NovelToon NovelToon
Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Pernikahan Kilat / Cinta setelah menikah
Popularitas:22.4k
Nilai: 5
Nama Author: Inna Kurnia

Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.

ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.

"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."

Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.

Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?

Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19 Kurang Menjaga Marwah

Mata Nandini memindai seluruh lampu indikator di dasbor mobil Santaka setelah ia memutar kunci kontak ke posisi ON. Semua menyala. Ketika mesin dinyalakan, semua mati, kecuali rem tangan. Aman.

Nandini juga mengecek hembusan AC. Ia turun untuk memeriksa asap knalpot dan ada tidaknya tetesan air di bawah mesin. Ia membuka kap untuk memastikan apakah suara mesin aman. 

“Assalammu’alaikum Dini...”

“Astagfirullah, Ahsan! Kamu ngagetin aku. Wa’alaikumsalam.” Nandini mengelus dada.

Ahsan tersenyum simpul. Ekspresi wajah Nandini terlihat lucu baginya. Lucu sekaligus cantik. Kombinasi maut.

“Hehehe, kamu terlalu serius, jadi kaget. Sekarang kayaknya tiap pagi kamu yang manasin mobilnya Gus Taka?” Ahsan melihat-lihat mesin di dalam kap yang terbuka.

Nandini menutup kap mobil suaminya. “Iya, Gus Taka tau aku ndak bisa hidup tanpa mesin, hehehe...”

Ahsan mencebik. “Oh gitu... Oh ya Dini, kamu keren tenan kemaren. Kamu berhasil bikin tabligh akbar jadi beda warna.

Kamu bakal jadi idola baru buat jamaah. Baru dalam sejarah Al Fatih, ada perempuan yang auranya hampir setara sama Yai dan Gus.” Ahsan menatap Nandini sekejap, kemudian menunduk.

“Dhuh, lebay deh kamu, San. Mana ada kayak gitu. Biasa saja.” Gaya merendah Nandini jadi mirip Santaka. Suami istri memang saling mempengaruhi.

“Kamu mau cek motor aku juga ndak? Kita bisa diskusi soal motor aku. Kamu penyuka RX King kan? Aku juga punya.” Ahsan kembali menatap, agak lama, kemudian tertunduk.

“Oh ya? Wah, boleh. Eh tapi kapan ya waktunya. Kayanya ndak bisa ya, kamu kan ngajar di pondok.” Nandini menggaruk alisnya.

“Bisa diatur nanti.” Ahsan tersenyum manis. Ia memberanikan diri menatap Nandini lebih lama. Ia tahu ini dosa, tapi sepertinya ia kalah oleh bujuk rayu setan. Rasa memujanya pada Nandini mengalahkan iman gus muda itu.

“Mbak, ini saladnya. Yuk kita makan bareng.” Santaka datang membawa sepiring salad. Ia terdiam melihat kehadiran Ahsan. Rahangnya mengetat. Piringnya ia cengkeram erat.

“Oh, ada Gus Ahsan. Lagi lewat atau bagaimana?” Santaka bertanya dengan dingin.

“Iya Gus Taka. Kebetulan saya lewat, liat Mbak Dini manasin mobil. Saya mampir.” Ahsan mencebik tipis.

Santaka merapatkan bibirnya, melirik tajam pada sepupunya. “Untung saya cepet datang ya. Ndak baik Gus Ahsan, dilihat abdi ndalem atau orang lain.”

“Hahaha, ini kan ruang terbuka. Jangan terlalu kaku lah. Saya kan sepupu Gus Taka. Masa pikirannya jelek. Yo wis, saya pamit. Enak ya Gus Taka, mobilnya bakal aman terus karna punya istri kayak Mbak Dini.”

Ahsan tersenyum dan membalikkan badan. Setelah membalikkan badan, senyum itu hilang. Hari ini ia gagal bisa bercengkerama dengan gadis pujaannya.

Santaka memandang kepergian sepupunya dengan pandangan yang tak dapat Nandini artikan. Nandini menipiskan bibirnya.

“Ahsan ngomong apa Mbak?” Santaka masih memandang ke arah kepergian sang sepupu, seakan takut Ahsan kembali.

Nandini terkesiap. “Ndak, ndak ngomong apa-apa. Liat-liat saya manasin mobil saja.” Nandini meringis.

Santaka menipiskan bibir dan mengangguk. “Jangan ditanggepin ya, Mbak." Mata Santaka kembali menatap ke arah kepergian Ahsan.

"Ya udah, buka mulutnya. Saya suapin salad. Biar sehat. Biar saya tenang kerja juga. Istri sudah makan masakan saya, sebelum saya tinggal.”

Nandini tersipu. Ia membuka mulutnya. Ia mulai terbiasa disuapi oleh sang suami. Memang lebih enak. Berkah dari Allah. Malah sekarang jika makan sendiri rasanya tak seenak jika disuapi Santaka.

Santaka tersenyum. Bersama Nandini selalu bisa menenangkannya, walau ia tetap harus waspada terhadap sepupunya itu. Instingnya mengatakan Ahsan memiliki niat berbeda terhadap istrinya.

*

*

Nandini berjalan dari ruang dalam ke ruangan yang baru pertama kali ia datangi. Wangi kayu gaharu tercium dari ruangan besar itu. Tak lama Sarah dan Husna juga masuk ruangan itu.

Pagi ini para menantu akan membereskan perpustakaan sekaligus ruang kerja Mansur. Bentuk khidmah, pengabdian kepada mertua. Ada ribuan buku, berbahasa Indonesia atau Arab. Mansur adalah sosok kutu buku. 

Lastri sedang menemani Mansur menerima tamu. Tamu ke pondok memang tak mengenal waktu, mereka bisa datang dari pagi hingga malam. Itu karena mereka bisa datang dari berbagai daerah. 

Semua akan disambut dan dihargai secara adil. Mansur bukan orang yang membeda-bedakan penghargaan terhadap orang lain.

Nandini terdiam memandangi rak buku di sekeliling perpustakaan ini. Encer sekali otak mertuanya itu. Bisa melahap buku sebanyak ini.

“Mbak Dini, ayo jangan bengong saja. Bukunya ndak takut diliatin Mbak, terus akhirnya lari sendiri ke rak.” Sarah mulai merapikan buku di meja kerja Mansur.

Nandini memicingkan matanya. Ning Sarah ini, mulutnya pedes terus ya. Orang lagi mempelajari situasi. Lah dia sudah biasa ngerjain ini. Dasar Ning Polisi!

“Iya, Ning. Dini lagi kagum, Abi punya koleksi sebanyak ini. Mana ada yang bahasa Arab.”

“Abi kan kyai besar, jadi ilmunya harus lebih maju. Beliau ndak pernah berenti belajar, karena banyak yang belajar sama beliau. 

Saya, Husna, suka dipinjemi buku. Buat nambah ilmu. Terutama ilmu fiqih, itu ilmu yang paling banyak Abi dan Umi suruh kita pelajari.”

Dhuh, aku ndak paham yang masuk ilmu fiqih itu gimana. Yang pasti berhubungan dengan syariat dihubungin ibadah. Ning Sarah mau nyombong apa gimana? Iparnya ini orang awam. Boleh status istri gus, tapi kan ilmunya nol.

“Nanti juga Mbak Dini dipinjemi buku sesuai minat Mbak Dini. Husna dan Ning Sarah memang fokus di fiqih. Mbak Dini bisa ambil tema akhlak, sifat-sifat baik. Mbak Dini ada bakat jadi pembicara. Public speakingnya bagus. Kemarin tabligh akbar pecah banget. 

Husna saja ndak pernah dapet tanggepan segitu ramenya.” Husna menumpuk buku sesuai nomor buku.

“Ning Husna, apaan sih? Itu kebetulan saja. Karna suasananya sudah rame dari pas Gus Yasa dan Abi. Jadi ke Dini kebawa rame.” Nandini meringis.

“Iya... Kalau modal melucu saja ya pasti jadi geger. Pembuktian pembicara bagus atau ndak itu diliat dari materinya. 

Kalau dia bisa bawa materi yang berat, dengan cara ringan, baru bagus, hebat.

Kemaren kan ndak ada materi yang Mbak Dini omongin. Cuma guyon-guyon saja.” Sarah menatap datar ke arah Nandini. 

“Iya Ning... Saya juga tau diri kok. Pujian Ning Husna itu berlebihan. Saya itu fakir ilmu, ndak punya ilmu agama. Pake jilbab saja baru pas nikah sama Gus Taka. Beda kelas lah sama Ning Husna, apalagi sama Ning Sarah. Iya tho, Ning?”

Nandini tersenyum pada Sarah dan Husna. Ia menghela napas.

“Ndak Mbak Dini, Ning Sarah. Husna denger sendiri kalau Abi sama Umi juga muji Mbak Dini. Bagus. Bisa bawa penyegaran ke jamaah. Tinggal belajar lebih giat, dipoles. Bisa dakwah. Mulai dari anak-anak dan ibu-ibu saja dulu.” Husna mengelus lengan Nandini.

Nandini tersenyum kepada Husna, ipar yang begitu suportif. “Terima kasih Ning Husna. Tapi Dini belum terpikir dakwah. Ilmu Dini masih nol, cetek. 

Bahaya umat kalau model kayak Dini jadi ustadzah. Masih belum pantas jadi panutan. Dini jadi tim hore saja. Di belakang layar.”

Sarah menipiskan bibirnya. Bukannya ia tak mengetahui perihal pujian Mansur dan Lastri atas kegemilangan penampilan kilat Nandini di Tabligh Akbar, namun ia tak sependapat dengan mertuanya.

Penampilan Nandini memang segar, tapi kurang bisa menjaga marwah. Tak sesuai tradisi yang dipertahankan terkait penampilan perempuan Al Fatih di depan umum.

Boleh saja isi materinya dibalut lelucon agar lebih mudah diterima. Masalahnya humor Nandini terlalu akrobatik. Terlalu banyak permainan mimik dan gestur. Tak anggun seperti perempuan bermarwah pada umumnya.

“Bagus itu Mbak Dini, tau diri itu kunci dari tawadhu. Ndak sombong cuma karna dipuji. Menghindarkan diri dari sombong.” Sarah mencebikkan bibir. 

Husna meringis. Ngilu mendengar kata-kata kakak iparnya.

Nandini mengerutkan dahi. Ini Ning Polisi muji atau nyerang aku sih?

“Lagi pula, saya rasa Mbak Dini perlu belajar tentang marwah. Kelakuan Mbak Dini di Tabligh Akbar kemaren itu kurang elok. Kurang bisa menjaga marwah.” Sarah tersenyum sinis pada Nandini.

“Bagian mana kurang menjaga marwah, Ning Sarah? Dini pakai pakaian syar’i. Dini ndak mendesah apalagi joget-joget. Umi dan Abi juga ndak bilang apa-apa.” Nandini menatap tajam Sarah. 

“Ya itu. Becandanya kurang pas sebagai istri gus. Walaupun Mbak Dini bukan ning, tapi aturan yang mengikat sama. Mana ada istri gus cengar cengir kaya Mbak Dini kemarin.

Terus nyindir Gus Taka, kalau Mbak Dini itu istri satu-satunya. Ndak pantas! Belum dadah-dadah kayak Miss Universe dan promosiin bapaknya Mbak Dini sendiri.”

Nandini memejamkan matanya. Mengapa Sarah ini begitu aktif menyerangnya? 

Padahal harusnya Sarah paham kalau Nandini masih dalam proses belajar. Kalau ada salah, beri tahu saja secara baik-baik.

“Iya Ning Sarah, terima kasih atas masukannya. Insyaa Allah Dini jadikan pelajaran.”

Husna tersenyum ke arah Nandini. Ia kembali mengelus lengan adik iparnya itu.

“Harus itu. Kalau diberi nasehat harus nerima dan perbaiki diri,” sengit Sarah. Nandini hanya merespons dengan anggukan. Ia malas ribut.

“Gus Taka suka nasehatin Mbak Dini kan? Yang kemarin ndak dibiarkan saja kan? Gus Taka itu suka seenaknya, jangan sampai Mbak Dini juga seenaknya.” Sarah mencibir.

“Ning Sarah, ini sudah di luar kepatutan! Gus Taka itu suami yang baik. Dia sudah berusaha mendidik Dini dengan baik. Jangan bicara buruk tentang suami Dini!” 

Nandini mendongakkan dagunya. Walaupun belum mencintai Santaka, ia tak suka ada orang yang menjelekkan suaminya itu.

“Nah kan? Mana boleh sikap seperti ini di Ndalem. Ada adik melawan kakak. Kalian memang benar-benar seenaknya!” Sarah meninggikan suaranya.

“Cukup, Ning Sarah!”

1
Nanik Arifin
jangan jatuh hati ma Syifa, Boy. sama Fiona aj. Syifa muna. Ning tapi suka munafik, bungkusnya doang yg baik. 11, 12, ma Gus Ahsan. cocok deh.
Inna Kurnia: kita jodohin aja apa ya, Syifa ama Ahsan 🤔🤔😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
Biasanya klo orang ngomongnya ceplas ceplos itu emang lebih baik daripada yg terlihat kalem diem tapi menghanyutkan...
mestinya Boy sebagai lelaki ngerti gimana cara pandang Ahsan ke Dini yg ga wajar, dan lagii...Fiona sm Boy apa saling kenal 🤔
Inna Kurnia: kita liat ya Kaaaak 🤭🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
ya Ampunnn jangan canda yg aneh² ya Boy, Ucapan sama dg Doa.. hati² dalam berucap gemblung 🙄🙄🙄
Inna Kurnia: hahaha
total 7 replies
Aisyah Virendra
🙄🙄🙄 bahasane dikitik kitik bikin geliii membayangkannn 🤣🤣🤣🤣
Aisyah Virendra: kakak mau dikitik 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ketik kata dikitik aja aku terkikikk geliii loh inii ngakakkk 🤣
total 2 replies
Nanik Arifin
kau tunggu jandanya Dini ya Boy....🤭🤭
Inna Kurnia: ada aja yaaa kelakuan orang ya, Kak 🤭
total 1 replies
Jaojatun Ma'rup
Maasyaallaah.. Gus Taka Super Duper Sabaar... semangaaat Gus💪💪💪
Inna Kurnia: iya, Kak Jaojatun. kan sabar nama tengah Gus Taka 🤭🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
Taka dan Dini memang bener² harus waspada yaa sama sepasang sejoli resek itu (Ahsan n Syifa), mereka merencanakan sesuatu yg sedikit ehem tapiii smg ada salah 1 dari Ning Sarah atau Ning Husna juga menyadari kejanggalan dan berpihak pada Taka dan Dini 🫠
Aisyah Virendra: hhuuuh
total 2 replies
Nadia Zalfa
syafakillah kak
Inna Kurnia: aaamiin ya Allah, jazaakillahu khoyr Kak Nadia ❤️❤️
total 1 replies
Aisyah Virendra
Syafakillah waa fii amanillah kakak sayang.. semoga dunia nyata kita baik² aja dan ga ada problem apapun, sehat² selalu.. kutunggu up nyaa bolak balik, tapi yasudahlah.. kesehatan itu lebih utama, segera membaik kakak 🤝😇🥰
Aisyah Virendra: Aamiin Allahumma Aamiin 🤲🥰
total 3 replies
Aisyah Virendra
Diiiiihhhh...ngapain lagi si Ahsan beluuuttt datang kekamar orang, yg sakit juga Nandini bulan Santaka, anehhh bgt.. Ustadz gajeee 😂🤣 lelepinn neeeehhh 🫳
Inna Kurnia: 🤭😂😂🤭😂
total 5 replies
Aisyah Virendra
marah.. tertatih, pelaku eh merasa korban 😂🤣 Nandini gemblung 🤣🤣🤣 mlm itu Santaka menang berkali lipat banyak dan dini ya ampunnn pasti malu banget setelahnya 😂😂 ky nya ntar jadi kembar 4 ehh 🤣🤣🤣
Inna Kurnia: 🤣🤣🤣🤣 subuhhhh
total 5 replies
Aisyah Virendra
gaskuy lagiiii 🤣🤣🤣🤣
duuuuhhh cenut² pala barbiee 🫠
kenapa pas unboxing disaat bginiii 😂🤣🤣🤣
Inna Kurnia: hahaha, saa-bar 🤭🤭
total 3 replies
Aisyah Virendra
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kocak parahhhh kamu dinoooooooo 🤣🤣 menang banyak nih Santakaa malam ini dan besok dini teparrrrr 😂🤣 aiiiihhh membayangkan yg bergulat ehemm 😂🤣😂🤣
Inna Kurnia: hissss 😂😂😂😂
total 4 replies
Aisyah Virendra
Nandini salah ambil jamu, jamunya Taka diminumnya 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mengandung perangsang herbal ini mah, duh bisa² ntar langsung hamil baby twins 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Inna Kurnia: gasss 😂😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
ko sur ? harusnya mud kan yaa 🤔🤔🤔
Inna Kurnia: typo, wkwkwk
total 1 replies
Aisyah Virendra
minta traktir banyak² yaa Din, jangan lupaaa alu dikasih jugaaa 🤣🤣🤣🤣🤣
Nanik Arifin
Dini salah minum jamu ?
Gus Taka yg bakalan di KO Dini ...🤭🤭
Inna Kurnia: pantengin bab besok ya Kak Naniiik 😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
Gus Agam... ini sepeeti sosok pria yg kalau mencintai bisa sedalam dan sesetia ituu.. tapi skrg kondisinya berbeda, jadi lelaki yg tak punya perinsip hidup dalam berkomitmen. sudah punya pasangan masing² masih juga tak tahu diri ko malah tahu bakso 😂🤣🤣
Inna Kurnia: ❤️❤️🙏🏻🙏🏻
total 13 replies
Aisyah Virendra
huhhhh akhirnya nongol juga..
Inna Kurnia: sip, insyaa Allah malem ❤️❤️😘
total 3 replies
Nanik Arifin
baby blues ini Ning Rini. harusnya Gus Agam berperan agar baby blues g berlanjut, kasihan bayinya
Inna Kurnia: betul bgt Kak Nanik, ning rini depresi abis lahiran ❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!