NovelToon NovelToon
Rahasia Hati

Rahasia Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Pengakuan yang Menyesakkan

Minggu sore di kediaman keluarga Dirga biasanya diliputi oleh ketenangan yang menyejukkan. Matahari mulai condong ke ufuk barat, membiaskan cahaya jingga yang menerobos masuk melalui jendela kaca raksasa di kamar mewah Anandara. Tirai sutra berwarna krem sesekali berkibar tertiup angin sepoi-sepoi dari arah balkon. Namun, harmoni sore itu sama sekali tidak terasa di dalam ruangan tersebut. Atmosfer kamar itu justru terasa sangat padat, dijejali oleh rasa gugup yang meletup-letup dan sebuah kepedihan yang tak bersuara.

Sinta sedari tadi mondar-mandir di atas karpet bulu tebal yang membentang di tengah kamar. Bidadari ceria itu menggigit kuku ibu jarinya, wajahnya memancarkan kombinasi antara euforia, kepanikan, dan rasa takut yang luar biasa. Sepatunya sudah ia lepas, menyisakan kaus kaki putih yang bergesekan dengan karpet setiap kali ia berbalik arah.

Di atas ranjang king size, Anandara duduk bersila dengan tenang. Wajah pualamnya memancarkan aura Nyonya Es yang tak tergoyahkan. Ia memangku sebuah buku tebal, pura-pura membaca, namun matanya sama sekali tidak fokus pada deretan huruf di atas kertas. Fokus utamanya adalah menahan agar dinding dadanya tidak meledak melihat tingkah laku sahabatnya.

"Nanda, gue rasa gue udah mau gila," rutuk Sinta, menghentikan langkahnya dan menatap Anandara dengan mata memelas. Gadis itu menjatuhkan dirinya ke tepi ranjang, meremas seprai dengan kedua tangan yang sedikit berkeringat. "Gue nggak bisa nahan perasaan ini lebih lama lagi, Nan. Chattingan sama dia tiap malam, diajarin tugas sama dia, ditatap sama mata elangnya... gue ngerasa kalau gue nggak ngomong sekarang, gue bakal meledak."

Jantung Anandara seolah berhenti berdetak selama satu ketukan, sebelum akhirnya kembali memompa darah dengan ritme yang menyakitkan. Ia menutup bukunya perlahan, meletakkannya di atas nakas, lalu menatap Sinta dengan senyum tipis yang sangat terukur.

"Lo mau nembak dia, Sin?" tanya Anandara, suaranya terdengar sangat stabil dan riang, sebuah kebohongan yang telah ia latih dengan sempurna di depan cermin selama berhari-hari.

Sinta menundukkan wajahnya, pipinya seketika merona merah padam hingga ke telinga. Ia mengangguk pelan, namun sedetik kemudian ia menggeleng dengan frustrasi.

"Iya... eh, nggak tahu, Nan! Gue bingung!" Sinta mengacak rambutnya sendiri. "Gue pengen banget nyatain cinta ke dia, ngasih tahu semua yang gue rasain. Tapi... tapi gue takut. Gimana kalau gue ditolak? Dan yang paling bikin gue overthinking... pantes nggak sih seorang cewek mulai duluan? Nanti gue dikira cewek gampangan nggak sih, Nan? Gue takut Angga malah ilfeel (hilang feeling) kalau gue terlalu agresif nyatain perasaan duluan."

Mendengar keraguan yang keluar dari bibir sahabatnya, Anandara merasakan sebuah hantaman godam yang tak kasat mata meremukkan ulu hatinya.

Jangan lakukan, Sinta. Kumohon, batalkan saja niatmu, jerit ego di dalam relung jiwa Anandara yang paling gelap, meronta-ronta meminta keadilan. Jika kau tidak mengatakannya, mungkin... mungkin masih ada sedikit ruang untukku bernapas.

Namun, ego itu segera disembelih hidup-hidup oleh pisau rasionalitas dan rasa bersalah yang selama ini mengikatnya. Ia teringat kembali pada hari di mana Sinta melompat ke arahnya, mendekap tubuhnya yang memberontak di lantai kamar ini, merelakan nyawa demi menyelamatkannya dari jerat trauma sang ibu.

Anandara Arunika telah berikrar untuk menjadi jembatan bagi kebahagiaan gadis ini. Dan seorang jembatan tidak boleh runtuh, meskipun tubuhnya harus terus-menerus diinjak.

Dengan gerakan yang luar biasa lembut, Anandara menggeser posisi duduknya. Ia meraih kedua tangan Sinta yang terasa dingin karena gugup, lalu menggenggamnya dengan erat. Ia menatap lurus ke dalam sepasang mata Sinta yang dipenuhi keraguan.

"Sinta, dengerin gue," ucap Anandara, suaranya mengalun hangat, sangat menenangkan, menyuntikkan keberanian yang sebenarnya membunuh dirinya sendiri dari dalam. "Perasaan yang tulus itu nggak pernah murahan. Lo bukan cewek gampangan cuma karena lo jujur sama perasaan lo sendiri. Di dunia ini, keberanian buat ngakuin cinta itu adalah hal yang paling mahal dan paling langka."

Anandara memberikan jeda, menelan kepahitan yang terasa seperti empedu di pangkal tenggorokannya.

"Kalau lo emang yakin dia orangnya," lanjut Anandara, matanya mulai sedikit terasa panas namun ia tahan sekuat tenaga. "Maka lo harus perjuangin dia. Jangan biarin ketakutan lo bikin lo menyesal di kemudian hari. Cowok secerdas Angga pasti bisa bedain mana cewek murahan dan mana cewek yang berani jujur karena ketulusan."

Mata Sinta mulai berkaca-kaca mendengar dukungan yang begitu meyakinkan dari sahabatnya. Keraguan di dadanya perlahan terkikis habis oleh afirmasi Nyonya Es itu.

"Lo bener, Nan," bisik Sinta, menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. "Gue harus berani. Gue nggak mau kehilangan momen. Tapi..." Sinta kembali menggigit bibirnya, raut wajahnya berubah menjadi kepanikan yang menggelikan. "Gue nggak berani kalau harus ngomong langsung face to face! Sumpah, Nan, gue pasti bakal pingsan kalau harus natap mata dia sambil bilang 'gue suka sama lo'. Jantung gue bisa copot beneran!"

Anandara terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar natural. "Terus? Lo mau ngomong lewat chat? Itu terlalu biasa, Sin. Nggak ada effort-nya buat cowok sekelas dia."

"Surat!" Sinta menjentikkan jarinya, matanya kembali berbinar terang. "Gue bakal nulis surat cinta buat dia! Klasik, vintage, dan romantis, kan? Gue bakal selipin surat itu di buku catatan yang bakal gue pinjemin ke dia besok!"

"Itu ide yang bagus," puji Anandara mengangguk menyetujui.

"Tapi ada satu masalah lagi, Nan," keluh Sinta, mengangkat kedua tangannya ke udara. Tangan gadis itu benar-benar terlihat gemetar saking gugupnya membayangkan rencana besarnya sendiri. "Tangan gue tremor parah dari tadi! Tulisan gue kalau lagi grogi itu hancur berantakan kayak ceker ayam. Kalau Angga baca, bukannya baper dia malah pusing mecahin sandi rumput. Belum lagi otak gue sekarang blank, gue nggak tahu harus ngerangkai kata kayak gimana biar kedengarannya manis tapi nggak lebay."

Sinta tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Anandara dengan pandangan memohon yang paling memelas, jurus andalan yang tak pernah gagal meluluhkan hati Nyonya Es itu.

"Nanda... bestie gue yang paling pinter, yang paling jago ngerangkai kalimat kalau presentasi, yang tulisannya paling rapi seangkatan..." bujuk Sinta dengan suara mendayu-dayu. "Tolongin gue ya? Tolong tuliskan surat itu buat gue? Gue yang dektein isinya, lo yang bantu poles kata-katanya biar nyentuh, terus lo yang tulis pakai tangan lo. Boleh ya, Nan? Please? Ini nyangkut masa depan asmara gue!"

DEG!

Dunia di sekitar Anandara seketika berhenti berputar. Oksigen di dalam kamar mewahnya itu seolah disedot habis, meninggalkannya dalam ruang hampa yang mencekik.

Permintaan Sinta itu bukanlah sebuah permintaan tolong biasa. Itu adalah sebuah eksekusi mati. Sinta meminta Anandara untuk merangkai kata cinta, menuliskan deklarasi kasih sayang dengan tangannya sendiri, untuk diserahkan kepada satu-satunya laki-laki yang memegang seluruh isi jantung Anandara.

Ini adalah bentuk penyiksaan batin yang paling ironis, paling gila, dan paling menyayat hati yang pernah dikonsepkan oleh takdir. Anandara diminta untuk menjadi perantara cinta antara sahabatnya dan pria yang sangat ia cintai.

Anandara menatap wajah Sinta yang penuh harap. Ia melihat binar kepolosan di mata itu. Sinta tidak tahu apa-apa. Sinta hanya meminta bantuan pada sahabat yang paling ia percayai.

Lakukan, Nanda, bisik sisi martir di dalam kepalanya. Kau sudah membuang suratmu sendiri menjadi abu di balkon itu. Kini, kau harus menulis surat yang sama, namun dengan nama Sinta di bagian akhirnya. Inilah hukumanmu karena berani mencintainya.

Dengan sekuat tenaga menahan gemuruh badai di dadanya, Anandara mengangguk pelan. Sebuah senyum tipis, pucat, namun penuh dengan kasih sayang palsu terukir di bibirnya.

"Bawa sini kertasnya," ucap Anandara singkat.

Sinta memekik kegirangan. Gadis itu langsung melompat dari ranjang, berlari ke arah tasnya, dan mengeluarkan selembar kertas loose leaf berwarna biru muda dengan motif floral di sudutnya. Ia juga menyodorkan sebuah pulpen bertinta hitam pekat.

Anandara bergeser turun dari ranjang, berjalan menuju meja belajarnya yang luas dari kayu oak. Ia duduk di kursi, menyalakan lampu belajar, dan meletakkan kertas biru muda itu di atas meja. Sinta menarik kursi lain dan duduk rapat di sebelahnya, menyandarkan dagunya di atas meja dengan penuh antusias.

"Oke, kita mulai dari mana nih, Nan?" tanya Sinta bersemangat. "Mungkin dari sapaan dulu ya. 'Hai Angga...' gitu?"

Anandara memegang pulpen di tangan kanannya. Jemarinya terasa sangat dingin, sedingin es, nyaris kebas. Ujung pena itu menyentuh permukaan kertas.

Hai Angga, Tulisan tangan Anandara yang elegan, presisi, dan sangat rapi—tulisan yang pernah ia gunakan untuk mencatat seluruh materi akuntansi, tulisan yang sama yang ia gunakan untuk menulis surat yang dibakar tadi malam—kini tercetak di atas kertas milik Sinta.

"Terus, gue pengen bilang kalau gue udah merhatiin dia dari awal masuk kelas," lanjut Sinta dengan mata menerawang ke langit-langit kamar, membayangkan wajah pemuda itu. "Gue pengen dia tahu kalau di balik sikap diamnya, gue bisa lihat ada sesuatu yang hangat di dirinya."

Anandara mendengarkan dikte sahabatnya. Namun, di dalam otaknya, dikte Sinta berpadu dengan jeritan hatinya sendiri. Anandara mulai memoles kata-kata itu, menyuntikkan perasaannya sendiri ke dalam setiap goresan tinta, menciptakan sebuah karya literatur yang lahir dari dua jiwa yang mencintai pria yang sama: satu cinta yang berteriak penuh harap, dan satu cinta yang merintih meregang nyawa.

Tangan Anandara mulai bergerak menulis. Setiap huruf yang ia gurat terasa seperti sebilah pedang berkarat yang menyayat lapisan jantungnya perlahan-lahan.

"Aku tahu ini mungkin mengejutkanmu," tulis Anandara, suaranya di dalam hati membacakan kalimat itu dengan isak tangis yang tertahan. "Bahwa ada seseorang yang secara diam-diam menjadikanmu sebagai satu-satunya pusat rotasi di ruangan yang penuh sesak."

"Wah, Nan, kata-katanya bagus banget! Terus, terus!" seru Sinta takjub melihat keindahan kalimat pembuka itu.

Anandara menelan empedu di tenggorokannya. Ia melanjutkan tulisannya, membiarkan perasaannya yang tak pernah bisa ia ucapkan kepada Angga tumpah ke atas kertas ini, berlindung di balik nama Sinta.

"Sejak hari pertama kita bertemu, ada sesuatu dari sorot matamu yang tidak bisa kuabaikan. Kau tidak pernah banyak bicara, kau membangun dinding keheningan di sekitarmu. Tapi entah kenapa, di balik sikapmu yang sedingin es, aku bisa merasakan sebuah kehangatan yang sangat ingin kurengkuh."

Karena kau memang hangat, Angga, batin Anandara menangis, mengingat bagaimana pemuda itu menggenggam tangannya di tepi jurang, mengingat bagaimana bahu pemuda itu rela hancur demi menjadi tameng untuknya.

Sinta mengangguk-angguk antusias. "Iya, iya bener! Terus Nan, gue pengen bilang kalau gue pengen jadi alasan dia buat tersenyum. Gue nggak mau dia ngerasa sendirian."

Anandara menarik napas panjang. Paru-parunya terasa nyeri, seolah ia sedang menghirup pecahan kaca. Ia menekan ujung penanya sedikit lebih kuat, menyembunyikan getaran tangannya dengan genggaman yang menyakitkan tulang jarinya sendiri.

"Aku mungkin tidak sejenius atau sehebat orang lain di sekitarmu," lanjut Anandara menulis, sebuah kalimat yang sangat cocok untuk Sinta, namun memiliki makna ironis yang mematikan bagi Anandara. "Tapi aku memiliki sebuah ketulusan yang tidak akan pernah menyakitimu. Aku ingin menjadi alasan di balik senyum tipis yang jarang kau tunjukkan. Aku ingin kau tahu, bahwa jika kau mengizinkanku masuk... aku akan merawat luka-lukamu, aku akan berada di sampingmu, dan aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu dalam keadaan apa pun."

Setetes air mata nyaris jatuh dari pelupuk mata Anandara. Ia buru-buru mengerjapkan matanya, menatap lurus ke arah kertas agar Sinta yang berada di sebelahnya tidak melihat matanya yang memerah.

Menulis kalimat "aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu" adalah puncak dari penyiksaannya hari ini. Karena kenyataannya, Anandara-lah gadis yang dengan kejam menepis dan melepaskan tangan pemuda itu saat maut mengintai. Ia menulis janji setia untuk Sinta, menjanjikan hal yang tidak berani ia lakukan sendiri demi sahabatnya itu.

"Ini... ini indah banget, Nanda," suara Sinta mendadak berubah parau. Gadis itu membaca kalimat demi kalimat yang ditulis oleh Anandara dengan mata berkaca-kaca.

Anandara tidak berhenti. Ia harus menyelesaikan eksekusi ini. Ia harus memenggal kepalanya sendiri hingga tuntas.

"Mungkin surat ini terdengar egois. Tapi menyembunyikan perasaan ini jauh lebih menyiksaku. Aku tidak meminta jawaban sekarang juga. Aku hanya ingin kau tahu... bahwa Sinta Maharani sangat mencintai Angga Raditya."

Tinta hitam itu berhenti menggores kertas di titik terakhir.

Anandara meletakkan pulpennya. Tangannya lemas tak bertenaga. Ia merasa seluruh sisa nyawanya telah tersedot masuk ke dalam selembar kertas biru muda itu. Di hadapannya kini tersaji sebuah deklarasi cinta yang paling nyata, paling dalam, dan paling menyentuh. Sebuah surat yang berisi jiwa dan air mata Anandara Arunika, namun secara sah menjadi hak milik Sinta Maharani.

Sinta mengambil kertas itu dengan kedua tangannya yang masih sedikit gemetar. Gadis berlesung pipi itu membaca ulang surat tersebut dari awal hingga akhir. Air mata kebahagiaan dan keharuan menetes dari matanya, jatuh menodai ujung meja kayu.

"Nanda..." isak Sinta, suaranya bergetar penuh emosi. Gadis itu menoleh menatap Anandara. "Ini sempurna. Ini jauh lebih sempurna dari apa pun yang bisa gue pikirin di otak gue. Kata-kata lo... kata-kata ini bener-bener nyentuh palung hati gue yang paling dalem. Persis banget sama apa yang gue rasain buat dia, Nan. Rasanya kayak lo bisa baca pikiran gue dan nerjemahinnya jadi puisi."

Karena aku tidak sedang membaca pikiranmu, Sin. Aku sedang menuliskan perasaanku sendiri, jerit batin Anandara meronta-ronta dalam kepedihan yang absolut. Namun bibirnya hanya tersenyum simpul, sebuah senyuman pucat yang ia paksa melengkung di wajahnya.

"Gue seneng kalau lo suka, Sin," jawab Anandara dengan suara serak yang ia samarkan dengan dehaman pelan. "Semoga surat ini bisa jadi tiket buat kebahagiaan lo."

Tanpa aba-aba, Sinta langsung menubruk Anandara. Bidadari ceria itu memeluk leher Anandara dengan sangat erat, menangis tersedu-sedu karena rasa haru dan terima kasih yang luar biasa besar.

"Makasih, Nanda. Makasih banyak," bisik Sinta di ceruk leher Anandara. "Lo bukan cuma nolongin nyawa gue di pelajaran akuntansi, tapi lo juga nyelamatin kehidupan asmara gue. Lo adalah hal terbaik yang pernah terjadi di hidup gue. Gue sayang banget sama lo, Nanda. Kalau gue beneran jadian sama Angga, lo adalah orang pertama yang bakal gue traktir makan sepuasnya."

Di dalam pelukan itu, tubuh Anandara membeku. Bau parfum floral Sinta yang biasanya menenangkan, sore ini terasa seperti gas beracun yang mencekik saluran pernapasannya.

Anandara mengangkat kedua tangannya yang sedingin mayat, membalas pelukan Sinta dengan kaku. Ia menepuk punggung sahabatnya dengan lambat. Matanya yang hitam legam menatap kosong ke arah dinding kamarnya.

Nyonya Es itu membiarkan Sinta memeluknya, membiarkan sahabatnya menyerap seluruh energi kebahagiaan darinya, sementara ia sendiri hancur lebur tanpa sisa. Di saat Sinta membayangkan masa depan yang indah bersama Angga, Anandara sedang menghadiri pemakaman masa depannya sendiri.

"Gue juga sayang sama lo, Sin," bisik Anandara lirih, sebuah kalimat jujur yang menjadi akar dari seluruh penderitaannya. "Semoga lo bahagia."

Sinta melepaskan pelukannya, mengusap air matanya dengan senyum yang sangat cerah. Ia melipat kertas biru muda itu dengan hati-hati dan memasukannya ke dalam sebuah amplop putih yang elegan. Gadis itu lalu membereskan tasnya, bersiap untuk pulang.

"Gue balik dulu ya, Nan. Gue harus nyiapin mental buat besok nempelin surat ini di catetan yang bakal gue kasih ke dia," pamit Sinta dengan penuh semangat. "Lo istirahat ya, jangan belajar terus. Daaah, Nanda!"

"Hati-hati di jalan, Sin," balas Anandara, mengantarkan Sinta hingga ke depan pintu kamarnya.

Klik.

Pintu kamar berbahan kayu jati itu tertutup rapat. Bunyi kenop yang kembali pada tempatnya terdengar seperti ketukan palu hakim yang menjatuhkan vonis hukuman mati bagi Anandara.

Gadis itu berdiri mematung di balik pintunya selama beberapa detik. Keheningan kamar mewahnya kembali menerkamnya bagai sekawanan serigala buas yang kelaparan. Tidak ada lagi Sinta. Tidak ada lagi kebutuhan untuk memasang topeng senyuman bahagia.

Sekarang, hanya tersisa realita. Realita bahwa ia baru saja menyodorkan pisau guillotine ke lehernya sendiri dan menarik tuasnya dengan tangannya sendiri.

Tiba-tiba, kedua lutut Anandara kehilangan fungsi tulangnya. Ia ambruk. Merosot jatuh di balik pintu kamarnya sendiri, membentur lantai marmer Italia yang dingin.

Anandara memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya di antara lengannya. Dan kemudian, lolongan penderitaan itu pecah.

Bukan lagi isakan tertahan seperti biasanya. Kali ini, Anandara menangis meraung-raung. Suaranya pecah, parau, dan dipenuhi oleh keputusasaan yang merobek langit-langit kamarnya. Tubuhnya bergetar sangat hebat, terguncang oleh badai rasa sakit yang tak bisa dikendalikan oleh logika jeniusnya.

Ia memukul dadanya sendiri berulang kali dengan kepalan tangannya, mencoba mengusir rasa sesak yang luar biasa menghimpit. Rasanya seolah waktu di kamarnya berhenti berputar, memenjarakannya dalam satu detik penderitaan yang diulang terus-menerus.

"Sakit... Tuhan, sakit sekali..." rintih Anandara meronta-ronta di atas lantai, air matanya membanjiri karpet.

Gadis yang terkenal tak tersentuh di seantero Fakultas Ekonomi dan Bisnis itu kini bergulung di lantai kamarnya bagaikan seorang gelandangan yang kehilangan segalanya. Ia telah merelakan cinta pertamanya. Ia telah memberikan perasaannya dalam bentuk surat cinta atas nama orang lain.

Di dalam isakannya yang menyayat hati, Anandara teringat pada ucapan Angga di kantin, teringat pada aroma pemuda itu, dan teringat pada tangan yang penuh luka. Laki-laki itu akan membaca suratnya besok. Laki-laki itu akan membaca kata-katanya, namun akan menatap Sinta sebagai penulisnya. Laki-laki itu mungkin akan memeluk Sinta, membalas perasaannya, karena Angga mengira Anandara benar-benar membencinya dan Sinta-lah satu-satunya yang menawarkan kehangatan.

Anandara telah membunuh cintanya sendiri demi sebuah persahabatan yang ia anggap sebagai rumah. Namun malam ini, di dalam rumah yang ia lindungi dengan darah dan air matanya, ia justru merasa kedinginan, hancur, dan mati perlahan-lahan dalam kesunyian yang paling absolut.

1
Pengamat Senja
👍
Pengamat Senja
jika ada kesalahan tulis, silahkan kritik dan sarannya ya.
pengamat Senja_
Pengamat Senja: makasih kakak, terima kasih kritik dan sarannya 🙏❤️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!