Sinopsis:
Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.
Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.
"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."
Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: kota k dan orang yang sama
Pintu kamar terbuka dengan derit pelan yang seolah menghentikan percakapan hangat di meja makan. Aku melangkah keluar dengan tas ransel yang sudah tersampir erat di bahu. Wajahku datar, mencoba mengembalikan sisa-sisa zirahku yang sempat luruh semalam, meski hatiku masih terasa sedikit perih setelah kepulangan yang emosional ini.
Aku mendengar dengan jelas tawaran Danendra di ruang tamu tadi, tapi aku memilih untuk tetap diam. Fokusku sepenuhnya tertuju pada Tante Nita yang langsung menghampiriku dengan wajah cemas.
"Lho, Zal? Kenapa sudah bawa tas?" Tante Nita menyentuh lengan jaket yang kusampirkan di tangan. "Katanya sore baru balik? Ini bahkan belum tengah hari, Nak. Tante baru mau mulai masak buat makan siang."
"Azzalia mau jalan sekarang biar sampai di Kota J sore hari, Tan," jawabku pelan, mataku tetap menatap Tante Nita tanpa menoleh ke arah Danendra. "Biar sampai sana nggak kemalaman. Kalau jalan sore, masuk kota sudah macet dan gelap. Azzalia capek."
"Tapi matahari lagi terik-teriknya, Zal. Kamu baru istirahat sebentar setelah perjalanan jauh kemarin," Om Angga menyela dengan nada kebapakan yang berat namun penuh perhatian.
Aku menggeleng pelan. "Enggak apa-apa, Om. Azzalia lebih tenang kalau sudah sampai kost sebelum malam."
Suasana mendadak hening. Valerie yang sejak tadi duduk di samping ayahnya, menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan. Dia tidak menggodaku, dia tidak tertawa jahil. Dia hanya menatapku dengan penuh pengertian, seolah dia bisa merasakan betapa aku ingin segera "lari" dari kehangatan yang mendesak ini.
"Zal," panggil Valerie lembut. Ia berdiri dan mendekat ke arahku, suaranya sangat hati-hati. "Kalau lo emang harus balik sekarang, jangan naik motor sendiri. Lo kurang tidur, Zal. Mata lo masih merah."
Valerie melirik Danendra sekilas, lalu kembali menatapku. "Biar motor lo di sini dulu, biar nanti Papa yang bantu kirim ke Kota J. Lo balik bareng Danendra aja, ya? Demi keamanan lo sendiri. Gue nggak mau dapet telepon kalau lo pingsan di jalan karena kelelahan."
Tawaran Valerie kali ini tidak terdengar seperti candaan. Itu adalah kekhawatiran nyata seorang saudara. Tante Anin dan Tante Nita pun langsung mengangguk setuju, seolah beban di pundak mereka sedikit terangkat jika tahu aku pulang dalam penjagaan yang aman.
Aku melirik Danendra yang akhirnya berdiri dari kursinya. Dia tidak tersenyum kemenangan. Dia hanya menatapku dengan pandangan yang dalam, seolah sedang memberikan pilihan sepenuhnya di tanganku tanpa ingin memaksa lagi seperti di kantor.
"Mobilnya sudah dingin, Zal. Kita bisa berangkat kapan pun kamu siap," ucapnya rendah, sangat tenang.
Aku terpaku di tempatku berdiri. Menolak berarti membuat seluruh keluarga di rumah ini cemas sepanjang hari. Menerima berarti aku harus terjebak lagi selama lima jam di ruang sempit bersama pria yang baru saja mengetahui rahasia terbesarku.
" Aku lebih suka naik motor, lebih nyaman dan juga tenang," sahutku pelan namun tegas, memecah keheningan ruang makan. "Azzalia pelan-pelan bawa motornya kok, Om, Tan. Kalau nanti Azzalia ngerasa capek, Azzalia akan berhenti sebentar buat istirahat. Jadi tolong jangan khawatir."
Aku mengalihkan pandangan sebentar ke arah Danendra. Dia masih berdiri di posisinya, menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan campuran antara kekhawatiran dan rasa maklum atas kepalaku yang sekeras batu.
"Terima kasih tawarannya, Danendra. Tapi lain kali saja," imbuhku singkat.
Ada helaan napas berat dari Tante Nita. "Zal, kamu itu benar-benar ya... nurun siapa sih keras kepalanya?"
Om Angga tampak ingin membantah lagi, namun Danendra mendahuluinya. Ia mengangguk kecil ke arah Om Angga, seolah memberi kode agar mereka tidak lagi menekan aku.
"Baiklah kalau itu mau kamu, Zal. Saya tidak akan memaksa," ucap Danendra rendah. Suaranya terdengar sangat tenang, berbanding terbalik dengan sikap pemaksanya saat di kantor tempo hari. "Tapi setidaknya, biarkan saya berkendara di belakang kamu sampai kita masuk perbatasan Kota J. Saya juga harus balik sekarang, jadi kita searah. Saya tidak akan mengganggu, saya hanya akan memastikan asisten saya sampai dengan selamat."
Aku tertegun. Tawaran itu terdengar seperti kompromi yang adil, namun tetap saja membuatku merasa diawasi. Baru saja aku hendak membuka mulut untuk menolak, Valerie sudah lebih dulu menyela.
"Nah, kalau itu adil kan, Pa? Zal, biarin Danendra di belakang lo. Anggap aja lo punya pengawal pribadi gratis di jalan yang panas ini. Kalau lo nggak mau, Mama sama Tante Nita nggak bakal lepasin lo pulang sekarang," ancam Valerie halus, mencoba menengahi agar orang tuanya tidak terus-menerus cemas.
Aku menatap wajah Tante Anin dan juga Tante Nita bergantian mereka masih tampak berat hati melepasku. Akhirnya, aku hanya bisa mengangguk pasrah. "Ya sudah. Azzalia pamit dulu, Om, Tan."
Aku menyalami mereka satu per satu, merasakan pelukan hangat terakhir dari Tante Nita yang membisikkan doa agar aku selalu sehat. Begitu aku melangkah keluar menuju motor yang terparkir di halaman, Danendra berjalan di belakangku dengan langkah yang teratur.
Aku mengenakan jaket, memasang helm, dan menyalakan mesin motor. Di belakangku, aku mendengar suara pintu mobil Danendra tertutup dan mesinnya menderu halus. Perjalanan lima jam di bawah terik matahari baru saja dimulai, dan meskipun aku merasa bebas di atas motorku, aku tahu di spion sana, ada sepasang mata yang tidak akan membiarkan aku hilang dari pandangannya sedikit pun.
Perjalanan pun dimulai. Aku memacu motorku membelah jalanan aspal yang mulai membara. Di sepanjang jalan, mataku menangkap sudut-sudut kota yang masih sama seperti enam tahun lalu. Toko buku tua di pertigaan, deretan pohon mahoni yang kini semakin rimbun, hingga halte bus tempat aku dulu sering menunggu dengan perasaan gelisah. Kota ini masih menyimpan memori tentang gadis remaja yang pengecut, dan orang yang mengikutiku di belakang sana adalah saksi hidup dari pelarian itu.
Matahari siang ini benar-benar berada tepat di atas kepala, memancarkan panas yang seharusnya sanggup membuat kulit terasa terbakar. Namun, anehnya, panas terik itu tidak menyengat sama sekali di kulitku. Mungkin karena hatiku sudah terlalu dingin, atau mungkin karena zirah yang kubangun selama bertahun-tahun ini telah meredam segala rasa fisik yang menyerang. Bagiku, rasa panas matahari tidak ada rasanya dibanding rasa sesak yang kembali merayap di dada setiap kali aku melirik kaca spion.
Di spion kiri, aku bisa melihat mobil hitam Danendra menjaga jarak aman di belakangku. Ia tidak mencoba mendahului, tidak juga membunyikan klakson untuk memintaku melaju lebih cepat. Ia benar-benar hanya menjadi bayang-bayang yang mengiringi setiap putaran rodaku.
Pikiran ini kembali melayang. Bagaimana bisa seseorang tetap betah berada di belakang orang yang terus-menerus memberikan punggungnya? Bagaimana bisa dia masih mau menjagaku setelah aku terang-terangan menolak kehadirannya di meja makan tadi?
Angin jalanan menghantam jaket dan helmku, menciptakan suara bising yang sedikit menenggelamkan riuhnya isi kepalaku. Aku memfokuskan pandangan ke depan, menembus fatamorgana yang menari-nari di atas aspal panas. Perjalanan menuju Kota J masih sangat jauh, namun keberadaan mobil hitam di belakangku menciptakan paradoks yang aneh: aku merasa terawasi, namun di saat yang sama, ada rasa aman yang tipis sesuatu yang selama enam tahun ini tidak pernah kurasakan saat berkendara sendirian menempuh perjalanan antar kota.
"Jangan menoleh, Zal. Cukup lihat ke depan," bisikku pada diri sendiri di balik kaca helm.
Dua jam berlalu, dan rasa lelah mulai menyerang persendianku. Kepalaku sedikit berdenyut karena kurang tidur semalam. Di depan, sebuah papan penunjuk jalan bertuliskan Rest Area 5 KM lagi terlihat. Aku ragu, apakah aku harus berhenti dan menghadapi konfrontasi dengannya, atau tetap memacu motor ini sampai tenaga terakhirku habis?