.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kursi Utama, Ujian Altar, dan Kehancuran Formasi Bakat
Aula Perjamuan Agung Keluarga Huang di pusat kota malam itu bermandikan cahaya dari ratusan lampion batu spiritual yang melayang di udara. Dinding-dinding kuarsa hitamnya dilapisi kain sutra emas, memantulkan kemewahan tirani klan utama. Ratusan meja giok telah dipenuhi oleh para tetua dari berbagai faksi, tetua kehormatan, serta para murid jenius eselon atas. Bau wewangian dupa penenang berbaur dengan aroma alkohol spiritual tingkat tinggi dan barisan hidangan mewah yang dimasak menggunakan api esensi.
Di tengah kemegahan yang kaku dan formal itu, sebuah kontras visual yang amat mencolok melangkah masuk melewati pintu gerbang emas aula.
Ji Huang berjalan dengan langkah kaki yang memicu suara pletag-pletog dari sandal kayu longgarnya. Jubah linen yang dikenakannya masih jubah compang-camping yang sama—bahkan kini ditambah noda minyak bebek dari perjalanan kemarin. Di sisi kirinya, Ji Lan berjalan dengan tubuh kaku, tangan kanannya tidak pernah jauh dari gagang pedang peraknya, sementara sepasang mata jernihnya terus mengawasi sekitar dengan tingkat kewaspadaan tertinggi. Di sisi kanan, Xiao Mei melangkah anggun bergaun merah muda, dengan patuh mendekap sebutir bantal sutra biru cadangan untuk berjaga-jaga jika majikan barunya butuh bersandar.
Kehadiran trio aneh ini seketika menghentikan denting cangkir giok di dalam aula. Ratusan pasang mata menatap mereka dengan kombinasi rasa tidak percaya, jijik, dan rasa ingin tahu yang besar setelah rumor tumbangnya Huang Zhen menyebar luas.
Ji Huang sama sekali tidak memedulikan tatapan menghakimi tersebut. Sepasang matanya yang sayu langsung menyapu barisan kursi di area depan aula. Alih-alih berjalan menuju barisan belakang—tempat yang secara hierarki dikhususkan untuk perwakilan klan cabang yang tidak punya status—Ji Huang dengan wajah lempeng melangkah lurus ke barisan paling depan.
Tanpa permisi, dia langsung menduduki sebuah kursi raksasa yang dilapisi oleh kulit Harimau Spiritual Api, sebuah kursi empuk bernilai tinggi yang sebenarnya disediakan untuk seorang Tetua Kehormatan yang kebetulan belum hadir.
"Ah... ini baru namanya kursi perjamuan," gumam Ji Huang polos sembari menyandarkan punggung fanya ke sandaran berbulu yang hangat. "Tingkat keempukannya sangat pas untuk pinggangku."
"Ji Huang! Turun dari sana, sampah lancang!"
Huang Fu yang duduk beberapa meja di sampingnya langsung berdiri, wajahnya memerah menahan geram. "Itu adalah kursi kehormatan bagi para tetua inti! Kamu hanya seekor tikus cabang yang diundang karena kemurahan hati Tetua Agung! Beraninya kamu menodai tempat itu dengan jubah kotormu?!"
Ji Huang bahkan tidak menoleh ke arah Huang Fu. Tangan kanannya dengan santai meraih sepotong paha kambing bakar spiritual yang tersaji di atas meja giok di depannya, lalu menggigit daging gurih itu hingga minyaknya meleleh ke dagunya.
Sembari mengunyah dengan nikmat, Ji Huang menjawab polos tanpa dosa, "Orang Sok Keren, Tetua Agung kalian mengundangku ke sini untuk perjamuan makan besar. Jika aku datang tapi tidak memakan hidangannya dan tidak duduk di tempat yang nyaman, bukankah itu namanya aku tidak menghormati niat baik tuan rumah? Daripada kamu berteriak-teriak dan merusak pencernaanku, tolong ambilkan mangkuk saus asam manis yang ada di dekat mejamu itu. Jangkauan tangan pemalasku tidak sampai."
Uhuk!
Beberapa tetua di sekitar mereka seketika tersedak minuman mereka sendiri. Mereka bingung setengah mati antara harus mengutuk ketidaktahuadatan bocah ini atau mengagumi mental bajanya yang tidak goyah sedikit pun di bawah tekanan ratusan kultivator tingkat tinggi.
"Cukup!"
Sebuah suara berat dan berwibawa menggelegar dari ujung aula. Tetua Agung berdiri dari kursi utamanya, jubah emas pekatnya berkibar tanpa angin, melepaskan tekanan spiritual Tingkat Pengumpulan Qi Lapis ke-9 yang membuat seluruh ruangan seketika menjadi senyap mencekam. Ji Lan di samping Ji Huang langsung menahan napas, wajah cantiknya menegang drastis.
Tetua Agung menatap Ji Huang dengan sepasang mata tua yang berkilat kejam di balik senyuman formalnya. "Ji Huang, Keluarga Huang selalu menghargai bakat dan kebenaran. Kamu dituduh menggunakan sihir hitam untuk melumpuhkan saudaramu sendiri, namun kamu berdalih bahwa kamu hanya mengikuti instruksi suci Leluhur Pendiri. Klan Utama tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah, namun kami juga tidak akan membiarkan penipu hidup di bawah atap yang sama."
Tetua Agung melambaikan tangannya ke arah tengah aula, di mana sebuah kain penutup sutra hitam ditarik oleh dua pelayan, memperlihatkan sebuah batu vertikal setinggi dua meter yang memancarkan aura kuno yang pekat.
"Ini adalah Batu Altar Leluhur," ucap Tetua Agung dengan nada penuh tekanan politik. "Batu ini terhubung langsung dengan formasi array pelindung kota. Jika kamu meletakkan tanganmu di atasnya, batu ini akan membaca esensi jiwamu dan memancarkan cahaya sesuai bakat spiritual murni yang kamu miliki. Merah berarti rendah, Emas berarti jenius, dan Ungu berarti mistis. Namun... jika di dalam tubuhmu terdapat sisa-sisa sihir hitam, racun iblis, atau dantian-mu terbukti telah hancur total seperti laporan klan cabang, maka batu ini akan melepaskan energi penolak yang akan menghancurkan basis kultivasimu seketika."
Tetua Agung menyipitkan matanya, mengunci pandangan Ji Huang. "Jika kamu menolak untuk menguji bakatmu di hadapan altar leluhur malam ini, maka secara hukum klan, kamu akan langsung dicap sebagai pengkhianat yang menyusup dan hukumannya adalah hukuman mati tanpa sidang!"
Suasana aula menjadi begitu tegang hingga suara detak jantung pun seolah bisa terdengar. Ji Lan menggigit bibir bawahnya, menatap Ji Huang dengan mata dipenuhi kepanikan. Dia tahu ini adalah jebakan maut; jika dantian Ji Huang benar-benar cacat seperti yang diketahui semua orang di Kota Amerta, batu itu akan mendeteksinya sebagai kegagalan organik dan melepaskan energi penghancur yang bisa membunuh Ji Huang di tempat.
"Ji Huang... jangan lakukan..." bisik Ji Lan dengan suara bergetar, mengabaikan gengsinya.
Namun, Ji Huang hanya menelan kunyahan daging kambing terakhirnya, lalu menghela napas panjang dengan nada yang sangat malas. Dia bangkit berdiri dari kursi bulu harimau yang empuk dengan enggan, meregangkan kedua tangannya ke atas hingga terdengar suara gemertak halus.
"Kalian orang-orang pusat kota benar-benar sangat merepotkan," gumam Ji Huang polos sembari melangkah maju dengan sandal kayunya yang berbunyi pletag-pletog. "Hanya untuk menumpang makan malam gratis yang tenang saja, aku harus dipaksa menyentuh batu besar yang berdebu ini. Waktu tidur siangku yang berharga jadi terpotong karena urusan tidak penting ini."
Di bawah tatapan ratusan pasang mata yang dipenuhi antisipasi kejam—terutama Huang Fu yang sudah tersenyum lebar menantikan kematian sepupunya—Ji Huang tiba di depan Batu Altar Leluhur.
Tanpa ragu, tanpa rasa takut, dan dengan gerakan yang kelewat santai, Ji Huang mengulurkan tangan kanannya yang masih menyisakan sedikit bekas noda minyak kambing bakar, lalu menempelkan telapak tangan fanya ke permukaan batu kuno tersebut.
Wuuush...
Satu detik pertama, tidak ada yang terjadi. Namun di detik berikutnya, seluruh formasi array di bawah batu altar mendadak bergejolak hebat.
Ji Huang secara pribadi tidak mengalirkan energi Qi fanya, namun Batu Altar Leluhur dirancang untuk mengukur dan membaca esensi spiritual dari entitas yang menyentuhnya. Dan di dalam lubuk jiwa terdalam tubuh fan pemuda pemalas ini, bersemayam sepotong jiwa kuno dari seorang Dewa Pedang Agung yang pernah memotong jalannya langit di kehidupan masa lalu.
Jiwa dewa bukanlah sesuatu yang bisa diukur atau ditampung oleh alat fana di dunia bawah ini.
BZZZZT! BAM!
Batu Altar Leluhur mendadak bergetar dengan intensitas yang sangat ekstrem, seolah sedang mengalami gempa bumi lokal. Warna cahaya di permukaan batu berubah dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Merah menyala dalam sekejap, langsung melompat ke warna Emas yang menyilaukan mata, lalu meledak menjadi warna Ungu mistis yang pekat dalam hitungan milidetik.
Namun, fluktuasi energi dari jiwa kuno Ji Huang tidak berhenti di situ. Beban karma dan keagungan spiritual yang terserap ke dalam sistem batu altar membuat formasi kuno berusia ratusan tahun itu mengalami kelebihan muatan (overload) yang absolut.
KRAAAK! KRAAAK!
Retakan-retakan besar berwarna putih keperakan mulai merayap dengan cepat di sekujur permukaan batu setinggi dua meter tersebut. Cahaya ungu mistis yang memancar berubah menjadi putih menyilaukan, membutakan pandangan mata semua orang di dalam aula selama beberapa saat.
BLAAAAM!!!
Sebuah ledakan energi spiritual murni yang sangat dahsyat terjadi di tengah aula. Batu Altar Leluhur yang sakral dan diklaim tidak hancur oleh serangan Lapis ke-9 sekalipun, mendadak meledak berkeping-keping, hancur lebur menjadi tumpukan debu halus dan kerikil kecil yang beterbangan ke segala arah. Gelombang kejut dari ledakan itu membuat meja-meja giok bergeser dan menjatuhkan ratusan cangkir minum ke lantai.
Kepanikan massal seketika melanda Aula Perjamuan Agung. Para tetua melompat dari kursi mereka dengan wajah pucat pasi, sementara Tetua Agung berdiri mematung dengan mulut terbuka lebar, seluruh wibawa dan kelicikannya lenyap tak berbekas digantikan oleh rasa ngeri yang teramat sangat. Batu leluhur mereka... hancur menjadi abu!
Di tengah kepulan debu putih yang perlahan menipis, Ji Huang berdiri dengan tenang di posisi semula. Dia mengibaskan tangan kanannya yang berdebu, lalu dengan santai menyeka sisa debu batu tersebut ke permukaan jubah linen compang-campingnya yang sudah kotor.
Ji Huang menoleh perlahan, menatap wajah kaku Tetua Agung dengan sepasang mata polosnya yang lempeng tanpa dosa.
"Batu klan kalian sepertinya sudah sangat tua, kedaluwarsa, dan agak rapuh," ucap Ji Huang jujur tanpa filter sedikit pun, suaranya yang malas memecah keheningan aula yang mencekam. "Hanya disentuh sedikit saja sudah langsung hancur menjadi debu kotor seperti ini. Jadi, Tetua Agung, apakah sekarang ritual aneh ini sudah selesai dan perjamuan makannya bisa dilanjutkan kembali? Aku melihat pelayan di sana membawa sup sarang burung spiritual, dan perut pemalasku ini benar-benar belum mencicipinya."
Seluruh petinggi Keluarga Utama membatu di tempat mereka, menyadari bahwa di depan mereka bukan lagi seorang murid cabang yang cacat, melainkan sebuah misteri berjalan yang tidak akan pernah bisa mereka ukur dengan logika dunia kultivasi mereka.