"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: SIMFONI MUSIM DINGIN DI LONDON
POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)
Kabut buatan yang kusebut 'London Mist' perlahan mulai menipis, tersapu oleh angin dingin yang berembus dari arah Sungai Thames. Di monitor pusat kendaliku, titik-titik merah yang melambangkan unit 'Iron Bear' satu per satu padam, digantikan oleh status neutralized. Pukul 04.30 dini hari. London masih terlelap, tidak menyadari bahwa di salah satu sudut distrik Savoy, sebuah perang singkat baru saja dimenangkan tanpa menyisakan satu pun noda peluru di halaman koran pagi.
Aku menyandarkan punggungku pada kursi ergonomis, jemariku masih menari pelan di atas papan tik, melakukan sinkronisasi data terakhir. "Papa, detak jantungmu masih di angka 95 bpm. Kau terlalu banyak menggunakan tenaga fisik untuk pria seukuran Sergei. Itu tidak efisien bagi seorang Raja Mafia yang seharusnya sudah bisa membunuh dengan satu tatapan."
Suara Damian Xavier terdengar berat dari interkom taktis. "Dia beruang Rusia, Leo. Kulitnya setebal zirah kendaraan kargo. Tapi kau benar, efisiensi adalah kunci. Unit Ghost sedang mengangkut sisa-sisa 'sampah' ini ke fasilitas penyimpanan sementara."
"Bagus. Tapi pekerjaan kita belum selesai," aku menekan tombol 'Global Execution'. "Alexander Xavier mengira Sergei adalah kartu matinya. Dia tidak tahu bahwa dengan mengirim Sergei ke sini, dia baru saja memberiku kunci enkripsi untuk seluruh jalur penyelundupan Volkov di Laut Hitam. Aku sedang melakukan hostile takeover terhadap seluruh kas mereka di Moscow saat kita bicara."
Aku menatap layar yang menampilkan grafik keuangan yang terjun bebas. Di duniaku dulu, saat sebuah benteng runtuh, hal pertama yang harus dilakukan adalah membakar gudang logistiknya. Itulah yang sedang kulakukan sekarang. Aku tidak hanya mengalahkan Sergei; aku sedang menghapus eksistensi klan Volkov dari peta ekonomi dunia.
“Lea, bagaimana dengan 'tamu' kehormatan kita? Apakah dia sudah cukup sadar untuk menerima kenyataan bahwa dia baru saja kehilangan segalanya?” tanyaku melalui Shadow Talk.
“Dia sedang dalam fase 'Cognitive Dissonance', Kak. Dia masih berpikir bahwa ototnya bisa menyelamatkannya. Aku sedang menunggunya di ruang isolasi bawah hotel bersama Mama. Mama ingin melihat bagaimana 'beruang' ini memohon,” suara Lea berdesir di benakku, dingin dan tajam seperti bilah es.
“Pastikan Mama tetap dalam kondisi stabil. Jangan biarkan Sergei memicu traumanya. Jika dia mulai bicara kasar, gunakan protokol 'Silent Sting',” balasku.
POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)
Ruang bawah tanah hotel The Savoy yang biasanya digunakan sebagai gudang penyimpanan anggur kini telah disulap Leo menjadi ruang interogasi kedap suara yang sempurna. Pencahayaan neon tunggal yang menggantung di tengah ruangan memberikan efek dramatis, memantul di wajah Sergei Volkov yang kini terikat di kursi baja khusus.
Aku duduk di hadapannya, menggoyangkan kaki kecilku yang mengenakan sepatu pantofel hitam mengilat. Di sampingku, Mama berdiri tegak. Dia mengenakan mantel panjang berwarna abu-abu gelap, wajahnya tenang, namun matanya memancarkan kekuatan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Sergei," ucapku lembut. Suaraku adalah nada alto yang dirancang untuk merasap ke dalam alam bawah sadar. "Analisis mikro-ekspresimu menunjukkan bahwa kau sedang memikirkan rute pelarian melalui kedutaan Rusia. Sayang sekali, paspormu baru saja dibatalkan oleh Leo tiga menit yang lalu. Di mata dunia, kau adalah hantu yang tidak memiliki kewarganegaraan."
Sergei mendongak, ludah berdarah menetes dari sudut bibirnya yang pecah akibat pukulan Papa. "Kau... setan kecil. Apa yang kau inginkan?"
"Aku tidak menginginkan apa pun darimu, Sergei. Kau sudah tidak memiliki apa pun untuk diberikan," aku menyesap susu cokelatku yang masih hangat. "Aku hanya ingin Mama melihatmu. Mama, lihat pria ini. Sembilan tahun lalu, dia adalah bayangan yang menghantui mimpimu. Sekarang, dia hanyalah tumpukan daging yang gemetar."
Qinanti melangkah maju. Dia tidak lagi gemetar. Dia menatap Sergei dengan tatapan seorang kurator seni yang sedang membedah lukisan sampah. "Jadi, kau yang dikirim Alexander untuk membakar galeri lamaku? Kau yang membunuh Maya jika Damian tidak sampai tepat waktu?"
Sergei menyeringai liar. "Alexander membayarku mahal untuk menghapus noda sepertimu dari silsilah Xavier!"
Analisis: Dia berbohong tentang motivasi utamanya. Bahu kirinya bergerak sedikit ke depan—dia sedang melindungi sebuah informasi.
"Bohong," aku menyela dengan nada datar. "Kau tidak melakukannya demi Alexander. Kau melakukannya karena klan Volkov sedang bangkrut dan kau butuh modal untuk perang di perbatasan Timur. Alexander hanyalah pionmu untuk masuk ke pasar London. Dan sekarang, pionmu sudah tumbang, dan rajamu... rajamu baru saja kubekukan asetnya."
Wajah Sergei berubah pucat. "Bagaimana... bagaimana kau bisa tahu tentang perang perbatasan?"
"Karena aku membaca jiwamu seolah itu adalah buku cerita anak-anak yang membosankan," aku mengeluarkan tabletku, memperlihatkan rekaman langsung mansion Volkov di Moscow yang kini dikepung oleh unit 'Ghost'. "Pilihannya sederhana, Sergei. Bicara tentang rencana Alexander selanjutnya di London, atau aku akan menekan tombol 'Delete' pada seluruh eksistensi keluargamu di Moscow."
POV: QINANTI (Mama)
Aku menatap pria raksasa di depanku. Sembilan tahun aku lari, sembilan tahun aku merasa seperti mangsa yang dikejar pemangsa yang tak terlihat. Namun, berdiri di sini, di samping Lea yang tampak begitu berwibawa meski tubuhnya masih sangat kecil, aku menyadari satu hal: monster yang sesungguhnya bukan pria di kursi ini. Monster yang sesungguhnya adalah kelemahanku sendiri.
"Hentikan, Lea," ucapku pelan.
Lea menoleh padaku, matanya yang jernih tampak bertanya-tanya. "Mama merasa kasihan?"
"Tidak," aku menggeleng tegas. Aku mendekati Sergei, menunduk hingga wajahku hanya berjarak beberapa inci darinya. "Aku ingin dia tahu bahwa bukan Damian yang mengalahkannya. Bukan juga teknologi Leo. Tapi aku. Karena aku memutuskan untuk berhenti takut padamu."
Aku mengambil segelas air dingin dari meja, lalu menyiramkannya ke wajah Sergei dengan gerakan yang sangat tenang namun menghina. "Katakan pada Alexander saat kau membusuk di sel nanti. Bahwa mawar yang dia coba injak sembilan tahun lalu, sekarang memiliki duri yang bisa merobek jantungnya."
Aku berbalik, berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh lagi. Di pintu, Damian sudah menunggu. Ia memeluk bahuku, memberikan kehangatan yang selama ini menjadi jangkarku.
"Kau hebat, Qin," bisik Damian.
"Aku hanya melakukan apa yang benar, Damian. Anak-anak kita... mereka melakukan ini untukku. Aku tidak bisa terus menjadi beban dalam strategi mereka," jawabku dengan suara yang kini jauh lebih mantap.
Di dalam ruangan, aku mendengar suara Lea yang kembali dingin. "Nah, Sergei. Sekarang setelah Mama pergi, mari kita bicara dengan cara yang lebih... efisien. Kak Leo bilang dia punya algoritma baru untuk menguji batas ketahanan saraf manusia. Kau ingin mencobanya?"
Aku memejamkan mata sejenak. Aku tahu anak-anakku bukan anak biasa. Aku tahu mereka adalah jiwa-jiwa tua yang kembali untuk menjagaku. Dulu aku takut akan fakta itu. Tapi sekarang? Aku bersyukur. Karena di dunia yang sekejam London ini, aku lebih memilih memiliki 'setan kecil' yang mencintaiku daripada malaikat yang membiarkanku hancur.
POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)
Pukul 06.00 pagi. Cahaya matahari pertama menembus kabut London yang mulai menghilang. Aku berdiri di balkon suite, menatap ke arah Big Ben di kejauhan. Operasi 'Winter Symphony' resmi berakhir dengan tingkat keberhasilan 99,8%. Variabel kegagalan hanya terletak pada sosis sarapan Papa yang sedikit terlalu asin.
"Laporan status," perintahku saat Damian, Qinanti, dan Lea masuk ke ruangan.
"Sergei sudah bicara," Lea melompat ke sofa, meletakkan tabletnya. "Alexander menyiapkan 'Perjamuan Terakhir' di gedung parlemen besok malam. Dia mengundang seluruh dewan direksi global Xavier. Rencananya adalah melakukan mosi tidak percaya terhadap Papa dan menyatakan Papa tidak stabil secara mental untuk memegang kendali Vipera Corp."
"Mosi tidak percaya?" aku menyeringai tipis. "Strategi politik yang usang. Dia ingin menggunakan hukum untuk merebut apa yang tidak bisa dia ambil dengan senjata."
Aku menoleh pada Mama yang sedang duduk di kursi dekat jendela, menatap matahari terbit dengan senyum tenang. "Mama, besok malam adalah pertunjukan utama kita. Aku butuh Mama menjadi wajah dari Vipera Corp yang baru. Mama akan memberikan pidato tentang integritas dan masa depan seni dalam korporasi."
"Pidato?" Mama tampak terkejut. "Leo, Mama bukan pembicara publik."
"Mama adalah seorang kurator. Mama tahu cara menjelaskan nilai dari sesuatu yang abstrak kepada orang awam. Korporasi ini hanyalah kanvas besar, Ma. Dan Papa adalah catnya. Mama hanya perlu menjadi seniman yang menyatukannya," aku berjalan mendekati Mama, menggenggam tangannya yang halus. "Jangan khawatir. Lea sudah menyiapkan analisis profil setiap anggota dewan yang akan hadir. Mama akan tahu rahasia mereka bahkan sebelum mereka menjabat tangan Mama."
Damian melangkah maju, berdiri di samping kami. "Kita akan melakukannya bersama, Qin. Untuk pertama kalinya, klan Xavier akan melihat sebuah keluarga yang sesungguhnya. Bukan sekumpulan predator yang saling memangsa."
Aku menatap mereka semua—keluarga yang aneh ini. Di kehidupan sebelumnya, aku adalah marsekal yang mati sendirian di tengah medan perang yang dingin. Di sini, aku memiliki benteng yang tidak akan pernah bisa ditembus oleh peluru mana pun: cinta yang tidak logis namun memiliki daya hancur yang luar biasa terhadap musuh.
“Lea, siapkan gaun paling provokatif untuk Mama besok malam. Aku ingin Alexander merasa bahwa dia sedang berhadapan dengan matahari yang terlalu silau untuk matanya yang sudah tua,” ucapku lewat pikiran.
“Diterima, Kak. Aku sudah memesan gaun dari desainer rahasia di Paris. Mama akan menjadi variabel yang membuat seluruh dewan itu kehilangan fokus dalam lima detik pertama,” balas Lea dengan kerlingan mata nakal.
Aku kembali menatap ke luar jendela. London mungkin tampak tenang sekarang, tapi besok malam, kota ini akan menyaksikan sejarah baru. Sejarah di mana seorang Raja Mafia, seorang Ratu Seni, dan sepasang penguasa bayangan melakukan skakmat terakhir terhadap Orde Lama.
"Checkmate, Papa," bisikku lirih.
Damian tertawa, merangkulku dan Lea. "Ya, Leo. Untuk hari ini, kita menang. Sekarang, bisakah Marsekal ini memberiku izin untuk tidur selama dua jam?"
"Izin diberikan, Papa. Tapi hanya jika kau berjanji untuk tidak mendengkur. Itu mengganggu frekuensi sensor pengintai milikku," jawabku datar, yang disambut oleh tawa renyah dari Mama dan Lea.
Di bawah langit London yang kian cerah, fajar kemenangan mulai menyingsing. Kami sudah siap.