No plagiat 🚫
Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa
Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.
Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.
Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?
"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarian Pedang Giok Merah
Udara di Kota Qinghe mendadak menjadi vakum. Tekanan energi yang keluar dari tubuh Ming Luo membuat debu-debu di jalanan berhenti beterbangan, seolah-olah waktu sendiri sedang menahan napas. Pasukan Unit Elang Pusat yang tadinya beringas, kini tampak seperti kumpulan domba yang gemetaran di depan seekor harimau lapar.
"Secara logika..." Ming Luo berbisik, namun suaranya terdengar jelas sampai ke ujung jalan. "Jika kalian tetap diam di sana, aku mungkin hanya akan mematahkan kaki kalian. Tapi karena kalian sudah membidik teman masa kecilku dengan panah-panah berkarat itu... maka aku terpaksa melakukan audit pada nyawa kalian!"
"Jenderal Ming Luo! Ini perintah langsung dari Ibukota!" teriak salah satu kapten pasukan Elang Pusat dengan suara gemetar. "Menghalangi penangkapan Pemanah Naga adalah pengkhianatan kasta tinggi!"
Ming Luo hanya menyeringai, sebuah ekspresi yang lebih menyerupai predator daripada seorang manusia. "Pengkhianatan? Hahaha! Aku adalah Jenderal Penakluk Kelas 3. Tugas kedaulatanku adalah menghancurkan musuh. Dan malam ini, kalian semua adalah musuh bagi suasana hatiku yang sedang ingin bernostalgia!"
WUSSSS!
Ming Luo melesat secepat kilat. Pedang giok merahnya mengeluarkan tebasan cahaya horizontal yang membelah udara. Tanpa sempat berkedip, barisan depan Unit Elang Pusat terhempas ke belakang, zirah mereka retak hanya karena tekanan angin dari pedang itu. Ia bertarung dengan gaya yang sangat liar namun presisi—seperti tarian api di tengah badai salju.
Song Yuan memperhatikan dari kejauhan, Busur Kerangka Naganya masih dalam posisi siaga. "Naga Bodoh, apa kau merasakan auranya?" batin Yuan.
"Hehehe, Yuan-er... dia bukan jenderal sembarangan," Ao Kuang mendesis penuh gairah di dalam kepala Yuan. "Aura harimaunya sudah mencapai tingkat pemurnian tahap lanjut. Dia tidak bertarung untuk membunuh, dia bertarung untuk menunjukkan bahwa dia memegang kendali penuh atas kematian mereka. Dia benar-benar 'Error' kasta dewa!"
Hua Ning berdiri terpaku di samping Yuan. Matanya yang jernih menatap pemandangan itu dengan campuran rasa tidak percaya. "Bagaimana mungkin seorang Jenderal Kekaisaran membantai pasukannya sendiri demi melindungimu?"
Yuan melirik Hua Ning sekilas, matanya merah berkilat. "Dia tidak melindungiku, Gadis Tombak. Dia hanya sedang pamer bahwa dia masih lebih kuat dariku. Ming Luo adalah pria yang akan membakar seluruh kota hanya untuk membuktikan bahwa dia pemenang debat."
Di tengah pertempuran, Ming Luo sempat-sempatnya menoleh ke arah Yuan sambil menangkis tiga anak panah mekanik sekaligus. "Oi, Yuan! Kenapa kau diam saja seperti patung pemujaan? Secara logika, kau harusnya membantuku sedikit! Apa kau terlalu sibuk memikirkan ritual putar kasurmu sampai kakimu kaku?!"
"TUTUP MULUTMU, MING LUO!" Yuan akhirnya meledak. Ia menarik tali busur tulang naganya, dan tiga anak panah cahaya hitam tercipta seketika.
Bukan diarahkan ke Ming Luo, tapi ke arah elang-elang mekanik yang sedang menukik dari langit.
CRAAAK!
Ketiga elang besi itu meledak di udara menjadi serpihan logam sebelum sempat melepaskan bom api mereka.
"Hahaha! Begitu dong! Itu baru Pemanah Naga yang aku kenal!" Ming Luo tertawa puas sambil menebas komandan pasukan Elang Pusat hingga terlempar ke dinding bangunan. "Tapi tetap saja, teknikmu masih terasa kaku. Secara logika, kau butuh lebih banyak latihan dan mungkin... sedikit arak untuk melenturkan ototmu yang keras itu!"
Hua Ning tidak tahan lagi. Ia tidak bisa hanya berdiri diam melihat kota yang ia cintai menjadi medan laga dua orang gila ini. Ia menghentakkan tombak bulan sabitnya, dan Roh Cenderawasih Emas meledak dari tubuhnya, menciptakan sayap cahaya yang megah.
"CUKUP!" suara Hua Ning menggelegar, penuh wibawa suci. "Jika kalian berdua ingin bertarung atau bercanda, lakukan di luar tembok Qinghe! Rakyat di sini sudah cukup menderita!"
Hua Ning melesat ke tengah pertempuran, tombaknya berputar menciptakan dinding cahaya yang memisahkan Ming Luo dari pasukan Elang Pusat yang tersisa. Kekuatan sucinya membuat aura gelap Yuan dan aura liar Ming Luo sedikit meredup.
Ming Luo berhenti, menyarungkan pedang merahnya dengan satu gerakan halus yang bermartabat. Ia menatap Hua Ning dengan tatapan kagum yang dibuat-buat. "Waduh, dewi perang kita marah. Secara logika, kalau wanita sudah mengeluarkan sayap, pria harus tahu diri untuk diam."
Ia kemudian menoleh ke arah Yuan yang sudah mendarat di sampingnya. "Nah, Yuan. Kita punya dua pilihan. Kau ikut aku ke kamp perbatasan untuk 'audit' masa lalu kita sambil minum arak, atau kau tetap di sini menemani Gadis Tombak ini bermain pahlawan-pahlawanan sementara Unit Elang Pusat yang lebih besar sedang bergerak menuju sini?"
Yuan menatap Ming Luo, lalu beralih ke Hua Ning yang masih dalam posisi siaga. Di kejauhan, suara genderang perang kekaisaran yang lebih besar mulai terdengar. Ini bukan lagi sekadar pengepungan kecil; kekaisaran benar-benar mengirimkan "Kiamat" ke Qinghe.
"Aku akan pergi," ucap Yuan parau. "Tapi bukan untuk minum arak bersamamu, Ming Luo. Aku pergi karena jalan menuju Ibukota sudah terbuka."
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏