apa jadinya jika seorang pemuda berumur 17 tahun transmigrasi ketubuh seorang duda berumur 36 tahun karena di seruduk oleh seekor domba?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fiyaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Pukul 10.47. Gedung Langit Biru Corp, lantai 28.
Pintu ruang CEO terbuka tanpa ketukan. Rasya masuk dengan jas hitam, dasi longgar, dan map tebal di tangan. Di belakangnya, dua bodyguard miliknya berdiri siaga.
Di dalam, Edwin sedang tertawa di telepon. Begitu melihat Rasya, senyumnya luntur.
“Rasya,” sapanya. Nada dibuat ramah. “Kangen Daddy?”
“Jangan panggil saya anak, Om.” Rasya melempar map ke meja Edwin. Suaranya dingin. “Cabut gugatan hak paten. Kembalikan investor yang Om ancam. Hari ini.”
Edwin membuka map, melirik sekilas, lalu tertawa. “Kau pikir aku takut? Anak kemarin sore sok ngatur.”
“Aku bukan anak kemarin sore.” Rasya menekan kedua tangan ke meja, mencondongkan badan. Matanya setajam elang. “Aku CEO. Aku yang bangun perusahaan ini dari nol waktu SMA. Dan aku yang akan mengubur Om kalau Om berani sentuh Papaku lagi.”
Edwin berdiri. “Papamu? Saga itu harusnya jadi milikku. Kalau bukan karena kamu dan Arion—”
“Papaku milik dirinya sendiri.” Rasya memotong. “Dan dia sudah memilih. Dia pilih Arion. Dia pilih hidup tenang tanpa Om.”
Edwin menyeringai. “Kita lihat saja. Cinta bisa dibeli, Rasya. Apalagi sama orang tua tunggal yang imut. Kau pikir Arion tahan kalau aku tawarkan proyek triliunan?”
Rasya tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Coba saja.” Ia mengetuk meja dua kali. “Oh ya, Om. Tadi pagi tim legal saya sudah kirim bukti pengancaman, suap, dan manipulasi pasar ke OJK sama KPK. Selamat menikmati.”
Wajah Edwin pucat.
Pukul 14.20. Hutan Pinus, lokasi kemah.
“Aga! Ujan! Masuk tenda!” teriak Langit.
Saga yang lagi bakar jagung langsung panik. “Eh iya! Jagung Aga!”
Revan narik kerah Papanya. “Pa, jagung bisa beli lagi. Papa masuk dulu!”
Begitu di dalam tenda, Saga menerima telepon. Ion ❤️ Calling
“Ion?” Saga angkat, suara khawatir. “Aga lagi kemah. Ujan deres banget. Kenapa?”
“Aga, dengerin aku.” Suara Arion tegang. “Edwin udah main fisik. Tadi ada orang ngikutin mobil Rasya. Aku nggak mau kamu kenapa-napa. Aku jemput sekarang.”
Saga membelalak. “Tapi Langit—”
“Langit sama Revan sudah aku hubungi. Mereka setuju. Kamu keluar tenda, aku udah di pos jaga depan. Pakai jas hujan.”
Langit menyodorkan jas hujan. “Papa, pake. Om Ion udah di depan. Katanya urgent.”
Saga menelan ludah. “Kalian... nggak marah?”
Revan merangkul bahunya. “Pa, kita galak karena sayang. Tapi kita nggak bodoh. Edwin bahaya. Papa lebih aman sama Om Ion.”
Langit mengangguk. “Cepetan, Pa. Nanti Om Ion basah.”
Lima menit kemudian, Saga lari menerobos hujan menuju mobil hitam di pos jaga. Pintu terbuka. Arion menariknya masuk, langsung memeluk erat.
“Dingin?”
“Dingin, takut, kangen.” Saga mendusel di dada Arion. “Edwin kenapa, Ion?”
Arion mengusap rambut Saga yang basah. “Dia nyerang Rasya. Tapi Rasya udah lawan balik. Sekarang kamu sama aku. Nggak ada yang boleh nyentuh kamu lagi.”
Di dashboard, ada map cokelat. Surat pengacara.
“Apa itu?” tanya Saga.
“Restraining order dan somasi untuk Edwin.” Arion menyalakan mobil. “Kita ke kantor polisi dulu, habis itu ke apartemen. Rasya, Revan, Langit nyusul nanti malam.”
Saga menggenggam tangan Arion. “Ion... makasih ya udah jagain Aga. Jaga anak-anak Aga juga.”
Arion mengecup punggung tangannya. “Sudah tugas aku. Aku kan kekasihnya Aga.”
Pukul 19.00. Kantor Polisi.
Edwin duduk di ruang penyidik dengan muka merah. Di depannya, Rasya, Arion, dan pengacara menatap datar.
“Ini pencemaran nama baik!” teriak Edwin.
“Ini bukti ancaman, Pak,” kata pengacara menyerahkan rekaman telepon. “Plus saksi dari investor yang Bapak tekan.”
Rasya berdiri. “Om Edwin, terakhir kali saya bilang baik-baik. Jauhi Papa saya. Sekarang, saya nggak akan ngomong lagi. Pengadilan yang ngomong.”
Saga duduk di ruang tunggu, dipangku Arion. Revan dan Langit di kanan-kiri, siaga.
“Pa,” bisik Langit. “Takut?”
Saga menggeleng, bersandar di dada Arion. “Nggak. Ada Ion. Ada kalian. Aga aman.”
Arion mengeratkan pelukan. “Pulang nanti Aga mau apa?”
“Bobo. Dipeluk. Dikecupin. Sama digendong ke kamar mandi kalau mau pipis.”
Revan dan Langit kompak: “PA!”
Arion tertawa, mengecup puncak kepala Saga. “Siap, Sayang.”
Di ruang penyidik, Edwin membanting meja. Tapi tidak ada yang peduli lagi.
Keluarga Saga sudah memilih. Dan pilihan mereka adalah Arion.