"Saat Setya membuang Arumi demi wanita muda yang lebih cantik, ia lupa bahwa rezekinya tertitip pada doa sang istri sah. Kini, setelah jatuh miskin dan dipecat, Setya terpaksa kembali bersimpuh hanya untuk mengemis pekerjaan di gudang milik Arumi—wanita yang kini menjadi bosnya sendiri."
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Durhaka di Balik Pintu ICU
Lorong Rumah Sakit Medika Utama terasa begitu dingin dan mencekam bagi Setya. Ia duduk bersimpuh di lantai selasar, tepat di bawah papan lampu bertuliskan "ICU" yang menyala merah. Seragam biru staf kebersihannya masih melekat di tubuh yang gemetar, namun pikirannya terbang melayang. Rasa bersalah yang teramat sangat kini menghimpit dadanya hingga ia sulit untuk sekadar menarik napas.
Beberapa jam yang lalu, Setya melakukan kesalahan yang sangat fatal. Karena terus-menerus diteror oleh ancaman Mbak Lastri dari dalam lapas, Setya kehilangan akal sehatnya. Ia pulang ke rumah Ibu Aminah dalam kondisi histeris, menangis, dan bersujud di kaki ibunya. Bukannya menanyakan kabar sang ibu yang kelelahan, Setya justru merongrong dan memohon agar Ibu Aminah menyerahkan sertifikat rumah asli miliknya untuk diserahkan kepada Arumi sebagai jaminan pinjaman uang ratusan juta demi menyelamatkan Raya dari siksaan di penjara.
Ibu Aminah yang mendengar kebodohan anak laki-lakinya—yang masih saja buta membela wanita pelakor penjahat yang sudah mencoba membakar gudang—sontak mengalami guncangan batin yang luar biasa. Harapan melihat anak laki-lakinya bertobat sirna seketika. Wanita tua itu memegangi dadanya yang sesak sebelum akhirnya jatuh pingsan dengan napas memburu. Dokter menyatakan Ibu Aminah mengalami serangan jantung parah akibat tekanan batin dan syok yang teramat sangat.
"Ibu ... maafkan Setya, Bu..." ratap Setya sambil memukul lantai rumah sakit dengan kepalan tangannya yang kasar.
Langkah kaki yang tegas memecah keheningan lorong. Setya mendongak. Arumi datang bersama Kak Nia. Wajah Kak Nia merah padam, matanya menyalang penuh amarah yang berkilat saat melihat Setya duduk di sana. Sebelum Setya sempat berdiri, Kak Nia sudah melangkah maju dan mendorong pundak Setya hingga pria itu membentur dinding koridor dengan keras.
"Mau apa lagi kamu ke sini, Setya?! Belum puas kamu membuat Ibu sekarat di dalam?!" jerit Nia dengan suara tertahan, air matanya menetes deras karena menahan geram.
"Kak ... aku cuma mau lihat Ibu. Aku anak kandungnya, Kak..." mohon Setya dengan suara parau, memelas simpati.
"Anak kandung?" Kak Nia tertawa getir, suaranya dipenuhi rasa jijik yang amat sangat. "Anak kandung macam apa yang tega merongrong ibunya yang sudah tua demi membela perempuan pelakor murahan itu?! Kamu itu bukan anak, Setya! Kamu itu pembunuh perlahan bagi Ibu! Sejak kamu menikahi Raya dan mengkhianati Arumi, tidak ada satu hari pun di mana Ibu bisa tidur dengan tenang. Dan sekarang, kamu mau menukar nyawa Ibu demi pelakor itu?!"
Setya beralih menatap Arumi yang berdiri di samping Kak Nia, mencoba mencari sedikit saja celah belas kasihan dari wanita yang dulu begitu memujanya. "Rum ... tolong, Rum. Izinkan aku masuk sebentar saja. Aku mau minta maaf sama Ibu..."
Arumi berdiri setenang patung marmer. Blazer hijau zamrud yang dikenakannya tampak sangat kontras dengan seragam kusam staf kebersihan yang melekat di tubuh Setya. Ia menatap Setya dari atas ke bawah tanpa ada riak emosi sedikit pun di matanya. Dingin, sedingin es kutub.
"Setya, hakmu untuk masuk ke ruangan itu sudah dicabut oleh dokter dan oleh kami sebagai pihak keluarga," ujar Arumi dengan nada datar tapi mampu menembus hingga ke tulang.
"Dokter bilang, Ibu tidak boleh mengalami stimulasi emosi negatif sekecil apa pun. Dan melihat wajahmu, mendengar suaramu, adalah racun terbesar bagi jantung Ibu saat ini. Kamu adalah alasan utama Ibu terbaring di sana, jadi berada di dekat kamar ini saja adalah sebuah pelanggaran."
"Tapi aku berhak, Arumi! Aku ini sedarah dengan Ibu! Kamu itu cuma mantan menantu!" Setya mulai frustrasi, ego maskulinnya yang terluka mencoba memberontak.
Arumi tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang sanggup meruntuhkan sisa-sisa harga diri Setya hingga ke dasar bumi.
"Mantan menantu yang kamu sebut ini, Setya, adalah orang yang baru saja menandatangani jaminan pembayaran untuk kamar ICU ini. Mantan menantu inilah yang membayar seluruh biaya dokter spesialis terbaik dan obat-obatan mahal agar jantung ibumu bisa kembali berdetak," kata Arumi, setiap katanya ditekan dengan pelan sekaligus mematikan.
"Setya, ibu masuk ke ruangan itu karena serangan jantung setelah kamu merongrongnya demi perempuan yang bahkan tidak pernah Ibu sudi anggap sebagai manusia, apalagi menantu. Kamu menukar kesehatan ibu kandungmu sendiri dengan keselamatan seorang pelakor di penjara. Jadi, jangan pernah sebut dirimu anak kandung yang berhak di sini, karena di mata kami, kamu hanyalah pembunuh berdarah dingin bagi ibumu sendiri. Sedangkan untuk membeli sebungkus kapas saja, kamu harus mengemis gaji dari mantan istrimu. Jadi, di mana letak hak yang kamu banggakan itu?"
Setya seketika membeku. Kata-kata Arumi benar-benar menelanjangi kenyataan pahit bahwa dia sama sekali tidak berguna dan tidak punya harga diri lagi.
"Arumi benar," Kak Nia menimpali dengan sinis. "Semua biaya pengobatan Ibu ditanggung penuh oleh usaha bumbu instan Arumi. Kalau kami mengandalkan kamu, mungkin Ibu sudah dipindahkan ke bangsal kelas bawah tanpa penanganan yang layak. Pergi kamu dari sini, Setya! Seragam yang kamu pakai itu seragam kebersihan gudang Arumi, kan? Sana kembali bekerja! Sapu halaman parkir itu dengan benar agar kamu punya uang buat makan besok. Jangan jadi benalu di rumah sakit ini!"
Setya merasa hatinya seperti diremas dan dibuang ke tempat sampah. Ia melihat pintu kaca ICU yang tertutup rapat. Di dalam sana, ibunya sedang berjuang antara hidup dan mati karena ulahnya sendiri. Dan di luar sini, dua wanita yang dulu sangat menyayanginya, kini menatapnya seolah ia adalah hama yang harus diusir jauh-jauh.
Saat Setya masih terpaku dalam kehinaannya, Dhanu muncul dari tikungan lorong. Pria itu membawa beberapa botol air mineral dan makanan kecil untuk Arumi dan Kak Nia. Dhanu tidak memakai jas, hanya kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, namun aura mapan dan kepemimpinannya tetap terpancar kuat.
"Arumi, Kak Nia, ini ada sedikit air dan roti. Kalian harus tetap menjaga kondisi tubuh," ujar Dhanu dengan sangat perhatian.
"Terima kasih, Dhanu. Untung ada kamu yang mengurus administrasi pendaftaran tadi," ucap Kak Nia dengan nada yang sangat ramah, berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan caranya bicara pada Setya tadi.
Dhanu melirik Setya yang masih terduduk di lantai dengan seragam kusamnya. Dhanu tidak memaki, tidak juga menghina secara kasar. Ia hanya menatap Setya dengan pandangan kasihan—jenis pandangan yang paling dibenci oleh pria yang punya ego tinggi seperti Setya. Pandangan seolah Setya adalah pengemis jalanan yang malang dan tak berdaya.
"Setya, lebih baik kamu pulang ke ruko atau ke rumah ibumu untuk membersihkan diri," ujar Dhanu tenang, namun penuh penekanan berwibawa.
"Kehadiranmu di sini tidak membantu apa-apa selain memperkeruh suasana hati Nia dan Arumi. Biarkan mereka fokus mendampingi Ibu."
Setya mengepalkan tangannya. Pria asing ini... pria asing ini mengatur hidupnya lagi, di depan kamar ibunya sendiri! Namun, saat Setya melihat Arumi yang menerima botol air dari Dhanu dengan senyuman lelah dan tulus, Setya tahu dia sudah kalah telak. Kursinya sebagai pelindung keluarga sudah sepenuhnya diambil alih oleh Dhanu.
Dengan langkah gontai dan kepala tertunduk, Setya berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Di sepanjang jalan, orang-orang melihat seragam birunya yang kotor dengan pandangan heran dan berbisik-bisik. Setya menangis tanpa suara.
Ia menyadari sebuah kebenaran yang sangat logis: Hukuman yang diberikan Arumi bukan lagi soal uang atau pekerjaan, melainkan pengasingan sosial. Setya secara perlahan dihapus dari peran-peran penting dalam hidup orang-orang yang dicintainya karena kebodohannya sendiri. Ia masih hidup, ia masih ada di dekat mereka, namun ia diperlakukan seperti hantu yang tidak berharga dan membawa sial.
Malam itu, Setya kembali ke gudang kosong yang sepi. Ia mengambil sapu lidinya, menatap langit malam, dan berbisik pada dirinya sendiri dengan penyesalan yang membakar sumsum tulang.
"Ibu ... maafkan anak durhaka ini..."
Hukum tabur tuai kembali berputar satu putaran lebih kencang. Sementara Arumi dan Dhanu semakin dekat karena ujian ini, Setya harus menelan kenyataan bahwa dia adalah mahluk paling asing di dunia bagi keluarganya sendiri, meratapi nasibnya di bawah bayang-bayang kejayaan mantan istrinya.