NovelToon NovelToon
Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / CEO / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Protektif Calix yang Tak Disadari

​Dokter Januar melangkah mendekat dengan sangat hati-hati setelah mendapat isyarat anggukan dari Calix. Di belakangnya, Bi Ani meletakkan nampan berisi beberapa botol suplemen dan alat medis portabel di atas meja nakas. Suasana di dalam kamar tidur utama itu terasa begitu pekat oleh ketegangan yang tak kasat mata.

​"Selamat sore, Nyonya Muda Mireya," sapa Dokter Januar dengan suara yang sengaja dilembutkan agar tidak menambah tekanan psikologis bagi pasiennya. "Saya Dokter Januar. Mulai hari ini, saya yang akan bertanggung jawab penuh atas pemantauan kesehatan fisik dan kesiapan... rahim Anda."

​Mireya tidak menjawab. Ia hanya mengangguk samar, membiarkan jubah mandi satinnya disingkap sedikit pada bagian lengan agar Dokter Januar bisa memasang manset tensimeter digital. Tatapan mata Mireya lurus menatap jemari tangannya sendiri yang bertautan di atas pangkuan.

​Bzzz... Alat pengukur tekanan darah itu mulai mengembang, menimbulkan suara dengung halus di tengah keheningan kamar.

​Calix berdiri di dekat jendela besar, bersedekap dada dengan netra elang yang tak sedetik pun lepas dari wajah pucat Mireya. Rahangnya tampak mengatup rapat. Ada letup-letup emosi yang tak mampu ia definisikan berkecamuk di dalam dadanya setiap kali melihat Mireya memperlakukan dirinya sendiri layaknya benda mati yang tak lagi memiliki harga diri.

​"Bagaimana hasilnya, Dokter?" tanya Calix, suaranya baritonnya memecah kesunyian dengan nada dingin yang menuntut cepat.

​Dokter Januar melepas manset dari lengan Mireya, lalu melihat angka yang tertera pada layar digital. Kening pria paruh baya itu berkerut tipis. "Tekanan darah Nyonya Muda cukup rendah, Tuan David. Hanya 90/60. Denyut nadinya juga terlalu cepat, mengindikasikan adanya kelelahan fisik yang ekstrem dipadukan dengan kondisi stres atau syok emosional yang belum mereda."

​Mireya menarik kembali lengannya, merapikan jubah mandinya tanpa ekspresi. "Aku baik-baik saja, Dokter. Ini hanya karena aku kurang tidur beberapa hari ini."

​"Anda tidak sedang baik-baik saja, Mireya," sela Calix, melangkah maju mendekati sisi ranjang. Auranya yang intimidatif langsung membuat Dokter Januar mundur satu langkah secara refleks. "Dokter Januar sudah mengatakan fisikmu kelelahan. Jangan bersikap keras kepala hanya untuk menentangku."

​Mireya mendongak lambat, menatap Calix dengan senyum getir yang mengiris hati. "Menentangmu? Bukankah aku justru sedang menuruti semua maumu, Tuan Calix? Aku duduk di sini, membiarkan doktermu memeriksa tubuhku agar targetmu memiliki anak bisa cepat tercapai. Di mana letak penentanganku?"

​Calix terbungkam. Kata-kata Mireya terasa seperti belati yang menghujam tepat di ulu hatinya, menyisakan rasa perih yang teramat asing. Pria itu mengepalkan tangannya di balik saku celana, menahan diri agar tidak meledak di depan tim medisnya.

​"Dokter Januar, lanjutkan pemeriksaanmu," titip Calix dengan suara yang sedikit bergetar menahan gejolak di dadanya.

​Dokter Januar berdehem pelan, mencoba mencairkan atmosfer yang kian mencekam. Ia mengambil sebuah botol kecil berisi suplemen asam folat dan beberapa strip vitamin dosis tinggi dari atas nampan.

​"Nyonya Muda, ini adalah suplemen khusus untuk memperkuat dinding rahim dan mempersiapkan sel telur Anda agar berada dalam kondisi paling optimal," jelas Dokter Januar dengan sangat detail. "Namun, saya harus menekankan sekali lagi kepada Tuan David... suplemen ini tidak akan bekerja maksimal jika kondisi psikologis pasien terus tertekan. Rahim wanita sangat peka terhadap hormon stres. Jika Nyonya Muda terus menangis atau terlalu banyak pikiran, peluang keberhasilan penanaman benih akan menurun drastis."

​Mendengar penjelasan itu, Calix melirik Bi Ani yang berdiri di sudut ruangan. "Bi Ani, pastikan semua makanan yang dimasak untuk Mireya mulai hari ini mengikuti menu nutrisi yang disusun Dokter Januar. Jika dia menolak makan, langsung laporkan padaku."

​"Baik, Tuan Besar," jawab Bi Ani takzim, menatap Mireya dengan pandangan penuh rasa iba.

​Mireya menghela napas panjang, matanya beralih menatap botol-botol obat di atas nakas. "Aku akan meminum semuanya tepat waktu, Dokter. Anda tidak perlu cemas. Aku juga ingin kontrak ini cepat selesai agar aku bisa pergi dari rumah ini secepatnya."

​Kalimat terakhir Mireya—pergi dari rumah ini secepatnya—mendadak memicu alarm bahaya di dalam kepala Calix. Ada rasa tidak rela yang teramat besar menyeruak di dadanya. Pria itu belum menyadari bahwa rasa tidak rela itu adalah ego dari seorang pria yang perlahan mulai jatuh hati, bukan lagi sekadar urusan bisnis dan keturunan.

​"Dokter Januar, tinggalkan kami. Bi Ani, bawa semua peralatan keluar," perintah Calix mutlak, suaranya terdengar begitu berat dan tidak ingin dibantah.

​"Baik, Tuan. Permisi," Dokter Januar dan Bi Ani segera merapikan barang-barang mereka, melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan menutup pintu kamar dengan rapat, menyisakan Calix dan Mireya dalam keheningan berdua.

​Mireya hendak beranjak berdiri, berniat menuju ke arah sofa di sudut kamar untuk mengambil alat rajut dan sulam yang dibelinya tadi pagi. Namun, belum sempat kakinya menapak lantai, pergelangan tangannya sudah lebih dulu dicekal oleh tangan kekar Calix.

​"Lepaskan, Calix. Pergelangan tanganku sakit," cicit Mireya pelan, mencoba menarik tangannya tanpa tenaga yang berarti.

​Calix tidak melepaskannya, namun cengkeramannya melonggar secara drastis, berubah menjadi sebuah pegangan yang lembut namun mengunci. Pria itu mendudukkan dirinya di samping Mireya, memaksa gadis itu untuk menatap lurus ke arah sepasang netra elangnya.

​"Kenapa kamu harus bicara seolah-olah aku sedang menyiksamu setengah mati, Mireya?" tanya Calix, suaranya terdengar serak, dipenuhi rasa frustrasi yang mendalam. "Aku memenuhi semua kebutuhan keluargamu. Aku membayar rumah sakit adikmu. Aku menghancurkan orang tuamu yang sudah menyakitimu. Apa itu semua masih belum cukup untuk membuatmu berhenti menatapku dengan tatapan penuh kebencian seperti itu?"

​Mireya menatap lekat-lekat wajah tegas di hadapannya. Untuk pertama kalinya, ia melihat ada gurat kebingungan dan keputusasaan di mata seorang Calix David yang biasanya selalu tampak sempurna dan tak tersentuh.

​"Kamu menghancurkan orang tuaku untuk memuaskan egomu sendiri, Calix, bukan demi aku," jawab Mireya dengan nada suara yang teramat tenang namun menohok. "Dan semua kemewahan di rumah ini... tidak ada artinya jika setiap malam aku harus bersiap menyerahkan tubuhku hanya sebagai pemuas hasrat pria yang membeliku. Kamu memproteksiku bukan karena kamu peduli padaku sebagai manusia... tapi karena kamu takut barang sewaanmu ini rusak sebelum menghasilkan apa yang kamu inginkan."

​Calix tertegun. Kata-kata itu begitu jujur, telanjang, dan menghantam seluruh dinding keangkuhan yang selama ini ia bangun. Pria itu perlahan melepaskan pegangan tangannya pada pergelangan tangan Mireya, memalingkan wajahnya sesaat demi mengatur napasnya yang terasa sesak.

​Sikap protektifnya yang berlebihan sejak kemarin—mulai dari mendatangi pemakaman di desa, memeluknya saat pingsan, hingga membalaskan dendamnya pada Ardan dan Fiona—ternyata diartikan Mireya hanya sebatas menjaga aset bisnis. Dan yang paling menyedihkan bagi Calix adalah... ia sendiri pun belum mampu mengakui pada dirinya sendiri bahwa semua tindakan itu lahir dari rasa cemburu dan rasa memiliki yang teramat dalam pada diri Mireya Pradipta.

​"Mulai besok, kamu boleh melukis atau menyulam sepuasmu di taman belakang," ucap Calix akhirnya, mengalihkan pembicaraan dengan suara yang kembali datar, mencoba menyembunyikan luka di hatinya. "Aku sudah menyuruh pengawal untuk menyiapkan ruang khusus di dekat paviliun. Jangan mengunci dirimu di kamar mandi lagi. Itu membuatku... membuat Dokter Januar cemas."

​Mireya menatap punggung Calix yang mulai bangkit berdiri dan melangkah menuju pintu keluar. "Terima kasih, Tuan Calix."

​Calix menghentikan langkahnya di ambang pintu tanpa berbalik. "Makan malam akan diantarkan ke kamar. Habiskan, atau aku sendiri yang akan turun tangan untuk menyuapimu."

​Klek. Pintu kamar tertutup rapat kembali.

​Mireya menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang, memeluk selendang hijau peninggalan Neneknya dengan erat. Di dalam keheningan kamar yang mewah itu, ia mulai merasakan ada sesuatu yang perlahan bergeser dari diri Calix—sebuah perubahan sikap yang mulai terasa membingungkan jalannya takdir di antara mereka berdua.

1
Aditya Rian
mantap
umie chaby_ba
rasain Lo ... 🤭
Ariska Kamisa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
buruan calix , ilana ngadi-ngadi emang/Panic/
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
kepedean banget ilana ....
Ariska Kamisa: emang... ngeselin yaa🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
udah sih lagi asik juga bianca resek banget
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ariska Kamisa
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
aditya rian
lanjutkan Thor
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
aditya rian
🤭🤭🤭🤭🤭
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
/Shy//Shy//Shy//Shy/
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
malang sekali mire
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
ceritanya menarik/Good/
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih jempolnya 🙏
total 1 replies
aditya rian
👣👣👣👣
Aditya Rian: matap👍
total 2 replies
umie chaby_ba
ceritanya bagus,
semangat terus ya Thor...
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
dih ngeselin banget sumpah si cilox🤣
Ariska Kamisa: calix kak bukan cilox🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
tuh kan🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
calix aslinya demen nih pasti
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
bagus mirey jangan kasih ampun 👍
Ariska Kamisa: siap👍
total 1 replies
umie chaby_ba
bagus mirey daripada stres ke hobi aja wis
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!