Bagi Arlan, harga diri adalah segalanya. Namun, ketika sebuah kekalahan memaksanya memacari gadis paling "tak kasatmata" di sekolah, ia memulai permainan manipulasi yang paling berbahaya—tanpa sadar bahwa kepolosan adalah senjata yang paling mematikan bagi egonya.
Arlan tidak pernah kalah. Dengan wajah rupawan dan kekuasaan di tangannya, dia adalah "Tuhan" di SMA Nusantara. Hingga satu malam, sebuah taruhan konyol di meja biliar mengubah segalanya. Taruhannya sederhana: Taklukkan Lulu, si gadis kutu buku yang kuper, polos, dan selalu menunduk, lalu campakkan dia di malam perpisahan.
Bagi Arlan, ini hanyalah tugas mudah. Dia akan menggunakan pesonanya, melakukan love bombing, dan membuat Lulu bertekuk lutut. Namun, Lulu bukanlah lawan yang biasa. Kepolosan Lulu yang keterlaluan membuat semua taktik manipulasi Arlan mental. Saat Arlan mencoba menyakitinya, Lulu justru membalas dengan ketulusan yang menampar ego narsistiknya.
Siapakah yang akan hancur lebih dulu? Arlan dengan egonya, ata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Pagi itu, langit SMA Nusantara tampak mendung, seakan ikut merasakan beban yang menghimpit dada Lulu. Setelah kejadian di clubhouse semalam, Lulu berangkat sekolah dengan mata sembab yang berusaha ia sembunyikan di balik kacamata tebalnya. Ia merasa kepalanya kosong; seolah semua pengetahuan yang selama ini ia banggakan telah menguap, menyisakan rasa bodoh yang ditanamkan Arlan.
Arlan sudah menunggu di parkiran, bersandar di pintu BMW-nya sambil menyesap kopi. Begitu melihat Lulu, ia tidak menyapa dengan pelukan hangat, melainkan dengan tatapan dingin yang menilai.
"Mana buku catatan yang aku bilang kemarin?" tanya Arlan tanpa basa-basi.
Lulu mendekap tasnya erat. "Arlan, ini catatan terakhirku yang masih selamat. Ini materi untuk ujian akhir semester nanti..."
Arlan menghela napas panjang, menunjukkan raut wajah yang sangat kecewa. "Lu, kamu masih nggak paham juga? Semua masalah kamu—olimpiade, kamu di-bully Shinta, kamu dijauhin temen-temen—itu semua karena buku-buku ini. Kamu terlalu terikat sama benda mati ini sampai kamu lupa cara ngehargain aku sebagai pacar kamu."
"Tapi ini buat masa depanku, Arlan..." bisik Lulu lirih.
"Masa depan kamu itu aku, Lulu!" Arlan meninggikan suaranya, membuat beberapa siswa yang lewat menoleh. Ia merampas tas Lulu dan mengeluarkan sebuah buku catatan bersampul biru yang penuh dengan tulisan tangan Lulu yang rapi. "Kamu pikir dengan kacamata setebal ini dan buku-buku ini, kamu bakal bahagia? Enggak, Lu. Kamu bakal tetep jadi cewek aneh yang nggak punya siapa-siapa kalau aku nggak ada."
Arlan kemudian menarik Lulu menuju area belakang sekolah, dekat tempat pembakaran sampah yang apinya sedang menyala kecil.
"Bakar," perintah Arlan singkat sambil menyodorkan buku catatan itu ke depan wajah Lulu.
Lulu terbelalak, jantungnya seakan berhenti berdetak. "Arlan... jangan. Aku mohon. Itu hasil rangkumanku selama satu semester. Aku butuh itu buat lulus."
"Kalau kamu sayang aku, kamu bakal bakar buku ini sekarang," ucap Arlan dengan nada datar yang mengerikan. "Ini pembuktian, Lu. Apa kamu lebih milih kertas-kertas ini daripada hubungan kita? Kalau kamu nggak bakar, berarti bener kata Reno, kamu cuma manfaatin aku biar kamu kelihatan keren punya pacar populer, padahal di dalem hati kamu cuma peduli sama ambisi kamu sendiri."
"Nggak gitu, Arlan! Aku sayang kamu!" tangis Lulu pecah.
"Buktikan. Sekarang."
Lulu gemetar hebat. Ia menatap buku catatan itu. Di dalamnya ada mimpi-mimpinya, ada kerja kerasnya setiap malam hingga matanya lelah. Namun, ia melihat wajah Arlan yang tampak sangat "terluka" (padahal itu hanya akting). Lulu merasa sangat ketakutan akan kehilangan Arlan. Di pikirannya yang sudah dicuci otak, ia merasa jika Arlan pergi, ia benar-benar akan menjadi sampah yang tidak berguna.
Dengan tangan yang sangat gemetar, Lulu menerima buku itu. Ia berjalan mendekati lubang pembakaran.
"Maafin aku, Arlan..." bisik Lulu, namun ditujukan untuk dirinya sendiri.
Wush!
Lulu melepaskan buku itu ke dalam api. Lidah api segera menjilati kertas-kertas putih itu, mengubah tulisan tangan Lulu yang indah menjadi abu hitam yang terbang terbawa angin. Lulu jatuh terduduk di depan api, menangis tersedu-sedu sampai bahunya terguncang hebat. Ia merasa sebagian dari jiwanya ikut terbakar di sana.
Arlan berjongkok di sampingnya, mengusap punggung Lulu dengan lembut—sebuah sentuhan predator yang baru saja berhasil melumpuhkan mangsanya. "Gini kan enak, Sayang. Sekarang kamu nggak punya beban lagi. Sekarang duniamu cuma ada aku. Kamu nggak perlu pusing sama nilai atau peringkat lagi. Aku yang bakal jagain kamu."
Di kejauhan, Sisil melihat kejadian itu dari balik pohon besar. Matanya memerah menahan amarah dan kesedihan. Ia melihat sahabatnya, si jenius yang dulu selalu bangga dengan prestasinya, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki Arlan Wiraguna. Sisil ingin lari dan memeluk Lulu, tapi ia tahu Lulu sudah terlalu jauh terperosok.
Saat jam pelajaran berlangsung, Lulu duduk di kelas dengan meja yang kosong. Tidak ada buku, tidak ada pena. Ia hanya menatap kosong ke depan. Gurunya bertanya kenapa ia tidak mencatat, namun Lulu hanya diam dengan air mata yang terus mengalir di balik kacamatanya.
Saat jam istirahat, Reno dan Gani lewat di depan kelas Lulu dan memberikan jempol pada Arlan yang berdiri di koridor.
"Gila, Lan! Lo bener-bener bikin dia bakar catatannya sendiri?" bisik Reno sambil tertawa kecil. "Level 18: Total Destruction. Lo emang raja tega."
Arlan menyeringai puas. "Dia udah nggak punya pegangan lagi, Ren. Otaknya udah gue matiin. Sekarang, tinggal nunggu waktu buat dia bener-bener gila karena cuma bergantung sama gue."
Lulu yang duduk di dalam kelas, mendengar tawa mereka samar-samar. Ia tidak tahu bahwa abunya yang terbang di belakang sekolah adalah simbol dari taruhan yang sebentar lagi akan mencapai puncaknya. Ia merasa Arlan sangat mencintainya karena telah "membebaskannya" dari beban belajar, tanpa sadar bahwa ia baru saja menyerahkan satu-satunya kunci untuk melarikan diri dari penjara emosional yang diciptakan Arlan.
Sore itu, Arlan mengantar Lulu pulang. Di depan rumah, ia mencium kening Lulu. "Jangan nangis lagi ya. Besok aku jemput. Dan inget, nggak usah bawa tas lagi. Kamu nggak butuh itu sekarang."
Lulu masuk ke rumahnya yang sepi, menatap kamarnya yang kini terasa seperti kuburan bagi mimpinya. Ia meringkuk di lantai, memeluk lututnya, dan terus menggumamkan nama Arlan seolah itu adalah mantra agar ia tidak kehilangan akal sehatnya. Ia benar-benar telah menjadi boneka hidup milik Arlan