"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.
Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?
Atau ia justru ikut terjerumus juga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ENAM BELAS
Cahaya matahari pagi menyusup perlahan melalui celah tirai kamar, menciptakan garis-garis hangat di dinding. Adelia membuka mata pelan, tubuhnya terasa sedikit berat dan pegal.
Semalam ia dan Lukas baru saja menghabiskan malam bersama-sebuah kehangatan yang hanya dimiliki pasangan suami-istri, tanpa perlu ia ingat atau pikirkan terlalu jauh. Mereka saling melepas rindu, dan Lukas, seperti biasa, mencurahkan kasih sayangnya sepenuh hati.
Adelia menarik napas panjang, lalu meregangkan tubuh perlahan. Ada rasa nyeri halus di pinggang dan bahunya, bukan menyakitkan, hanya sekadar tanda bahwa semalam ia belum sepenuhnya istirahat.
Ia menoleh ke samping.
Lukas masih tertidur pulas.
Wajah pria itu terlihat jauh lebih muda saat tidur.
Rambutnya sedikit berantakan, dadanya naik turun perlahan, dan ia hanya mengenakan celana pendek-tanda betapa lelahnya ia setelah malam yang begitu intens.
Adelia tersenyum kecil. Ia merapihkan selimut, kemudian duduk pelan agar tidak mengguncang kasur.
Namun, ketika ia hendak bangkit untuk bersiap, ia mendengar suara langkah kaki di lorong.
Tok... tok... tok...
Tidak terlalu keras, tapi cukup jelas untuk membuat Adelia menahan napas.
Ia tidak bergerak, tubuhnya menegang. Langkah itu terdengar sangat dekat... terlalu dekat dengan kamar.
Lalu... sunyi.
Adelia menutup mata sebentar. "Bukan saatnya kupikirkan itu. Aku harus fokus, siapkan keperluan Mas Lukas!"
Ia berdiri pelan, mengambil robe tipis dan
memakainya untuk menutupi tubuh, lalu berjalan menuju lemari. Ia mengambil kemeja favorit Lukas, celana panjang kerja, kaus dalam, jam tangan, serta parfum yang selalu dipakai suaminya saat bepergian.
Semua ia siapkan dengan hati-hati.
Ketika sedang melipat baju perjalanan Lukas, ia mendengar suara menguap pelan di belakangnya.
"Hmmmm... sayang... kamu sudah bangun?"
Lukas membuka mata sambil tersenyum mengantuk.
Ia mengangkat tubuhnya sedikit, menyandarkan punggung pada headboard, rambut acak-acakan, dan mata setengah tertutup.
Adelia mendekat sambil memegangi bantal. "Eh, Mas. Kamu udah bangun?"
Lukas meraih tangan istrinya, menariknya lembut sampai Adelia duduk di sampingnya. Ia menatap wajah Adelia lama, seolah belum siap melepaskannya hari itu.
"Kamu bangun duluan, ya?" ucap Lukas sambil mengusap pipinya. "Masih capek, hm?"
Adelia tersenyum malu. "Sedikit... tapi nggak apa-apa, aku juga senang kok."
Lukas mencubit pelan dagunya. "Kamu itu, kalau capek bilang. Semalam kamu keliatan lelah tapi tetap nurut aja sama aku."
Adelia menunduk. "Kamu kan mau pergi beberapa hari... aku cuma ingin... nemenin kamu sebelum berangkat."
Lukas menghela napas pelan, lalu memeluk kepala Adelia ke dadanya. "Ngelakuin itu bukan kewajiban kamu, Del. Kita lakukan karena kita sama-sama mau."
Adelia tersenyum tipis mendengar itu.
Setelah beberapa detik dalam pelukan hangat itu, Lukas berbisik, "Makasih ya, sayang. Kamu selalu bikin aku merasa disayang."
Adelia balas memeluk pinggangnya, tanpa bicara.
Momen itu menenangkan sebuah fase setelah hari-hari penuh kecemasan.
Beberapa saat kemudian, Lukas melepaskan pelukannya dan melihat pakaian yang sudah tersusun rapi di atas kursi.
"Ini semua kamu yang siapkan?" tanya Lukas.
"Iya," jawab Adelia lembut. "Buat perjalanan kamu nanti."
Lukas tersenyum puas. "Istri aku emang yang paling rajin, ya."
Adelia mencubit pahanya pelan. "Jangan godain aku pagi-pagi gini, Mas."
Lukas tertawa kecil, lalu menarik Adelia hingga ia duduk di pangkuannya. Tangannya melingkari pinggang istrinya, kepala menempel di bahu Adelia.
"Aku bakal kangen kamu," katanya tanpa ragu.
Adelia menahan napas sesaat, kata-kata itu terasa lebih berat dari biasanya. Mungkin karena ia tahu selama beberapa hari ke depan, rumah ini... tidak akan sama tanpanya.
"Aku juga bakal kangen kamu," jawab Adelia pelan.
Lukas mengusap punggungnya lembut. "Kamu nanti istirahat yang cukup, ya. Kalau ada apa-apa, telepon aku! Jangan sungkan, oke?"
Adelia mengangguk tanpa suara.
Lukas mengecup leher Adelia singkat. "Ayo kita mandi bareng?"
Adelia langsung memukul dadanya ringan. "Mas!
Kamu harus siap-siap buat pergi, jangan mulai yang aneh-aneh deh!"
"Aku cuma bilang mandi," kata Lukas sambil pura-
pura polos. "Kamu yang mikirnya macam-macam."
"Kamu yang mulai ngusir pikiran bersih aku," balas Adelia sambil berdiri.
Mereka berdua tertawa.
Suasana pagi itu begitu hangat, seolah dunia hanya milik mereka berdua. Dan untuk sesaat... Adelia lupa pada ketakutannya semalam.
Lukas bangkit, meraih handuk, lalu mendekat dan
mengecup kening istrinya sebelum menuju kamar mandi.
"Aku mandi dulu. Kamu siapkan sarapan, ya? Biar kita bisa makan bareng dulu nanti sebelum aku berangkat," ucap Lukas.
"Oke, Mas," jawab Adelia.
Ketika Lukas menutup pintu kamar mandi, Adelia
berdiri di tengah kamar, menatap koper yang akan dibawa suaminya dan menahan napas pelan.
Rasa hangat di pagi hari itu... perlahan kembali ditindih kecemasan dari malam sebelumnya.
"Selama Mas Lukas pergi... aku harus hati-hati. Sangat hati-hati!"
Aroma masakan pagi menyebar lembut di seluruh rumah. Adelia berdiri di dapur bersama Bik Vivi dan Mbak Sisil, menyusun sarapan seperti biasa. Tangan Adelia sedikit gemetar, tapi ia terus berusaha agar
semuanya terlihat normal.
Piring-piring disusun rapi. Telur mata sapi, roti panggang, salad kecil, serta kopi yang baru diseduh.
Saat Adelia meletakkan gelas terakhir di meja makan, suara berat terdengar dari arah tangga.
"Pagi, Del..."
Bastian muncul dengan langkah santai. Rambutnya sudah rapi, bajunya bersih, dan tatapan matanya... terlalu hangat, terlalu dekat, seperti seseorang yang sedang memandangi sesuatu yang ingin ia miliki.
Adelia memaksa tersenyum. "Pa... pagi. Silakan duduk, Pa!"