempercayaiku atau tidak."
Nayla (20.22): "Tergantung ceritanya nanti."
Rasya (20.23): "Kalau aku katakan, di kehidupan sebelumnya aku bukan Aldo?"
Aku langsung duduk tegak di atas kasur.
Nayla (20.23): "Apa maksudmu?"
Rasya (20.24): "Besok. Aku janji akan menjelaskannya."
Pesan itu tidak dibalas lagi sampai pagi. Aku mematikan lampu kamar, tapi mataku sulit terpejam.
Dia bukan Aldo? Lalu siapa dia sebenarnya?