Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1.Terlahir Kembali diDunia High School DxD
Angin pagi di Kota Kuoh berhembus cukup tenang, namun bagi Saiba Ren, udara ini terasa asing. Ada aroma belerang tipis dan energi suci yang samar-samar menyelinap di antara keramaian manusia. Ren berdiri di trotoar yang cukup padat, tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku celana panjang hitamnya, sementara tangan kanannya merapikan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.
Di balik lensa gelap itu, Six Eyes miliknya sedang bekerja tanpa henti. Ia tidak hanya melihat bangunan atau orang-orang yang berlalu-lalang; ia melihat dunia dalam bentuk susunan atom dan aliran energi. Informasi membanjiri otaknya dalam hitungan milidetik. Struktur fondasi jembatan, sirkulasi darah orang di sampingnya, hingga percikan energi supranatural yang bersembunyi di balik bayangan gang sempit—semuanya terbaca jelas.
Ren menghela napas panjang. Kepalanya sedikit berdenyut karena otaknya masih berusaha memproses perbedaan antara energi Roh yang ia kuasai di Alam Ilahi dengan energi Mana yang mendominasi dunia ini.
"Terlalu berisik," batinnya.
Ia menyandarkan punggungnya pada tiang lampu jalan, membiarkan kebisingan kota menjadi latar belakang pemikirannya. Bayangan pertempuran terakhirnya melawan Tang San masih membekas jelas. Ia ingat rasa sakit saat tubuhnya hancur, namun ia lebih ingat wajah para istrinya yang rela mengorbankan segalanya demi dirinya. Bibi Dong, Liu Erlong... nama-nama itu terasa seperti jangkar yang menjaga kesadarannya agar tidak hanyut dalam kekosongan.
Ren menyentuh dada kirinya. Di sana, di dalam celah ruang yang hanya bisa ia akses, ia bisa merasakan keberadaan Dimensi Penyimpanan Murni. Istri-istrinya ada di sana, tertidur dalam keabadian yang ia ciptakan sebagai perlindungan terakhir.
"Tunggu aku. Aku akan menemukan cara untuk mengembalikan kalian ke sisiku di dunia ini," sumpahnya dalam hati.
Tiba-tiba, sebuah sensasi familiar namun dingin muncul di sudut kesadarannya. Sebuah antarmuka transparan yang hanya bisa dilihat olehnya muncul tepat di depan matanya.
[SISTEM: Proses sinkronisasi dengan aturan alam semesta High School DxD telah mencapai 15%.]
[SISTEM: Deteksi lokasi—Kota Kuoh. Tingkat bahaya: Rendah hingga Menengah. Terdapat aktivitas makhluk supranatural dalam radius 500 meter.]
[REN: Sudah kuduga. Dunia ini tidak sesederhana kelihatannya.]
[SISTEM: Quest Utama diaktifkan—Langkah Awal Pelindung. Tujuan: Memasuki Akademi Kuoh dan mendaftarkan diri. Hadiah: Peningkatan integrasi Template Mokuton sebesar 5% dan pembukaan akses Shop Mall tingkat rendah.]
Ren tersenyum tipis, sebuah senyuman nakal yang sering membuat lawan-lawannya di masa lalu merasa tidak nyaman. Ia menegakkan tubuhnya, membetulkan kerah seragam barunya yang telah ia modifikasi sedikit untuk memberikan kenyamanan lebih.
Ia mulai berjalan, setiap langkahnya terasa ringan berkat manipulasi ruang Infinity yang selalu aktif di sekitar kakinya. Ia tidak benar-benar menyentuh tanah; ada jarak tak kasat mata seukuran atom yang memisahkannya dari debu jalanan.
Di seberang jalan, ia melihat gerbang besar Akademi Kuoh. Bangunannya megah, namun yang menarik perhatian Ren bukanlah arsitekturnya. Melalui Six Eyes, ia melihat sebuah penghalang (Barrier) transparan yang menyelimuti seluruh area sekolah. Sebuah penghalang yang dirancang untuk menyembunyikan sesuatu yang bukan manusia.
"Iblis, ya?" gumamnya pelan. "Setidaknya hidupku di sini tidak akan membosankan."
Ren berjalan melewati gerbang, mengabaikan tatapan mata para siswi yang mulai memperhatikannya. Rambut putih panjangnya yang sedikit berantakan tertiup angin, memberikan kesan misterius yang tak tertahankan. Baginya, ini hanyalah awal dari permainan panjang untuk merebut kembali kebahagiaannya yang sempat dirampas.