Aruna Prameswari tidak pernah tahu bagaimana hidupnya berubah menjadi runyam. Semenjak Kedatangan sosok Liam Noah Rajasa, Atlet bola sekaligus Pengusaha ibukota. Hidupnya dibuat kacau balau sejak laki-laki itu selalu merecoki harinya yang gitu-gitu aja. Kerja, lembur, nongkrong, dan pulang.
Laki-laki itu semakin gencar mendekati dirinya ketika tahu kalau dirinya baru saja putus dari pacarnya, padahal Aruna masih belum begitu move on. Namun Liam dengan segala usahanya hingga membuat dirinya menyerah dan cinta itu datang tiba-tiba.
akankah Cinta Aruna yang datang tiba-tiba berakhir dengan indah atau malah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nisa_prafour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Tripod setinggi badan dan kamera yang sudah disetting sebagaimana mestinya itu tegak menghadap Aruna atau Aruna yang menghadap kameranya? Entahlah yang jelas kini ia sudah siap dengan aksi dan hadiah dari sang adik.
Baju sari dan segala pernak-perniknya sudah melekat cantik ditubuhnya. Rambutnya yang mulai tumbuh lebih panjang itu Aruna kepang menjadi satu. Aruna amat begitu cantik dengan balutan gaun khas negeri sebrang itu. Dan Aruna merasa ia seperti kembali ke dirinya 12 tahun yang lalu.
Alunan musik itu dimulai. Dan sontak Aruna mulai menggerakkan beberapa anggota tubuhnya. Tangan, kaki bahkan kepalanya bergerak luwes seperti penari profesional pada umumnya. Aruna terlihat menjadi dirinya selama ini yang tersembunyi. Ia kembali dengan Aruna versi sebenarnya.
Bukan Aruna yang congkak dan dingin. Ia menjadi Aruna yang dilingkupi rasa bahagia ketika tubuhnya bergerak mengikuti melodi musik dari ponselnya.
Gerakan Aruna yang tadinya pelan berganti dengan gerakan yang cepat dan begitu memikat bagi siapapun yang melihatnya. Hingga pada menit satu menit lebih,musik berhenti. Bersamaan dengan itu tubuh Aruna jatuh terduduk diatas lantai ruang tamu. Nafasnya terengah-engah namun kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman lebar. Aruna bahagia. Seperti ada yang menarik beban dalam hatinya dan kembali, Aruna tersenyum lebih lebar.
Namun, kegiatannya itu tidak berlangsung lama saat tanpa sengaja dari balik kaca di dinding ruang tamu mata Aruna menangkap sosok tinggi dengan baju hijau dan celana training putih. Mata Aruna sontak membulat dan terkejut bukan main. Sosok itu juga sama dengannya. Sama-sama terkejut ketika tanpa sadar Aruna berteriak memanggil namanya.
"NOAH?!!"
.
.
.
.
.
Tidak pernah ada dalam pikirannya, jika seorang Noah harus dibingungkan oleh sosok gadis bernama Aruna. Gadis yang bahkan tidak pernah masuk dalam list kehidupannya, Gadis yang tanpa sengaja hampir mati karenanya. Dan gadis yang baru dikenalnya dalam hitungan hari saja. Aah sialan! Jika mengingat momen memalukan itu Noah ingin tertawa rasanya.
Dan yap, kini berakhirlah dirinya yang sudah berada di kediaman Aruna. Lebih tepatnya ia sudah berdiri dihalaman depan rumah gadis itu. Kakinya yang panjang berjalan perlahan untuk mendekat kearah pintu.
Namun, niatnya yang hendak mengetuk pintu itu harus urung saat pintu itu sudah terbuka separuh ternyata. Bukan hanya itu, suara musik ber-genre asing masuk begitu saja di gendang telinganya. Kedua alisnya mengernyit heran dan Yah benar saja tangannya yang sudah berancang-ancang mengetuk daun pintu itu mengudara begitu saja.
Kemudian kedua matanya menangkap sosok gadis dengan setelan yang cukup asing dan rambut panjangnya yang terkepang indah. Cantik. Hanya itu kata yang mampu Noah berikan untuk menilai gadis yang tengah menari itu. Kedua kakinya bahkan seperti terpaku, Kedua matanya tidak pernah bisa melepaskan pandangan dari sosok itu.
Dan pada menit ke dua Aruna mulai menggerakkan kepalanya. Gadis itu menoleh dan mendapati dirinya dengan pandangan mata yang membulat sempurna. Detik berikutnya, teriakan Aruna membuatnya terkejut juga. Bahkan travel bag yang ditangannya jatuh menimpa kakinya.
"Noah?!!"
Sialan! Ia tertangkap basah memandangi Aruna. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
"Hai"
"Ka-kamu ya ampun, sejak kapan kamu disitu?"
"Mmm sejak ... Sejak kamu mulai me--"
"Stop!! I know" dengan Wajahnya yang memerah Aruna dengan cepat membalikkan tubuhnya menghindari tatapan mata Shayne yang dengan berani menatapnya lekat-lekat. Sialan laki-laki itu berarti Shayne melihat semua kegiatan dirinya dari awal menari?
Sialan, dia malu sekali. Sekarang mau ditaruh mana mukanya setelah Ini. Lagian kenapa laki-laki itu bisa disini sih?!
"Run, boleh aku masuk? Sorry kalau aku tadi lancang dan buat kamu--"
"No! Jangan katakan apapun Noah. Masuk dan duduk saja!"
Noah tahu gadis itu pasti malu, Terbukti ketika kedua matanya membulat dan wajahnya yang terlihat memerah. Diam-diam Noah menahan tawa kecilnya. Lalu ia pun dengan cepat masuk kedalam rumah dan mendudukkan dirinya di sofa minimalis milik Aruna.
Cukup lama ia menunggu Aruna membalikkan badannya. Hingga akhirnya dalam tiga menitan, Aruna membalikkan badannya dan berjalan mendekati dirinya. Gadis itu duduk tepat didepannya. Jangan lupakan gaun menarinya yang masih melekat di badannya.
Sialan! Noah jadi beberapa kali salah fokus pada perut dan pinggang gadis itu yang cukup ramping.
"Kamu lihat apa hah?!"
Noah lagi-lagi tersentak. Ia berdehem sebentar lalu kembali menatap Aruna yang mengerucutkan bibirnya lucu.
"Run sorry kalau kedatangan ku ganggu kamu ya. Aku--"
"Haah ..." Helaan nafas milik Aruna terdengar. Gadis itu menundukkan kepalanya sebentar lalu menatap Noah kembali.
"Nggak. Nggak kok. Kamu nggak ganggu. Sorry aku ketus barusan. Aku terlalu malu aja kamu nangkap basah aku kayak gini"
Dan kalimat milik Aruna barusan sukses membuat Noah terkekeh kecil, "Kamu suka menari?"
"Kamu lihat sendiri tadi!"
Oke ... Kali ini Aruna kembali ke setelannya. Aruna dengan mode galak dan skeptis nya.
"I know"
"Kamu kenapa bisa disini?"
"Your travel bag Run"
"Ya ampun ... Noah kamu kesini cuma buat travel bag ini?"
Noah mengangguk, "Kamu kurang kerjaan atau bagaimana?"
"Sepertinya"
"Kamu bisa hubungi aku biar aku sendiri yang ambil"
"Tadinya memang begitu. Tapi entahlah I just wanna see you"
"That's a ridiculous Noah. Aku tahu kamu sibuk"
"Not really. Hari ini sebenarnya aku harus sudah kembali"
"Berarti kamu konyol! Harusnya kamu di pesawat kan sekarang?"
"Aku bukan kembali ke Belanda. Aku dapat jatah holiday 3 hari di Bali"
"Sama saja Mr. Patingga. Anda seharusnya menikmati waktu liburan anda di Bali. Bukan malah di rumahku dengan travel bag ku"
"Aku masih ada waktu 2 jam Run. Jadi--"
"Kamu kesini bawa apa?"
"Maksud mu?"
"Kamu naik apa? Mobil or?"
"Taxi. Aku menggunakan taxi"
"Kalau begitu ayo, aku akan mengantarmu ke Bandara"
"Nggak perlu Run"
"Aku akan ganti baju hanya 5 menit. Dari rumahku ke bandara hanya 25 menit. Jadi masih ada waktu. Ayo!"
"Kamu nggak suka aku disini?"
"Tentu saja aku suka Noah. Hanya saja alasan mu terlalu konyol meninggalkan liburan demi bertemu dengan ku"
"Menurutku itu nggak penting. Aku nggak papa"
"Bagaimana jika teman-teman dan team mencari mu?"
"Itu bisa diatur"
"Ya ampun kamu --"
Kalimat Aruna harus terhenti ketika dering ponsel terdengar nyaring.
"Aku harus angkat telfon dulu. Sebentar "
"Oke"
'Ya hallo yah?'
'kamu di rumah kan Run?'
'iya yah. Kenapa? Ayah jadi pulang kapan?'
'itu yang mau ayah sampaikan ke kamu Run. Sepertinya ayah nggak bisa pulang dalam waktu dekat. Tante menik meninggal dunia Run'
'Ya Tuhan ... Kapan yah tepatnya?'
'2 jam yang lalu Run. Rencananya ayah pulang besok. Tapi berhubung ada musibah ini jadi ayah dan ibu nggak bisa pulang cepat. Kamu tahu sendiri kan Fajar dan Erna disini sendirian. Kasian kalau ayah tinggal'
'iya yah Aruna ngerti. Yang penting ayah dan ibu baik-baik disana. Selalu kabari Aruna dan jangan lupa'
'iya Run. Ayah sudah kabari kakak mu tadi. Kemungkinan ia akan menyusul kesini besok. Tolong sampaikan ke Arin ya, suruh Arin tidur di rumah dulu sementara waktu biar kamu ada temennya '
'iya yah. Nanti Aruna sampaikan '
'yasudah kalau gitu ayah tutup ya. Ayah mau temuin tamu-tamu yang melayat '
'iya yah Aruna--'
TUT
Panggilan terputus begitu saja sebelum Aruna melanjutkan kalimatnya. Dan sepertinya suasana di sebrang sana amat sangat sibuk.
"Your father?"
"Iya"
"Dimana beliau? Rumahmu kelihatannya sepi"
"Ayah sama ibu ku lagi pulang kampung"
"Pulang kampung? Apa itu?"
"Seperti kamu kemarin. Kalau kamu ke Bali, itu berarti kamu pulang kampung. Pulang ke tempat asalmu"
Noah mengangguk paham, "Dimana kampung halamannya?"
"Jawa Tengah. Solo"
"Apa jauh dari sini?"
"Lumayan juga"
"Kamu kenapa ngga ikut?"
"Aku ada kerjaan di sini Noah kalau kamu lupa. Yaudah kamu tunggu sebentar aku mau ganti baju"
"Run wait?!!"
Kedua alis Aruna bertaut untuk menunggu kalimat Noah yang digunakan untuk menghentikan langkahnya. Ia menatap laki-laki itu sambil menunggu lanjutan kalimat laki-laki itu.
"Ya?"
"Aku belum bilang, if you je bent ongelooflijk mooi (kamu luar biasa cantik)"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...