Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.
~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~
Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.
▪︎Objek Utama:
- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.
- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).
- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.
.
.
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Pertempuran Terakhir di Perbatasan
Langit di utara Lunaria tidak lagi berwarna biru atau kelabu. Ia telah berubah menjadi hitam pekat, seolah malam abadi telah turun lebih awal. Di dalam kegelapan itu, kilatan-kilatan ungu dan hijau menyambar-nyambar tanpa henti, tanda bahwa pertempuran dahsyat sedang terjadi di sana.
Elara dan Kael melaju dengan kecepatan penuh. Mereka tidak lagi berjalan kaki atau menggunakan kendaraan. Dengan kekuatan baru mereka, tubuh mereka melayang beberapa meter di atas tanah, melesat bagai komet yang membelah angin. Di belakang mereka, Darian dan pasukan elit juga berusaha mengejar, namun jarak mereka semakin menjauh karena kecepatan pasangan muda itu kini melebihi batas imajinasi manusia biasa.
"Ini dia," bisik Kael. Di depan mereka, garis pertahanan terakhir terlihat jelas.
Tembok energi besar yang dibuat oleh para penyihir terbaik sudah mulai retak di banyak tempat. Di luar tembok itu, lautan makhluk hitam tanpa bentuk terus menerjang. Mereka adalah The Void Walkers—entitas kehampaan yang menyerupai asap hitam pekat dengan mata merah menyala yang mengerikan.
Setiap kali mereka menyentuh tembok energi, bagian yang tersentuh langsung menghitam dan hancur, seolah-olah keberadaan mereka saja sudah mampu membatalkan hukum fisika.
"Lihat!" teriak salah satu komandan pertahanan. "Mereka akan jebol lagi! Isi ulang energinya cepat!"
Namun para penyihir sudah kelelahan. Wajah mereka pucat pasi, keringat bercucuran deras. Energi mereka hampir habis, sementara musuh tak kunjung habis.
KRAAK!
Suara retakan terdengar nyaring. Sebuah lubang besar terbentuk di tembok pertahanan. Puluhan Void Walkers langsung menyelinap masuk dengan kecepatan kilat, siap menerkam para penyihir yang tak berdaya.
"Ini akhirnya..." pikir salah satu prajurit sambil memejamkan mata, menerima nasibnya.
Namun, tepat saat makhluk-makhluk mengerikan itu akan melahap mereka, tiba-tiba sebuah cahaya ungu yang sangat terang melintas di antara mereka.
SWOOOSH!
Cahaya itu berputar cepat, membentuk pusaran angin yang dahsyat. Semua Void Walkers yang baru saja masuk itu terpental keluar kembali ke dalam kegelapan, bahkan hancur berkeping-keping menjadi debu energi sebelum sempat mengeluarkan suara.
Semua mata terbelalak. Siapa yang melakukan itu?
Di langit, tepat di atas lubang tembok, berdiri dua sosok yang bersinar megah.
"Elara! Kael!" teriak para penyihir dengan haru dan kaget.
"Kami sudah di sini!" seru Elara suaranya bergema seperti lonceng perak. "Kalian istirahat saja! Serahkan sisanya pada kami!"
Kael melangkah maju ke depan, tepat di udara kosong. Ia menatap lautan kegelapan di bawah dan di depannya. Tidak ada rasa takut sedikitpun di hatinya. Hanya ada rasa dingin dan tekad yang bulat.
"Kalian yang telah menyakiti rumah kami..." suara Kael rendah namun menusuk. "Dan kalian yang telah menyakiti orang-orang yang kami cintai."
Kael mengangkat tangan kanannya perlahan. Di telapak tangannya, pedang kristal ungu ciptaannya muncul kembali. Namun kali ini, pedang itu jauh lebih besar dan lebih mengkilap daripada sebelumnya.
"Kalian tidak pantas ada di dunia ini."
HYYAAAHHH!
Kael mengayunkan pedangnya dengan gerakan melingkar yang sempurna.
TRANGGG!!!
Sebuah gelombang kejut berwarna hitam keunguan meledak dari ujung pedangnya. Gelombang itu bukan serangan biasa. Ia tidak meledak atau membakar. Gelombang itu adalah Pembatas Ruang.
Saat gelombang itu menyapu area tersebut, semua Void Walkers yang terkena serangan itu seketika terhenti. Tubuh asap mereka terbelah menjadi dua, lalu lenyap begitu saja, kembali menjadi kehampaan yang sebenarnya. Tidak ada darah, tidak ada puing, mereka benar-benar dihapus dari keberadaan.
Dalam satu ayunan pedang saja, ratusan musuh musnah seketika!
Para penyihir di belakang hanya bisa terdiam dengan mulut ternganga. Itu bukan kekuatan penyihir. Itu adalah kekuatan Tuhan!
Di sisi lain, Elara juga tidak tinggal diam. Ia melihat banyak teman-teman mereka terluka parah, bahkan ada yang nyawanya sudah di ujung tanduk.
Elara mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Kekuatan Pencipta... turunlah dan pulihkanlah!"
Dari langit, hujan butiran cahaya emas turun lembut. Butiran itu menyentuh luka-luka di tubuh para prajurit. Secara ajaib, luka sayat mengering dan menutup, tulang yang patah menyatu kembali, dan energi yang habis terisi penuh seketika.
Wajah-wajah lesu kembali segar, dan rasa sakit hilang digantikan oleh kekuatan baru.
"Sungguh... mukjizat..." bisik salah satu prajurit sambil memegang lengannya yang semula putus, kini utuh kembali.
Namun, musuh utama belum muncul. Meskipun pasukan kecilnya terus dimusnahkan, kabut hitam di kejauhan justru semakin tebal dan memadat.
Tiba-tiba, tanah di bawah mereka bergetar hebat. Dari tengah lautan kabut hitam itu, muncul sebuah sosok raksasa yang sangat mengerikan.
Bentuknya menyerupai manusia setinggi gunung, namun seluruh tubuhnya terbuat dari kegelapan murni yang berputar-putar. Di bagian wajah, terdapat satu mata besar yang berwarna merah darah yang menyala menakutkan.
"ALPHA...... OMEGA......"
Suaranya bukan suara biasa, melainkan gemuruh yang langsung masuk ke dalam pikiran, membawa rasa sakit yang luar biasa.
"KALIAN... ANOMALI... KALIAN... GANGGUAN... KAMI AKAN MENGHAPUS KALIAN... KAMI AKAN MENGEMBALIKAN SEGALANYA MENJADI KOSONG!"
Itu adalah Raja dari The Void Walkers, sang Pemimpin Kehampaan.
"Kael, dia milikku danmu," kata Elara sambil terbang mendekati Kael.
"Ya," jawab Kael. "Kali ini kita gunakan segalanya. Tidak ada lagi ditahan."
Mereka berdua saling bergandengan tangan di udara. Cahaya perak dari Elara dan kegelapan pekat dari Kael berputar kencang, membentuk tornado energi raksasa yang berwarna ungu kemerahan.
Pusaran itu semakin besar, semakin tinggi, hingga menembus awan hitam di langit.
Raja Void itu mengaum marah. Ia menembakkan sinar hitam mematikan dari matanya yang besar. Sinar itu begitu kuat hingga membuat ruang di sekitarnya terbelah.
"SEKARANG!" teriak Elara dan Kael serempak.
Mereka menyatukan kedua tangan mereka ke depan. Gabungan energi terkuat mereka meluncur maju, bertemu langsung dengan sinar hitam musuh.
DUUUUAAAAARRRRR!!!
Benturan kedua kekuatan terbesar itu menciptakan ledakan yang membutakan mata dan memekakkan telinga. Gelombang kejutnya menghancurkan bebatuan di sekitar, membalikkan tanah, dan mendorong awan hingga ribuan kilometer jauhnya.
Seluruh wilayah Lunaria bisa melihat cahaya ledakan itu di ufuk utara, seolah matahari kedua telah lahir kembali.
Pertarungan kekuatan itu berlangsung selama beberapa menit yang terasa seperti jam. Raja Void mendorong dengan segala kehampaan yang ia miliki, namun Elara dan Kael mendorong balik dengan segala cinta dan kehidupan yang mereka miliki.
"KAMI TIDAK AKAN PERNAH KALAH!" teriak mereka berdua. "KARENA KAMI ADALAH KESATUAN YANG SESUNGGUHNYA!"
Energi ungu itu tiba-tiba meledak berkali-kali lipat lebih kuat. Ia menelan sinar hitam musuh, lalu terus melaju menghantam tubuh raksasa Raja Void itu.
"TIIIDDDDAKKKK!!!"
Jeritan kesakitan itu bergema di seluruh dimensi. Tubuh raksasa itu mulai retak, hancur, dan tersedot masuk ke dalam titik energi Elara dan Kael.
Perlahan namun pasti, kegelapan itu menyusut, menghilang, digantikan oleh cahaya terang yang menyapu bersih semua sisa-sisa asap hitam di langit utara.
Ledakan mereda. Angin berhenti bertiup.
Di langit yang kini kembali biru cerah, hanya tersisa dua sosok muda yang melayang lembut. Napas mereka memburu, keringat membasahi wajah mereka, namun senyum kemenangan terukir indah di bibir mereka.
Semua Void Walkers telah lenyap. Ancaman terbesar dalam sejarah Lunaria telah berakhir di tangan mereka berdua.
Mereka menang.
(Bersambung ke Bab 20...)