NovelToon NovelToon
Mr. Profesor

Mr. Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Cintapertama
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Amabillis.13

POV:
Kamu jatuh cinta pada dosen dingin dan tampan… lalu berusaha keras mengejarnya.
Mulai dari cari perhatian, pura-pura kebetulan ketemu, sampai diam-diam cemburu pada perempuan lain di dekatnya.

Tapi plot twist-nya...

Dosen itu ternyata tunanganmu sendiri. 😭
Tunangan hasil perjodohan yang dulu kamu tolak sebelum sempat bertemu!

Sekarang siapa yang sebenarnya sedang mengejar siapa?

✨ Romance kampus
✨ Professor x mahasiswa
✨ Lucu, manis, bikin gemas
✨ Banyak momen salting & cemburu

Baca gratis di NovelToon:
Mr. Profesor⁠�

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 4

Ternyata yang Zoya tulis sama sekali bukan catatan kuliah.

Di halaman itu, terpampang rencana… cara mendekati Profesor Arlo.

Beberapa bagian penuh coretan, panah, bahkan tanda silang. Ia tampak benar-benar serius menyusunnya.

Langkah pertama…? Terlalu mencolok.

Langkah kedua… terlalu biasa.

Zoya menggigit ujung pena, berpikir keras.

Bukankah ibunya selalu mengeluh karena ia ingin menjadi selebriti, bukan seorang peneliti?

Lalu bagaimana kalau… ia mendapatkan pacar seorang profesor? Bahkan seseorang dari institut penelitian negara.

Bukankah itu… solusi sempurna?

Membunuh dua burung dengan satu batu.

Senyum tipis muncul di bibirnya. Dalam hati, ia bahkan memberi “jempol” pada dirinya sendiri.

Arlo memasukkan clicker ke dalam saku celananya dengan gerakan tenang.

Lalu, dengan suara seraknya yang khas, ia berkata singkat,

“Kelas selesai.”

Zoya mendongak, menatap sekelilingnya.

Seiring dengan kata-kata itu, suasana kelas langsung berubah. Para mahasiswa yang tadi terpaku mulai bergerak cepat, membereskan buku dan alat tulis untuk mengejar kelas berikutnya.

Sementara itu, mereka yang tidak memiliki jadwal lagi justru sibuk mengeluarkan ponsel… diam-diam mengarahkan kamera ke arah Arlo

Meskipun Profesor Arlo dikenal dingin, sulit diajak bercanda, dan terkesan memiliki jarak dalam berkomunikasi, hal itu sama sekali tidak menghalangi para mahasiswi untuk tetap mengaguminya.

Bagaimanapun juga… mata selalu lebih dulu tertarik pada keindahan.

Siapa yang menyuruhnya memiliki wajah setampan itu… yang bahkan bisa membuat banyak kekurangan terasa “dimaafkan”?

Kadang, harus diakui… memiliki wajah yang menarik memang memberi keuntungan tersendiri, entah disadari atau tidak.

Zoya akhirnya menetapkan langkah awalnya… ia akan menarik perhatian Arlo lewat jalur yang paling masuk akal: akademik.

Menunjukkan minat. Menunjukkan kesamaan.

Masuk ke dunianya.

Namun saat ia benar-benar memikirkan bidang yang dikuasai pria itu, sudut bibirnya sedikit berkedut.

Fisika. Kimia. Matematika.

Tiga hal yang… jujur saja, terasa mematikan bagi kebanyakan orang.

Bukan hanya sulit, tapi juga menuntut konsistensi, logika, dan ketekunan yang luar biasa. Dan Arlo… ia tidak hanya memahami salah satunya, tapi ketiganya, hingga ke tingkat yang sangat tinggi.

Zoya menyandarkan dagunya di tangan, berpikir. Ia hanya masuk kelas matematika Profesor Arlo. Jika ia mengejar arlo maka ia harus lebih terhubung.

Untuk berkomunikasi dengan seseorang jenius yang cenderung memiliki EQ rendah dan tidak terlalu memperdulikan penampilan fisik, satu-satunya cara adalah mengikuti minatnya.

Baginya, kecantikan atau bentuk tubuh yang dianggap sempurna hanyalah sekadar susunan tulang belulang. Bahkan jika kecantikan itu mampu mengguncang dunia, tetap tidak akan berarti apa-apa di matanya. Jadi zoya memutuskan untuk ikut di kelas lain Profesor Arlo, yaitu kimia dan fisika.

Untung saja, dia tidak benar-benar mulai dari nol.

Ia punya modal!

Sejak kecil, ia selalu peraih berbagai prestasi di bidang matematika, fisika, dan kimia… bukan sekadar cukup, tapi cukup menonjol untuk diakui.

Itulah alasan keluarganya, terutama ibunya yang seorang peneliti milik negara, begitu menentang keputusannya terjun ke dunia hiburan.

Bagi mereka, kemampuan seperti itu seharusnya tidak disia-siakan.

Zoya menatap catatannya sejenak, lalu tersenyum tipis.

Ini adalah kelas terakhir Arlo hari ini.

Saat ia mulai merapikan barang-barangnya dengan gerakan rapi dan efisien, Zoya sudah berdiri lebih dulu. Tanpa ragu, ia melangkah maju mendekat.

Sebuah kertas berisi pertanyaan ia sodorkan ke hadapannya… penuh coretan, namun jelas tersusun dengan serius.

Dengan suara pelan namun stabil, ia berkata,

“Halo, Profesor… nama saya Zoya ada beberapa bagian yang saya belum mengerti. Bisakah Anda menjelaskannya sebentar?”

Mendengar suara seorang wanita, gerakan tangan Arlo terhenti sejenak. Ia menoleh sedikit dan melirik Zoya. Saat melihat wajah cantik itu, alisnya sempat berkerut tipis tanpa sadar sebelum kembali tenang. Ia mengambil kertas di tangannya dan mulai membaca pertanyaannya.

Karena ketampanannya, meski sudah ada “pengalaman pahit” dari angkatan sebelumnya yang memperingatkan, tetap saja selalu ada gadis-gadis muda yang percaya diri dengan kecantikan mereka. Mereka datang dengan alasan belajar, berharap bisa mendekatinya.

Mereka berpikir bahwa tidak ada pria yang tidak menyukai wanita cantik… dan selama mereka cukup menarik serta proaktif, akan selalu ada “cerita” yang terjadi.

Namun kenyataan jauh lebih kejam dari itu.

Arlo memang terlihat gagah dan elegan, tetapi dalam urusan akademis, ia tidak mengenal kompromi. Bagi seseorang dengan kecerdasan emosional rendah seperti dirinya, “sopan santun” bukanlah sesuatu yang bisa mengalahkan ketidaktelitian. Matanya tidak mentoleransi sedikit pun kepalsuan.

Mereka yang datang dengan niat lain sambil membawa pertanyaan biasanya berakhir dipermalukan oleh ketajaman ucapannya hingga menangis dan pergi. Lama-kelamaan, hampir tidak ada lagi yang berani mendekatinya dengan cara seperti itu.

Namun, selalu saja ada orang yang tidak takut. Dan sebagai seorang profesor, ia tidak bisa menolak mahasiswa yang datang untuk bertanya. Hal itu sering kali membuatnya merasa terganggu.

Karena itu, saat melihat Zoya yang cantik, Arlo sempat memiliki prasangka.

Namun prasangka itu langsung menghilang begitu ia membaca pertanyaan di kertas tersebut.

Pertanyaan Zoya sangat profesional, dengan sudut pandang yang tajam. Orang tanpa dasar pemahaman yang kuat tidak mungkin bisa mengajukan hal seperti itu.

Tatapan Arlo berubah seketika.

Setelah memberi beberapa pertanyaan tambahan untuk menguji pemahamannya, dan menerima jawaban serta penjelasan yang lancar dan terstruktur, ekspresinya perlahan melunak.

Gadis ini bukan tipe yang mendekatinya karena urusan pribadi, melainkan seseorang yang benar-benar haus akan ilmu. Dan Arlo, yang sangat menghargai ketelitian dalam akademis, tentu tidak keberatan membantu orang seperti itu.

Namun kelas sudah berakhir, dan ruangan akan segera digunakan oleh kelas lain.

Arlo pun berkata, “Mari ke kantor saya. Saya akan menjelaskannya lebih detail di sana.”

Zoya mengangguk patuh. Ia berdiri di samping, menunggu Arlo membereskan barangnya, lalu mengikutinya dari belakang menuju kantor.

Sepanjang perjalanan, Zoya tidak mencoba basa-basi atau berbicara di luar topik. Ia tahu betul bahwa bagi Arlo, pendekatan semacam itu hanya akan dianggap mengganggu. Saat ini, ia hanya seorang mahasiswa yang mendapatkan pengakuan karena pertanyaan akademisnya.

Sesampainya di kantor, mereka mulai membahas masalah matematika tersebut secara mendalam. Zoya memang sengaja menyusun pertanyaannya secara berlapis dan saling berkaitan.

Ketika Arlo akhirnya menyelesaikan penjelasannya, hari sudah sore.

Ia menoleh ke luar jendela. Matahari telah tenggelam, langit mulai gelap tanpa bintang. Rekan-rekan kerja pun sudah pulang.

Di dalam kantor yang luas itu, hanya tersisa Arlo dan Zoya berdua.

Setelah selesai, Zoya merapikan kembali kertas-kertas pertanyaannya dengan rapi. Ia memasukkannya ke dalam map sebelum akhirnya berdiri dengan sopan.

“Profesor,” ucapnya tenang, “biarkan saya mentraktir Anda makan.”

Meski sudah merasa lapar, Arlo tetap mengerutkan kening secara refleks. Tanpa ragu, ia menolak,

“Tidak perlu.”

1
Tamirah
Semangat Thor untuk selalu berkarya.Novel mu menarik untuk dibaca bila belummm ada komentar bukan karena gak suka tapi masih mengikuti alur cerita nya komplik belum terlalu panas. masih aman-aman saja Thor.
Tamirah
Menarik cerita ini,Arlo gak tahu Kalau Jaiden dan Zoya kakak beradik. Apa lagi Arlo tahu Jaiden seorang casanova.bayangan dia jangan sampai Jaiden jatuh cinta sama Zoya menakutkan.Apa reaksi Arlo Kalau tahu Zoya adik nya Jaiden.
Tamirah
Zoya sang artis yg terpikat pada dosen nya tapi ia tidak memperlihatkan ketertarikan biar tidak dianggap murahan.Karena banyak wanita yang mendekati dosen tampan itu dgn menggunakan cara yg sdh bisa ditebak oleh dosen tsb.Beda nya sang artis punya pertanyaan jitu yg bernuansa ilmiah dan juga tdk banyak omong gestur tubuh annggun,gerakan tubuh normal tidak ada unsur menggoda .Justru itu yg membuat dosen tampan penasaran.
fhallenopsis amabilis: Jadi, Gimana.. apakah metode mengejar Zoya ini ampuh? 😄
total 1 replies
Hizbi Hizbi
tentang dunia hiburan?
Ratna Sriistiani
bagus banget 🤗
Nuznul aini
kerennn
Nuznul aini
kerennn👍
EvhaLynn
Semangat Thor😉
fitriana dian85
Thor, tuan muda saksomo kakaknya zoya sangat ketat sama adiknya! kasian arlo
Rahil Ziazun
ih.. seru juga ternyata 😍🤣 semangat Thor 💪
Alia Chans: seru nih, semangat ✍️ nya

dan jangan lupa ya kalo ada waktu mampir juga😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!