NovelToon NovelToon
FAVORITE DISASTER

FAVORITE DISASTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:989
Nilai: 5
Nama Author: Clarice Diane

Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.

Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.

Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Glimps Of Memories

Damien berdiri cukup lama di depan pintu kamar.

Sunyi. Tidak ada suara dari dalam. Namun ia tahu Serena masih di sana. Mungkin menangis. Mungkin ketakutan. Mungkin sedang membencinya sekarang.

Damien mengembuskan napas pelan sambil melonggarkan dasinya. Ia tidak bermaksud sejauh itu. Setidaknya, tidak sepenuhnya.

Namun Serena selalu punya kemampuan aneh untuk membuat sesuatu dalam dirinya kehilangan bentuk. Membuatnya ingin mengendalikan semua sebelum semuanya lepas.

Damien menutup mata sejenak. Seperti biasa, pikirannya langsung memutar memori masa kecil.

Tentang Rumah keluarga Knox selalu terlalu besar dan terlalu dingin. Tidak pernah terasa seperti rumah. Ayahnya mengatur semua. Cara Damien bicara, cara Damien duduk, sekolah mana yang harus ia masuki, orang seperti apa yang pantas berdiri di samping keluarga Knox, menjadi teman anaknya. Bahkan ibunya sendiri tidak pernah benar-benar terlihat bahagia di rumah itu.

Damien masih ingat bagaimana perempuan itu selalu tersenyum kecil sambil berkata, “Jangan membuat ayahmu marah.”

Seolah seluruh hidup mereka hanya dibangun untuk menghindari kemarahan seorang pria. Hingga Damien tumbuh menjadi anak laki-laki yang terlalu terbiasa dikontrol. Lucunya, orang seperti itu biasanya tumbuh menjadi dua hal: seseorang yang patuh sepenuhnya, atau yang lebih buruk; seseorang yang mulai ingin mengendalikan segalanya.

Damien memilih pilihan kedua.

Ia belajar cepat bahwa dunia jauh lebih mudah saat semuanya bergerak sesuai kehendaknya. Orang-orang lebih mudah diprediksi saat mereka bergantung padanya. Dan Serena mungkin contoh paling buruk.

Damien masih mengingat pertama kali melihat perempuan itu. Usia tujuh belas. Seragam sekolah kebesaran. Wajah pucat. Tatapan mata seperti hewan liar yang terlalu lama hidup dalam ketakutan.

Saat itu hujan turun deras di belakang sekolah. Damien sebenarnya hanya menunggu sopirnya datang ketika mendengar suara pecahan botol dari gang sempit belakang gedung olahraga. Dan di sanalah ia melihat Serena pertama kali. Gadis kecil kurus dengan bibir berdarah yang sedang berusaha menahan seorang pria mabuk yang terus menarik lengannya kasar.

“Aku akan melunasi hutang ayahku, tapi jangan menyentuhku!” teriak Serena pada pria itu. Suaranya sangat serak.

Serena terlihat terlalu kecil di bawah hujan malam itu. Namun yang paling Damien ingat bukan wajah cantiknya. Melainkan matanya yang kosong. Seolah perempuan itu sudah terlalu terbiasa disakiti sampai tidak lagi berharap siapa pun datang menolong.

Damien bahkan tidak benar-benar tahu kenapa dirinya ikut campur malam itu. Ia hanya berjalan mendekat, menarik pria itu menjauh dari Serena, lalu memukulnya tanpa banyak bicara.

Damien masih ingat jelas bagaimana Serena menatapnya setelah itu. Bukan dengan rasa kagum atau rasa terima kasih.

Melainkan ketakutan.

Seolah Damien hanyalah monster lain yang akan menyakitinya cepat atau lambat. Dan anehnya, Damien tidak pernah bisa melupakan tatapan itu. Mungkin karena untuk pertama kalinya, ia melihat seseorang yang terlihat lebih hancur dibanding dirinya sendiri.

Setelah malam itu, Damien mulai memperhatikan Serena. Diam-diam. Ia tahu Serena bekerja paruh waktu sepulang sekolah. Tahu perempuan itu sering tertidur di kelas karena tidak bisa tidur di rumah. Tahu ayah tirinya mulai terlilit hutang dan beberapa kali mencoba “menawarkan” Serena pada pria-pria mabuk.

Dan Damien membenci semua itu. Bukan karena iba sepenuhnya. Lebih karena ia tidak tahan melihat sesuatu yang rapuh dibiarkan hancur di depan matanya.

Jadi Damien mulai masuk ke hidup Serena perlahan. Membelikan makan, mengantar pulang, membayar sekolahnya diam-diam.

Lalu tanpa sadar, Serena mulai bergantung padanya. Dan Damien menyukai itu. Sangat menyukainya.

Karena Serena menatapnya seperti seseorang yang akhirnya menemukan tempat aman.

Sementara Damien, menyukai fakta bahwa dirinya menjadi pusat dunia seseorang. Mungkin sejak awal memang seperti itu. Bukan cinta yang sehat, melainkan kebutuhan untuk memiliki dan dibutuhkan.

Kilas balik itu berakhir ketika Damien membuka matanya perlahan. Tangannya bergerak membuka kunci kamar dan memutar knop-nya.

Ruangan itu gelap kecuali cahaya redup dari lampu samping tempat tidur.

Serena duduk di sudut ranjang dengan lutut tertekuk dan mata sembab. Rambut panjangnya berantakan, sementara tubuhnya masih mengenakan kemeja putih Damien yang kebesaran.

Perempuan itu langsung menegang saat melihat Damien masuk, hingga ada sesuatu dalam ekspresi takut itu yang justru membuat dada Damien terasa aneh.

Salah. Namun juga memuaskan dengan cara yang buruk.

Damien berjalan mendekat perlahan sebelum duduk di tepi ranjang seolah satu jam lalu tidak pernah terjadi apa-apa. Membuat Serena menciut.

“Maafkan aku sudah membuatmu takut?” bisik Damien dengan suara rendah.

Serena tidak langsung menjawab.

Damien mengangkat tangan perlahan, menyentuh pipi Serena dengan jemari hangatnya. Lembut sekali. Sangat berbeda dibanding sebelumnya.

“Aku minta maaf.” Nada suaranya tenang. Dan stabil.

Begitu meyakinkan hingga Serena mulai terlihat ragu pada ketakutannya sendiri. Pria itu memang selalu tahu cara membuat Serena kembali.

...----------------...

...To be continue...

1
Azizi zahra
semangat nulisnya author 💪
kentos46: lanjut thor💪👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!