Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24- Satu langkah lagi
Satu Langkah Lagi
Sejak percakapan itu, hubungan Mona dan Wira berubah semakin rumit, bukan karena mereka bertengkar, justru sebaliknya. Mereka menjadi terlalu sadar satu sama lain. Tatapan kecil terasa berbeda. Keheningan terasa canggung. Dan jarak di antara mereka semakin sulit disebut profesional.
Mona mulai sering menghindari kontak mata lebih dulu, sementara Wira… semakin terang-terangan memperhatikannya.
***
Pagi itu Mona sedang sibuk mengetik jadwal meeting ketika pintu lift kantor terbuka. Beberapa karyawan langsung berdiri lebih tegak, bukan karena Wira, melainkan karena seorang wanita paruh baya elegan yang baru datang. Gaun mahal, tatapan tajam, aura berkelas yang kuat.
Mona langsung mengenali wajah itu.
Ratih Aditama. Mereka memang pernah bertemu sebelumnya di perusahaan itu, meski hanya sebentar, namun kali ini suasananya terasa berbeda.
Ratih berjalan anggun melewati lobby ditemani beberapa staf, lalu berhenti tepat di depan meja Mona. Tatapannya mengamati Mona beberapa detik. Tenang, tapi membuat gugup.
“Kamu sekretaris Wira yang waktu itu, ya?”
Mona langsung berdiri sopan.
“Iya, Bu.”
Ratih mengangguk kecil seolah mengingat sesuatu. “Sekarang masih bekerja dengan anak saya rupanya.”
Kalimat itu terdengar biasa, namun entah kenapa membuat jantung Mona sedikit tidak nyaman.
“Mari, Bu. Pak Wira ada di ruangannya.”
Ratih tersenyum tipis. “Kamu masih sama. Gugup kalau bicara denganku.”
Mona langsung salah tingkah kecil dan itu justru membuat Ratih tampak sedikit terhibur.
***
Tok tok
Mona mengetuk pintu ruang CEO.
“Masuk.”
Begitu pintu dibuka, Wira yang sedang membaca dokumen langsung mengangkat wajah dan untuk pertama kalinya hari itu ekspresinya benar-benar berubah.
“Ibu?”
Ratih masuk santai. “Kamu sulit ditemui.”
Wira berdiri. “Mendadak sekali.”
Ratih duduk tanpa menunggu dipersilakan, lalu matanya kembali tertuju pada Mona yang masih berdiri dekat pintu.
“Kamu keluar dulu.”
“Iya, Bu.”
Mona buru-buru keluar sambil menutup pintu perlahan, namun entah kenapa… perasaannya langsung tidak tenang.
***
Di dalam ruangan, suasana menjadi jauh lebih serius.
Ratih menyilangkan kaki elegan.
“Itu sekretarismu?”
“Ya.”
Ratih menatap putranya lama. “Aku dengar banyak hal.”
Wira menghela napas kecil. “Berita kantor terlalu cepat menyebar.”
“Berarti benar?”
Wira tidak langsung menjawab dan diamnya cukup memberi jawaban bagi Ratih. Wanita itu tersenyum tipis.
“Kamu akhirnya tertarik pada seseorang lagi.”
“Ini bukan urusan perusahaan.”
“Aku ibumu.”
“Dan aku tetap direktur utama.”
Ratih tertawa kecil. “Keras kepala.”
Wira duduk kembali di kursinya. “Apa tujuan Ibu datang?”
Ekspresi Ratih perlahan berubah lebih serius. “Keluarga Prasetyo menghubungiku.”
Nama itu langsung membuat rahang Wira sedikit mengeras.
“Mereka masih ingin kerja sama pernikahan bisnis itu berjalan.” ucap Ratih.
“Aku sudah menolak sejak dulu.”
“Tapi Sandra kembali.”
Wira langsung menatap tajam. “Ibu bekerja sama dengannya?”
“Tidak.”
Ratih menghela napas pelan. “Tapi keluarga mereka masih menganggap kalian pasangan yang cocok.”
Ruangan mendadak terasa dingin dan untuk pertama kalinya… Wira terlihat benar-benar tidak suka topik itu dibahas.
Sementara di luar ruangan, Mona mencoba fokus bekerja, namun pikirannya terus terganggu. Apalagi setelah melihat langsung Ratih lagi. Wanita itu terlalu elegan, terlalu berkelas dan sekali lagi Mona diingatkan... dunia mereka memang berbeda.
“Mbak Mona?” Salah satu staf memanggil pelan.
“Iya?”
“Ada dokumen untuk Pak Wira.”
“Oh, sini.”
Mona mengambil map itu lalu menarik napas panjang sebelum kembali mengetuk pintu ruang CEO.
“Masuk.”
Begitu masuk… suasana di dalam terasa sangat tegang.
Ratih duduk tenang. Wira terlihat dingin.
Mona langsung merasa datang di waktu yang salah.
“Maaf, saya cuma antar dokumen.”
Namun saat ia hendak meletakkan map...
Ratih tiba-tiba berkata, “Mona.”
Mona langsung menoleh gugup. “Iya, Bu?”
Ratih menatapnya beberapa detik. Tatapannya lebih dalam dibanding pertemuan pertama mereka dulu.
“Kamu dekat dengan anak saya?”
Deg
Ruangan langsung terasa hening.
Mona bahkan tidak tahu harus menjawab apa, sementara Wira langsung memotong,
“Ibu.”
“Aku hanya bertanya.” Tatapan Ratih kembali pada Mona.
Dan kali ini lebih tajam, bukan marah, tapi seperti sedang menilai sesuatu.
Mona menelan ludah pelan. “Saya… hanya bekerja untuk Pak Wira.”
Ratih tersenyum kecil. Jawaban aman, terlalu aman.
“Aku mengerti,” ujarnya pelan.
Namun entah kenapa… jawaban itu justru membuat Mona semakin gugup. Setelahnya Mona keluar lagi, Ratih akhirnya berdiri.
“Dia menyukaimu.”
Wira tidak membalas.
Ratih mengambil tasnya.
“Dan kamu juga menyukainya.” lanjut Ratih lagi.
“Aku tidak perlu izin siapa pun.”
“Aku tidak bilang melarang.”
Wira sedikit terkejut.
Ratih tersenyum tipis. “Hanya saja… dunia kalian tidak mudah.”
Kalimat itu lagi dan Wira mulai muak mendengarnya.
“Aku tidak peduli.”
Ratih menatap putranya lama, lalu berkata pelan, “Kamu mungkin tidak peduli.” Ia berhenti sejenak. “Tapi apakah Mona sanggup menghadapi semuanya?”