[ Karya pertama di NovelToon ]
[ Semua visual di dalam didapat dari apk pinterest ]
----------
Yu Lingxi adalah Nona Muda Sekte Naga Giok. Ia dipuja-puja sebagai dewi karena memiliki kemampuan diatas rata-rata para kultivator wanita luar. Namun, ada suatu masa Sekte Naga Giok runtuh, disebabkan oleh Sekte Iblis Guntur yang secara terang-terangan mendeklarasikan peperangan dadakan. Dan diakhir hanya menyisakan nyawa Yu Lingxi dan Kakek Naga—Yu Tianlong. Peristiwa itu mengakibatkan mereka terpaksa meninggalkan sekte demi keberlangsungan hidup.
Tapi, tanpa Sekte Iblis Guntur ketahui, akan ada masanya Yu Lingxi membalaskan ketidakadilan dan dosa besar yang sudah mereka lakukan terhadap Sekte Naga Giok. Yu Lingxi, akan segera datang. Tunggu saja ...
----------
[ Hasil ketik tangan sendiri ]
[ Segi dunia, kultivasi, profesi, tingkatan, kekuatan, dan lain sebagainya adalah sebuah rekayasa dari ide author sendiri. Jika ada kesalahan kalimat/typo, mohon beritahu author ]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona cacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbangun #03
Sore hari di Puncak Shuangfeng membawa ketenangan yang berbeda. Lingxi dan Yu Tianlong duduk di tepi kolam koi yang jernih. Cahaya matahari yang mulai meredup memantul di permukaan air, menciptakan pola-pola cahaya keemasan di wajah mereka. Aroma bunga teratai yang mekar sempurna berpadu dengan udara pegunungan yang segar.
Lingxi duduk dengan santai, mengayunkan kaki mungilnya hingga ujung sepatunya sesekali mencelup ke dalam air.
Byurr! Byurr!
Cipratan air dari ayunan kakinya yang lincah mendarat tepat di hanfu putih milik Yu Tianlong, meninggalkan noda basah yang cukup jelas. Namun, alih-alih meledak marah, sang Kakek Naga hanya memejamkan mata sejenak dan menghela napas panjang.
"Lingxi, berhenti bermain-main. Apa yang dikatakan Zhengtian tadi memang ada benarnya." Yu Tianlong tiba-tiba saja membuka suara. Lingxi refleks menengadahkan kepalanya, lalu menarik perhatiannya hanya kepada Kakek Naga.
"Tapi—"
"Berhentilah bertingkah layaknya anak-anak. Dunia luar jauh lebih kejam dari yang kau bayangkan," tegur Yu Tianlong dengan menatap dingin.
Lingxi menghentikan ayunan kakinya seketika. Ia memutar tubuhnya, memicingkan kedua bola mata biru berliannya dengan tatapan tajam yang penuh selidik. "Jadi, Kakek sekarang lebih memihaknya? Setelah semua yang aku lakukan, Kakek justru membela si kaku Shen Zhengtian itu?"
Hati Lingxi terasa sesak. Ia baru saja melewati batas antara hidup dan mati, baru saja terbangun dari koma yang melelahkan, namun orang yang paling ia sayangi justru tampak berdiri di sisi pria yang paling membuatnya kesal.
Yu Tianlong tidak membalas tatapan marah cucunya dengan emosi. Ia merogoh saku hanfu dan mengeluarkan sebuah tas kain kecil bersulam benang perak. Dari dalamnya, terpancar cahaya biru lembut yang berpendar redup namun suci—Kristal Roh Embun.
Yu Tianlong menatap tas itu dengan tulus. "Kau pikir bagaimana caranya meridianmu yang macet itu bisa pulih secepat ini?" Yu Tianlong melontarkan pertanyaan yang cukup serius.
"Bagaimana mungkin aliran energimu stabil tanpa cacat sedikit pun setelah menghadapi Monster Roh Raja?" sambungnya dengan sarat penuh penekanan.
Lingxi tertegun, sekilas ia tampak meneguk salivanya. Sepasang mata berliannya yang memukau itu tidak lepas dari tas kain tersebut.
"Shen Zhengtian ... pemuda itu tidak hanya menyeretmu ke puncak ini. Dia mempertaruhkan nyawanya untuk mengambil Kristal Roh Embun ini dari gua terdalam di tebing terlarang, tepat setelah ia sadar dari pingsannya. Dia melakukannya hanya agar kau bisa segera terbangun, Lingxi. Tanpa ini, mungkin kau masih tertidur selamanya."
Mendengar penjelasan itu, jantung Lingxi seolah berhenti berdetak sesaat. Perasaannya berkecamuk hebat—bagaikan badai yang menghantam kolam yang tenang. Bayangan ia menginjak sepatu Shen Zhengtian, membentaknya di depan pintu, dan menyebutnya "kakek-kakek" berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
"Dia ... dia melakukannya? Tapi dia tidak mengatakan apa-apa kepadaku," suaranya melemah—bergetar karena rasa bersalah. "Dia justru memarahiku dan menyebutku kekanak-kanakan ...," timpalnya lagi dengan pikiran masih.
Di tengah suasana kolam yang tenang, dua sosok pria melangkah mantap menyusuri jalan setapak. Shen Weijie, pria paruh baya dengan aura kepemimpinan yang tenang, berjalan beriringan dengan cucunya, Shen Zhengtian.
Shen Weijie tertawa kecil. "Haha, Tianlong, kulihat kau masih saja bersikap keras pada cucumu. Jika kau terlalu kencang menarik talinya, hubungan kakek-cucu yang manis ini bisa saja terpecah seperti keramik pecah," suaranya menggema ramah.
Yu Tianlong hanya mendengus pelan, meski sudut matanya menyiratkan persetujuan. Di sisi lain, Shen Zhengtian berdiri tegak. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun, memilih untuk memalingkan wajahnya ke arah rimbunnya pohon pinus—seolah-olah pemandangan di sana jauh lebih menarik daripada situasi di depannya.
Lingxi menatap profil samping wajah Shen Zhengtian yang dingin. Mengingat cerita kakeknya tentang Kristal Roh Embun, rasa bersalah yang berkecamuk di dadanya semakin merajalela.
Dengan gerakan yang sangat anggun—Lingxi beranjak dari tepian kolam. Gaun sutranya menyapu jalan setapak dengan bunyi halus. Ia berjalan mendekat, lalu tanpa ragu, tangan lentiknya terangkat untuk menepuk bahu lebar Shen Zhengtian dengan lembut.
"Ikut denganku. Ada yang ingin kubicarakan ... berdua saja."
Shen Zhengtian sempat tertegun sesaat. Ia menoleh perlahan, menatap mata biru berlian Lingxi yang kini tampak serius. Tanpa kata-kata sarkas, tanpa bantahan, ia hanya memberikan anggukan kecil yang hampir tak terlihat. Ia kemudian melangkah, mengekori Lingxi dari belakang menuju area yang lebih privat di bawah naungan pohon pinus yang lebat.
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
Setelah kedua anak muda itu menjauh, suasana di tepi kolam kembali ke tangan para tetua. Shen Weijie menatap punggung Lingxi dengan tatapan penuh kekaguman yang tersembunyi.
Shen Weijie mulai mendekatkan bibirnya ke telinga milik sahabat karibnya itu. "Tianlong, apakah kau sadar apa yang telah terjadi pada cucumu selama masa komanya?" bisiknya serius kepada Yu Tianlong.
"Apa maksudmu? Dia baru saja bangun, energinya masih tidak stabil." Yu Tianlong mengerutkan kening.
Shen Weijie tersenyum tipis—matanya berkilat penuh puas. "Berkat Kristal Roh Embun dan kemampuannya dalam menghadapi Monster Roh Raja ... Lingxi telah melompati tembok besar," katanya dengan diakhiri tanda tanya besar.
Yu Tianlong semakin dibuat kebingungan. "Tembok besar? Tembok apa itu?" tanyanya dengan guratan di dahinya yang sudah tampak jelas tengah menerka apa yang dimaksud oleh Kakek Tua seusianya ini.
"Dia sudah mencapai penerobosan Ranah Jiwa Baru Tahap Prima Level 8."
DEG!
Bagaikan hantaman gada raksasa, Yu Tianlong terperanjat hebat. Matanya membelalak tak percaya, tangannya yang berada di balik punggung gemetar sedikit.
"T-Tahap Prima Level 8? Di usia enam belas tahun?! Bagaimana mungkin ... berita ini ... aku bahkan tidak merasakannya!" Yu Tianlong kembali melontarkan pertanyaan saking syok-nya.
"Gadis itu menyembunyikan auranya dengan sangat baik, atau mungkin pertempuran itu memang memaksa jiwanya berevolusi. Kau memiliki monster kecil di keluargamu, Tianlong."
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
Lingxi dan Shen Zhengtian kini berada di sudut terpencil Puncak Shuangfeng, berdiri di bawah rimbunnya pohon jeruk yang sedang berbuah lebat. Sinar matahari sore menyusup di sela-sela daun, menciptakan bayangan berbintik-bintik di atas rumput. Bau segar dari kulit jeruk yang tertiup angin begitu menguji iman.
Suasana di antara mereka berdua terasa sangat canggung. Shen Zhengtian berdiri tegak dengan tangan terlipat di belakang tubuh, matanya menatap kejauhan. Sementara Lingxi sibuk memainkan ujung lengan hanfunya. Hening menyelimuti mereka cukup lama, hanya suara jangkrik sore yang sesekali terdengar.
Lingxi menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberaniannya. Ia menengadahkan kepala, menatap langsung ke profil samping wajah Shen Zhengtian yang tegas.
"Shen Zhengtian ... terima kasih. Terima kasih untuk semuanya."
Shen Zhengtian tersentak kecil. Ia menoleh dengan dahi berkerut, tampak benar-benar bingung dengan perubahan sikap gadis di depannya.
"Terima kasih? Untuk apa? Bukankah beberapa menit yang lalu Nada masih menganggap saya sebagai orang tua yang suka ikut campur?"
Lingxi menundukkan wajah, pipinya merah merona—kali ini bukan karena marah, tapi karena malu. "Kakek sudah menceritakan semuanya. Tentang Kristal Roh Embun itu. Kau pergi ke Tebing Doulu sendirian saat kondisimu sendiri belum pulih." Lingxi secara bergantian memutar-mutar jarinya yang mungil.
Ia terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang seolah melepaskan beban di dadanya. "Dan ... aku sudah bersikap sangat kekanak-kanakan. Aku memarahimu, menginjak kakimu, dan tidak menghargai bantuanmu. Maafkan aku," sambungnya dengan menatap sendu ke rataan tanah yang kini dipijaknya.
Mendengar pengakuan jujur itu, Shen Zhengtian terdiam. Ia menatap Lingxi yang kini tampak begitu kecil dan rapuh di bawah pohon jeruk tersebut. Sebuah senyum tipis—sangat tipis hingga hampir tak terlihat namun terasa hangat terukir di bibir Shen Zhengtian yang alami. Garis-garis tegas di wajahnya melunak seketika. Ia melepaskan lipatan tangannya dan menghela napas ringan.
"Anda tidak perlu meminta maaf, apalagi berterima kasih," ujarnya melembut. "Anda menyelamatkan saya dari Monster Roh di hutan itu lebih dulu. Apa yang saya lakukan hanyalah bentuk balas budi."
Lingxi mendongak dengan mata berbinar-matanya berbinar, ia berlari kecil menghampiri Shen Zhengtian dan hanya memberi sedikit jarak di antara mereka berdua. "Benarkah itu?" tanyanya penuh harap.
Shen Zhengtian mengangguk kecil. Lalu kembali menyahut, "ya, terutama, saya tidak suka berutang nyawa pada siapa pun, terutama pada gadis berumur enam belas tahun seperti Anda."
Saat mendengar kata-kata terlontar dari mulut pemuda itu, perasaan kesalnya kembali muncul. "Tuh, kan! Zhengtian, kau mulai lagi membawa-bawa umur!" ketus Lingxi.
Shen Zhengtian terkekeh. Spontan telapak tangannya yang kasar itu terangkat, lalu mendarat tepat di pucuk surai putih bersih milik Lingxi. "Sudahlah. Anggap saja kita impas, Nona Yu," ucapnya dengan nada jenaka.
Sebutir buah jeruk jatuh dari dahan di atas mereka, menggelinding di antara kaki mereka. Di sini, Lingxi tertegun mendengar tawa kecil Shen Zhengtian. Untuk pertama kalinya, ia melihat laki-laki di hadapannya ini tertawa.
Lingxi tersenyum sumringah, senyum tulus yang paling cantik terpatri—menyinari wajahnya dengan manis. "Baiklah, kalau begitu kita impas!"
Sreettt ... sreettt ... sreettt ...
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
...…To Be Continued…...
Nggak sia-sia bacanya, harap-harap alurnya juga semantep visualnya/Kiss//Rose/