NovelToon NovelToon
Di Balik Senyum Anak Pertama

Di Balik Senyum Anak Pertama

Status: tamat
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurhikmatul Jannah

"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.

Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.

Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas yang Tak Terlihat

POV Zhira

Hari-hari terus berlalu, dan kini aku sudah memasuki tahun kedua kuliah. Wajahku mungkin terlihat lebih dewasa, tapi luka di hati masih ada bekasnya, hanya saja kini aku belajar cara menutupinya lebih rapi.

Setelah kejadian lomba itu, aku mulai sadar akan satu hal penting: Memberi itu baik, tapi membiarkan diriku hancur demi orang lain itu tidak bijaksana.

Aku mulai mengatur keuangannya dengan lebih cerdik. Uang gaji dari restoran dan uang saku beasiswa, kurelakan sebagian besar untuk dikirim ke rumah sesuai permintaan Ibu Zainal. Tapi untuk uang hadiah lomba, honor menulis, atau bonus-bonus tak terduga lainnya, aku mulai menyimpannya rapat-rapat di rekening terpisah yang tidak ada siapa-siapa tahu nomornya.

Bukan karena aku pelit, tapi karena aku sadar, aku juga punya mimpi. Aku juga butuh masa depan.

Suatu hari, saat sedang duduk di perpustakaan, ponselku bergetar. Pesan masuk dari Ibu.

"Zhira, minggu depan acara syukuran kenaikan kelas Bimo. Ibu butuh uang untuk beli bahan masakan dan sewa sound system. Kamu kirimkan dua juta ya secepatnya. Jangan pelit, ini buat nama baik keluarga juga lho."

Mataku terbelalak. Dua juta? Itu jumlah yang sangat besar bagiku. Bahkan kalau aku mengirim semua uang yang aku punya sekarang, masih kurang.

Jantungku berdegup kencang, campuran antara rasa takut dan rasa kesal yang mulai memuncak.

Aku baru saja membayar uang kost tambahan dan membeli buku wajib yang harganya mahal. Sisa uangku tinggal sedikit untuk makan sebulan ke depan.

"Bagaimana ini..." gumamku pelan.

Jika aku menolak atau bilang tidak punya, pasti akan ada drama besar. Teriakan, makian, dan tuduhan sebagai anak durhaka akan menghujamku lewat telepon. Tapi jika aku memaksakan diri mengirim, maka aku yang akan kelaparan di sini.

Aku memejamkan mata, menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya, aku memberanikan diri mengambil keputusan yang berani.

Aku mengetik balasan dengan tangan gemetar:

"Bu, maaf sekali. Bulan ini kebutuhan kuliah Zhira sangat banyak dan uang beasiswa baru cair minggu depan. Zhira baru bisa kirim 500 ribu sekarang. Sisanya nanti kalau ada rezeki lebih. Zhira juga sedang berhemat di sini, Bu."

Jari-jariku berkeringat saat menekan tombol kirim. Detik demi detik terasa seperti tahun.

Tidak sampai lima menit, telepon berdering keras. Nama Ibu Zainal terpampang di layar.

Aku mengangkatnya dengan hati siap menerima badai.

"HALO! APAAN SIH ZHIRA! KAMU SADAR NGGAK SIHA! ITU BUAT ACAREN KELUARGA! KAMU PENGEN DILIAT KASIHAN SAMA TETANGGA YA? KAMU ITU KAKAK TERTUA, HARUSNYA BISA BERTANGGUNG JAWAB! KAMU PELIT BANGET SIH! UANG DI SANA PASTI BANYAK, BUAT APA DITABUT TERUS!"

Amukan itu meledak begitu saja, tanpa memberiku kesempatan bicara. Suaranya tinggi dan penuh kebencian.

Aku hanya diam mendengarkan, membiarkan kata-kata pedas itu menghujam. Tapi anehnya, rasa sakitnya tidak sehebat dulu. Ada perasaan 'ah, lagi-lagi begitu' yang membuatku sedikit lebih kebal.

Setelah puas memarahi, Ibu menutup telepon dengan membanting.

Aku menurunkan ponsel, lalu menghela napas panjang yang tertahan di dada. Air mata tidak jatuh. Entah karena sudah habis atau karena hatiku mulai membangun tembok pertahanan.

"Sudah, Ra. Kamu sudah berbuat sebisamu. Lima ratus ribu itu juga uang yang kamu dapat dari kerja lembur sampai subuh, itu bukan angka kecil," bisikku menenangkan diri.

 

Malam harinya, saat sedang bekerja di restoran, seorang pelanggan tetap yang sering datang sendirian memperhatikanku. Dia adalah seorang wanita paruh baya yang berpakaian rapi dan sopan, biasa memesan kopi dan kue.

"Nak," panggilnya saat aku sedang membersihkan meja di depannya.

"Iya, Bu. Ada yang kurang?" tanyaku ramah.

"Bukan. Ibu cuma perhatikan, kamu ini selalu senyum dan ramah sekali melayani orang. Tapi kalau kamu sedang tidak melihat orang lain, mata kamu terlihat sangat sedih dan lelah. Ada masalah ya, Nak?" tanyanya lembut.

Pertanyaan itu begitu sederhana, tapi tepat sasaran. Dadaku kembali terasa sesak. Jarang ada orang yang bisa melihat apa yang tersembunyi di balik senyumku.

"Enggak apa-apa kok, Bu. Cuma mungkin kurang istirahat saja," jawabku berusaha tersenyum.

Wanita itu tersenyum tipis, lalu mengeluarkan secarik kertas dan pulpen. Dia menuliskan sesuatu lalu menyerahkannya padaku.

"Ini nomor telepon Ibu. Kalau kamu butuh teman cerita, atau butuh tempat bersandar, hubungi Ibu ya. Nama Ibu Lestari. Ibu merasa kamu anak yang baik dan kuat, jangan biarkan siapapun menghancurkan semangatmu ya."

Aku menerima kertas itu dengan tangan gemetar. Mataku berkaca-kaca.

"Terima kasih, Bu Lestari..." ucapku lirih.

Untuk kesekian kalinya, kebaikan justru datang dari orang yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Sementara dari darah daging sendiri, yang datang hanyalah tuntutan dan luka.

Aku masuk ke belakang dapur, menyembunyikan wajah sebentar untuk menghapus air mata.

"Baiklah Bu Zainal, Ayah Alvin... Aku akan tetap berbakti, aku akan tetap membantu sebisaku. Tapi mulai hari ini, aku punya batas. Aku tidak akan lagi membiarkan diriku diinjak-injak. Aku berharga, dan aku harus menjaga diriku sendiri."

Langkahku kembali mantap. Senyumku kembali terpasang. Tapi kali ini, senyum itu bukan lagi topeng untuk menyembunyikan rasa takut, melainkan topeng kekuatan yang siap menghadapi apa pun yang terjadi.

POV End

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

 

Wah, mulai ada sosok Ibu Lestari nih yang bakal jadi pendukung baru! 💪😊 Gimana Bab 13-nya? Lanjut Bab 14 lagi ya! 📖

1
Mona
Bagus banget Thor, kalimat dan alurnya menarik dan membuat tertarik, keren 👍👍👍👍👍
Nurhikmatul Jannah
ya kak terimah kasih ya😍,iya kak nanti tak mampir
haniswity
ceritanya seruuu ,banyak banget plott twist nya suka banget ,walaupun pemula tapi cerita hebat banget 👋
Nurhikmatul Jannah: Terimah kasih sudah mampir
total 1 replies
haniswity
cerita nya bagus bangett,ngene banget banyak juga plot twist ny💪,semngat
Nurhikmatul Jannah: terimah kasih sudah mampir😍
total 1 replies
Nurhikmatul Jannah
bagus.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!