Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Kembalinya Sang Naga dan Hinaan di Mansion Adeline
Pagi itu, suasana Desa Gedangan sudah mulai ramai. Namun, perhatian warga mendadak teralihkan ketika sebuah mobil bak terbuka berhenti tepat di depan rumah Bapak Suryo. Di atas bak mobil itu, terparkir dua unit sepeda motor keluaran terbaru yang masih dibungkus plastik dan diikat pita merah besar.
"Lho, Guntur... itu motor siapa, Le? Kok diturunkan di sini?" tanya Bapak Suryo sambil membetulkan letak sarungnya, bingung melihat orang-orang suruhan dealer mulai menurunkan motor tersebut.
Guntur keluar dari rumah sambil menggandeng tangan Ibu Siti Khumairoh. Di belakangnya, Vanesha Adeline, Bagas, dan Nirmala Sari mengikuti dengan senyum lebar yang sulit disembunyikan.
"Ini buat Bapak sama Ibuk," jawab Guntur singkat sambil menyerahkan dua buah kunci motor kepada orang tuanya.
"Astaghfirullah, Guntur! Ini mahal sekali, Nak! Uangmu apa masih ada buat makan di Jakarta nanti?" seru Ibu Siti sambil mengusap jok motor matic warna putih yang sangat elegan itu.
Guntur merangkul bahu Ibunya dengan penuh kasih sayang. "Ibuk... motor matic ini buat Ibuk. Biar kalau mau belanja ke pasar buat keperluan warung 'Sambal Mak Siti' nanti nggak perlu jalan kaki atau nunggu angkot lagi. Ibuk tinggal gas saja, praktis!"
Lalu Guntur beralih ke Bapaknya dan menunjuk motor bebek bertenaga besar warna hitam metalik. "Dan ini buat Bapak. Biar kalau ke sawah atau ke masjid nggak perlu capek-capek genjot sepeda tua lagi. Bapak sudah waktunya istirahat dari capeknya fisik, Pak."
Bapak Suryo terdiam, matanya berkaca-kaca menatap motor gagah di depannya. Beliau tidak pernah menyangka, anak sulungnya yang berangkat merantau hanya membawa kardus mie instan, kini pulang membawa kemuliaan bagi orang tuanya.
"Terima kasih banyak ya, Le... Bapak bangga sekali punya anak sepertimu," ucap Bapak Suryo sambil memeluk Guntur dengan erat.
Bagas langsung heboh sendiri. "Wih! Mantap Mas Guntur! Kalau Bapak sama Ibuk sudah punya motor baru, berarti motor lama Bapak buat aku ya? Buat boncengin cewek-cewek sekolah!" canda Bagas yang langsung dibalas tawa renyah oleh seluruh keluarga.
Vanesha Adeline yang melihat pemandangan itu merasa hatinya sangat tersentuh. Dia yang biasanya melihat orang memamerkan mobil sport di Jakarta, kini baru sadar bahwa kebahagiaan sejati justru lahir dari hal sederhana seperti ini.
"Nah, sekarang Bapak sama Ibuk coba nyalakan mesinnya! Biar tetangga tahu kalau anak Bapak Suryo sudah sukses!" seru Guntur dengan gaya sengkleknya yang khas.
VREEMMM! VREEMMM!
Suara mesin motor baru itu menderu di halaman rumah yang masih beralaskan tanah. Para tetangga yang melihat dari balik pagar mulai berbisik-bisik kagum. Guntur berdiri tegak dengan tangan bersedekap, menatap wajah bahagia orang tuanya.
Meskipun di Jakarta dia sering dihina sebagai "gembel" oleh Amanda dan Kevin, tapi di tempat ini, di hadapan Ibu Siti Khumairoh dan Bapak Suryo, Guntur adalah seorang raja yang telah berhasil menaklukkan kerasnya dunia demi kehormatan keluarganya.
"Mbak V, ayo naik! Kita keliling desa pakai motor baru Ibuk, biar sampeyan tahu indahnya Sidoarjo dari atas motor!" ajak Guntur sambil nyengir tengil ke arah Vanesha.
Vanesha tertawa kecil. "Oke, tapi jangan ngebut-ngebut ya! Aku belum mau mati di Sidoarjo sebelum kita balik ke Jakarta buat balas dendam!"
Setelah urusan motor untuk orang tua beres, Guntur tidak melupakan kedua adiknya yang selama ini menjadi penyemangatnya dari jauh. Ia memanggil Bagas dan Nirmala Sari ke dalam kamar. Di sana, Guntur mengeluarkan dua buah kotak ponsel pintar terbaru yang masih segel.
"Ini buat kalian. Bagas, gunakan buat belajar, jangan cuma buat main game atau cari musuh tawuran! Dan buat Mala, ini buat komunikasi sama Mas kalau ada apa-apa di rumah," ucap Guntur tegas namun penuh kasih.
Bagas dan Mala langsung melompat kegirangan. "Wah! Mas Guntur memang paling jagoan sedunia! Sidoarjo-Jakarta lewat!" seru Bagas sambil memeluk kakaknya erat-erat.
Nirmala Sari mencium tangan Guntur dengan takzim. "Terima kasih, Mas. Mala janji akan jaga Ibuk sama Bapak baik-baik selama Mas nggak ada di sini."
Malam terakhir di Sidoarjo pun tiba. Di bawah sinar lampu teras yang temaram, Guntur duduk berdua dengan Ibu Siti Khumairoh. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi, hanya terdengar suara jangkrik dari arah sawah di belakang rumah.
"Le, besok kamu beneran mau balik ke Jakarta sama Mbak Vanesha?" tanya Ibu Siti dengan nada yang berat, seolah tak rela melepas anaknya pergi lagi.
Guntur memegang tangan Ibunya yang sudah mulai keriput. "Nggeh, Buk. Masalah Guntur di sana belum selesai. Ada banyak orang jahat yang harus Guntur bereskan supaya mereka nggak berani mengganggu keluarga kita lagi."
Ibu Siti menghela napas panjang, lalu ia mengusap kepala Guntur seperti saat Guntur masih kecil dulu. "Ibuk nggak punya apa-apa buat bekalmu, Le. Ibuk cuma punya doa yang nggak akan pernah putus setiap sujud Ibuk. Berangkatlah, jadilah naga yang benar-benar menjaga, bukan naga yang merusak."
Guntur tertegun. Kalimat Ibunya seolah memberikan kekuatan baru yang lebih murni daripada mantra sakti mana pun. Ia tahu, di Jakarta nanti, ia bukan lagi sekadar Guntur si tukang ojek, tapi Guntur pembawa amanah keluarga.
Vanesha Adeline yang berdiri di balik pintu mendengarkan percakapan itu pun ikut terenyuh. Dia yang biasanya merasa dunia ini hanya soal persaingan bisnis, kini sadar bahwa ada kekuatan yang lebih besar bernama "Doa Ibu".
"Guntur, semuanya sudah siap di mobil. Besok pagi buta kita berangkat," ucap Vanesha pelan sambil menghampiri mereka.
Guntur berdiri dan menatap langit Sidoarjo untuk terakhir kalinya sebelum berangkat. "Nggeh, Mbak V. Kita balik ke Jakarta. Kita tunjukkan sama Kevin, Amanda, dan semua antek-anteknya, kalau Sang Naga sudah bangun dari tidurnya dan dia membawa doa Ibunya sebagai tameng paling kuat!"
Bapak Suryo keluar dari dalam rumah sambil membawa bungkusan kain berisi bekal makanan untuk di jalan. "Hati-hati, Le. Jaga Mbak Vanesha, jangan sampai dia lecet sedikit pun. Dia sudah baik sekali sama keluarga kita."
Guntur nyengir sengklek sambil melirik Vanesha yang wajahnya mendadak memerah. "Siap, Pak! Jangankan lecet, nyamuk yang mau gigit Mbak V saja bakal saya ajak duel sampai pingsan!"
Mobil mewah yang membawa Guntur dan Vanesha Adeline akhirnya memasuki gerbang megah Mansion Adeline di kawasan elit Jakarta. Namun, bukannya sambutan hangat, suasana justru terasa sangat mencekam. Di ruang tamu yang luas dan berkilau itu, sudah berkumpul keluarga besar Vanesha, termasuk orang tua Vanesha dan tentu saja si licik Kevin bersama Amanda Felicia.
"Bagus ya! CEO V-Group baru pulang setelah menghilang berhari-hari di kampung kumuh!" suara menggelegar itu datang dari Tuan Adeline, ayah Vanesha, yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
Vanesha mencoba tetap tegar meskipun hatinya bergetar. "Vanesha hanya menenangkan diri, Pa. Dan Guntur yang sudah menjaga Vanesha selama di sana."
Mendengar nama Guntur, ibu Vanesha tertawa sinis sambil menutup hidungnya dengan kipas mahal. "Menjaga? Vanesha, sadarlah! Kamu itu permata keluarga ini, kenapa kamu malah membawa sampah aspal ini masuk ke rumah kita lagi? Lihat penampilannya, kotor dan miskin!"
Amanda Felicia maju dengan senyum penuh kemenangan. "Tante, om... Guntur ini dulu pacar saya yang saya buang karena nggak modal. Di Sidoarjo kemarin, dia cuma bisa pamer motor matic murahan. Dia mau memanfaatkan kekayaan Vanesha supaya keluarganya bisa makan!"
Kevin ikut menimpali sambil menunjuk-nunjuk wajah Guntur. "Dia ini parasit! Dia sengaja mencuci otak Vanesha supaya bisa masuk ke lingkaran keluarga Adeline. Dasar gembel nggak tahu diri! Keluar kamu dari sini sebelum saya panggil satpam untuk menyeretmu seperti anjing!"
Guntur hanya berdiri diam di belakang Vanesha. Wajahnya tertunduk, tapi tangannya mengepal sangat kuat. Hinaan untuk dirinya bisa ia tahan, tapi ia teringat wajah suci Ibu Siti Khumairoh yang baru saja ia tinggalkan. Ia merasa sakit hati karena keluarga ini meremehkan ketulusan yang ia bawa dari desa.
"Cukup!" teriak Vanesha dengan mata berkaca-kaca. "Guntur bukan parasit! Dia punya harga diri yang lebih tinggi dari kalian semua!"
Tuan Adeline berdiri dan memukul meja marmer dengan keras. "Vanesha! Pilih pria ini dan kamu kehilangan jabatanmu serta semua fasilitas mewahmu, atau usir dia sekarang juga! Keluarga Adeline tidak menerima menantu tukang ojek yang miskin dan bau matahari!"
Hening sejenak. Ruangan mewah itu terasa seperti medan perang yang menyesakkan. Guntur perlahan maju, melampaui posisi berdiri Vanesha. Ia menatap tajam ke arah Tuan Adeline dan Kevin.
"Nggeh pun (Ya sudah)... kalau memang harta adalah Tuhan bagi kalian," ucap Guntur dengan suara rendah yang sangat berwibawa, membuat Kevin sedikit bergidik ngeri.
Guntur menatap Vanesha dengan senyum kecut yang paling tulus. "Mbak V, terima kasih sudah membela saya. Tapi kakek saya pernah berpesan, jangan pernah bertamu di rumah yang pintunya tertutup bagi kehormatan. Saya pergi sekarang."
"Guntur! Tunggu!" Vanesha mencoba mengejar, tapi lengannya ditarik paksa oleh ayahnya.
Guntur berjalan keluar dari mansion megah itu tanpa menoleh sedikit pun. Di bawah guyuran hujan Jakarta yang mendadak turun, Sang Naga kembali ke jalanan. Namun kali ini beda; ia tidak lagi membawa dendam, tapi ia membawa restu dan doa Ibu Siti Khumairoh.
"Kalian pikir saya miskin?" gumam Guntur di tengah hujan, matanya berkilat kemerahan karena emosi yang tertahan. "Kita lihat saja nanti, saat Naga ini benar-benar mengeluarkan taringnya, Mansion ini bahkan tidak cukup untuk membeli satu helai rambut Ibukku!"