Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.
Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Hanya diterangi dari cahaya remang dari lubang tray slot yang jauh kebih kecil dari biasanya, Ilyar mendapati dirinya berada dalam ruang sempit berdinding batu kasar, terasa dingin, hening dan pengap.
Dia bangun terduduk dan merintih kesakitan sesaat tarikan napas membuat dadanya seperti tertusuk. Meraba bagian tubuh yang sakit, Ilyar menebak jika beberapa tulang iganya patah dan tanpa menerima perawatan, sekarang dia dimasukkan ke ruang sempit yang bahkan untuk dua orang tempati saja sesak, itu adalah ruang perenungan yang berada di lantai tujuh.
"Dari pada ruang perenungan, bukankah ini adalah ruang penyiksaan mental? Siapa yang bisa merenungkan kesalahan di ruangan yang bahkan berdiri saja tidak menyisakan ruang di sampingnya?" Ilyar berkomentar sembari meringis tatkala denyut perih terasa memenuhi wajah yang babak belur dan terdapat luka di bagian pelipis.
Tap ... tap... tap ...
Siapa itu?
Ilyar menajamkan indera pendengar tatkala suara langkah sepatu yang terasa berat menghentak lantai batu di lorong dengan keras hingga suara derapnya agak bergema.
Tap!
Huh?
Suara langkah berakhir tepat di depan pintu besi dan Ilyar bisa melihat bayangan di bawah celah pintu.
"Solomon?"
Orang di luar pintu mengukir senyum lalu melesakkan kunci pada lubang, didorong dan diputar perlahan. "Tebakanmu benar."
Solomon telah berdiri di hadapan Ilyar setelah pintu dibuka. Senyumnya terukir saat melihat penampakan putri Agor yang babak belur, tapi tatapannya masih begitu tajam.
"Bagaimana rasanya?" tanya Solomon.
Ilyar diam sejenak, memutar kembali setiap adegan perkelahian dengan tahanan itu. Rasanya mendebarkan, menyakitkan, dan menakutkan, tapi anehnya dia merasakan sensasi yang tidak begitu buruk.
"Ada apa?" tanya Solomon.
"Aku tidak cukup puas," jawabnya.
Tidak cukup puas? Solomon mengangkat sebelah alis. Dia sudah mendengar cerita lengkapnya dari Heidan, sipir termuda yang baru-baru ini dia tarik untuk menjadi salah satu orangnya dan diberi tugas memata-matai Ilyar.
Ketika mendengar kabar itu, Solomon cukup terkejut dan berpikir Ilyar akan berakhir di bangsal perawatan separah Adrene dan Rubia, tapi siapa sangka saat ke bangsal perawatan, yang dia temui adalah lawan gadis itu. Lehernya dibalut perban cukup tebal, katanya Ilyar merobek daging lehernya dengan gigi.
"Jadi apa yang mau kamu lakukan? Dia akan membalas dendam," kata Solomon.
"Berapa lama aku akan berada di sini?" tanya Ilyar.
"Hm?" Solomon tampak berpikir sembari mengobservasi Ilyar dari atas sampai bawah melalui tatapan yang tajam.
"Berlatihlah selama sepekan di ruangan ini. Aku akan mengajarimu dasar-dasar yang harus dimiliki seorang pemula. Terutama dasar fisik, kamu benar-benar butuh pemahaman tentang itu," ungkap Solomon.
"Jadi apa yang harus kulakukan di ruang sesempit ini?" tanya Ilyar sembari menoleh kanan kiri, hanya ada dinding batu yang dingin dan lembap tertangkap pandangannya.
Solomon mengulas seringai. "Pertama-tama kamu harus melakukan sedikit pemanasan."
***
Empat hari telah berlalu sejak Ilyar dikirim ke lantai tujuh untuk perenungan dan Adrene serta Rubia telah kembali ke ruang tahanan mereka, meski belum terlalu pulih setidaknya mereka bisa melakukan aktivitas seperti biasa sambil meringis-ringis kecil. Masih ada jejak luka di wajah mereka, lebam-lebam samar.
"Apa? Anak itu bertarung dengan tahanan lain?" Adrene tampak tidak percaya dengan apa yang diceritakan Valeris. Mulai dari terkena bisa serpeis sampai dengan berseteru dengan tahanan pria yang berusia lebih tua dengan ukuran tubuh dua kali lipat lebih besar.
"Dia menggigit leher lawan seperti hewan buas. Aku tidak menduga dia punya sisi mengerikan seperti itu dan yang paling menakutkan adalah bagaimana dia bersikap setelah membuat lawannya berdarah-darah," jelas Valeris sambil menggerakkan tangan antusias. Dia sampai memperagakan bagaimana Ilyar melakukannya.
"Dia terlihat seperti monster kera. Melompat ke punggung musuh lalu mengoyaknya dengan satu gigitan beringas!" Valeris mengepalkan tangan di depan dada.
"Anak itu benar-benar monster," komentar Rubia.
"Seharusnya dia berada di ruang perenungan selama tiga hari, tapi sudah empat hari berlalu dan dia belum kembali. Apa semua baik-baik saja?"
Adrene jadi cemas.
"Aku bertanya pada Heidan. Katanya Ilyar akan berada selama sepekan di sana."
"Heidan?"
"Ya, sipir muda yang bertugas di lantai kita," jawab Valeris.
"Ah, sipir muda yang tampan itu. Dia selalu berkeliaran di sekitar kita, apa mungkin dia suruhan seseorang untuk memata-matai kita?" terka Rubia.
Adrene menyentuh ujung dagu, dahinya mengernyit lalu geleng-geleng kepala. "Semua jadi mencurigakan sejak anak itu bersama kita."
"Ya, dia bukan orang biasa. Kehidupan para bangsawan sungguh rumit, ya," imbuh Rubia.
"Aku sungguh benci para bangsawan, mereka semena-mena setelah mendapatkan apa yang diinginkan. Kuharap anak itu tidak demikian," kata Adrene.
"Dia tahu rasanya diperlakukan tidak adil," ucap Valeris.
"Kuharap dia segera kembali," ucap Rubia agak masam.
Padahal Ilyar tidak banyak bicara, tapi ketidakhadirannya membuat suasana ruang tahanan terasa sepi. Lebih dari itu, apa yang harus mereka lakukan agar Morvak tidak mendekati Ilyar? Melaporkannya pada petugas? Mereka saja tidak bisa berbuat apa pun ketika perkelahian terjadi.
"Morvak akan berada cukup lama di lantai tujuh, mungkin sekitar dua minggu, setelah itu dia akan dieksekusi beberapa hari setelahnya," beritahu Valeris tatkala melihat Adrene dan Rubia saling pandang dengan cemas.
"Kalau begitu sebiasa mungkin kita menghindarinya. Dia bukan tandingan kita. Kalau saja rantai ini tidak mengekangku, Morvak adalah lawan yang mudah," kata Rubia sembari menatap borgol gelang yang melingkar di pergelangan tangan. Terdapat rune di permukaan borgol yang berfungsi menyegel kekuatan sihirnya.
Sementara itu, di waktu bersamaan, di sepanjang lorong yang sisi kiri kanannya terdapat pintu-pintu penjara dan suluh yang berkobar tak beraturan, makian serta suara-suara berat nan bising menggema. Itu berasal dari dalam pintu yang mengurung para narapidana. Mereka tidak tahan berada di sana meski baru beberapa jam berlalu. Menyesakkan, bau, dan membuat frustasi. Namun, dari sekian banyaknya pintu, hanya ada satu ruangan yang tampak tenang, seolah tidak ada orang di dalamnya. Akan tetapi, deru napas berat yang perlahan beraturan dibarengi bulir-bulir keringat yang menyentuh lantai berbatu kasar dalam ruang tersebut menjadi satu-satunya suara paling menenangkan dari sekian banyaknya ruangan.
Tadinya hanya ada dia dalam ruangan. Tidak ada kasur atau sejenisnya, tapi sekarang terdapat benda-benda seperti batu bulat besar yang begitu padat dan rantai.
"Enam ratus! Hah!"
Orang yang ada dalam ruangan tersebut, Ilyar Justina Valgard langsung jatuh tengkurap setelah menyelesaikan push-up sebanyak enam ratus kali. Dia telah melakukannya selama empat hari secara bertahap dari hari pertama dengan permulaan 100 kali push-up disusul latihan fisik lainnya seperti angkat beban dan pull-up.
Awalnya dia ragu bisa memulai latihan itu sesuai arahan Solomon karena di hari berikutnya setelah berlatih, sekujur tubuhnya merasakan nyeri otot luar biasa, digerakkan sedikit saja sudah sakit; jantungnya berdebar kebih cepat; dan karena ototnya belum terbiasa, dia menjadi sangat lemas. Meski begitu, Ilyar tidak menyerah. Ini baru empat hari dan dia mulai terbiasa meski harus melakukannya di saat seluruh sendinya terasa kaku.
Grek
Derit panjang dari engsel kokoh pintu ruang penjara perenungan yang dibuka tidak membuat si penghuni di dalam terusik. Dia terlelap dengan napas teratur meski lantai batu tempatnya tergeletak menjadi lembap dan licin karena keringat dari latihan keras.
"Bukankah kamu terlalu keras padanya?" tanya Menthia pada Solomon yang baru saja ikut masuk setelah membukakan pintu.
"Aku hanya memberi arahan. Dialah yang mendorong dirinya sampai seperti ini," jawab Solomon seraya mendongak, memandangi dua batang besi yang sebelumnya berkarat karena sudah tidak dipakai menampakkan lapisan baru yang tampak berkilau. Lantas Solomon merunduk, meraih rantai agak panjang yang tergeletak di sisi Ilyar yang terlelap amat nyenyak.
"Padahal baru empat hari dan dia latihan sekeras ini?" Solomon mengusap serat-serat logam yang terasa amat kasar. Rantai itu digunakan untuk latihan pull-up dengan mencangklongkannya pada dua batang besi yang tergantung kokoh di ruangan.
"Aku hanya memberitahu apa saja yang dia butuhkan, sisanya tergantung bagaimana cara dia melakukannya," kata Solomon sementara Menthia mengembuskan napas sembari memeriksa kondisi tubuh Ilyar.
"Anak ini sedang memulihkan cedera otot sembari meningkatkan enernya saat tertidur?" Menthia terbelalak sembari menjauhkan tangan di setelah memeriksa Ilyar.